Kanvar Anderson
Ya, memiliki arti nama seorang pangeran muda. Anak tunggal dari seorang pembisnis batu berlian yang sangat besar bernama Tuan Carson Anderson dan Nyonya Elisabeth Anderson. Kanvar adalah seorang lelaki yang hampir dibilang sempurna.
Dan aku…. Azia Helena, seorang wanita biasa yang bekerja di butik Nyonya Elisabeth Anderson dan mempunyai impian menjadi seorang designer terkenal, tetapi jatuh hati dengan putra sang pemilik butik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pertunangan
Besok adalah pertunangan Azia dengan Kanvar. Azia sudah mengambil cuti kerja untuk beberapa hari. Azia dan Susi berangkat menuju mansion Anderson sore ini, Mereka menginap disana selama pesta pertunangan berlangsung. Sambil menunggu Vigo menjemput, Susi membantu Azia untuk menyiapkan barang-barang yang akan diperlukan.
“Azia, atur dengan betul pakaianmu ke dalam tas yang sudah Ibu siapkan, kau sangat menyukai hal yang berkaitan dengan busana tetapi kau tidak pernah merapikan bajumu dengan baik dirumah”, ucap Susi mengomel.
“Iya bu sabar, sebentar lagi”, jawab Zia sambil memilah baju yang akan kubawa ke mansion.
Tak lama kemudian, Vigo datang membawa mobil sedan hitam seperti biasanya
“Selamat sore Nyonya Susi dan Nona Azia, biar saya yang membawa semua barang ke mobil ”, ucap Vigo menyapa dan memanggil Susi dan Azia sembari mengangkat tas dan koper ke dalam bagasi mobil.
“Terima kasih Tuan Vigo, sini biarkan kami membantumu”, ujar Susi Ibu Azia.
“Tidak perlu nyonya, ini sudah menjadi bagian pekeerjaan saya, mari masuklah ke dalam mobil”, sahut Vigo yang sudah membuka pintu mobil belakang untuk mereka.
Mereka masuk ke dalam mobil begitupun Vigo yang sudah selesai menaruh tas dan perlengkapan lainnya ke mobil.
“Wah.... Mansion yang sangat besar dan megah. Ibu tidak pernah masuk dalam kawasan luas seperti ini”, ujar Susi takjub melihat mansion Anderson.
“Iya bu, Azia janji juga akan menjadi sukses agar bisa membeli rumah yang besar khusus untuk Ibu”, Sahut Azia sambil tersenyum.
“Azia.... Kebahagiaan Ibu hanya kamu seorang. Apapun yang kau lakukan akan selalu ibu dukung, perasaan Ibu saat ini hanya takut jika melakukan kesalahan dan mempermalukan di hari pesta pertunanganmu besok nak”, ucap Susi dengan raut wajah sedih mengusap kepala Azia.
“Ibu jangan bersikap seperti itu, Ibu adalah wanita yang terhebat yang aku punya. Jadilah diri sendiri Ibu, Zia yakin keluarga Anderson akan menerima kita dengan baik", ujar Azia.
Susi hanya tersenyum lembut dan mencium dahinya lalu memeluk Azia.
“Kita sudah sampai Nyonya dan Nona”, ucap Vigo membuka pintu mobil untuk mereka.
“Terima kasih tuan Vigo”, ujar Susi.
“Dengan senang hati saya bisa melayani Nyonya dan Nona”, sahut Vigo dengan wajah datarnya seperti biasa.
“Selamat datang Susi besanku dan Azia anakku”, ucap Elisabeth datang dan langsung memeluk kami.
“Selamat datang calon besan dan calon menantuku”, ujar Carson menyusul dari belakang menjabat tangan Susi dan memeluk Azia.
“Terima kasih atas sambutan hangatnya Tuan dan Nyonya”, jawab Susi dengan ramah.
“Tidak perlu formal seperti itu Susi, kita akan menjadi keluarga resmi. Panggil aku Elisabeth dan suamiku Carson. Itu akan membuat kami merasa lebih nyaman”, ucap Elisabeth.
“Iya betul yang dikatakan istriku. Ayok masuklah sungguh melelahkan jika kita berdiri terus”, ujar Carson.
Mereka langsung diberikan kamar khusus besar dan lengkap. Azia dan Susi diberikan kamar terpisah tapi bersebelahan.
"Tok.... Tok.... Tok.... ", ada yang mengetuk pintu kamarku dan langsung membukanya.
" Mama, apa ada yang bisa Zia bantu? ", tanyaku yang ternyata mengetuk adalah Elisabeth.
" Boleh mama masuk? ", tanya Elisabeth.
" Tentu ma, silahkan masuk ini kan mansion mama", sahut Azia yang mempersilahkan Elisabeth masuk dan mereka duduk di kursi dekat jendela kamar.
"Azia, ini kalung berlian biru turun temurun dari keluarga ini", ujar Elisabeth sembari memegang kotak perhiasan yang terbuat dari emas dan berisi kalung berlian biru yang sangat mengkilau.
" Wah.... Ini sangat indah, bahkan baru kali ini aku melihat kalung yang mengkilau dan mewah", jawab Azia terpana melihat kalung itu.
"Ini untukmu nak, kalung ini diberikan untuk anak atau menantu perempuan yang akan menikah", ucap Elisabeth.
" Benarkah ma? Tapi Zia sangat tidak cocok memakai barang mahal seperti ini", sahut Zia.
"Kenapa berpikiran seperti itu Zia? Kau adalah wanita hebat yang tak ternilai seperti kalung ini kau berhak memakainya", ucap Elisabeth mengusap kepalanya.
" Terima kasih ma", sahutku dan langsung memeluk Elisabeth.
"Boleh mama memakaikan kalungnya untukmu Zia? ", pinta Elisabeth.
" Boleh ma, dengan senang hati", sahut Zia dengan senyum ramah dan Elisabeth langsung memakaikan kalung di lehernya.
"Cantik sekali", ucap Elisabeth.
" Terima kasih banyak ma, Kanvar ada dimana ma? Apa dia tidak pernah tidur di mansion ini? ", tanya Azia penasaran karena tidak melihatnya semenjak menolong mereka mabuk.
" Kanvar punya mansion sendiri, dia lebih suka disana karena tenang, dia sangat sibuk hari ini. Pertunangan kalian besok seharian, dan Kanvar hari ini akan menyelesaikan semua pekerjaannya agar tidak menumpuk banyak", ujar Elisabeth.
"Sungguh menjadi CEO perusahaan besar bukan main sibuknya", sahut Azia.
" Benar sekali, bahkan dulu mama juga sempat hampir tidak diperhatikan oleh papamu karena saking sibuknya. Makanya mama berusaha menyibukan diri juga di butik mama agar tidak terlalu merindukannya", ucap Elisabeth dengan tertawa kekeh.
"Hehe.... Mungkin Zia akan seperti mama nantinya", jawab Zia.
" Kau akan langsung bertemu Kanvar besok di pertunangan kalian, kemungkinan besar dia tidak pulang hari ini karena lemburnya", sahut Elisabeth.
"Semoga dia bisa menjaga staminanya besok, dia pasti lelah", ucap Zia dengan raut wajah sedih.
" Jangan khawatir, Kanvar sudah terbiasa dia anak yang kuat terlebih lagi ada Vigo yang selalu ada disisinya. Mama pergi dulu ya banyak hal yang harus dipersiapkan", ujar Elisabeth yang langsung pergi keluar kamar.
Hari pertunangan pun tiba, tidak banyak kerabat yang datang dan sebagian hanya orang-orang penting dari perusahaan-perusahaan terkenal. Carson dan Elisabeth tidak ingin membuat acara tunangan yang menghebohkan dan merepotkan Kanvar dan Azia.
Azia berdiri didepan cermin dan melihat dirinya yang berbeda hari ini. Dia melihat tubuhnya yang pas dengan gaun yang sudah disediakan sarah tempo hari.
"Gaun yang sangat indah", lirih Azia dalam hati.
" Nona, tuan Kanvar sudah datang mari saya arahkan keluar dan langsung mendatangi tuan Kanvar", jawab seorang petugas yang mengatur seluruh acara.
"Baiklah", jawab Azia.
Mereka berjalan keluar dan mendapati Kanvar yang sudah berdiri di depan taman. Dia memakai baju batik yang memiliki motif burung merak persis dengan gaunnya terlebih lagi dia benar-benar tampan.
" Kau gagah dengan kemeja batik hari ini", ucap Azia.
Kanvar hanya terdiam melihat Azia dan membuatnya bertanya-tanya bagaimana pendapatnya tentangnya hari ini. Dia hanya memberikan lengannya agar bisa Azia gandeng.
Mereka pergi menuju tengah taman yang sudah di dekorasi untuk pasangan yang akan bertunangan.
Mereka langsung bertukar cincin berlian elegan yang simple. Para kerabat dan tamu khusus yang datang langsung bertepuk tangan. Elisabeth dan Susi pun meneteskan air matanya.
"Ikatan untuk menuju janji suci pun sudah hampir tuntas, mari para kerabat dan tamu yang hadir silahkan santap makanan dan minuman hari ini. Bersenang-senanglah", ucap Carson dengan lantang.
" Wah Elisabeth, selamat atas pertunanganmu. Kau sangat cantik hari ini", ucap bu Elie yang datang memeluk Azia.
"Aku juga terharu melihatnya, selamat ya sahabatku. Aku tak sabar menanti pernikahanmu", sahut Rina dengan riangnya.
" Terima kasih bu Elie. Dan terima kasih Rina kuharap kau juga menyusul", jawab Azia.
"Selamat atas pertunangannya Nona", sapa Vigo yang tiba-tiba datang.
Azia melihat wajah Rina langsung memerah dan langsung salah tingkah.
"Terima kasih Vigo, bisakah kau menemani Rina hari ini aku mau mencari Kanvar dulu", ucapku kepada Vigo yang juga hendak mencari Kanvar menghilang sejak tadi.
" A.... Ah.... tidak perlu, ada bu Elie yang menemaniku", jawab Rina gagap.
"Aku tidak masalah, aku ingin menemui Nyonya Elisabeth dulu. Vigo kau temani Rina ya", sahut Elie meninggalkan mereka berdua.
" Maaf nona Rina, apa aku berbuat kesalahan? ", tanya Vigo dengan wajah datarnya.
" Ti.... Tidak tuan, aman saja", jawab Rina gugup.
"Jika ada hal yang tidak berkenan semalam saya mohon maaf, saya tidak mengingat apapun", ucap Vigo.
" Tidak apa-apa, semua baik-baik saja", jawab Rina berusaha tersenyum.
"Baiklah, apa anda belum mencicipi makanan? Mari kita makan bersama", ujar Vigo yang membuat Rina terkejut.
" Baiklah aku terima tawaranmu", jawab Rina yang baru kali ini melihat sisi Vigo yang lain.
Azia keliling mencari Kanvar. Sampai ke belakang taman Azia akhirnya menemukamnya tetapi dia sedang berbicara dengan seorang perempuan bergaun merah dengan tubuh indah seperti model dan dia sangat cantik.
"Kanvar apa kau benar-benar bertunangan hari ini dan akan menikah? ", tanya wanita itu.
" Seperti yang kau lihat aku sudah bertunangan Lita", jawab Kanvar menunjukan cincinnya.
"Lita? Dia wanita yang diucap Rangga pada malam pesta ulang tahun Kanvar waktu itu", lirihku dalam hati.
" Ayolah Kanvar, aku tau kau ingin membalasku karena aku menghilang tanpa kabar kan? Maafkan aku, sekarang aku kembali bisakah kau menerimaku lagi? ", ucap wanita itu dan langsung memeluk Kanvar.
Azia terkejut dan lari tanpa sadar meneteskan air mata.
"Apa karena Lita itu Kanvar selalu diam hari ini dan tidak terlalu menghiraukanku? ", lirih Zia dalam hati.
"Maaf Lita, aku sudah melupakanmu. Kau tiba-tiba saja datang tanpa undangan pun membuatku marah.", jawab Kanvar melepas pelukan Lita dan pergi meninggalkannya.
" Kanvar!!! ", teriak Lita tapi tidak dihiraukannya.
" Lihat saja kau pasti akan kembali padaku", lirih Lita.