Indonesia
NovelToon NovelToon
Puber Ke-2

Puber Ke-2

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor
Popularitas:26k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi tan

Dalam kegundahan hatinya karena suaminya yang sering pulang malam, Luna menemukan kenyamanan pada sosok Bang Juna, seorang supir yang selalu menemani dan mengantarkan Luna kemanapun.

Hingga cinta tak biasa muncul di antara mereka, cinta terlaŕang yang tidak mungkin bisa saling memiliki, akankah mereka bisa mempertahankan cinta itu, dan apakah rumah tangga yang akan menjadi korban cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Yang Berubah

Ivan terus melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall yang besar yang terletak di pusat kota itu.

Sepanjang perjalanan, Ivan lebih banyak berbicara pada Caca, Caca sepertinya terlihat gembira karena sosok Ayah yang selalu ditanyakannya, kini berada dekat dengannya.

Sementara Luna nampak diam saja tidak banyak bicara, entah mengapa hati Luna seolah beku, dia tidak memiliki rasa apapun saat itu, bahkan Luna jadi merasa kikuk dan kurang nyaman berada bersama dengan keluarga kecilnya itu.

Padahal sebelumnya Luna sangatlah mendambakan kebersamaan ini, tapi kenapa kini hatinya seolah tawar, tidak memiliki rasa apa-apa lagi, Luna berpikir apakah mungkin cintanya terhadap Ivan sudah mulai memudar?

Ivan juga terlihat aneh, padahal beberapa waktu lalu dia datang bersama dengan seorang wanita yang katanya hendak menikah dengannya, namun saat ini Ivan malah menunjukkan suatu perubahan, sedikitpun dia tidak membicarakan soal wanita itu.

Luna pun enggan bertanya soal wanita itu, hatinya sudah benar-benar dingin terhadap Ivan, mungkin rasa kecewa yang terus-menerus menumpuk yang membuat Luna jadi bersikap seperti itu.

Tak Berapa lama kemudian akhirnya mereka pun sampai di sebuah Mall, dengan antusias Caca turun dan berjalan masuk ke dalam mall tersebut bersama dengan Ivan, sementara Luna mengikuti di belakangnya.

"Malam ini ayah tidak pergi lagi kan? ayah akan tidur di rumah kan?" tanya Caca sambil bergelayut manja di tangan ayahnya.

"Iya sayang, malam ini Ayah tidur di rumah, Caca Tenang saja!"Jawab Ivan.

Kemudian Caca menoleh ke belakang, ke arah Luna yang masih berjalan mengikuti mereka.

"Ayo bunda, kenapa Bunda jalannya di belakang terus? Sekarang ayah akan tidur di rumah lagi! Memangnya Bunda tidak senang?" tanya Caca.

"Ah Caca, lagian kan kalau kita jalan beriringan akan menghalangi orang lain! Lebih baik Caca pilih saja Caca mau makan di mana!" sahut Luna.

"Waktu itu kan aku tidak jadi makan di Bento, jadi sekarang aku mau makan di Bento, Ayah mau kan?" tanya Caca sambil mendongak ke arah ayahnya yang sedari tadi diam saja.

"Tentu saja mau dong Cha, di manapun Caca mau makan, Ayah pasti turuti!" jawab Ivan.

Caca tersenyum senang, sebagai seorang anak dia merasa kalau hari ini adalah hari yang paling membahagiakannya, karena dia bisa berkumpul dan bersatu lagi dengan ayah dan bundanya.

Namun berbeda dengan Luna, Luna terlihat tidak menikmati kebersamaan mereka, entah mengapa hatinya begitu hambar terhadap Ivan, seperti sayur yang kurang garam.

Mereka kemudian sudah sampai di restoran yang dimaksud oleh Caca, Caca kemudian langsung memilih tempat dan mereka pun duduk di sebuah meja kotak yang ada di restoran itu, Ivan kemudian langsung memesan menu makanan sesuai dengan keinginan Caca.

"Bunda tidak mau pesan makanan?" tanya Ivan, karena dari tadi Luna terlihat enggan bicara dan juga memesan apapun.

"Aku tidak lapar, ayah dan Caca saja yang makan!" sahut Luna.

"Kenapa Bunda tidak makan? kan Bunda belum makan dari tadi!" celetuk Caca.

"Sudah lah Caca, Caca makan saja yang banyak, mungkin Bunda masih marah pada ayah, makanya Bunda jadi tidak mau makan!" kata Ivan.

Akhirnya Luna hanya memesan minuman saja, lagi pula entah mengapa selera makannya tiba-tiba lenyap, padahal restoran itu adalah restoran favorit, dulu mereka sering menikmati makan di restoran itu.

Tapi entah mengapa ada sesuatu yang hilang di atas diri Luna, tapi Luna sendiri tidak tahu apa itu.

Setelah mereka selesai makan malam di restoran itu, Ivan kemudian langsung mengajak mereka untuk pulang, karena hari sudah menjelang malam, apalagi Ivan ingin berbicara dari hati ke hati dengan Luna malam ini.

Meskipun agak kecewa karena jalan-jalannya kurang lama, Caca kemudian menuruti saja keinginan ayahnya untuk kembali pulang ke rumah, lagi pula baginya asalkan dia bisa bersama dengan ayah dan Bundanya itu sudah cukup.

Mereka pun kemudian sudah sampai dan kembali lagi di rumah, Caca kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya karena dia terlihat lelah.

"Bunda, Ayah duluan ke kamar ya, setelah itu Ayah tunggu Bunda, kita bicara di kamar!" kata Ivan.

Luna hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dengan mulutnya, setelah itu Ivan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.

Sepertinya laki-laki itu kelihatan sangat capek, dia berniat ingin merebahkan tubuhnya di tempat tidur sebelum berbicara dengan Luna.

"Bun, tumben si Ayah hari ini pulang cepat!" kata Ijah yang saat itu sedang mengepel lantai.

"Iya Jah, Sudahlah tidak usah dipikirkan, Oh ya, bang Juna ke mana Jah?" tanya Luna.

Entah mengapa sejak tadi Luna selalu teringat akan Juna, ketika dia sampai rumah dia sedikit tenang, tapi dia tidak melihat di mana keberadaan Juna, makanya dia tanyakan pada Ijah.

"Bang Juna lagi ada di kamarnya Bun, tadi habis mencuci mobil si Ayah, Bang Juna langsung masuk kamar dan belum keluar lagi sampai sekarang!" Jawab Ijah.

"Oh kalau begitu aku ke kamarnya saja deh, Ada yang ingin aku tanyakan padanya!" kata Luna yang langsung melangkah menuju ke kamar Juna yang letaknya di belakang, terpisah dari rumah utama.

Perlahan Luna mengetuk pintu kamar Juna kamar yang berukuran 4x4 meter itu, berbeda dengan Ijah, kamar Juna letaknya paling belakang di pojok, terpisah dari rumah utama dan dekat dengan taman belakang.

Tak lama kemudian, Juna pun keluar dari kamarnya itu, dan dia sedikit terkejut melihat Luna sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

"Bunda? bunda sudah pulang? Maaf Bun tadi saya ketiduran!" kata Juna.

"Tidak apa-apa Bang Jun, Oh ya bang Juna sudah makan belum?" tanya Luna.

"Belum sempat Bun, tadi habis cuci mobil saya langsung masuk kamar dan ketiduran sampai sekarang!" jawab Juna.

"Bang Juna makan dulu ya, tolong minta Ijah untuk membuatkan makanan buat Bang Juna, Kalau Bang Juna tidak makan nanti sakit, ya sudah aku naik ke atas dulu ya Bang!" ucap Luna.

Juna hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Luna pun melangkah naik ke atas menuju ke kamarnya, entah mengapa hatinya begitu lega, sudah melihat Juna sore ini, dan ini lebih membuat Luna senang, daripada sepanjang sore tadi dia jalan-jalan bersama dengan Ivan.

Entah mengapa Luna sendiri juga tidak mengerti apa yang dia rasakan saat ini, dia bahkan sudah tidak peduli lagi pada Ivan dan sudah tidak ingin tahu lagi kehidupannya, dan apa yang dilakukan suaminya itu.

Ceklek!

Luna langsung membuka pintu kamarnya, Ivan terlihat sedang berbaring di atas tempat tidurnya, Luna kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya, setelah itu dia duduk di tepi tempat tidurnya.

Ivan yang menyadari kehadiran Luna langsung membuka matanya.

"Bunda dari mana saja? Ayah menunggu dari tadi sampai ketiduran!" tanya Ivan.

"Memangnya Ayah peduli apa yang aku lakukan? selama ini Bukannya Ayah sibuk melakukan apapun yang Ayah suka!" sahut Luna tanpa ekspresi.

"Maafkan ayah Bun, Ayah hanya ingin bicara pada Bunda, Ayah sadar ayah salah, sudah mengecewakan Bunda dan Caca!" Ucap Ivan.

"Sudahlah Ayah, to the point saja, apa yang ingin Ayah bicarakan?" tanya Luna.

"Bunda, Ayah sudah mengambil satu keputusan!" jawab Ivan.

"keputusan? keputusan apa?" tanya Luna.

"Keputusan untuk meninggalkan Irma dan kembali pada Bunda dan Caca, karena Ayah sadar kalian adalah harta Ayah yang tidak mungkin Ayah Tinggalkan begitu saja!" jawab Ivan.

Luna tercengang mendengar kata-kata dari Ivan, dia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata seperti itu, Luna berpikir kalau Ivan hendak membicarakan soal rencana pernikahannya, tapi apa yang dipikirkannya itu tidak sesuai dengan apa yang dia dengar malam ini.

Bersambung ....

****

1
Mba Wie
Luar biasa
Shifa Burhan
contoh novel dengan pemikiran munafik wanita
*pemeran utama wanita (istri) bebas melakukan bahkan hal menjijikan sekali pun mereka benarkan (munafik)
*sedangkan pemeran utama pria (suami) yang dia lakakukan selalu salah apapun itu (normal, salah ya salah)
*pebinor dipuja2 (munafik)
*pelakor dilaknat (normal)
Daulat Pasaribu
lanjut thor
Jasreena
inget istri d kampung bang
KUNCORO'S Days
Anak Ivan kah??
Irin Sumariyah
lama sekali up nya, nungguin ini, kelanjutannya
Triee Wulandari
alhamdulillah akhirnya up date jg,,
smga up date selanjutnya tdk lama. aamiin
Irin Sumariyah
jangan lama2 update nya kak
KUNCORO'S Days
Kangen Bang Juna nih, lama ga muncul. Gimana kabar Ivan dan Irma, semoga tidak baik-baik saja mereka.😄😄😄😄
KUNCORO'S Days: iyo, Mbak. Rugiiii
total 2 replies
Irin Sumariyah
nungguin, belum up lg
Triee Wulandari
smga Bunda Luna mendapatkan kebahagiaan,, Ivan & Irma ganti mendapatkan penyesalan.
KUNCORO'S Days
Pokoknya ga rela Ivan dan Irma bahagia... apa alasan Ivan merasa tidak nyaman lagi dengan Luna? 😠😠😠😠😠
Triee Wulandari
di tunggu up nya kak
💪💪 ttp semangat
KUNCORO'S Days
Rasanya ga rela kalo Ivan dan Irma dibikin bahagia....
KUNCORO'S Days
Udahlah Luna,ngapain berebut Ivan... jadi gede rasa dia.
Irin Sumariyah
baru baca udah selesai aja.
semangat kak di lanjut lg
Irin Sumariyah
bakalan ramai inih
KUNCORO'S Days
Pengin tahu reaksi Irma saat tahu Ivan kecelakaan...
Christina
lanjut thoor
Hendry Jo
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!