Terpaan cobaan kehidupan bagi Yenni, ia mulai menyadarinya setelah berkenalan sama cowok bertampang keren di salah satu cafe. Setidaknya terjadi kekacauan waktu keduanya saling bersilangan jalan sewaktu dia mendapatkan tugas dari ibunya. Bukanlah sembarangan seruan ibu Hartati, sebagai putri semata wayangnya.
Gilang di kantor selalu jadi pusat perhatian karyawan wanita. Metta secara tak sengaja menaruh hati pada Gilang. Tidak heran bilamana ada sepasang mata terus mengawasinya.
Di bulan ketiga Gilang baru memberanikan diri untuk bisa meraih cita-citanya. Membangun perusahaaan di bidang jasa konsultan. sebagai lelaki merasa tertantang buat mendapatkan cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris jonh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api amarah di hati
Ruhay telah ikrarkan janji sama kekasihnya. Ingin berkunjung ke Palembang, di mana keduanya pernah ungkapan isi hatinya. Di relung hatinya terdalam, nyata nampak di pelupuk matanya. sekembalinya dari kampus. Dia hanya menggelayutkan ujung matanya ke sisi jalan Malioboro. Sejak dulu kala kondang pejalan kaki dan seniman jalanan. Tempat di mana mahasiswa kesenian menuangkan kreatifitasnya serta banyak lagi pelaku seni lainnya.
Sebagai perantau, ya sebutan itu jauh lebih modis untuk dikonsumsi publik. Setidaknya sosok tampan itu akan mengadu peruntungan di kota gudeg. Tempat berkumpulnya pelajar dari berbagai daerah. Luruh di kota yang menyajikan kesejukan dan ketenangan hati. Lampu temaram menjadikan suasana sahdu. Sulitlah untuk dilewatkan begitu saja, sepulang kuliah Ruhay nongkrang di Ngejaman. Sebuah jam besar sebagai simbol di kota ini selain ada ikon Tugu. Orang masih sibuk berlalu lalang melintasi trotoar. belanja souvenir beraneka ragamnya. Penjaja kaos khas dagadu yang kondang sampai ke manca negara.
Malam makin dingin, jam delapan sudah menurunkan titik embun. Mungkin saja kejadian menjadi biasa saja bagi Ruhay. Dia akan tekun menjalaninya penuh kesabaran tanpa mengeluarkan keluhan ringan. Segigih apa pun tiap individu punya rasa lelah. Maklumlah anak kost, sedikit saja melakukan kesalahan kecil sekali pun. Dia harus mampu pertanggung jawabkan. Baik secara lahiriah semata.
Kiranya dia akan mendapatkan kunjungan terhormat dari keluarga ceweknya. Selain ada perbedaan sangatlah mencolok yakni gadisnya harus menselaraskan langkahnya. Sebagai harapan Ruhay atas gadisnya bisa membaur sama anggota keluarganya.Dia juga baru melangkah ke tukang kopi. Hubungan mereka begitu akrab dan harmonis.
"Sedari dulu kau tidak menunjukkan ihtikat baik. Lalu apa tujuanmu mendekatiku? Atau kau punya tujuan terselubung. Sekali kau mendekatiku maka saya tidak segan-segan bikin hidupmu jadi kacau."
"Setega itu kau menuduhku berbuat macam-macam sama gadis lain."
"Jelasnya aku tidak punya kepentingan apa pun atas jalan hidupmu. Atau lebih jauh mencampuri urusan orang lain. Sama artinya aku buang waktu sia-sia...."
Cerdiknya bilamana kelabuhi cewek. Sayang juga kalau dilewatkan begitu saja. Selayang pandang cowok perantau untuk dekati gadis pujaannya. Sekurang-kurang dia punya trik untuk mendekatinya. Satu misal malam itu menjadikan dirinya lebih berhati-hati memilih gadis. Ruhay sampai sama sahabat kenal di stasiun radio. Hobi keduanya nyaris sama, pendengar setia.
Dua sahabatnya pasti bertandang ke gerai lesehan. Dalam limpahan garis malam muda-mudi menikmati keindahan temaram lampu jalanan. Ruhay masih terlihat sibuk menyelesaikan pesanan koleganya. Di sisinya, ada secangkir kopi susu beserta singkong rebus. Makanya tiada mengherankan dua sahabatnya kerap bikin kepalanya punyeng. Dari kejauhan tawa dua sahabat sangat gampang dikenali olehnya. Percuma saja dia mau alihkan pandangan kearah langkah dua lelaki. Ia masih tetap sibuk melukis dan melukis. Goresan dari sapuan kuasnya lumayan improf sekali.
"Hei. Kelihatannya makin banyak....?" seloroh rekannya.
Seribu satu punya teman macam mereka, susah mencarikan penggantinya. Seumpama ada di dunia ini nyatanya akan banyak menemukan kesulitan menetapkan pilihan. Bukan semudah balikkan telapak tangan. Ia usap keringat basahi di keningnya. Tak pantaslah menyerah sebelum maju ke medan perang. Istilàh itu kerap kali di perdayakan sebagai tamengnya.
"Belum ada satu pun pelanggan mampir ke sini. Kalau pun ada pastinya hanya satu dua orang. Sekedar ajak bincang-bincang." selisih paham Ruhay.
Gelak tawanya jadi pecah juga. Kemaren saja dia sampai terganggu tidurnya. Lagi pula mana ada orang akan bertandang ke kost. Bila ada pasti suara ibu kost menagih bayaran bulan ini. Makanya saat temannya menanyakan dagangannya laris atau tidak. Tentu dia punya jawaban jitu, agar orang lain enak dalam melihat usaha lelaki itu penuh kesabaran.
Kiranya kesuksesan tentu perlu pengorbanan. Hali sangatlah disadari Ruhay. Selama ini ia ingin berkata dengan kejujuran. Namun perkataannya justru menjadikan dirinya mudah direndahkan sama orang lain. Kini dia boleh dikatakan terdampar dan sulitnya mencari perlindungan batin. Salah seorang sempat dipercayanya akan lekas menghilang dari hadapannya. Yakni benih kesombongan.
"Terus sampai kapan kau menuruti permintaan? Kurasa ada.baiknya kau cari bidang lain. Ya setidak bisa merubah keadaan." sambung Jordy bernada kalem.
Setahun keduanya menjalin tali persahabatan. Segala keluh kesah Ruhay bisa ditampungnya dengan semua kebijaksanaan. Bahkan dia akan rela menemai Ŕuhay sampai dini hari. Sekedar berbincang masalah pribadi.
"Omong kosong apalagi kawan! Karena aku punya keyakinan, selama kita masih bisa menuangkan cat ke kanvas. Mungkin saja ada hal sangat menarik." kata Ruhay optimis.
"Apa kau bisa buktikan? Setahun lebih, bahkan kehidupaanmu masih dibawah standar. Ayolah kau bisa merubahnya dengan merubah pola berpikirmu. Aku sebenarnya tidak mau terlalu jauh mencampuri urusanmu."
"Terima kasih."
Ruhay kembali melanjutkan kerjanya. Jari-jarinya masih dengan lincahnya mencelupkan kuas ke baki cat. Pandangan mata teduh. Jordy sebenarnya tidak punya kepentingan atas rekannya. Melainkan dia inginkan agar Ruhay mau sedikit terbuka atas penyelesaian lukisan. Sampai jauh malam keduànya saling berdebat kusir.
****
Puncak kemeriahan malam ini sangatlah dinantikan oleh tamu undangan. Gelak tawa mereka seakan mulai menyatu dengan hembusan angin berbalut embun. Alunan musik jazz masih menghibur para tamu. Sentuhan halus dekorasinya sangat kental dihiasi lampu warna-warni. Sejurus mata tertuju di ujung sana. Sebuah pemandangan tak sedap di saksikan oleh siapa pun. Ada satu gerak lelaki bertubuh tegap. Wajahnya terlihat biasa saja, ia ambil posisi segelas minuman. Lebih memilih tempat sepi jauh menyenangkan.
"Hebat!" sambar Danar.
Sekelumit perkataan penyemangat dari orang pernah didengarnya. Atau sebatas sindirian semata. Agar menjatuhkan mentalnya. Wajahnya males menengadah cuma tertunduk lesu.
"Kau bilang hebat! Kau bisa denger semuanya."
Suara Gilang sempat meninggi. Sorot matanya benar-benar ingin meluapkan emosinya. Entah berapa kali usahanya sepertinya terhalang oleh prilaku sahabat. Tapi bukannya pagar makan tanaman. Secepat kilat tangan meraih lengan kanan Danar. Cengkraman itu makin kuat seberat tatapan matanya.
"Jangan punya pemikiran keliru. Saya sampai apa dan kapan kita bisa bicara baik-baik. Enggak ada penilaian lain."
"Bohong!" Gilang murka. "Ini bukan meracuni hidupku. Denger baik-baik. Aku tidak akan tinggal diam. Selama masih dijalan kebenaran."
Danar masih terlihat santai, atau berpikiran beda dengan kawannya. Yakni benih-benih cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Bukan campur tangan manusia, meski pun ada unsur alamiyah. Kala ada pertemuan tentu ada secerca perpisahan. Hingga sehina ini, pikir Gilang terus meratapi jalan hidupnya.
"Selama kau mau bersabar."
"Sekarang aku baru sadar. Bahwa semua ini pasti ada campur tangan dari..."
Tuduhan itu selalu menjurus ke arah Danar. Atas dasar kedekatan sama Yenni. Maka akan tercipta sangkaan keliru. Gilang kali ini harus benar-benar mengubur mimpinya.