Menjadi korban salah sasaran?
Bagaimana bila itu terjadi padamu tanpa bisa melakukan apapun?
Itu yang terjadi pada Misya, gadis baik dan ceria.
Ia harus menanggung hukuman atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.
Dan sayangnya, ia harus menikah juga dengan laki laki yang menyakiti nya itu.
Tapi cobaan demi cobaan yang selalu menjatuhkannya, menempanya memjadi lebih kuat dan tegar.
Bisakah Misya bertahan dengan luka yang tak tersembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISBRAFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 ***
Vael terbangun, ia menatap tak percaya wajah cantik Misya yang begitu dekat dengannya.
Misya tertidur pulas di samping Vael.
Tanpa berpikir panjang, Vael menyentuh pipi Misya.
Misya tergagap bangun
"Vael... kamu udah baikan?" tanya Misya.
Vael mengangguk.
"Maaf, karena menemaniku kemarin kamu jadi sakit." gumam Misya.
Vael cuma tersenyum.
Sejak itu sikap Misya berubah Ia mulai ramah pada Vael.
Seperti malam ini, Misya dan Valerie sibuk memberinya wejangan, karna besok adalah hari perkenalan angkatan baru dikampus Misya.
Dan Vael adalah junior baru di sana.
"Ingat Vael, jangan cari masalah dengan orang yang bernama Bobi.
Kalau dia mulai menjengkelkan, lapor Misya aja." saran Valerie.
Misya dan Vael memandang Valerie bingung.
"Kenapa aku?" protes Misya.
"Bobi kan tergila gila sama kamu." jawab Valerie santai.
Misya yang duduk disamping Vael terlihat kesal.
"Terus?" sentaknya kesal.
"Yah, masak kamu enggak mau merayunya buat baik baikin Vael." goda Valerie.
"Iihhh... amit amit." Misya terlihat cemberut, ia memandang Vael memelas.
Tapi Vael hanya tertawa gemas.
"Emang si Bobi jelek ya? kok ngeselin banget." tanya Vael.
Valerie tertawa.
"Enggak, justru dia ganteng."jawab Valerie geli.
"Terus?" Vael semakin tidak mengerti.
"Ganteng, tapiii... super lebayyy..!!" dengus Misya kesal.
Valerie tertawa keras, ia mulai sibuk bercerita tingkah Bobi yang berusaha menarik perhatian Misya.
Misya menatap Vael yang ikut tertawa dengan wajah cemberut.
Kesal tidak ada yang membelanya, Misya merajuk, ia menghentak kaki kesal lalu masuk kekamar.
"Kenapa dengan Misya? dia merajuk?" Valerie terperangah.
Vael terkekeh pelan, ia justru gemas dengan sikap Misya akhir akhir ini.
Valerie terlihat menyesal.
"Sudah, Misya enggak apa apa, ia cuma agak sensitif." Vael berusaha menghibur Valerie.
Dan benar, esoknya Misya sudah terlihat seperti biasa.
"Kita sudah sekampus, kenapa enggak boleh bareng?" protes Vael melihat Misya yang menunggu Valerie siap.
"Ingat perjanjian kita?" Misya mengingatkan.
Vael menghembus nafas kesal, lalu mengangguk, benar... Misya tidak mau ada orang yang tau kalau ia sudah menikah.
"Lagi pula, jangan memancing Bobi." kata Misya pelan.
""Kenapa aku harus takut sama dia?" dengus Vael.
"Karna super lebay jadi dia super pede dan tak tau malu." Misya tertawa geli.
"Banyak yang coba mendekati Misya dan jadi korban nya." sergah Valerie yang tiba tiba muncul.
Awalnya Vael tidak begitu peduli dengan Bobi, tapi setelah melihatnya di kampus, ia percaya, Bobi cuma ingin terlihat hebat.
Sementara Misya sengaja tidak muncul, ia memilih sendiri sambil membuat beberapa desain untuk butik.
Tapi Valerie datang mengganggunya.
"Makan yuk.." ajaknya.
"Sebentar lagi, tanggung nih" jawab Misya tanpa menoleh.
"Cepat! jangan sampai keponakan ku kelaparan." ancam Valerie.
Misya buru buru menutup mulut Valerie.
"Oke... oke..." Misya menyerah, ia membereskan membereskan barang barangnya dan mengikuti Misya.
"Hei Misya... " seseorang memanggil.
Misya menoleh, Mona gadis paling agresif di kampus.
"Ada junior tampan jadi incaran cewek cewek tuh, Bobi lagi cari masalah dengan nya." Mona melirik nya sinis.
Sudah bukan rahasia Bobi tergila gila pada Misya dan menganggap semua cowok tampan itu saingan nya.
Misya dan Valerie saling pandang.
Kompak Misya dan Valerie bergegas, tak susah mencari Vael, semua cewek di kampus ini tau di mana Vael dan Bobi.
Dan benar, Bobi sedang mengerjai Vael dengan menghukumnya menggantung spanduk kampus.
Dan anehnya walau Vael terlihat marah, tapi ia tetap menurutinya.
Misya dan Valerie menghampiri Bobi yang langsung berdiri menyambutnya.
"Apa yang kamu lakukan? apa kesalahan nya?" tanya Misya dingin.
"Hei.. Bobi, dia adikku." seru Valerie galak.
"Kalau kamu menghukumnya tanpa kesalahan, kami tak kan diam." ancam Misya tajam.
Bobi diam tak berkutik, ia tak menyangka Vael adik Valerie yang artinya sahabat Misya.
Vael terpaku, ia menatap Misya takjub.
************
Siang ini Misya dan Valerie sedang sibuk di butik ketika dari ekor matanya Misya menangkap sosok Filo dari luar sedang memperhatikan nya.
Misya menunduk, ada sedih yang tiba-tiba dirasakannya.
Valerie menyentuh bahunya.
"Temui saja dulu." katanya.
Misya mengangkat wajahnya dan menggeleng.
"Aku tak ingin jadi perempuan jahat. aku tak akan menemuinya selama aku masih istri Vael"
Valerie memeluk Misya, ia adalah orang yang paling mengerti perasaan Misya saat ini.
"Aku akan biarkan Filo begitu, ia pasti hanya ingin melepas rindu nya.
Nanti suatu saat dia akan terbiasa dan bisa melupakanku." suara Misya terdengar tercekat.
"Terus... bagaimana dengan mu?" tanya Valerie iba.
"Apakah kamu pikir aku masih pantas untuk nya?" tanya Misya pahit.
"Kalau ia masih tetap menunggu mu?" Valerie hampir menangis.
Misya menatap keluar, ia melempar senyum termanisnya untuk Filo.
Filo mengangguk sedih, menatapnya lagi beberapa lama, lalu pergi.
Misya menghela nafas panjang lalu menoleh menatap kembali Valerie.
"Kamu lihat ? pada akhirnya ia akan lelah dan pergi..." kata Misya parau.
Misya tersenyum pahit, lalu menyibukkan diri memeriksa beberapa desain yang baru ia selesaikan.
"Apakah kamu memutuskan tetap bersama orang yang kamu benci?" Valerie tetap bertanya.
"Dia dan aku sudah memutuskan menyelamatkan anak ini, jadi kami sudah siap dengan segala konsekwensi nya." jawab Misya tanpa menoleh.
"Aku gagal menjadi anak yang baik, kekasih yang baik, bahkan gagal jadi istri yang baik.
Tapi... aku tak ingin gagal menjadi ibu yang baik."Misya mengerjapkan mata, ia tak ingin menangis.
Valerie menatap Misya takjub, ia terbengong cukup lama, sampai suara Dion yang baru tiba menyadarkannya.
Dion memeluk dan mencium Valerie tanpa canggung.
"Misya, aku pergi dulu nanti pulangnya ku jemput, oke?" pamit Valerie.
"Pergilah, aku mual melihat kemesraan kalian yang lebay." jawab Misya masih tetap fokus pada kerjaan nya.
Dion tertawa keras, ia menarik Valerie pergi.
"Gak usah jemput! aku telpon Vael aja." teriak Misya.
"Kenapa? Valerie kemana?" tiba-tiba Vael masuk.
"Astaghfirullah..." sentak Misya memegang dadanya.
"Maaf... " Vael nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Valerie pergi kencan sama Dion." Misya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Vael mengangguk, ia duduk di samping Misya dan mengeluarkan laptopnya, lalu mulai fokus sendiri.
Entah berapa lama kemudian Misya menyelesaikan desainnya, ia merenggagkan tubuh nya lega.
Misya menoleh memperhatikan Vael yang masih fokus dengan laptopnya.
Misya terpukau.
Hatinya mengakui ketampanan Vael.
Mata Vael yang tajam terlihat hangat bagi Misya.
Hidung nya yang mancung begitu sesuai dengan rahang nya yang kokoh, alisnya... bibirnya... seluruh wajahnya.... terlihat sangat menarik.
Merasa di perhatikan, Vael menoleh, ia tersenyum senang melihat Misya sedang memperhatikannya.
Misya mendehem.
"Maukah kamu menemaniku beli ice cream?" pinta Misya tiba tiba, ia terlihat salah tingkah.
Vael menutup laptopnya, lalu memasukkan kembali ke dalam tas.
"Ayo... setelah itu kita langsung pulang kan?" tanya Vael.
Misya mengangguk lalu memanggil salah satu pegawainya.
"Tolong tutup butiknya, kami pulang lebih dulu ya..?" pamit Misya.
Vael meraih tasnya dan Misya, lalu berjalan keluar bersama Misya.
Vael duduk diam menatap senang Misya yang terlihat sangat menikmati eskrimnya.
"Kelihatan nya sangat enak." goda Vael.
"Cicipilah... anakmu menyukainya." jawab Misya cuek.
Vael terkekeh senang, ia memadang Misya yang asyik sepuasnya.
"Sudah?" tanya Vael melihat Misya meletakkan sendoknya setelah es krimnya habis.
"Ayo pulang." seru Misya, wajahnya terlihat puas.
Vael tertawa dan mengikuti langkah Misya.
Ia membawa motor nya pelan, perasaan nya sore ini sangat senang.
"Oh iya...Misya, jangan lupa besok janji temu dengan dokter kandungan." Vael mengingatkan.
Misya yang baru turun dari motor, mengangguk.
"Besok ya?" kata Misya dan membiarkan Vael menggandengnya masuk.
Tapi langkah mereka tiba tiba terhenti.
Seorang gadis cantik berambut pirang dan bermata kuning gelap menghadang dengan senyum lebarnya.
"Vaeelll..." teriaknya lalu melompat memeluk Vael.
berapa bulan aja nih nungguinnya.!
😍😍
😍🤗