Kisah cinta sepasang suami istri yang baru saja menikah yang terpaksa harus berpisah karena sebuah hal yang menuntut sang istri harus mundur merelakan suaminya untuk orang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
"Kenapa yang?" tanya Ronald yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendengar istrinya seperti tengah berbicara sesuatu.
"Hah, oh enggak be, ini hanya lipstik ku gak rata aja." bohong Sirena.
Ronald pun hanya membalasnya dengan oh saja, dia pergi ke walk in closed untuk memakai pakaiannya.
"Hufft...." hela nafas Sirena.
Bukan tidak mau jujur, tapi bagi Sirena itu hanya masalah sepele saja yang tak mungkin harus dia cerita pada Ronald.
Setelah mereka berdua siap, mereka pun langsung pergi menuju tempat kerja masing masing, mereka tidak melakukan sarapan pagi dahulu karena hari sudah semakin siang.
Mungkin nanti mereka kana melakukan sarapan di tempat kerja saja, untuk menghemat waktu.
...**...
Satu bulan berlalu, pernikahan Ronald dan Sirena pun berjalan dengan semestinya, bahkan mereka berdua semakin hari semakin romantis.
Tapi ada yang aneh dengan tubuh Sirena, dia sering merasakan sakit di bagian perutnya. Awalnya sih dia cuek dan mengira kalau dia salah pola makan, tapi semakin hari rasa sakit itu semakin sering timbul.
Rambut Sirena pun bukannya berhenti rontok karena dia sudah berganti shampo, tapi malah semakin rontok, bahkan sekarang rambut Sirena sudah semakin tipis.
Semua itu Sirena tidak memberitahukannya kepada Ronald, dia tak ingin Ronald khawatir apalagi akhir akhir ini pekerjaan Ronald sangat sangat banyak, jadi Sirena tak enak kalau harus membicarakan hal itu kepada Ronald.
Hari ini tak ada jadwal pemotretan, Sirena memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan tubuhnya.
Dia pergi sendirian karena lagi lagi dia tak ingin membuat Ronald khawatir, dia juga mengendarai mobilnya sendiri tidak di antar oleh sopir.
"Semoga saja tidak terjadi apa apa," doa Sirena sebelum turun dari dalam mobilnya.
Sirena berjalan masuk ke rumah sakit yang terbesar di kota itu, Sirena langsung di persilahkan memasuki ruangan untuk memeriksa keadaannya.
"Siang ibu, boleh saya tahu apa keluhan nya?" ucap dokter yang hendak memberikan Sirena.
"Siang juga dok, ini saya mau periksa keadaan tubuh saya dok, soalnya akhir akhir ini saya sering merasakan sakit di bagian perut sini dok." jelas Sirena sambil menunjuk bagian perutnya yang terasa sakit.
"Baik kalau begitu ibu silahkan berbaring biar saya periksa terlebih dahulu." balas dokter itu menyuruh Sirena agar berbaring di atas bangkar.
Sirena berbaring dan dokter itupun mulai memeriksa keadaan Rena, dokter itu memberikan dengan teliti dan setelah selesai dia kembali lagi ke meja kerjanya dan di ikuti Sirena.
"Gimana dok?" tanya Sirena penasaran.
"Begini Bu, setelah saya periksa ibu sebaiknya pergi ke dokter spesialis kandungan saja untuk memeriksa lebih jelasnya lagi." ucap dokter itu menyuruh agar Sirena pergi ke dokter kandungan.
"Kenapa harus ke sana dok, apakah saya hamil?" tanya Sirena antusias.
"Saya belum tahu pastinya seperti apa Bu, jadi sebaiknya ibu ke sana saja dulu, nanti asisten saya yang akan menghantarkan ibu ke sana." balas dokter itu.
"Baiklah kalau begitu dok." Sirena pun tak banyak tanya lagi, dia segera bangkit dan mengikuti asisten dokter tadi yang hendak menggantarkan dirinya pergi ke dokter kandungan.
Sirena sudah was was dalam hati, dia menebak-nebak ada apakah dengan dirinya, apakah dirinya hamil? pikir Sirena.
Sirena sangat berharap kalau apa yang dia pikirkan itu kenyataan, dia sudah sangat tidak sabar ingin memberitahu Ronald nanti, pasti nanti Ronald akan sangat bahagia.
Sampai di ruangan dokter kandungan, Sirena langsung di persilahkan masuk karena memang kebetulan lagi sepi, gak ada yang mengantri ingin periksa.
"Silahkan masuk Bu," ucap asisten dokter yang tadi mengantarkan Sirena.
"Terimakasih," balas Sirena dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Loh Siren," ucap seseorang membuat Sirena langsung melihat ke arah asal suara tersebut.
"Loh Gio, kamu ada di sini?" balas Sirena membuat beberapa suster yang tengah membereskan barang barang seperti tengah selesai menyelesaikan pemeriksaan pun menatap ke arah Sirena.
"Ehh, maaf maksud aku dokter Gio." ralat Sirena yang menyadari tatapan para suster itu.
"Santai aja kali, oh iya ke sini sama siapa? Mana Ronald?" tanya Gio melihat kebelakang Sirena tapi tak melihat keberadaan sahabatnya.
"Aku pergi ke sini sendiri tadi, tadi aku pergi periksa karena memang perut aku suka sakit akhir akhir ini, ehh malah sama dokternya aku di suruh pergi ke dokter kandungan." jelas Sirena.
"Benar dok, dokter inaya menyuruh saya untuk menggantarkan ibu ini ke sini," sambung asisten dokter yang mengantarkan Sirena tadi.
"Oh begitu, ya sudah ayo aku periksa dulu." balas Gio hendak memeriksa Sirena.
"Kalau begitu saya pamit kembali dulu dok, nanti dokter inaya mencari saya." ucap asisten tadi pamit.
"Iya, terimakasih sudah mengantar pasien." balas Gio.
"Terimakasih ya," sambung Sirena mengucapkan terimakasih juga.
"Sama sama Bu." balas asisten dokter itu dan pergi dari sana kembali ke tempatnya semula.
"Apa saja yang kamu keluhkan?" tanya Gio sebelum memulai memeriksa Sirena.
"Perutku sering sakit, dulu sih awal awal gak sering sering banget, tapi akhir akhir ini rasa sakit itu sering datang." jelas Sirena mengatakan keluhannya.
"Kalau datang bulan kamu gimana?" tanya Gio.
"Untuk bulan ini sih kayaknya aku belum." Sirena sambil mengingat ingat kapan terakhir kali dia datang bulan.
"Ya sudah dari pada menyimpulkan yang tidak tidak lebih baik kita langsung memeriksakannya saja." balas Gio.
"Untung kamu ke sini sendiri, mungkin kalau sama Ronald dia gak bakalan mengizinkan aku yang memeriksa kamu." Ucap Gio sambil memberikan isyarat agar Sirena berbaring di bantu oleh suster yang ada di ruangannya tadi.
"Ini di USG kan dok?" tanya Sirena.
"Iya, tapi sebelum itu tensi darah kamu harus di periksa dulu." jawab Gio.
Sirena mengangguk, dan Suter pun mulai memasangkan alat di lengan Sirena untuk mengecek tensi darah Sirena.
"Berapa?" tanya Gio.
"120 dok." jawab suster itu.
"Darah kamu normal, langsung saja kita mulai USG nya."
Suster pun mulai mengoleskan jel di perut Sirena, dan setelah itu Gio mulai meletakkan sebuah alat di atas perut Sirena.
Gio memicingkan matanya saat melihat ke arah layar yang menampilkan sebuah isi gambar yang ada di dalam perut Sirena. Sirena yang melihat raut wajah itupun deg degan.
"Bagaimana dok, apa aku hamil?" tanya Sirena.
"Sebentar," balas Gio dan terus memutarkan alat yang ada di atas perut Sirena itu hampir ke seluruh bagian perut Sirena, bahkan sampai memakan waktu yang cukup lama dari pada biasanya orang melakukan USG.
"Apa kamu juga ada keluhan yang lain selain sakit perut?" tanya Gio.
"Eemm... palingan sakit di bagian pinggul sih." jawab Sirena.
"Apakah rambut kamu rontok?" tanya Gio lagi.
"Iya, bahkan sekarang rambut aku sudah menipis, apakah itu ada hubungannya, aku kira itu karena aku gak cocok dengan shampo yang aku kenakan." jawab Sirena.
Gio mengangguk, dan dia langsung menghentikan pemeriksaannya. Suter pun membersihkan jel yang ada di perut Sirena dan membantu Sirena untuk bangun.
"Gimana dok?" tanya Sirena setelah duduk di depan meja Gio.
"Begini...."
...***...
sang penukinya kurang literasi.
Ronald dr dulu gitu sih lelet menyelesaikan masalah, bhkan gk bisa tau istrinya sakit. dia gk pinter soale.
mkne kurang sreg karakter Ronald gk bisa di andal kan melindungi kluarga.