She's my fiancé
Preview dari Perfect Bad Fiancé
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Dari Teman
Sialan.
Bianca tersenyum licik pada Alvaro lalu menatap pada Arkana, “Tuh kan benar kalau Alvaro itu munafik Kak”
Arkana menatap tajam pada Alvaro, hingga yang ditatap meneguk salivanya sukar, “Keterlaluan lo Al. Ingat woy lo itu masih SMA” Arkana memberi komentear yang disertai penekanan pada beberapa kata yang ia ucapkan.
“Tahu dengerin tuh” Bianca mengompori.
Alvaro menatap Bianca penuh smirk, “Oke kalau gitu. Gue bakal tanggung jawab”
“Apaan maksud lo? Adik gue lo hamilin?” Arkana sudah siap melayangkan bogemannya pada Alvaro.
Alvaro berusaha tetap tenang menghadapi amarah dari Arkana, “Santai bro. Gue nggak bakal sebejat itu sama cewek” Katanya dengan nada meninggikan diri sendiri.
Munafik.
“Terus apa maksud lo?” Ucap Arkana yang emosinya mulai menjadi-jadi.
“Ya supaya lo nggak salah paham. Bianca jadi pacar gue”
Matanya Bianca membulat mendengar hal itu. ia bukanlah perempuan bodoh yang mau dijadikan pacar seorang Alvaro. Belum pacaran saja sudah adu mulut apalagi kalau pacaran. “No! Gue nggak mau” Tolak Bianca dengan langsung.
“Daripada kakak lo salah paham sama gue. Mending kita jadian aja” Ucap Alvaro dengan datar pada Bianca.
Bianca memasang wajah tak sudinya dengan perkataan dari Alvaro. Pacar? Yang benar saja ia harus menjalin hubungan itu dengan seorang ketos gila, “Kutukan banget ke gue kalau itu sampe kejadian”
“Kalau gitu jelasin” Ucap Alvaro.
“Ketemu sama lo itu musibah tapi jadian sama lo. Itu kutukan” Bianca mengatakan kalimat seolah ia benar-benar menyesal jika dipertemukan oleh seorang Alvaro.
“Gimana kalau kalian pacaran seminggu?” Bukannya menengahi, Arkana malah ikut-ikutan dalam rencana bodoh itu.
“Kakak kok ikut-ikutan sih?” Bianca terlihat kesal dengan Kakaknya.
“Cuma kasih solusi buat kalian jadi teman dekat”
“Aku nggak mau"
“Apalagi gue” Ucap Alvaro. Bukankah dia yang mencetuskan ide gila itu? tapi kenapa ia juga ikut-ikutan menolak. LABIL.
Arkana memutar bola matanya malas, ia mendengus sebal, “Terserah. Gue nggak peduli lagi”
Bianca menatap pada Arkana dengan tatapan tak terimanya dengan perkataan yang terlontarkan dari mulut Arkana, “Kakak kok jahat banget sih?” Rengek Bianca pada Arkana yang kini menatap pada Alvaro.
“Mandi sana” Titah Arkana. Untuk saat ini ia terlihat tak memperdulikan rengekan dari adik tersayangnya.
Bianca melemparkan tatapan tanpa ekspresi, “Aku mau tidur” Bianca kembali berbaring tidur dan memejamkan mata.
“BIANCA!” Seru Alvaro dan Arkana bersamaan.
Mendengar bentakan itu, Bianca dengan kesal bangun dari tidurnya, “Oke. Santai aja kali” Katanya sambil melangkah menuju kamar mandi.
Alvaro dan Arkana saling tatap lalu berjalan dari dalam kamar gadis itu dengan bersamaan. Tak peduli dengan moment sebelumnya, yang penting gadis itu sudah ada di dalam kamar mandi.
Sekolah....
Tanpa mengucapkan terima kasih pada Alvaro, Bianca melangkahkan kaki menghampiri teman-temannya. “Sejak kapan lo dekat banget sama Alvaro?” Ucap Hyacinta ketika mereka berjalan bersama-sama.
Bianca memainkan ponselnya, tanpa menatap pada temannya itu ia melontarkan jawaban, “Siapa yang dekat? Nggak tuh” Ucap Bianca acuh.
Brylea mengernyitkan dahinya heran, “Lah terus? Ngapain dia beberapa hari ini ngasih lo tebengan?” Kini giliran Brylea yang bertanya.
Bianca mengangkat bahunya sekilas, “Terlalu bego mungkin”
“Ketua OSIS lo bilang bego” Kekeh Brylea mendengar ucapan dari Bianca.
Bianca menatap pada Brylea, dan tersenyum sombong, “Iyalah, gue kan cewek pintar”
Hyacintha merangkul gadis itum “Iya deh, yang narsis sendiri” Hyacinta membenarkan saja ucapan dari Bianca yang menurutnya kelebihan narsis.
“Makasih pujiannya” Ucap Bianca sambil mengibaskan rambutnya yang panjang ke wajah Brylea.
“Gue potong juga tuh rambut. Udah kepanjangan, bikin pedih muka aja deh” Ucap Brylea sambil mengusap-usap wajahnya. Hyacinta dan Bianca tertawa melihat gerutuan dari Brylea. Bianca merangkul Brylea dengan erat.
“Potong aja rambut lo sendiri” Kata Bianca meledak Brylea dengan diselingi tawa renyah.
. . .
Bianca kini tengah bercanda ria bersama teman sekelas yang rata-rata adalah laki-laki, begitu juga dengan Brylea dan Hyacintha yang kini tengah bergurau dengan lancar, “Bianca, dipanggil tuh” Ucap Bayu, salah satu teman Bianca.
Bianca menoleh pada pintu kelas yang menampilkan seorang Alvaro tengah menatap kepadanya, ia berdecak sebal melihat siapa yang di maksud oleh Bayu, “Alvaro? Ck, gue belum ada buat masalah lho hari ini” Ucap Bianca dengan malas.
“Samperin gih, mungkin aja penting” Usul Dimas yang juga ada di dekatnya.
Bianca menatap Dimas sebentar lalu kembali menatap pada Alvaro yang masih berdiri di depan pintu kelasnya, “Lo...” Bianca berucap dengan keras sambil menunjuk kepada Alvaro, “Yang perlu kesini”
Seisi kelas menatap pada Bianca yang beraninya menyuruh-nyuruh seorang ketua OSIS dan anak pemilik sekolah. Apalagi jika mereka mengingat sikap tegas laki-laki itu yang tak pernah pandang bulu untuk menghukum seseorang,
“Gue nggak bisa lo suruh-suruh, kesini lo” Ketus Alvaro dengan wajah datarnya.
“Sana ih Bi, kakak kelas lho itu” Bisik Fikri pada Bianca.
Bianca menatap kesal pada Fikri yang baru saja berbisik pada dirinya, “Bodo amat”
“Kesini atau lo gue hukum” Ancam Alvaro masih dengan wajah datarnya.
“Bodo amat Al, bodo” Bianca tetap mengacuhkan ucapan dari Alvaro ia memilih untuk kembali bercanda ria dengan teman-temannya.
“Bu”
“Bianca! Kesini kamu”
Mendengar titahan yang berasal dari suara lain, Bianca kembali menoleh dan mendapatkan seorang guru yang terkenal killer menatap tajam padanya, “Eh Ibu Lyla, apa kabar Bu?” Ucap Bianca cengengesan.
“Ibu nyuruh kamu kesini, bukan nanyain kabar Ibu” Ucap guru itu lagi.
“Iya Bu iya” Bianca menggerutu dalam hati. Alvaro benar-benar pengecut, tidak bisa menyuruh-nyuruh Bianca jadi memakai guru killer.
Saat Bianca berdiri ia menatap pada para laki-laki yang cekikikan menertawainya, “Awas ya lo semua” Bianca melangkahkan kakinya menuju Ibu Lyla yang terkenal killer itu dan Alvaro sang ketua OSIS.
“Ada apa Bu? Saya belum ada buat masalah lho hari ini” Ucap Bianca to the point saat menghadap guru itu.
“Ikut saya ke ruang guru” Ibu Lyla berjalan mendahului Bianca dan Alvaro. Masih dengan wajah garangnya.
“Awas lo kalau berani macam-macam sama gue” Ucap Bianca saat berjalan beriringan dengan Alvaro.
Alvaro hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.
Sepanjang perjalanan mereka, seruan memuja untuk Alvaro tak pernah absen di telinga Bianca. Hingga gadis itu sangat-sangat ingin meremas mulut para fangirl itu lalu merobek-robeknya.
“Berisik!” Bentak Bianca pada fangirl yang berteriak sangat keras dan memungkinkan gendang telinga Bianca pecah karenanya.
“*Yee sirik aja”
“Emang situ pacarnya apa?”
“Hssh, dia bad girl SMA Xanendra lho*”
Kira-kira seperti itulah bisikan-bisikan dari para fangirl itu yang membuat telinga Bianca semakin panas. Jika saja Alvaro tidak bertindak secara bijaksana, mungkin saja Bianca sudah membuat para fangirl itu menginap di rumah sakit.
Bianca masih dengan ogah-ogahan berjalan di samping ketua OSIS itu, “Hai Bianca” Seorang laki-laki yang berpakaian layaknya pentolan sekolah menyapa Bianca yang berjalan di belakang Alvaro.
“Arma? Kok lo baru nongol sih?” Ucap Bianca, ia menghentikan langkahnya dan memilih untuk mengobrol dengan Arma. salah satu teman laki-laki yang akrab dengannya.
“Gue cuti sekolah seminggu” Cengir Arma.
“Di skors maksud lo?”
“Hm” Mata Arma lalu menatap pada Alvaro yang sepertinya menunggu Bianca. “Ngomong-ngomong lo mau kemana?” Tanyanya sambl mengalihkan pandangannya dari Alvaro.
Bianca melirik Alvaro sebentar, “Tahu, gue main diseret aja”
Alvaro memotar bola matanya malas lalu menatap datar pada gadis itu, “Ck, cepetan Bianca. Atau lo bakal dapat hukuman”
“Udah dulu ya. Singa jantan kayaknya lagi pms tuh” Bisik Bianca sambil tertawa kecil. Ia lalu kembali menyusul Alvaro.
“Oh oke”
Alvaro melirik Bianca lewat ekor matanya, “Kalau tahu ada kepentingan itu cepat, jangan mogok dulu di tengah-tengah jalan” Ucapnya sinis.
Bianca tersenyum mengejek, “Sirik ya lo?” Goda Bianca.
“Amit-amit” Alvaro semakin mempercepat ritme langkah kakinya hingga meninggalkan Bianca yang masih berjalan dengan santai.
Ruang guru....
“Hah?!”
Alvaro menutup telinganya mendengar suara Bianca yang terbilang keras itu, “Ck, sopan dikit bisa gak sih?” Sindir Alvaro yang kesal dengan teriakan dari Bianca yang kelewat nyaring.
Bianca menatap tajam pada Alvaro, “Diem lo” Sinis Bianca.
“Ada masalah?” Tanya Ibu Lyla yang duduk di hadapan mereka.
Kembali menatap pada guru di hadapannya, “Tentu, ibu mau saya mengikuti olimpiade itu kan? Oke saya terima, asalkan tidak dengannya” Bianca menunjuk pada Alvaro yang duduk di sampingnya. Mereka diminta untuk mewakili SMA Xanendra untuk mengikuti olimpiade matematika.
Bukan hanya mereka, masih ada dua orang lagi yang ikut dengan mereka. Tapi kemenangan akan mereka pikul, nama baik sekolah harus mereka banggakan. Mereka akan dibebani.
“Gue juga nggak mau” Jujur Alvaro. Tak masalah dengan olimpiade tapi tidak dengan gadis sombong di sampingnya yang selalu membanding-bandingkan IQ mereka berdua.
“Heh nggak usah sok pintar ya, IQ gue lebih daripada lo”
Alvaro mendengus sebal, baru saja pemikiran itu ia ingat sudah gadis itu katakan, “Untuk apa pintar tapi bersikap kayak cewek gak jelas?” Belanya dengan nada suara santai namun bersifat menyindir.
“Jaga omongan lo ya”
“Lo tuh—”
“Udah, kenapa kalian malah berdebat” Potong guru itu yang tak suka dengan perdebatan Alvaro dan juga Bianca.