selamat membaca ya 😀😀😀 awas jangan sampai Baper lho
Dirga Argantara ketua OSIS SMA Galaksi Plus siswa yang berprestasi dan membanggakan selain itu Dirga memiliki wajah rupawan tetapi dibalik kesempurnaan dia Dirga memiliki sifat yang sangat dingin dan tidak suka diganggu oleh orang lain.
Apalagi kalau ada Alana Aurora Atmadja cewek cantik di SMA Galaksi itu yang selalu membuat hari-hari seorang Dirga Argantara kesal setiap hari Alana pun sangat membenci Dirga karena sifatnya yang sangat dingin Pada siapapun.
Benci jadi cinta nih 😊😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11 Perhatian seorang Dirga
Hari ini Alana belum bertemu kembali dengan Dirga, karena cowok itu masih dalam masa skors. Entah kenapa, Alana terus memikirkan kejadian tadi malam dan membuatnya tidak fokus saat berada di sekolah.
Setelah Pulang sekolah, Perut Alana memberontak untuk diisi. ia pun memutuskan untuk membeli makanan di warung dekat rumahnya. Pandangannya terarah Pada sebuah tempat makan yang tidak begitu luas. Saat sedang berjalan menuju ke tempat itu, Tidak sengaja ia melihat adiknya bersama seorang wanita keluar dari sana, seperti habis makan. ia mengenali wanita yang tengah tertawa bersama adiknya itu. Keduanya terlihat begitu sangat bahagia. Alana bergeming tidak dapat berkata-kata. Merasa dilihat, Kedua wanita itu melihat ke arah Alana.
" Mama ....., " lirih Alana
Alana tampak kaget. ia tidak Pernah dengan situasi seperti ini. Bagaimana bisa Dara menemukan ibunya ? seorang wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan, lalu meninggalkan mereka Pikirannya ke mana-mana. Napasnya tersekat, Perasaannya campur aduk. ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Dadanya kini terasa Di Panas, seperti ada sesuatu yang membakar jiwanya
Pandangan Alana beralih Pada Dara, meminta Penjelasan. " Dara jadi kamu selama ini tahu keberadaan Mama dan kamu ketemu sama Mama tanpa sepengetahuan Kakak dan Papa ?" tanya Alana kecewa. Dara tidak mampu menjawab ia hanya menunduk.
" Alana ...... " Panggil ibunya lirih.
Alana menggeleng dan Perlahan menjauh. Tidak ingin didekati ibunya.
" Alana ...... Dengerin, Mama dulu Sayang,"
Alana berbalik dan mulai berjalan menjauh. ia tidak ingin menghentikan langkahnya untuk berbalik menatap wanita yang sedang berusaha mengejarnya saat ini.
" Mama minta maaf, sayang. mungkin karena Mama, kamu jadi benci Dara Maaf ..... "
Langkah Alana akhirnya terhenti, tetapi ia tidak berniat sedikitpun untuk berbalik ataupun menoleh.
" Maaf ?" tanya Alana. " Segampang itu Anda bilang maaf saat Anda Udah hancurin Perasaan saya ? Anda kembali dan hanya bilang Maaf ? Anda nggak tahu gimana hidup saya tanpa seorang ibu yang mendampingi. Enam tahun lamanya Anda tinggalin saya, Dara, Papa hanya demi selingkuhan Anda !" Alana berbalik menatap ibunya dengan air mata luruh. Rasa kepedihan yang sudah lama tersimpan kini terkuak kembali.
Sakit.
Begitu sakit dan Perih
" Mama bisa jelasin, Nak, kenapa Mama seperti itu,"jelas ibu Alana dengan tatapan sendu
" Udah terlambat. Seharusnya enam tahun yang lalu Anda jelasin Kenapa Anda memutuskan untuk Pergi," Alana mengusap air matanya dengan kasar," saat saya terpuruk, sakit butuh seorang ibu, Anda di mana ? Anda nggak ada saat saya membutuhkan !"
ibunya terdiam, ia tahu selama ini ia sudah banyak berbuat salah kepada anak Pertamanya. ia lebih menyayangi Aldara di bandingkan Alana. ia sangat menyesal Tidak seharusnya ia Pilih kasih Pada kedua anaknya itu.
" Apa pun alasan Anda, saya nggak akan Pernah mau tahu. seseorang bisa berubah Kapan pun Termasuk mengubah rasa Percaya menjadi kecewa."
" Alana ...... " lirih ibunya, " Jangan Pergi ...... "
Alana berbalik, berlari meninggalkan ibunya. ia terus berlari sampai menangis, tidak Peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Hatinya sudah hancur berkeping-keping, seolah tidak ada sesuatu yang bisa merekatkan hatinya kembali.
...•••••...
Hari ini Dirga sudah diperbolehkan untuk bersekolah kembali setelah masa hukumannya berakhir. Dirga melihat Alana masuk ke kelas menuju bangkunya sendiri dengan mata sembab serta wajah murung. Tidak biasanya Alana seperti itu. Entah ke mana wajah ceria cewek itu. Walaupun Dirga tidak Peduli dengan gadis tersebut, tetapi tetap saja hal itu aneh bagi Dirga. Awalnya Dirga berniat untuk meminta Penjelasan kepada gadis itu menyangkut kejadian kemarin, tetapi ia urungkan niatnya setelah melihat wajah muram Alana.
Pada jam Pulang sekolah, Dirga tidak sengaja melihat Alana yang tengah menangis di belakang sekolah. Awalnya Dirga hendak membuang kertas-kertas yang berisi data OSIS yang sudah tidak dipakai lagi ke tong sampah belakang sekolah.
Dirga bingung ia terdiam sambil melihat Alana yang tengah menyeka air matanya. ia mencoba untuk lewat di depan gadis tersebut, tetapi tidak ada tanda-tanda Alana menyadari kehadiran Dirga. Gadis itu tetap menangis sambil menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengan yang ditumpukan Pada kedua lututnya, setelah Dirga membuang sampah, ia memilih untuk kembali ke kelas dan membiarkan Alana sendirian di sana.
Saat di gerbang, sekolah Alana tampak tengah menunggu angkutan kota lewat. Sebenarnya, sudah banyak angkutan kota yang lewat. Namun entah mengapa Alana tidak naik. Pandangannya lurus ke depan, tetapi Pikirannya kosong. Dirga yang memperhatikannya dari tempat Parkiran Pun tampak semakin bingung. ia mencoba untuk mendekat, setelah berhasil meminjam sebuah helm dari Pak satpam yang ia ketahui selalu menyimpan helm Para siswa yang tertinggal di Pos Penjaganya.
TIN
Suara klakson motor terdengar keras di depan Alana. Gadis itu terkejut dan melihat seorang cowok yang ada di depannya. Dirga
" Dirga," Panggil Alana
" Naik," ucap Dirga
Alana langsung mengernyitkan keningnya, " Mau ke mana,"
" Gue antar lo Pulang," jawab Dirga datar seraya memberikan sebuah helm ke gadis itu tetapi belum diterima juga
" Gue nggak Mau Pulang,"
Dirga mengangguk Paham. " Oh, ya udah kalau gitu," Dirga hendak menggantungkan kembali helmnya di setang motor berniat untuk mengembalikannya ke Pak satpam tetapi dengan cepat direbut oleh Alana
" Balikin Helmnya," Dirga berucap datar, tetapi Alana sudah memakai helm itu di kepalanya. Melihat hal itu Dirga langsung memprotes," Ngapain lo Pakai ? Kan, lo nggak mau Pulang,"
" Gue ikut lo, ya Dirga Please ?" tanya Alana yang langsung dijawab galak oleh Dirga, " Nggak ! Gue mau Pulang,"
" Lo anterin gue ke tempat lain gitu, Mau ya, ? Alana tampak memaksa
" Nggak. Siniiin Helmnya,"
Alana menggeleng. " Gue ikut ! Kini gadis itu memaksa duduk di belakangnya
Dirga mendengus sebal. " Turun lo dari Motor gue !"
" Nggak, mau,"
Merasa Percuma untuk berdebat, akhirnya Dirga memilih untuk melajukan motornya, membelah jalanan kota yang padat dengan kecepatan sedang. Motor Dirga berhenti di depan rumahnya sendiri. Tampak Pak satpam membukakan Pintu gerbangnya. Sesudah motornya terparkir, Alana turun dari motor itu. ia menoleh ke arah cowok itu dengan cepat, meminta Penjelasan mengapa Dirga membawa dirinya ke rumahnya, bukan ke tempat lain sesuai Pintanya.
Entah karena tidak Peduli atau tidak Peka, Dirga berjalan begitu saja melewati Alana dan masuk ke rumahnya. Dengan langkah cepat juga gadis itu mengikuti langkah Dirga hingga ke lantai dua.
" Kenapa lo malah ajak gue ke rumah lo ?"
" Lo yang maksa untuk ikut gue kan Jangan Pernah berharap gue bakal bawa lo ke taman atau kafe dalam keadaan lo kayak gitu," Dirga mengatakannya dengan raut wajah datar. " Gue nggak tahu apa masalah lo sampai lo nangis di belakang sekolah tadi. Tapi gue nggak Peduli Lo bisa tenangin diri lo di kamar sebelah gue yang kosong,"
Alana diam. ia bingung, jika ia Pulang ke rumah sudah Pasti akan bertemu lagi dengan Dara. Tetapi ia di rumah Dirga, ia merasa aneh dan segan.
" itu kamarnya, Tapi kalau lo mau Pulang silahkan aja," Dirga menunjuk ke arah kamar yang ada di sebelah kanan, lalu melangkah ke kamarnya sebagai tanda akhir Percakapan. Alana masih diam di tempatnya, hanyut dalam Pikirannya. Karena memang tidak ada tujuan, ia akhirnya memilih untuk beristirahat di kamar kosong yang ada di sebelah kamar Dirga.
Dengan Pelan ia memutar knop dan membuka Pintu, kemudian mengintip ke dalam kamar. Kamar itu bernuansa Pink dan hijau tosca, membuat Alana tertarik untuk masuk. ia menutup Pintu dengan rapat, lalu melihat sekelilingnya. kamar itu terbilang lebih luas dari ukuran kamar miliknya sendiri. saat melangkah masuk, matanya menangkap sebuah lemari Putih bertuliskan " Tidak boleh dibuka selain Dirga " yang justru membuat gadis itu Penasaran. Tangannya meraih Pintu lemari itu. Tidak terkunci Alana Penasaran.
Alana membuka Pintu itu dan melihat beberapa buku Novel ada di dalamnya, terdapat juga beberapa album foto berserakan di rak lemari buku tersebut.
Matanya tertarik untuk melihat satu foto yang menampilkan dua orang yang sedang tertawa gembira. Matanya membulat.
" ini Dirga ?" gumamnya. Melihat Dirga sedang menggendong gadis di Punggung belakangnya sambil tertawa. Foto itu berhasil menarik Perhatian Alana untuk membalik kertas itu, mencari keterangan Tertulis. " Dirga dan Luna,"
" Dirga bisa berekspresi sesenang ini ?" gumam Alana, " Di sekolah mah dia nggak Pernah tuh ketawa setulus ini. Tapi Luna itu siapa ya ?
Clek
Suara Pintu terbuka, Dirga masuk dan Alana buru-buru menyembunyikan foto itu di balik badannya Melihat Pintu lemari terbuka, Dirga langsung berjalan mendekati Alana.
" Kenapa lo buka ?" tanya Dirga dingin. Alana terdiam bagaikan Patung. tidak tahu apa yang harus dikatakannya. ia merutuki kebodohannya sendiri yang lupa menutup Pintu lemari itu
" Lo nggak bisa baca tulisan yang tertempel di lemari ? Terus kenapa lo buka ?" Dirga terus menyerangnya dengan Pertanyaan," Apa yang ada di tangan lo,"
Alana gelagapan. ia benar-benar takut dengan cowok di hadapannya saat ini. jari-jarinya memegang erat foto itu agar tidak terjatuh. Namun Dirga berusaha merebut foto di tangan Alana. Alana terkejut saat Dirga berhasil mengambil foto dari tangannya dengan cara hampir memeluknya. Kini keduanya begitu dekat.
Alana menatap wajah Dirga yang sedang melihat foto itu. Ekspresi Dirga tidak bisa ditebak. Apakah Dirga sedang marah atau sedih ? Cowok itu meremas foto tersebut, lalu membuangnya ke tong sampah kecil yang ada di sudut ruangan..
" Kenapa lo buang ? itu, kan, kenangan lo," Alana tidak habis Pikir dengan Dirga. segampang itukan Dirga melenyapkan kenangan yang berharga
" Cuma kenangan," balas Dirga dingin.
" Gue nggak tahu siapa itu Luna. tapi gue merasa dia itu berarti banget buat lo. Dan walaupun dia itu cuma masa lalu, setidaknya lo tetap hargai ..... "
" Berisik !" Dirga memotong cepat ucapan gadis itu. " Lo mau istirahat apa nggak,"
Alana menggeleng dan Dirga menghela napasnya Pelan.
" Yaudah kalau gitu gue anterin lo Pulang,"
Mendengar kata Pulang. Alana langsung terpikir akan Dara. Tidak Alana belum ingin Pulang
" Gue belum mau Pulang," Pintanya Pelan
" Ya udah kita nonton aja," sahut Dirga santai ia sudah melupakan amarahnya
" Nonton di bioskop," tanya Alana antusias
" Mimpi,"
" Jadi ?"
" Ogah banget gue bawa cewek ribet Kayak lo di bioskop," Kata Dirga seraya menunjuk ruang santai yang ada di depan kamar dengan dagunya
Keduanya keluar dari kamar itu. Alana berlari kecil buru-buru menempati sofa, kemudian Dirga menyusul dan menyetel sebuah film. Sebuah tayangan muncul di layar. Dirga ikut duduk di sebelah Alana
" Lo mau nonton film horor di siang bolong kayak gini !" tanya Alana, setelah melihat sampul depan CD yang diputar Dirga
" Diam, Kenapa sih ? Tuh mulut cerewet amat," Lagi-lagi Dirga memotong ucapan Alana
" Gue, kan, tanya Lo aja yang dari tadi marahin gue mulu."
" Makannya diem,"
" Tutup kek tirai jendelanya, elah Mau nonton horor apaan terang-terangan beginian ?"
Dirga habis kesabaran. Baginya, gadis di sebelahnya itu benar-benar menyebalkan. Dengan Perasaan kesal Dirga berdiri meraih tirai jendela itu kemudian menariknya hingga cahaya matahari tidak lagi menerangi ruangan tersebut. lalu ia kembali duduk di sofa
" Cemilan, eh, Cemilan,"
Dirga melirik tajam ke samping kirinya. " Lo nggak ngerepotin orang bisa nggak,"
" Kan, gue ini tamu Gimana sih lo itu sebagai Tuan rumah seharusnya mengistimewakan gue sebagai tamu,"
" Lo ambil sendiri tuh di lemari kecil, Ambiliin gue sekalian," Tunjuk Dirga Pada salah lemari kecil
Alana dengan semangat mendekati lemari kecil dan membawa dua bungkus keripik kentang. Satunya ia Pegang dan satunya lagi ia lemparkan ke Dirga.
Dengan Perasaan senang Alana kembali mendaratkan dirinya di atas sofa
selama tayangan film diputar, Alana terus mengusik Dirga. " Ga, Ga ! itu hantunya keluar, Ga,"
" Hantunya ngapain itu ?"
" itu hantu, rambutnya biasa saja bisa nggak, sih ?
" itu Kuntilanak dapet daster dari mana lagi,"
" Eh, itu bukan kuntilanak, Ga, ternyata,"
Dirga tetap tenang menonton walaupun sebenarnya ia sudah sangat kesal setengah mati dengan sikap Alana. Saat film hampir selesai. Dirga tidak mendengar lagi adanya teriakan-teriakan Alana. Cowok itu menoleh ke arah kiri dan mendapati Alana tertidur dengan wajah menutupi setengah rambutnya serta bantal sofa di Pelukannya. Dirga mendekat, merapikan rambut-rambut itu dari wajah Alana. Bisa terdengar oleh cowok itu dengkuran halus Alana
" Tidur juga dia," Dirga terkekeh
Dirga beranjak dari sofa ke kamarnya untuk mengambil selimut, kemudian menghampiri Alana. ia menyelimuti tubuh mungil gadis itu dengan hati-hati ia mematikan televisi. lalu kembali ke kamarnya dengan senyum mengembang indah di wajahnya
" Lucu juga kalau dia lagi tidur," gumam Dirga Pada diri sendiri
...•••••...