Reysha, gadis SMA yang menyelinap ke sekolah lain dengan menyamar sebagai instruktur cheerleader karena kecintaanya pada cheerleader. Disana dia justru bertemu Lukar, cowok yang pernah mempermainkannya lewat sebuah taruhan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Marah
Lukar mengepalkan tangannya karena geram. Lalu tersenyum tipis penuh arti sambil menghampiri Diko dan ...
Bug!
Satu pukulan mendarat di wajah Diko. Cowok itu terdorong mundur ke belakang. Diko yang melihat senyum Lukar sebelum memukul tahu, sahabatnya itu bakal melakukan hal ini. Saat ini Lukar marah. Level kemarahannya meningkat. Bukan hanya Reysha yang sedang di permainkan. Ternyata Diko juga sedang mempermainkan dirinya.
Lukar memukul tubuh Diko lagi. Cowok itu tidak menghindar, hanya menahan pukulan dengan lengannya. Lalu Diko jatuh tersungkur ke tanah. Dia membiarkan Lukar memukulinya. Tak lama Bimo dan Rega muncul.
"Hei!" Mereka terkejut mendapati Lukar memukuli Diko. Segera mereka berdua berlari dan melerai. Bimo menghampiri Diko. Sementara Rega memegangi tubuh Lukar.
"Stop! Stop!" teriak Bimo, tapi Lukar masih saja menghajar Diko.
"Kar, berhenti!! Berhenti!!" Rega panik sambil memegangi tubuh Lukar dengan sekuat tenaga.
"Tenang, dia tidak akan mati hanya karena terkena beberapa pukulan ku ...," kata Lukar dengan nafas terengah karena marah. Diko meringis. Dia tidak melawan balik, hanya diam.
"Lepaskan tanganku!" teriak Lukar.
"Enggak. Nanti kau bakal menghajar Diko lagi."
"Memang seharusnya aku menghajarnya lagi." Lukar merasa dia tidak salah memukul Diko.
"Tidak. Lihatlah Diko." Rega menunjuk Diko dengan dagunya. Tubuh Lukar melembut. Rega lega. Akhirnya ia melepaskan Lukar.
"Aaaarrgggghhh!!!" Lukar menendang pagar kawat yang mengitari lapangan dengan kesal. Mengusap wajah dan rambut secara kasar. Lalu menghentak-hentakkan pagar kawat berkali-kali dengan marah.
Bruk! Lalu duduk di tanah sambil bersandar pagar. Bimo dan Rega masih berdiri. Tidak tahu harus berbuat apa. Yang penting Lukar berhenti memukuli. Diko merebahkan tubuhnya di lantai. Dia masih meringis merasakan ngilu di sekujur tubuhnya dan wajahnya.
Bimo sebenarnya lapar, tapi dia tidak bisa membiarkan mereka berdua. Karena bisa saja Lukar akan memukuli Diko lagi. Wajahnya terlihat masih sangat kesal.
Satya muncul. Melihat Diko yang babak belur dia paham.
"Aku pikir ada masalah apa Diko tidak kembali ke kelas. Ternyata seperti ini ... " Satya menipiskan bibir melihat keduanya. Diko dan Lukar diam.
"Aku pikir dapat melihat drama dari Reysha. Ternyata malah kalian berdua yang lagi maen drama," kata Bimo sambil geleng geleng kepala. "Aku memang menyukai drama, tapi bukan drama dari kalian berdua. Apalagi drama seperti ini."
"Ada apa dengan kalian?" tanya Satya ingin kejelasan.
"Tanyakan saja sama si pengecut itu!" ujar Lukar sambil menunjuk Diko. "Kenapa harus melibatkan aku dalam drama percintaannya!" teriak Lukar kesal. Diko hanya tersenyum tipis.
Satya sedikit mengerti tentang semuanya. Karena sebelum Lukar sekolah di sini, dia sudah tahu riwayat kisah Diko dan Reysha. Dan sebenarnya dia yakin bakal ada hal seperti ini. Melihat tingkah anehnya Lukar, sebenarnya di kantin itu Satya udah mau membuka cerita kalau Reysha itu adalah mantannya Diko. Tapi gak jadi cerita karena kedatangan Reysha yang fenomenal itu. Dan seiringnya waktu, sudah terlambat untuk Satya ngasih tahu.
Teeet!
Bel istirahat kedua berbunyi.
"Kalian gak usah ke kantin. Dengan muka Diko yang seperti itu bikin heboh anak anak," ujar Satya memberi saran. "Ga, ikut aku ke kantin belikan mereka sesuatu untuk di minum. Biar otak mereka juga dingin." Satya memang tergolong orang baik dan perhatian. Dia kayak mak-mak yang penuh kasih sayang sama anak-anaknya. Pantesan dia jadi ketua kelas.
"Oke." Rega berdiri dan mengikuti Satya.
"Aku ikut. Lapar, habis lihat mereka berkelahi " kata Bimo.
"Mereka gimana?" tanya Rega khawatir.
"Biarin aja. Kalau mau berkelahi, ya berkelahi aja. Biar mampus sekalian. Jadi kita enggak perlu repot ngurusi mereka," kata Satya sadis. Jadi tinggal mereka berdua di sini.
"Ternyata pukulanmu lumayan keras juga." Diko mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Jangan terlalu memuji. Itu hanya sedikit dari kelebihanku." Lukar mengusap kepalannya yang terasa ngilu. Tangan itu memukul Diko sekuat tenaga rupanya.
Diko tersenyum sambil meringis menahan perih,
"Terima kasih atas sambutannya, penipu," ujar Diko. Meski masih kesal akhirnya Lukar juga tersenyum.
"Kalau masih pengen dekat ya deketin aja. Gak usah pake mempermainkan orang lain. Kau pikir itu keren, sialan!!" teriak Lukar.
Diko tergelak. "Iya kampret."
"Kalau masih cinta ya terus aja berjuang, bukannya malah pacaran sama cewek lain. Memangnya kamu itu bodoh?!" imbuh Lukar. Untuk kalimat ini, Diko tidak bisa berkomentar. Karena kenyataannya memang seperti itu.
"Berjuang ... Apa masih bisa di perjuangkan?"
gumam Diko lirih sambil tergelak. Merasa perlu menertawakan diri sendiri. Lukar menatap sahabatnya itu. Dia tidak mendengar denger tapi saat melihat Diko, dia tahu mimik itu mimik orang yang lagi bersedih.
"Mau kupeluk, honey?" Lukar membuka lebar lengannya.
"Geblek!! Peluk ni kaki ku." Diko menjulurkan kakinya yang panjang. Lukar ketawa. Diko pun ikut tertawa.
"Kamu puas sudah memukulku?" tanya Diko.
"Enggak. Aku masih ingin melampiaskan kekesalanku padamu. Kenapa, kamu mau aku hajar lagi? Aku masih punya banyak tenaga kalau hanya untuk menghajar mu." Lukar mengatakannya dengan ber api-api.
"Jangan hari ini deh, lain kali saja kalau mau menghajar ku lagi. Tubuhku sudah terasa remuk." Diko menjawab dengan sedikit bercanda. "Bagaimana dengan mu?" tanya Diko lagi.
"Aku yang memukulmu. Jadi tentu saja aku baik-baik saja."
"Bukan itu."
"Soal apa?" tanya Lukar heran.
"Kau dan Reysha."
Bola mata Lukar mengerjap. Terkejut dengan pertanyaan itu. "Kenapa tanya itu? Bukankah semuanya hanya permainan?"
"Oh yah?" Diko beranjak duduk dan melihat Lukar yang masih bersandar.
"Ada apa dengan ekspresimu, bodoh Memangnya apa yang kau pikirkan?" Lukar melempari Diko dengan sampah dedaunan kering yang ada di sebelahnya.
"Aku tidak pernah berpikir apa-apa dari kamu dan Reysha, kecuali ... penipu dan korban."
Lukar tergelak. "Benar," ujar Lukar, tanpa di sadari Diko ada senyum sedih disana.
Ya.
Aku dan dia hanya sebatas penipu dan korban. Aku tidak perlu mendekatinya lagi. Tidak perlu penasaran lagi bagaimanakah dirinya. Dari awal memang seharusnya aku enggak ikut drama konyol ini.
Tiba-tiba Lukar merasa sangat malu. ingat semua kejadian saat dirinya menyelesaikan misi taruhan.
Pasti saat itu Reysha berpikir aku sangat bodoh. Dia tahu kalau semuanya adalah sandiwara. Maka dari itu dia bersikap hati-hati saat aku mendekatinya. Dan aku malah berakting sedang jatuh cinta kepadanya. Oh, no!!!
Lukar mengusap wajahnya dengan putus asa. Terjawab sudah kenapa Reysha selalu merasa di perhatikan seseorang saat bersamaku. Dia merasa di awasi. Karena itu dia selalu meyakinkan apa aku sedang sendirian atau bersama Diko. Dan beberapa kali juga Reysha yang menemukan keberadaan salah satu dari temenku yang sering bareng. Ini membuat Lukar kesal lagi.
"Ini semua memang gara-gara keegoisan mu, kampret!!" Lukar menendang kaki Diko yang terjulur di dekat kakinya. Diko tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kau memang masih ingin menghajar ku." Diko masih tertawa terbahak-bahak.
Reysha, kamu menang telak. Baik Diko ataupun aku tidak akan menang melawan mu.
...Bersambung...
gamu thor pokoknya reysa hrs sm lukar
sedih smpe trauma liat judul ni gmw baca gy uda kadung baper😩