Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai curiga
"Tangan kamu malah jadi tambah parah sayang, kita kerumah sakit saja ya" bujuk Dirga
"Tidak mas, hanya perlu bubuk sirih merah saja nanti sembuh" jawab Kharissa
Hatta ikut prihatin dengan luka di tangan Kharissa, tapi dia juga tidak bisa membantu banyak karena Hatta tahu Kharissa tidak mau di pegang orang lain selain oleh Dirga saja, meskipun itu perempuan yang akan merawat lukanya di sekolah.
"Widi sudah baikan dan sudah pulang dengan Ilham tadi" ucap Bimantara
"Syukurlah Widi juga tidak ketakutan, dia katanya tadi sedang melamun karena masalah dengan pacarnya" ucap Khanza
"Untung saja anak anak dan guru mau di minta untuk diam tadi, kalau mereka mengatakan apa yang terjadi pada orang tua mereka, para orang tua pasti akan panik" ungkap Bimantara
"Iya, tadinya aku takut mereka akan mengadu dan para orang tua tidak mempercayakan anak anak itu lagi pada kita" jawab Dirga
"Mereka juga anak anak yang baik, Widi sepertinya terlalu melampaui batas dengan pacarnya makanya dia gampang di masuki sosok itu" ucap Khanza
"Bima pulang duluan ya Om, kalau perlu sesuatu langsung hubungi Bima atau papa saja" pamit Bimantara
"Iya, kalian hati hati, mungkin sosok itu juga mengawasi kalian" jawab Dirga
"Insya Allah Om" jawab Bimantara dan Khanza
"Tante mau aku bantu dengan energi ku tidak?" tanya Khanza
"Aku akan jadi jahat kalau energimu masuk ke dalam tubuhku" jawab Kharissa dan Khanza terkekeh.
Dirga memeluk istri datarnya itu, di tahu istrinya itu tidak mau berhutang budi pada siapapun, apalagi pada Khanza yang di ketahui pernah punya perasaan pada Dirga, dan karena itulah Kharissa selalu mengatakan kalau Kharissa akan jadi jahat kalau menerima energi Khanza karena Kharissa sudah merebut Dirga dari Khanza dan tidak mau semakin tidak tahu diri dengan menerima energi Khanza.
"Sosok itu sebenarnya apa ya?" tanya Dirga bergumam.
"Dia bukan khodam, dia mungkin jin taklukan tapi ilmunya sama dengan si tokek" ucap Sahara
"Maksudnya dia sama seperti tokek dan para pasukan kak Dimas?" tanya Dirga dan Sahara mengangguk.
"Bau belerangnya itu sudah ketahuan jadi dia pasti akan di marahi majikannya" ucap Sahara
"Kenapa tadi tidak muncul?" tanya Kharissa
"Sahara sibuk keliling menemani cah Bagus tadi, memantau lapangan" jawab Sahara membuat Dirga terkekeh karena memantau itu artinya dia sedang mengintip orang.
"Pantas bintitan" celetuk Kharissa membuat Sahara panik.
Dia segera memeriksa matanya tapi tidak ada bintitan yang di katakan Kharissa bahkan matanya terasa halus tanpa kerutan ataupun bisul kecil yang biasa di alami orang yang bintitan.
"Tidak ada" keluh Sahara
"Rissa bukan bicara dengan Oma Sahara" ucap Kharissa
"Terus bicara dengan siapa?" tanya Sahara
"Dengan lalat, lalat itu ngintip mahasiswa baru yang ngontrak di kontrakan milik kak Restu" jawab Kharissa
"Itu Sahara, Sahara yang ngintip Arsyad" celetuk Sahara keceplosan.
"Nah kan ketahuan" ledek Dirga tertawa
"Hihihihi... aduh Sahara jadi malu" ucap Sahara menutup wajahnya dengan tangan bahkan sampai memeluk Dirga modus.
"Ayo pulang, Rissa sudah baikan" ajak Kharissa
"Ayo"
"Ayo" pekik Sahara naik ke punggung Dirga sedangkan Kharissa di tuntun Dirga.
"Oma...."
"Apa?"
"Ada tukang batagor"
"Mana, mana?"
"Di taman"
"Hahahah..."
"Astagfirullah Rissa, kenapa kamu terus menggoda Sahara" gemas Dirga karena Sahara sudah berbinar tapi langsung cemberut karena Kharissa membohonginya, bahkan Dirga kembali tertawa karena tidak tahan melihat wajah datar Kharissa bersanding dengan wajah banyak ekspresi seperti Sahara.
"Daddy benar" ucap Kharissa
"Benar apa?" tanya Dirga
"Menggoda Tante Sahara membuat perasaan lebih tenang" jawab Kharissa
"Iya, tapi Sahara dongkol" gerutu Sahara
Mereka pulang karena Hatta juga sudah pulang bersama keluarganya, Husna dan Hannah masih terlihat shok tapi Hatta meyakinkan mereka kalau mereka tidak akan kenapa napa setelah sampai di rumah, bahkan Hatta semakin yakin untuk tetap tinggal di Curug sampai masalah mahluk yang menghantui keluarganya itu selesai.
••••••••••
Di rumah Karta.
"Suaminya Tisya memulangkan dia dan sekarang Tisya ada di rumah Om Tama?" tanya Hatta
Setelah Hatta pulang dan Karta menunggu sampai makan malam selesai, dia segera menceritakan tentang kedatangan Tama tadi pagi dan juga permasalahan yang di alami putrinya yang di ceraikan setelah tiga bulan pernikahan.
Hatta terkejut apalagi setelah mendengar alasan suami Tisya menceraikan Tisya adalah karena dia tidak tahu tentang keluarga Wihardja yang tak lain adalah keluarga Karta dan juga Hatta. Dan sekarang, Hatta sudah mendapatkan bayangan tentang siapa orang yang mungkin terlibat dalam teror yang sudah menimpa keluarganya.
"Iya nak, kasihan dia jadi bapak mau memberikan dia pekerjaan di Bandung, mungkin bisa jadi karyawan pabrik kamu" jawab Karta
"Nanti Hatta telepon Irwan pak, mungkin dia bisa membantu mencarikan lowongan di pabrik yang tentunya cocok dengan gelar pendidikan terkahir Tisya" ucap Hatta
"Joseph Elias Varden, nama itu harus kamu hafal sekarang, kita minta bantuan siapa untuk mencari tahu siapa dia" ucap Karta
"Kita tidak punya orang orang yang ahli dalam bidang pelacakan pak, tapi sepertinya ayahnya Kharissa bisa, beliau kan punya kelompok di kota dan bisa dengan mudah mencari tahu siapa orang yang mereka selidiki" ungkap Hatta
"Apakah mereka polisi?" tanya Karta
"Bukan pak, Hatta juga tidak tahu" jawab Hatta
"Rian, apa Nenek Ratri pernah menceritakan tentang masa lalunya?" tanya Hatta
"Tidak pa, nenek hanya sering mengatakan kalau kami akan segera bebas kalau keluarga Wihardja yang membawa kami dan menjadikan kami keluarga" jawab Rian
"Bibir nenek akan terkunci kalau nenek mengatakan sesuatu yang rahasia" ucap Reza
"Terkunci?" tanya Karta
"Iya Opa, nenek pernah bercerita tentang seorang laki-laki yang masuk ke perkebunan dan mencuri beberapa peralatan besi di tempat pengumpulan getah karet, katanya lelaki itu ketahuan dan di hukum berat" jawab Reza
"Lalu di hukuman apa dan bagaimana?" tanya Hatta penasaran.
"Sebelum nenek akan berucap lagi, bibir nenek jadi tertutup sempurna, bahkan berdarah entah karena apa, makanya kami tidak pernah ingin mendengar cerita nenek lagi" jawab Rian
"Innalillahi, nenek Ratri pasti tahu banyak tentang perkebunan ini pak" ucap Hatta dan Karta setuju.
Karena hari sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk tidur karena anak anak juga sudah tertidur di kamar mereka, tiga jin dan Urfa sudah sepakat untuk menjaga rumah itu setiap saat supaya sosok putih itu tidak bisa masuk, Rissa akan di kamar anak anak, Urfa di kamar Hatta dan Husna, Reza di kamar Karta dan Rian akan berkeliling di setiap ruangan rumah hingga subuh.
"Kenapa ada retakan di tembok ini, kemarin tidak ada bahkan meskipun di hancurkan binatang dan banyak jin tembok ini tetap kokoh" gumam Rian mengusap retakan kecil yang ada di dinding rumah Karta yang berlumut.
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭