Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
"Gala, jangan bercanda begini. Bagaimana mungkin kita bisa menikah?"
Mawar membalikkan badan, berusaha menyembunyikan gejolak rasa yang meluap di dadanya. Matanya menatap tajam ke arah tanah, namun pandangannya bergetar hebat, sama seperti hatinya yang sedang terguncang antara keraguan dan harapan yang terlarang.
Gala melangkah mendekat perlahan, napasnya terasa berat namun mantap. Ia bergerak hingga berdiri tepat di hadapan gadis itu, lalu dengan lembut namun tegas menangkap kedua tangan Mawar dan menggenggamnya erat, seolah tak ingin melepaskan lagi. Manik mata pria itu yang biasanya selalu santai, dan penuh keriangan, kini berubah tajam, menembus lurus ke dalam bola mata Mawar, penuh keyakinan yang tak bisa digoyahkan oleh apa pun.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, Mawar?" suara Gala rendah, tegas, dan jernih, tanpa keraguan sedikit pun.
Mawar menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat menahan rasa sesak. Di dalam dadanya, keraguan itu seperti duri tajam yang terus menusuk tiap kali ia mengingat takdir pahit yang baru saja menimpanya, rasa malu yang membakar, serta kenyataan pahit bahwa dirinya sudah bukan lagi gadis suci seperti dulu.
"Bukan begitu… hanya saja…" suara Mawar hilang tertelan angin siang yang berhembus panas dan berdebu.
Ia menarik tangannya pelan dari genggaman Gala, lalu menundukkan kepala semakin dalam, seolah berharap tanah di bawah kakinya bisa segera terbuka dan menyembunyikan rasa hina yang selama ini ia pendam sendirian.
"Pernikahan bukan sekadar ucapan atau janji manis, Gala. Itu adalah ikatan seumur hidup, beban berat, dan tanggung jawab besar. Kau tidak perlu mengorbankan masa depanmu, nama baikmu, dan kebahagiaanmu hanya demi menanggung beban berat yang ada padaku. Aku tidak pantas mendapatkan pengorbanan sebesar ini."
Gala justru mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka makin sempit, membuat Mawar tertegun dan tak berani bergerak. Tatapan pria itu lembut namun membakar hati.
"Mengorbankan diri? Siapa yang bilang ini pengorbanan, Mawar? Menikah denganmu justru adalah mimpi indah yang selama ini aku simpan rapat-rapat, mimpi yang dulu bahkan tak berani aku bayangkan bisa menjadi kenyataan. Selama bertahun-tahun aku memendam perasaanku, diam saja karena takut kau akan menjauh, takut persahabatan kita hancur. Sekarang kesempatan ini datang, dan kau bilang aku sedang berkorban? Ini bukan pengorbanan, melainkan anugerah terindah yang semesta berikan kepadaku."
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir yang selama ini Mawar bangun tinggi-tinggi di sekeliling hatinya. Tanpa sadar, ia melangkah maju dan langsung menyandarkan tubuhnya ke pelukan Gala, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang akhirnya tumpah menjadi rasa lega yang mendalam. Gala membalas pelukan itu sekuat tenaga, memeluk erat seolah ingin menanamkan rasa aman, perlindungan, dan ketenangan yang selama ini dicari dan diimpikan oleh Mawar.
"Mawar, hal sepenting ini tak pantas dibahas di tempat terbuka, di mana mata dan telinga orang bisa mendengar lalu salah paham. Lebih baik kita bicarakan semuanya dengan tenang dan tuntas di rumahku, bersama Ibu. Di sana kita aman, dan tak ada yang akan mengganggu," ucap Gala dengan nada rendah namun tegas.
Mawar mengangguk cepat, jantungnya masih berdegup kencang. Hatinya terasa lega luar biasa karena akhirnya menemukan jalan keluar yang jauh lebih baik dan tulus, selain rencana berat untuk menikah dengan Rangga, pria yang terlalu baik hingga ia merasa tidak tega membebani hidupnya dengan nasib buruk miliknya.
***
Sesampainya di kediaman Gala, langkah kaki Mawar seketika terhenti tepat di ambang pintu. Napasnya tertahan di tenggorokan. Di hadapannya bukan rumah yang ia bayangkan, bukan bangunan yang kokoh atau luas. Di sana berdiri rumah kayu sederhana, bahkan terlihat agak reyot, dengan atap rumbia yang berlubang di sana-sini, dinding papan yang mulai lapuk dimakan usia dan cuaca, serta lantai tanah yang berdebu. Jauh, sangat jauh berbeda dengan rumah besar berhalaman luas dan megah milik keluarganya. Hati Mawar berdenyut nyeri, rasa bersalah perlahan merayap masuk.
"Ini salahku sendiri. Bersahabat bertahun-tahun, tapi aku sama sekali tidak pernah tahu kalau Gala hidup sesederhana ini? Aku terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak pernah melihat apa yang ada di depanku." batin Mawar, ia terpaku diam seribu bahasa, menatap sekeliling dengan pandangan yang penuh rasa bersalah dan haru.
Gala menepuk bahu Mawar pelan, namun nada bicaranya berubah dingin dan rendah sekilas karena rasa malu yang tiba-tiba muncul di hatinya.
"Kenapa diam saja? Maafkan aku... rumahku tak sebagus, tak seluas, dan tak semegah rumahmu. Kalau kau merasa terhina, tak nyaman, atau merasa kecewa, kita bisa pergi sekarang juga. Kita bicarakan di tempat lain saja, asal kau merasa tenang dan nyaman."
Kalimat itu menyentak kesadaran Mawar. Ia menoleh cepat, menangkis kesalahpahaman itu secepat mungkin sebelum rasa sakit hati menganga semakin lebar.
"Bukan begitu, Gala! Sama sekali bukan itu maksudku! Aku hanya... terkejut saja, tidak menyangka keadaannya begini. Rumahmu memang kecil dan sederhana dibanding rumahku, tapi lihatlah... semuanya bersih, rapi, tertata baik, dan terasa sangat hangat. Di sini terasa seperti rumah sejati, tempat yang penuh kasih sayang dan ketenangan, bukan sekadar bangunan besar yang dingin, kaku, dan penuh aturan serta kepura-puraan. Kita bicara di sini saja, ya. Aku merasa aman dan nyaman di sini."
Senyum yang terukir di wajah Mawar kali ini benar-benar tulus, berusaha meyakinkan sahabat sekaligus calon pelindungnya itu.
Gala mengangguk pelan, wajahnya kembali lembut, lalu menunjuk ke arah kursi kayu tua namun bersih di ruang tamu yang sederhana itu.
"Kalau begitu, duduklah di sana sebentar. Aku akan memanggil Ibu dulu."
Mawar duduk menunduk perlahan, jari-jemarinya menari gugup di atas lutut. Di dalam kepalanya, suara bisikan buruk terus berputar berulang kali. "Aku sudah tidak suci lagi... aku sudah bernoda. Gadis buruk nasibnya seperti aku, mana pantas mendapat kebahagiaan? Aku hanya akan menjadi beban bagi mereka..."
Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki lambat dan berat mendekat. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik tirai kain. Wajahnya penuh lelah, terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya, kulitnya terbakar matahari dan kasar karena bekerja keras, punggungnya sedikit bungkuk tanda kelelahan yang tak pernah berhenti. Namun begitu Bu Mayang menatap Mawar, senyumnya mengembang hangat dan tulus, mata tuanya bersinar ramah di balik segala tanda lelah yang mendalam.
Mawar segera berdiri dengan hormat, menundukkan kepala, lalu dengan lembut mencium punggung tangan ibu Gala sebagai tanda penghormatan yang tulus.
"Duduklah, Nak Mawar. Jangan sungkan, jangan kaku seperti itu," ucap Bu Mayang lembut dan ramah, lalu duduk perlahan di bangku kayu sebelah gadis itu.
"Terima kasih, Bu." Mawar kembali duduk perlahan, jantungnya berdebar kencang menanti pertanyaan berat yang ia tahu pasti akan datang.
Dan benar saja, Bu Mayang menatapnya lekat-lekat, tatapan itu tajam namun penuh empati dan kebijaksanaan. Suaranya berubah menjadi berat, serius, namun tetap lembut.
"Gala sudah bercerita segalanya kepadaku, Nak. Tapi dengar baik-baik kata-kata Ibu ini. Apakah kau benar-benar yakin ingin menikah dengan Gala? Pikirkan sampai ke akar-akarnya, jangan hanya karena terdesak atau takut saja. Lihatlah keadaan kami. Rumah ini bahkan lebih sempit dan sederhana daripada kandang sapi milik keluargamu. Gala adalah satu-satunya tulang punggung keluarga ini, ia harus membiayai sekolah adiknya, bekerja dari pagi buta sampai malam larut demi sesuap nasi dan kebutuhan hidup. Hidup bersamanya takkan mudah, jauh dari kemewahan, kemudahan, dan kenyamanan yang biasa kau nikmati selama ini."
Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara angin berdesir pelan di sela-sela celah dinding kayu. Mawar menelan ludah, menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke mata Bu Mayang, meski hatinya bergetar hebat karena rahasia besar yang tersembunyi jauh di dalam dadanya.
"Tidak masalah, Bu. Apa pun keadaannya, aku siap. Asalkan Ibu merestui kami, aku siap berjuang bersama Gala, berbagi suka maupun duka. Setelah menikah nanti, aku akan ikut bekerja, membantu mencari nafkah, berbagi beban seberat apa pun itu. Aku tidak akan meminta kemewahan, aku hanya butuh tempat berlindung, ketenangan, dan kasih sayang yang tulus."
Bu Mayang tertegun, matanya membelalak tak percaya. Ia tak pernah menyangka gadis dari keluarga terpandang, pemilik perkebunan terluas dan terbesar di desa mereka, mau merendahkan diri hingga sedemikian rupa, bersedia meninggalkan segala kemewahan demi anak lelakinya yang sederhana.
Gala yang sedari tadi berdiri diam di samping tiang penyangga akhirnya tak sabar lagi menunggu. Ia maju selangkah, nada bicaranya mendesak namun penuh harap dan ketulusan.
"Ibu, tolonglah... Jangan biarkan kami menanti ketidakpastian lebih lama lagi. Kami sudah yakin, sama-sama yakin dengan keputusan ini. Kami saling membutuhkan, kami saling mengerti. Tolong restui hubungan kami, Bu."
Bu Mayang menghela napas panjang dan berat, menatap wajah sang putra dengan penuh cinta dan kasih sayang, lalu kembali beralih menatap wajah Mawar yang berkilauan air mata namun tetap tegar dan berani. Perlahan, kerutan di dahinya melunak, sudut bibirnya terangkat lembut. Ia mengangguk pelan, suara parau namun tegas terdengar memecah keheningan ruangan itu.
"Baiklah... jika itu keputusan kalian berdua, jika kalian siap menerima suka-duka bersama, saling menguatkan, dan tak akan saling meninggalkan dalam keadaan apa pun, Ibu merestui hubungan kalian. Semoga kalian bahagia dan kuat menghadapi apa pun yang akan datang."
Senyum lebar mekar seketika di wajah Gala. Ia berbalik cepat, menggenggam kedua tangan Mawar dengan antusiasme yang meluap-luap, matanya berbinar cerah penuh kebahagiaan. Mawar membalas genggaman itu erat-erat, bibirnya bergetar hebat menahan bahagia yang meluap, hanya mampu mengangguk berulang kali, meski di sudut hati yang paling dalam, ia tahu betul bahwa ujian sesungguhnya, baru saja dimulai.
Bersambung...