William Benedict Anderson, CEO Anderson Corp. tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah dirinya ditinggalkan oleh sang kekasih, tetapi sang kakek yang amat disayanginya menginginkan seorang anak darinya. pilihan kemudian jatuh kepada Kyra Queensha, seorang pelayan di Coffe shop milik sahabatnya.
Kyra membutuhkan banyak biaya untuk operasi jantung ibunya terpaksa harus menerima tawaran William, tetapi dia tidak ingin melahirkan anak diluar pernikahan.
William dan Kyra pun sepakat untuk melakukan pernikahan kontrak. Pernikahan tersebut akan berakhir jika anak mereka sudah lahir dan berusia 6 bulan.
Seiring berjalannya pernikahan mereka, Kyra jatuh cinta kepada William yang masih terjebak dengan cinta pertamanya. Apalagi saat wanita itu kembali hadir di dalam pernikahan mereka. Kyra memutuskan untuk pergi tanpa menyadari jika dirinya tengah hamil anak William.
Hingga 7 tahun kemudian keduanya dipertemukan kembali.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MC 11
...***...
Setelah mengadakan pemberkatan, William dan Kyra mengadakan pesta kecil kecilan di salah satu hotel milik Anderson Corp. Mereka tidak ingin Tuan Dominic mengetahui, jika pernikahan keduanya hanyalah pernikahan kontrak. Hal itu sudah menjadi kesepakatan antara William dan Kyra, bahkan saat ditanyai perihal pernikahan mereka yang begitu sederhana mereka beralasan jika Kyra tidak begitu nyaman dengan keramaian.
Terlebih jika pernikahan tersebut tiba tiba saja terungkap ke publik, hal tersebut tentu saja akan menjadi berita yang sangat menggiurkan bagi para pemburu berita, mengingat William merupakan pewaris Anderson Corp. dan Tuan Dominic sangat memaklumi hal itu. Dia menganggap hal tersebut sangat baik juga untuk Kyra.
“Jadi—apa rencanamu, setelah menikah dengan William?” Tanya Angela kepada Kyra, saat ini keduanya tengah berada di private room bersama dengan beberapa pegawai Blue Bottle Coffe yang sengaja mereka undang.
Kyra meneguk cocktail rendah kadar alkohol yang berada di tangannya, tidak seperti Angela yang menikmati segelas red wine.
“Setalah menikah William menyuruhku untuk berhenti bekerja dan hanya berdiam diri.” jawab Kyra, setelah itu dia menghela napasnya.
“Uh, itu terdengar membosankan. Apa kau tidak keberatan degan hal itu?”
“Tentu saja aku keberatan, maka dari itu aku protes. Tapi aku tetap memaksa, ya—dia menyuruhku menjadi PA¹ di perusahaannya. Menyebalkan, bukan?”gerutu Kyra.
“Lalu bagaimana dengan pegawai di kantornya? Bukankah kalian merahasiakan hal ini dari orang lain, kecuali kepada para maid, dan pegawai Blue Bottle Coffe?”
“Ya, dia bilang kebetulan Lilya—asistennya sudah mengajukan surat pengunduran diri karena usia kehamilannya sudah memasuki usia delapan bulan. Dan, suaminya menyuruh Lilya untuk berhenti bekerja. Mereka juga akan pindah ke kota lain.”
“Ide yang bagus, lebih baik sebelum kau mati bosan di Mansion yang sangat besar itu”
Keduanya tertawa bersamaan.
“Angela.”
Tiba tiba seorang pria dengan wajah tampan mendekati meja keduanya.
“Oh, God! Bisa tidak? Sehari saja kau tidak muncul di hadapanku.” ujar Angela dengan wajah kesal kepada pria di hadapannya itu.
Kyra yang melihat hal itu terkikik geli.
“Kau, hikh_ sangat-at cantik.” Ucap pria itu dengan nada terbata-bata.
Angela mencondongkan tubuhnya ke arah Lucas. Dia dapat mencium aroma alkohol yang menguar dari pria itu.
“Mr. Wiston, kau mabuk? Eghk! Menyebalkan di saat sadar, tapi lebih menyebalkan di saat mabuk.” cibir Angela.
William menghampiri ketiganya, dan setelah melihat keadaan sahabatnya William menyarankan untuk Lucas kembali ke kamar hotel tempatnya menginap.
“Luc, sepertinya kau harus kembali ke kamarmu sekarang. Aku akan membantu memapahmu.”
“Biar aku saja, kau kan, tuan rumah pesta ini. Kalian nikmati saja pestanya, biar aku yang mengantarkan pria menyebalkan satu ini.” Usul Angela.
William menyetujui hal itu. Setelah Angela dan Lucas pergi, dirinya mengajak Kyra untuk berdansa bersama dengan tamu-tamu yang hadir. Awalnya Kyra sedikit terkejut dengan ajakan William, tapi Kyra segera menyetujuinya, kemudian mengikuti William.
Kyra sangat gugup, ketika William menaruh tangannya dan merangkul pinggangnya. Tetapi kegugupan itu tidak berlangsung lama, ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir William.
“Setidaknya dengan begini tidak akan ada orang lain yang mengetahui, jika pernikahan kita hanya sementara.” Ujarnya dengan wajah datar.
“Ya.” Jawab Kyra singkat.
Memangnya apa yang kau harapkan? Dia mencintaimu, atau pernikahan ini akan berlangsung selamanya dan kalian hidup bahagia. Kau terlalu bermimpi. Batinnya tertawa miris.
Menghela napasnya. “Sepertinya aku terlalu membaca buku dongeng.” ujarnya dengan suara lirih.
“Kau berbicara sesuatu?” tanya William.
“Tidak, bukan apa apa.” kilahnya.
...***...
Setelah tamu-tamu pulang, Kyra segera memasuki kamar untuk berganti pakaian.
Tubuhnya benar benar lelah. Saat dia memasuki kamar dan hendak melepaskan gaunnya, entah mengapa resleting gaun tersebut susah dibuka.
“Menyebalkan! Tubuhku udah begitu lelah, kenapa kau susah sekali dilepas wahai gaun.” Gerutu kyra.
Karena terlalu fokus dengan gaunnya, Kyra tidak menyadari jika William baru aja masuk ke kamar itu.
“Kau butuh bantuan?” ujarnya dengan suara sedikit serak.
Tubuh Kyra terjengkit, karena sedikit terkejut dengan kehadiran William.
Awalnya dia ragu, tetapi mengingat rasa lelah dan kantuk, akhirnya Kyra menganggukkan kepalanya mendengar tawaran William.
Pria itu berjalan ke arah Kyra, membantunya melepaskan resleting gaun yang ternyata menyangkut pada bagian veil yang tengah Kyra kenakan.
Perlahan William menurunkan resleting gaun itu, dia meneguk ludahnya beberapa kali melihat punggung Kyra yang polos tanpa sehelai benang pun.
“William, apakah sudah selesai. Mengapa lama sekali? Apakah memang begitu susah?” tanya Kyra.
Beberapa saat dirinya tak kunjung mendengar jawaban William segera memutar tubuhnya menghadap ke arah pria itu.
“Apakah sudah selesai?” Kyra bertanya sekali lagi.
Namun, saat dia melihat ke arah William, pria itu masih bergeming dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tubuh William perlahan mendekat ke arah Kyra. Semakin dekat hingga jarak keduanya semakin terkikis, perlahan William mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
“Bisakah, kita melakukannya malam ini?” ujarnya pria itu dengan suara semakin serak, seolah-olah tengah menahan sesuatu.
Melihat sesuatu yang begitu menggiurkan ditambah dengan pengaruh alkohol, William tak bisa menahannya lagi.
Kyra menahan napasnya. Tangannya mencengkeram erat gaun yang dikenakannya. Kini dia merasakan udara yang dingin menerpa punggungnya yang terbuka. Dirinya bukannya tidak paham apa yang dikatakan oleh pria itu, tapi melakukannya malam ini. Kyra benar benar dilanda kegugupan yang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang.
Di saat Kyra masih tenggelam dalam pikirannya, William berkata lagi.
“Aku anggap diam mu sebagai jawaban.”
Pria itu kemudian mencium Kyra dengan cara yang tidak pernah Kyra bayangkan sebelumnya. Meskipun Kyra sempat terkejut, tetapi perlahan matanya ikut terpejam menikmati sentuhan dari pria itu.
Belaian lambat di punggung Kyra membuat sensasi merinding pada tubuhnya. Kyra memejamkan tangan lembutnya di tengkuk pria itu. Kaki Kyra begitu lemas, setiap sarafnya seolah mati rasa.
Tanpa diberitahu dua kali, William melingkarkan lengannya di tubuh Kyra, mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.
Belaian dan gesekan kulit dengan kulit membuat Kyra terengah-engah, seolah-olah tubuhnya tidak dapat memproses oksigen, maupun kegilaan yang timbul dari sensasi yang menyerang secara bersamaan.
Saat pria itu menyatukan tubuh mereka. Secara tiba tiba, mengejutkan, Kyra yang awalnya sempat merasakan tidak nyaman karena ini adalah yang pertama kalinya bagi Kyra. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Rasa tidak nyaman berubah menjadi sebuah sensasi luar biasa. Bibir William menciptakan kekacauan di mana pun bibir itu menyentuh Kyra, membuatnya lemas. Membuatnya tak berdaya.
Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya berkeringat. Kyra dapat merasakan dada William mengembang dan mengempis, mata Kyra mulai menutup karena lelah.
Namun, bisikan dari William membuatnya kembali membuka matanya. “Aku belum selesai,” ujar pria itu dengan suara serak.
Kyra menegang sekaligus terperangah. Dirinya sadar, jika malam ini akan terasa begitu panjang.
...****...
...Dukung karyaku dengan memberikan vote dan komentar....