Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar

Sugar

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:51.9M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!

Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.

Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.

Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.

Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.

"Apa kamu adalah kak Niko?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah

*

*

Sofia mendesah pelan, memejamkan matanya sejenak sambil meremat kertas di tangannya. Disitu tertera angka sisa tagihan dari bank sebesar 100 juta rupiah yang harus dibayarnya selama satu tahun kedepan.

"Sabar, Fia. Satu tahun lagi. Kamu pasti bisa!!" gumamnya, menyemangati diri sendiri.

Dua tahun ini dirinya sudah bekerja keras membayar hutang ke bank. Menyelamatkan aset keluarga satu-satunya yang dia miliki. Harta berharga milik orang tuanya yang telah di gadaikan sang mantan suami. Firza.

Hatinya berdenyut nyeri setiap kali mengingat nama itu. Nama orang yang seharusnya menjadi pelindungnya, ayah dari putri semata wayangnya. Namun malah menjadi orang yang paling dibencinya saat ini.

Dia bersumpah dalam hati, takan pernah memaafkan Firza andai dia kembali dan bersujud sekalipun. Perbuatannya telah menyebabkan Sofia nekad menggadaikan harga dirinya demi dapat menebus apa yang menjadi milik orangtuanya. Dia tak tega membiarkan dua orang yang telah mengambilnya dari panti asuhan dan merawatnya hingga sebesar ini kehilangan harta mereka satu-satunya.

*

*

*

Ponsel berbunyi nyaring saat jam pulang tiba. Tampak di layar gambar dan nama papih baru nya yang menelfon. Sofia tersenyum, segera menggeser tombol hijau, kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.

"Iya pih?? sudah pulang?" Sofia dengan suara ceria.

"Hmm ... kita ketemu di restoran XX, ya. Kamu belum ada janji dengan orang lain, kan?" Satria dari sebrang sana.

"Belum, pih. oke."

"Yasudah, saya tunggu kamu."

"Iya pih," hendak menutup telfon.

"Fia?" Satria memanggil lagi.

"Iya, pih?"

"Hati-hati." katanya, membuat yang mendengarnya tersipu dengan pipi merona.

Aih ... kenapa ini . Batin Sofia.

Perasaannya seperti ABG yang barusaja mendapat panggilan dari gebetan. Berbunga-bunga.

Dirinya terkikik geli, menepuk kepalanya sendiri.

Sepertinya otakku mulai miring!!

*******

Pak Amir sudah menyambutnya di luar restoran. Menganggukkan kepala seperti biasa, mempersilahkannya mengikutinya menuju tempat dimana Satria sedang menunggunya.

Dan dia disana, sedang duduk menatap ponsel mahalnya. Memperhatikan gerakan saham perusahaannya yang terus naik setiap harinya. Seulas senyum terbit di sudut bibirnya.

Perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara berdeham. Tampak perempuan itu yang berdiri di seberang meja, mengenakan atasan berwarna pink dan celana jeans putih, tak lupa tas kerja berwarna abu-abu yang tersampir dipundaknya.

Rambutnya tergerai begitu saja. Wajahnya yang tanpa makeup berlebih, hanya bedak tipis yang sepertinya baru di usapkan tadi sebelum dia mencapai restoran tersebut.

Senyuman lebar tersungging di bibir Satria. Pria itu meletakkan ponsel, kemudian menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada Sofia agar mendekat.

Perempuan itu menurut, meraih tangan Satria yang terulur yang kemudian menariknya hingga dia terduduk di tempat kosong disamping pria itu .

"Kamu sehat?" tanyanya, dengan suara lembut.

Sofia mengangguk, sambil mengulum senyum. "Papi sendiri, gimana?" balik bertanya.

"Saya sehat, berkat doa kamu saya sehat," katanya.

"Mau makan?" Satria menawarkan.

Sofia menggeleng, "Masih kenyang." jawabnya, pendek.

"Yasudah, kalau nggak makan, kita pergi sekarang." Satria yang kemudian mengeluarkan satu lembar uang berwarna biru dan meletakkannya di Trey bill. Kemudian bangkit dan menarik Sofia keluar dari sana.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan kota yang padat sore itu. Tak ada yang bicara sepatah katapun, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun kedua tangan mereka saling bertautan. Saling menggenggam.

Sofia mengerutkan dahinya ketika mobil yang mereka tumpangi terus melaju melewati hotel yang biasanya menjadi tempat tinggal Satria di kota itu.

"Kita nggak ke hotel?" Sofia menoleh ke arah Satria yang masih duduk dengan tenang. Pria itu menggeleng.

"Kita belanja dulu." jawabnya.

Sofia terdiam lagi.

Tak berapa lama merekapun sampai di sebuah mall terbesar di kota itu. Sofia agak terheran karena biasanya pria yang menyewa jasanya tak sampai membawanya keluar dari hotel, apalagi ke tempat umum semacam ini. Mereka akan bersembunyi di dalam hotel hingga berjam-jam lamanya. Melakukan apapun yang mereka suka dengan dirinya.

Satria tak melepaskan tangannya sepanjang perjalanan dari lift hingga tiba di dalam mall. Pria itu terus menggenggam tangannya seakan takut terlepas. Untuk sesaat Sofia merasa risih, apalagi setibanya mereka di dalam mall banyak pasang mata yang memperhatikan. Perempuan itu tak terbiasa.

Berkali-kali dirinya mencoba melepaskan genggaman tangan papi barunya namun selalu saja gagal. Akhirnya Sofia pasrah saja dirinya ditarik kesana kemari oleh pria itu.

Kini mereka memasuki sebuah toko yang menjual pakaian dan tas perempuan. Sofia kembali mengernyit.

"Ayo pilih yang kamu suka." Satria tiba-tiba.

Sofia tertegun. Sementara Satria segera menghempaskan bokongnya di atas sofa tunggu di tengah ruangan.

"Maksud papi?"

"Belilah beberapa baju, atau tas, atau apapun yang kamu mau." pria itu mulai mengeluarkan ponselnya.

Sofia masih terdiam. Membuat pria yang tengah duduk itu mengurungkan niatnya untuk melihat ponselnya. Dia kemudian bangkit dan menghampiri Sofia yang masih mematung, menariknya mendekati rak-rak yang menggantungkan helaian pakaian disana.

"Pilihlah yang kamu suka." katanya.

Sofia mencerna ucapannya, lalu tangannya bergerak memilah beberapa helai pakaian yang tergantung di rak. Kedua matanya membulat dengan sempurna ketika melihat price tag yang menggantung di setiap pakaian yang dilihatnya. Dari ratusan ribu hingga jutaan, untuk satu potong pakaian.

Napasnya tercekat ketika menatap sebuah gaun cantik berwarna peach. Seharga tiga juta rupiah. Disentuhnya, memang bahannya sangat bagus, sangat halus. Hampir tak terlihat ada jahitan di setiap potongannya.

Sofia bingung. Banyak yang menarik hatinya, tapi tak berani mengambil satupun. Harganya terlalu mahal untuk dirinya.

"Kita belanja di tempat lain aja, pih." katanya, dengan malu-malu.

"Kenapa?" Satria mengerutkan dahinya. "Modelnya jelek? Padahal ini toko paling bagus yang sering saya kunjungi kalau lagi ke Bandung."

"Bukan."

"Terus?"

"Harganya mahal-mahal." Sofia berbisik, namun membuat tawa pria disampingnya pecah.

"Kamu takut saya tidak bisa membayar?" Satria agak kesal.

"Nggak, bukan gitu."

"Kamu pikir kamu sedang jalan dengan siapa, sampai menyebut semua pakaian ini mahal?" mulai ingin menunjukkan jati dirinya. "Kamu sedang bersama Sat ..." namun kemudian menyadari sendiri.

Sofia mengerutkan dahinya.

Satria menghela napasnya pelan, "Ambillah semua yang kamu suka, jangan khawatir soal harga. Saya mampu membeli semuanya. Bahkan jika kamu menginginkan seluruh isi mall ini, saya bisa membelikannya untuk kamu, Fia." Satria menegaskan.

"Papi yakin?" Sofia agak ragu.

Satria menarik napas lagi, lalu tanpa pikir panjang, dia segera mengambil beberapa pakaian yang tadi dilihatnya disentuh oleh Sofia. Termasuk gaun peach seharga tiga juta yang membuat perempuan itu terhenyak.

Tak lupa beberapa tas yang juga tadi dilirik perempuan disampingnya juga dia serahkan kepada pelayan toko untuk segera di bungkus.

Setelah membayar, kemudian mereka keluar. Dengan menenteng beberapa paper bag berisi pakaian dan tas, juga sepatu mahal. Sofia masih tak percaya ditangannya dia memegang banyak barang mahal. Bahkan yang tak ada dalam bayangannya sekalipun.

Dirinya memang pernah beberapa kali membeli pakaian mahal, namun itu bisa dihitung dengan jari. Pekerjaannya memang mampu memberikan dia hal-hal semacam itu, namun Sofia tidak pernah lupa diri untuk menggunakan uang pemberian pria-pria yang telah dilayaninya untuk hal-hal semacam itu. Pikirannya selalu fokus memakai uang-uang itu untuk segera melunasi hutangnya ke bank, agar dia segera kembali memiliki sertifikat rumah yang telah tergadai. Sementara sisanya dia pakai untuk membiayai hidup dirinya dan keluarganya, terutama Dygta, putri semata wayangnya agar dia tak merasa kekurangan.

Puas berkeliling mall membelikan segala kebutuhan Sofia, Satria memutuskan untuk kembali kehotel tempat dia menginap.

Sesampainya di hotel, Satria melakukan hal yang membuat Sofia kembali terbelalak heran dan terkejut.

Didalam kamar telah menunggu dua orang terapist sekaligus make up artis yang sengaja di sewa pria itu untuk merawat tubuh dan mendandani Fianya agar tampil beda malam itu.

"Saya pernah bilang, kalau saya mau, saya akan memberikan apa yang kamu butuhkan. Tanpa kamu minta." bisiknya, ketika Sofia tengah didandani oleh make up artis.

Hingga satu jam kemudian, saat kedua orang make up artis itu menyelesaikan pekerjaannya, dan berpamitan. Sofia berdiri menatap dirinya di cermin. Dengan riasan menawan, dan pakaian baru yang tadi sore dibelinya di mall bersama sang papi. Sofia hampir tak mengenali dirinya sendiri.

Make up elegan, tatanan rambut menawan, pakaian dan sepatu mahal, dirinya bak putri dari negri dongeng.

"Sudah selesai? kita harus segera pergi, kalau tidak ..." Satria berdiri mematung diambang pintu. Menatap perempuan di depan cermin. Kedua mata mereka bersirobok.

"Who are you?" katanya, berjalan mendekat. "Dimana Fia saya?" senyuman lembut terbit di sudut bibirnya.

"Papi!!!" Sofia menggumam.

Satria terkekeh. "Siapa kamu? Dimana Fia saya?" katanya lagi sambil terkekeh. Sebuah pukulan lembut mendarat di dada kiri nya, yang kemudian ditahannya.

"Kamu cantik." bisiknya di telinga Sofia, ketika mereka sudah tak lagi berjarak, membuat tubuh perempuan itu meremang. Satria memeluknya dari belakang, menatap pantulan mereka di cermin.

Sofia dengan gaun peach pilihannya, dan Satria dengan stelan jas hitam. Keduanya nampak mempesona.

*******

Bersambung....

like

koment

vote!

1
Adeeva Haboo
tenang ada didim,ada daryl sama darren..
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
meninggalkan jejak sek
Adeeva Haboo
setelah puyeng ma emaknya nanti puyeng ma anaknya double pula puyengnya atas bawah 🤣🤣🤣
Adeeva Haboo
ahhh kang jaheeeee
Adeeva Haboo
kangeeeen maaa
Borahe 🍉🧡
Kasian banget si Papa Bear saking paniknya jd kek org bodoh😁
Borahe 🍉🧡
Sabar Fan🙈🤣🤣
Borahe 🍉🧡
Salting 😋
Borahe 🍉🧡
Hahah lucu banget 🤣🤣🤣. Dari dapam kandungan sampai gede anak Satria merepotkan Om Arfan terus🙈😂😂.
Borahe 🍉🧡
Fan Fan. Lucu banget. Calon mertua mu itu Fan di 10 thn yg akan dtg😂😋
Borahe 🍉🧡
Sengaja banget terbar pesona🙄😂
Borahe 🍉🧡
betul fan🙄
Borahe 🍉🧡
tak ada yg luput dari pantauan om Arfan😁
Borahe 🍉🧡
plek ktiplek dgn kisah anaknya🤣ternyata story turunan
Borahe 🍉🧡
Fia gak pernah mens ya🙊🙈. Bercocok tanam mulu
Borahe 🍉🧡
selama masih muda si papi gak pernah pacaran hanya sibuk kerja jd saat ketemu Fia udah kek anak ABG yg baru merasakan cinta cintaan😋😂😂
Borahe 🍉🧡
Calon mertua mu Fan 😁
Borahe 🍉🧡
Salah satu kalimat spesial Papi ke Pasangannya. "Berkat doa kamu saya selalu sehat"😍 sweet banget kalimatnya
Borahe 🍉🧡
kata andalan si Papi. "Move" 😋
Borahe 🍉🧡
Back again. Sesuka itu bacanya🙊😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!