Azizah dipaksa menikah dengan adik iparnya sendiri setelah empat puluh hari usai melahirkan karena suaminya telah meninggal dunia.
Akankah Azizah menerima pernikahan itu dengan lapang dada, atau tetap menganggap Gavin-adik iparnya sebagai bayang-bayang suaminya yang sudah tiada?
follow Ig : Karlina_Sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. SAH
Hari yang ditunggu itu akhirnya datang juga. Keluarga Fahri berkunjung ke rumah keluarga Syakir untuk bersilaturahmi sekaligus mengetahui jawaban dari lamaran mereka untuk Azizah dari wanita itu sendiri.
Gavin terlihat sangat tampan dengan celana bahan berwarna hitam yang dipadukan dengan kejema warna navy yang lengannya digelung sehingga memperlihatkan otot-otot tangannya yang terbentuk dengan begitu indah hasil olahraga yang rutin dia lakukan. Rambutnya disisir rapi dan dia terlihat sangat dewasa sekarang.
Syakir dan Sakha duduk di sofa yang sama menemui tamunya yang istimewa. Sementara Azizah masih di kamar atas karena Revandra sedang memberi minum putranya yang sudah berusia 39 hari sekarang.
"Tunggu sebentar ya, Azi sebentar lagi pasti turun," kata Syakir dengan senyuman ramah kepada tamunya.
"Kami akan sabar menunggu," jawab Fahri balas tersenyum.
Sementara Gavin hanya menunduk dengan jantung berdebar kencang karena dia tidak sabar mendengar jawaban dari Azizah. Apakah wanita itu akan menerima atau menolaknya, kabar baik ataupun buruk yang akan dia dengar nanti, dia siap mendengarnya dan menerima dengan lapang dada.
Wanita yang ditunggu-tunggu itu akhirnya turun juga dari lantai dua kemudian bergabung dengan mereka.
"Assalamu'alaikum." Azizah menyalami kedua mertuanya kemudian mencium tangan mereka dengan takzim, sementara pada Gavin dia hanya melirik sekilas padanya kemudian langsung duduk di sofa kosong di dekat kakak dan papanya.
"Wa'alaikumussalam." Semua orang di sana menjawab sambil tersenyum lega.
"Azi, kamu apa kabar, Sayang? Revandra juga apa kabar?" tanya Farah seraya menatap menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah kami semua baik, Ma. Mama dan yang lain baik juga, 'kan?" Dia tersenyum, menatap mertua perempuannya yang sudah dia anggap seperti ibu kandung sendiri.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, Sayang." Farah mengangguk dan tersenyum lega karena ternyata apa yang dia takutkan akhir-akhir ini tidak benar, dia pikir Azizah akan bersikap dingin padanya, tetapi ternyata sikap wanita itu masih sama seperti dulu.
"Mohon maaf sebelumnya, Azizah tidak mau banyak basa-basi lagi karena sudah tahu kedatangan kalian ke sini untuk mengetahui jawaban lamaran Gavin untuk Azi. Bismillah, dengan banyak pertimbangan dan istikharah tadi malam, insya Allah Azizah menerima lamaran Gavin untuk menjadi istrinya," katanya dengan cepat dan menunduk, ada sedikit rasa nyeri di hati ketika dia berhasil mengatakannya.
Syakir tersenyum mendengar ucapan putrinya yang begitu berani, padahal sebelumnya dia pikir dialah yang akan memberi jawaban.
Gavin yang semula menunduk reflek langsung mendongak dan menatap Azizah yang duduk tepat berseberangan dengannya. Dia sangat terkejut karena jawaban Azizah benar-benar sesuai dengan yang dirinya harapkan. Senyuman langsung terbit di bibir Gavin, tetapi hatinya sedikit terusik ketika melihat sebutir air mata jatuh menetes di pipi Azizah.
"Apa kamu terpaksa menerima lamaranku sehingga menetes air matamu?" tanya Gavin dengan begitu berani.
"Jangan salah paham, aku menangis karena sudah berani mengambil keputusan besar ini. Vin, selama ini aku menganggap kamu seperti adik sendiri, jadi tolong maklumi kalau setelah menikah nanti aku butuh waktu untuk menerima kamu seutuhnya sebagai suamiku," pintanya dengan sungguh-sungguh. Dia mengatakannya sekarang agar lebih terbuka sehingga tidak membuat Gavin kecewa andai tanpa sengaja sikapnya nanti membuat pria itu terluka.
"Aku akan sabar menunggu," jawab Gavin yakin dengan senyuman yang masih terbentuk indah dari bibirnya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Kalau begitu besok langsung akad ya, semua persiapan sudah kami siapkan dengan baik," sahut Fahri yang memang sudah menyiapkan acara pernikahan Gavin sejak satu bulan yang lalu karena tahu kalau pada akhirnya Azizah akan menikah dengan Gavin.
"Azi ikut bagaimana baiknya," kata wanita itu pasrah.
***
Untuk kedua kalinya, Azizah memakai gaun pengantin yang begitu indah dan pas ditubuhnya. Wajahnya dipoles dengan riasan tipis, tetapi tetap membuatnya terlihat sangat cantik. Dia menatap pantulan dirinya di cermin kemudian tersenyum samar.
"Mas Hasan, hari ini aku akan menikah dengan adikmu. Sesuai dengan apa yang kamu minta ketika bertemu denganku di mimpi, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk adikmu. Terimakasih, Mas Hasan, meskipun jasadmu tidak lagi bisa kulihat, tetapi aku masih bisa merasakanmu di sini. Aku izin menikah lagi, Mas, tetapi bukan berarti aku melupakan kamu." Azizah mengerjap beberapa kali agar air matanya tidak menetes di pipi.
Di lantai satu, keluarga Gavin sudah datang dan Gavin juga sudah siap mengucapkan akad. Dia sudah duduk di depan penghulu dan Syakir sedangkan tangannya sudah menjabat tangan Syakir yang akan menikahkan putrinya secara langsung.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Muhammad Gavin Khoirullah bin Fahri Khoirullah dengan anak saya yang bernama Azizah Salsabilla dengan maskawinnya berupa dua puluh gram emas 24 karat, saham 100 lot, tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Azizah Salsabilla binti Syakir Amirullah dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”
"Bagiamana saksi, sah?"
"Sah!"
Tangis haru dari pihak keluarga Gavin terdengar, terutama Farah yang begitu bahagia karena akhirnya Azizah kembali menjadi menantunya.
Azizah dijemput oleh kakaknya kemudian diajak turun dan bersanding dengan suami barunya. Dia yang turun langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sana dan tatapan Gavin tidak pernah lepas dari wajah cantik wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu.
Azizah diminta duduk di sebelah Gavin kemudian mencium punggung tangan suaminya itu dan dilanjutkan dengan acara yang lain.
Tidak ada resepsi hari itu karena permintaan Azizah. Bukan karena dia tidak mau acara pernikahan besar-besaran, tetapi karena dia ingin menjaga diri agar tidak terlalu lelah karena dia harus mengurus Revandra.
Setelah acara selesai, Azizah dan Gavin masuk ke kamar Azizah yang berada di rumah Syakir. Hari itu mereka akan menginap dulu di sana sebelum nanti Azizah diboyong ke rumah Gavin.
"Kamu kalau mau mandi, kamar mandinya ada di sebelah sana, nanti aku siapkan baju gantinya," kata Azizah setelah mereka masuk kamar dengan perasaan sama-sama canggung. Iya, Azizah jadi sangat canggung dengan Gavin setelah mereka resmi menjadi suami istri.
"Mbak Azi dulu saja yang mandi, biar aku tunggu di sini," kata Gavin kikuk.
"Kalau begitu, aku tinggal dulu. Nanti kalau Revandra menangis tolong digendong dulu ya?" pinta Azizah dengan sedikit tidak enak.
"Iya, Mbak." Gavin menatap Revandra yang tidur pulas di ranjang bayi yang berada di kamar itu.
Setelah mendengar jawaban Gavin, Azizah pun langsung pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Sementara itu, Gavin yang ditinggalkan langsung mengedarkan seluruh pandangan ke kamar Azizah dan Revandra, dia tersenyum samar dengan wajah merona karena tidak menyangka kalau wanita yang sejak lama dia cintai benar-benar menjadi istrinya sekarang.
...~tbc~...
...Vote, komen, like, sama sharenya jangan lupa biar yang baca novel Jadi Istri Iparku semakin banyak. Terima kasih....
KNP GK BAWA PNGAWAL, KNP CMA SI ANTON DOANK YG NEMANIN AZIZAH
tetap semangat dan sehat selalu