Asha terpaksa menerima tawaran Kania untuk membantu Kaisar menjadi sekretaris bosnya. Namun, siapa yang menyangka jika bosnya adalah mantan suaminya sendiri.
Kebencian yang dimiliki Askara kian menumpuk ketika harus bertemu dengan Asha setiap hari, terlebih bayangan-bayang masa lalu terus menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Syarat
Dua bulan menjalani biduk rumah tangga banyak sekali cobaan yang datang silih berganti. Dari mulai para pelanggan yang selalu komplain dengan menu di cafe, hingga kesulitan untuk membayar para karyawan karena semakin hari kafe semakin sepi. Karena para karyawan terus mendesak meminta gajinya, Askara tidak punya pilihan lain dan pada akhirnya dia meminjam uang kepada seorang rentenir untuk membayar karyawan dan untuk modalnya lagi.
Ternyata cobaan tidak sampai disitu saja. Cafe yang dulunya rame kini semakin hari semakin sepi. Satu persatu karyawan mulai keluar dari cafe hingga sampai tak bersisa. Dan pada akhirnya Asha turun tangan untuk menangani pelanggan yang hanya tinggal satu pelanggan yang datang. Hal itu tentu membuat Askara hampir gila karena harus tetap membayar angsurannya pada rentenir, sementara pemasukan hampir tidak ada.
"Sha, jika aku menjual kafe ini untuk melunasi hutang kepada rentenir apakah kamu setuju?" tanya Askara pada Asha.
Asha benar-benar sangat terkejut dengan by 14 keinginan Askara. "Apakah tidak ada pilihan lain selain menjual cafe ini? Ini adalah satu-satunya hasil keringat dan kerja kerasmu selama ini, Kara."
"Tapi aku tidak punya cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, Sha. Kamu tenang saja sisa uang dari hasil penjualan cafe ini akan aku buat untuk membangun usaha baru."
"Jika itu yang terbaik, terserah kamu saja Kara. Aku akan selalu ada bersamamu dalam suka dan dukamu," ucap Asha dengan tulus.
"Asha, terima kasih telah mencintaiku apa adanya."
Dan hari yang dinantikan telah tiba. Dimana Askara telah melakukan negosiasi dan telah terjadi sebuah kesepakatan jual beli. Namun, ternyata pembayaran tidak dilakukan secara cash. Sang pembeli berjanji akan melunasi sisa pembayarannya satu minggu lagi. Dengan penuh percaya Askara mengiyakan.
Uang dari hasil penjualan cafe telah dibayarkan kepada rentenir, dan sebagian digunakan Askara untuk membuka sebuah bengkel kecil. Memulai hidup baru dan suasana baru. Meskipun terjun bebas, tetapi Askara sangat bersyukur karena Asha masih berada di sampingnya dan terus mendukungnya.
Setelah dua minggu berlalu, Askara mencoba menghubungi orang yang telah membeli cafenya. Dia ingin menanyakan bagaimana kelanjutan dari sisa pembayaran cafe yang ternyata molor. Janjinya satu Minggu akan dilunasi, tetapi sudah dua Minggu tidak ada kabar.
"Kenapa?" tanya Asha saat melihat wajah Askara sangat murung.
"Kita ditipu, Sha," ucap Askara dengan lesu.
"Apa? Bagaimana bisa?" Asha sangat terkejut.
Tubuh Asha terasa lemas saat mendengar apa yang dikatakan oleh Askara, jika orang yang telah membeli cafenya ternyata telah menjualnya kepada orang lain. Bahkan saat ini entah berada di mana keberadaannya. Nomor teleponnya pun sudah tidak aktif lagi.
Jatuh kedalam lubang yang dalam rasanya sangat sakit. Namun, Asha tetap memberikan semangat untuk Askara. Membuat Askara tidak larut dalam kesedihannya. Tidak ada pilihan lain selain merelakan uangnya dibawa pergi oleh penipu. Karena menangis hingga jungkir balik pun tidak akan menemukan orang yang telah menyakini.
Bersama dengan Asha, kini Askara hidup sederhana. Bahkan untuk membantu keuangan, Asha membuka laundry di bengkel Askara.
"Sha, maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Tapi percayalah, suatu saat aku akan membahagiakanmu." Janji Askara pada Asha.
"Bisa hidup bersamamu hingga menua, itu sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak peduli bagaimana keadaan kita karena yang aku inginkan hanya bersamamu dalam suka dan duka."
Disisi lain ibu Askara tersenyum puas saat mendengar bahwa saat ini Askara sudah jatuh kebawah. Bahkan hidupnya hanya bergantung pada orang yang mendatangi bengkelnya. Yang lebih membuatnya merasa sangat puas ketika saat ini Askara mulai terlilit hutang.
"Aku ingin tahu seberapa sombong anak itu kepada ibunya. Apakah di saat seperti ini dia masih bisa menyumbangkan diri? Itulah akibatnya jika menentang orang tua." sinis ibu Askara saat mendapatkan laporan dari seseorang tentang bagaimana keadaan Askara saat ini.
"Bu, apakah ini tidak keterlaluan untuk kak Kara?" tanya Karina.
"Justru dengan cara seperti itu kita bisa mengambil Kara. Aku yakin wanita itu tidak akan sanggup hidup salam kemiskinan," ujar Ibunya.
🌼🌼
Suatu hari bengkel Askara diserbu oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Bahkan mereka menghancurkan semua yang ada di bengkel. Askara yang mengetahui segera melawan mereka. Namun, karena jumlah orang yang menyerbu ada lima orang, Askara tidak mampu untuk melawan mereka.
"Aku peringatkan agar kamu pergi dari tempat ini, karena semenjak kamu membuka bengkel disini, pelanggan di bengkelku pada lari kesini semua," ucap salah seorang di antara mereka.
"Itu karena bengkel tempatmu hanya asal-asalan dan mahal!" kata Askara.
"Apa kamu bilang? Dasar sialan!" Satu pukulan kuat mendarat di perut Askara.
"Itu akibatnya jika kamu berani terhadapku!"
"Aku tidak melawanmu. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan semua pelangganmu yang memberitahuku tentang kebusukanmu." ujar Askara.
Merasa tidak terima dengan ucapan Askara, seorang pria yang tidak dikenal memberi putra mengajar Askara sampai tak berdaya. Saat memastikan Askara tidak berdaya kelima orang itu langsung meninggalkannya begitu saja.
Karena kondisi Askara yang memburuk akhirnya dia di bawah ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Asha hanya bisa menangis dengan apa yang telah terjadi kepada suaminya.
"Semua ini salahmu. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Askara kamu yang harus bertanggung jawab." Suara dari belakang membuat Asha langsung menoleh. Saat Asha ingin menyelami tangan Ibu mertuanya, wanita itu malah menyembunyikan tangannya di belakang dan menatap Asha dengan sinis.
"Jangan sentuh aku!" sentaknya.
Karina yang ikut melihat keadaan Askara sangat terkejut saat melihat keadaan kakaknya yang babak belur. Satu tamparan mendarat di pipi Asha.
PLAK!
"Puas kamu membuat kakakku terbaring tak berdaya seperti ini? Puas!" bentak Karina.
Asha hanya terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan.
Asha merasa terpukul karena di sudutkan oleh keluarga Askara. Terlebih saat Asha belum bisa membayar tagihan rumah sakit, padahal hari itu Askara sudah bisa untuk dibawa pulang. Dari belakang sebuah tangan menyentuh pundak Asha. Saat melihat ke belakang, Asha sangat terkejut dan terbelalak ibu mertuanya menyentuh dirinya.
"Kenapa? Apakah kamu tidak bisa membayar tagihan rumah sakit ini?"
Asha hanya menunduk malu. Dia sudah tahu jika kedatangan Ibu mertuanya hanya ingin mengolok-olok dirinya.
"Aku bisa membantumu untuk membayar biaya pengobatan Kara, tapi dengan satu syarat. Apakah kamu setuju?"
Tidak ada pilihan lain, Asha menyetujui syarat yang diberikan oleh ibu mertuanya. Memang sungguh berat tetapi Asha tidak punya pilihan lain.
"Bagaimana?" tanya ibu Askara.
Asha membuang nafas beratnya dan berkata, "Baiklah, aku setuju. Tapi izinkan aku untuk merawatnya sampai benar-benar sembuh."
"Tidak masalah. Asalkan setelah itu kamu pergi menjauh dari kehidupan Askara," kata ibu mertuanya yang kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Asha sebagai tanda deal.
...🌼 Flashback selesai 🌼...
baru merasakan sedikit kebahagiaan ada aja gangguannya🤧