Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Misi Pura-Pura Buta dan Bola yang Nyasar
Pagi hari di kediaman Amira diawali dengan tatapan horor ke arah cermin.
"Gila, ini mata udah kayak disengat tawon," gerutu Amira sambil mengompres kedua kelopak matanya dengan sendok dingin.
Semalaman ia menangis karena rasa malu yang menumpuk, dan hasilnya kini matanya bengkak parah.
Ia mendengus kesal, mengoleskan sedikit concealer milik mamanya untuk menutupi jejak-jejak kekalahan itu.
Hari ini adalah hari pembuktian.
Amira sudah membulatkan tekad sebulat bakso kantin: ia akan menghapus nama Alfian dari memori otaknya.
"Amira! Udah jam berapa ini? Nanti ojek langgananmu keburu ditarik orang!" suara mamanya menggelegar dari lantai bawah.
"Iya, Ma! Ini udah selesai!" sahut Amira seraya menyambar tas punggungnya dengan kasar.
Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin kamarnya.
"Mulai hari ini, cowok bernama Alfian Pratama itu resmi mati dalam hidupku," deklarasi Amira mantap pada dirinya sendiri.
Sesampainya di SMA Dirgantara, suasana masih belum terlalu ramai.
Amira melangkah menyusuri koridor lantai satu dengan earphone terpasang di kedua telinganya.
Volume musik diputar hingga maksimal.
Ini adalah strategi pertahanan utamanya agar tidak perlu mendengar bisik-bisik sisa kejadian kemarin.
"Woi, Mir!"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Amira, membuatnya hampir saja melompat kaget.
Ia melepas satu sisi earphone-nya dan mendapati Rara serta Maya sudah berdiri di belakangnya.
"Buset dah, pagi-pagi udah dengerin lagu koplo aja lo," ledek Maya sambil melirik layar ponsel Amira yang menyala.
"Biar semangat," jawab Amira singkat, mengulas senyum tipis yang dipaksakan.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kelas XI IPS 2.
"Gimana mata lo? Udah mendingan?" bisik Rara dengan raut wajah khawatir, menyadari kelopak mata temannya itu masih agak bengkak.
"Udah aman. Semalam gue kompres pakai es batu," balas Amira santai.
"Es batu beneran atau es batu yang di lapangan basket nih?" goda Maya jahil, namun langsung mendapat cubitan maut dari Rara.
"Aw! Sakit, Ra!" keluh Maya mengusap lengannya.
"Lagian mulut lo nggak ada filternya," omel Rara.
Amira menghela napas panjang, menghentikan langkahnya sejenak.
"Tenang aja, guys," ucap Amira menatap kedua temannya dengan serius. "Gue udah janji sama diri gue sendiri buat nggak peduli lagi sama si kapten kulkas itu."
"Seriusan?" tanya Maya tak percaya.
"Dua rius. Kalau perlu, gue bakal pura-pura buta tiap kali papasan sama dia," janji Amira mantap.
Jam istirahat pertama tiba lebih cepat dari dugaan.
Perut Amira sudah berdemo minta diisi sejak jam pelajaran Sejarah tadi.
"Kantin yuk, Mir. Soto ayam Pak Kumis udah manggil-manggil nih," ajak Rara sambil merapikan buku catatannya.
Amira menggeleng cepat. "Kalian aja deh. Titip beliin roti cokelat sama susu kotak ya."
"Loh, kenapa? Takut ketemu dia?" tebak Maya tepat sasaran.
"Bukan takut," ralat Amira dengan gengsi yang masih menggunung. "Males aja lihat mukanya. Nanti nafsu makanku hilang."
Kedua temannya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah keras kepala Amira.
Setelah Rara dan Maya pergi, Amira merogoh laci mejanya, mengambil sebuah buku tebal bersampul biru.
Itu adalah buku pinjaman dari perpustakaan yang harus dikembalikan hari ini juga, jika tidak ingin kena denda.
Dengan langkah santai, Amira keluar dari kelas.
Rute dari kelasnya menuju perpustakaan utama sayangnya harus melewati area belakang gedung olahraga indoor.
Area itu biasanya sepi saat jam istirahat, jadi Amira merasa aman.
Bum. Bum. Bum.
Langkah Amira perlahan melambat saat mendengar suara pantulan bola basket dari dalam gedung olahraga.
Suara decit sepatu kets yang bergesekan dengan lantai semen terdengar nyaring menembus dinding seng gedung.
Pasti anak basket lagi latihan, batin Amira acuh tak acuh.
Ia merapatkan pelukannya pada buku tebal di dadanya, mempercepat langkah agar segera melewati pintu samping gedung tersebut.
Namun, semesta sepertinya selalu punya cara konyol untuk menguji kesabarannya.
Ckiiit!
Pintu besi di samping gedung tiba-tiba terbuka lebar tepat saat Amira melintas di depannya.
"Ambilin bolanya, Rio!" seru sebuah suara bariton dari dalam, berbarengan dengan sebuah bola oranye yang menggelinding keluar melewati pintu.
Dug
Bola basket itu menabrak ujung sepatu putih Amira dan berhenti berputar tepat di dekat kakinya.
Amira membeku di tempat.
Suara bariton tadi sangat familiar di telinganya.
Terlalu familiar hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Dari ambang pintu, muncullah sosok jangkung dengan kaus jersey tanpa lengan yang basah oleh keringat.
Itu Alfian.
Cowok itu sedang memegang sebotol air mineral dingin, napasnya sedikit memburu sehabis berlatih keras.
Langkah Alfian terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
Keduanya saling bertatapan dalam diam selama tiga detik penuh.
Jantung Amira mulai berdetak tak karuan, tapi ia memaksakan diri memasang raut wajah sedatar tembok.
Ingat misi pura-pura buta, Amira! teriak batinnya menyemangati.
Tanpa mengatakan apa-apa, Amira mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ia melangkahi bola basket di dekat kakinya begitu saja, seolah benda itu tidak pernah ada, dan kembali berjalan lurus menuju perpustakaan.
Alfian menyipitkan matanya.
"Heh, Anak Baru," panggil Alfian dengan nada memerintah.
Amira terus berjalan.
Telinganya seolah mendadak tuli.
"Woi, cewek halu! Gue ngomong sama lo!" seru Alfian sedikit lebih keras.
Langkah Amira sama sekali tidak melambat, bahunya tegap, kepalanya menatap lurus ke depan.
Sikap dingin itu entah kenapa justru membuat sepercik rasa kesal muncul di dada Alfian.
Biasanya, cewek ini akan langsung meledak-ledak dan mengomel jika dipanggil dengan sebutan itu.
Tapi sekarang? Cewek itu mengabaikannya total seolah ia hanyalah angin lalu.
Tap, tap, tap!
Terdengar suara langkah kaki panjang yang mengejar dari belakang.
Belum sempat Amira bereaksi, sebuah tangan besar dan kekar sudah mencengkeram tali tas punggungnya dari belakang.
Sret!
"Aw!" Amira refleks mundur karena tarikan kuat itu, tubuhnya hampir saja terjengkang ke belakang.
Untung saja lengan sebelahnya dengan sigap ditahan oleh Alfian agar tidak jatuh.
"Bisa budek juga lo ternyata," desis Alfian tajam, wajahnya kini berada tepat di samping bahu Amira.
Aroma maskulin bercampur keringat sehabis olahraga langsung menyerbu hidung Amira.
Amira menepis tangan Alfian dari lengannya dengan sangat kasar.
Plak!
"Apa-apaan sih, tarik-tarik?!" bentak Amira, tak bisa lagi menahan topeng pura-pura butanya.
"Gue panggil lo dari tadi, kenapa lo diam aja?" tanya Alfian dengan nada menuntut.
Cowok itu berkacak pinggang, menatap Amira dengan tatapan elang yang mengintimidasi.
Amira membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun.
"Oh, maaf ya, Kakak Kelas yang Terhormat," ucap Amira dengan nada sarkasme tingkat tinggi.
"Namaku Amira, bukan Anak Baru... apalagi Cewek Halu."
Alfian mendengus meremehkan.
"Terserah. Ambilin bola gue," perintahnya seenak jidat, dagunya menunjuk ke arah bola yang masih tergeletak di dekat pintu.
Mata bulat Amira membelalak tak percaya.
Cowok ini benar-benar tidak punya urat malu atau sekadar etika dasar manusia!
"Kamu punya tangan, kan?" Amira melipat kedua lengannya di depan dada, memeluk buku perpusnya erat-erat.
"Punya. Terus?" balas Alfian dengan wajah tanpa dosa yang sangat ingin Amira cakar.
"Ya udah....ambil sendiri! Dikira aku babu kamu apa?!" sembur Amira ngegas.
"Lo kan yang berdiri paling dekat sama bola itu tadi. Tinggal nunduk doang apa susahnya?" bantah Alfian tak mau kalah.
"Tinggal jalan lima langkah apa susahnya?!" balas Amira lebih nyaring.
Suasana di lorong samping gedung olahraga itu mendadak memanas.
Beberapa anak cowok dari dalam gedung mulai melongok keluar karena mendengar keributan.
Rio yang baru saja keluar dari toilet lapangan langsung menepuk jidatnya melihat pemandangan itu.
Perang dunia ketiga mulai lagi, batin Rio pasrah.
"Kenapa lo tiba-tiba sok jual mahal?" Alfian memicingkan matanya, mengamati perubahan drastis pada sikap cewek di depannya ini.
"Kemarin lo ngejar-ngejar gue sampai nangis-nangis di kantin."ejek Alfian
Cesss!
Darah Amira mendidih seketika mendengar kalimat provokatif itu.
Ia memajukan langkahnya satu tindak, memperpendek jarak di antara mereka hingga Alfian secara refleks memundurkan wajahnya sedikit.
"Dengar ya, Kapten Kulkas," desis Amira, suaranya pelan namun penuh racun yang mematikan.
"Kemarin itu adalah hari paling sial dalam hidupku karena salah ngenalin orang," lanjutnya dengan mata berkilat marah.
"Aku kira kamu orang yang berharga. Tapi ternyata? Kamu cuma cowok arogan, egois, dan nggak punya hati."
Alfian terdiam kaku.
Rahangnya terkatup rapat, entah kenapa kata-kata 'salah ngenalin orang' dan 'cuma cowok arogan' itu menancap sedikit lebih dalam dari yang ia perkirakan.
"Mulai detik ini, jangan pernah tegur aku lagi. Dan aku juga nggak akan pernah sudi nengok ke arah kamu," tegas Amira memutus kalimatnya.
Amira berbalik badan dengan gerakan cepat.
Ia melangkah pergi meninggalkan Alfian yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Langkahnya mantap, tidak ada keraguan sedikit pun, persis seperti orang yang membuang sampah pada tempatnya.
"Woi, Yan! Ngapain bengong di situ?" tepuk Rio dari belakang, memecah lamunan Alfian.
Alfian mengerjap pelan, kesadarannya baru kembali utuh.
Ia menatap punggung kecil Amira yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di belokan koridor perpustakaan.
Ada rasa ganjil yang mendadak bersarang di rongga dadanya.
Selama ini, banyak cewek yang menyatakan cinta lalu menyerah saat ia tolak dengan dingin.
Tapi tidak pernah ada satu pun yang menatapnya dengan raut kekecewaan dan kemarahan sebesar yang ditunjukkan Amira barusan.
Cuma cowok arogan, ya? batin Alfian mengulang kalimat gadis itu.
"Bolanya mana, Yan?" tanya Rio bingung melihat tangan sahabatnya itu kosong.
Alfian mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangan, membuang napas panjang yang terasa lebih berat dari biasanya.
"Ambil sendiri sana," jawab Alfian ketus, lalu berbalik masuk kembali ke dalam gedung olahraga meninggalkan Rio yang kebingungan.
Entah kenapa, mood berlatihnya mendadak hancur berantakan hari ini.
Dan yang paling menyebalkan, ia sama sekali tidak tahu apa alasannya.