Indonesia
NovelToon NovelToon
Taj Mahalku

Taj Mahalku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Pernikahan Kilat / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Romansa
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hernia Fadni

Aman khan seorang pebisnis asal India.Ia memiliki masa lalu kelam yang membuatnya terpaksa meninggalkan negaranya .Dengan bantuan dari sang nenek, Ia mulai merintis usahanya di Indonesia dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri.

Disaat mengadakan pertemuan makan malam dengan salah satu rekan bisnisnya, ia disambut oleh anak gadis rekanannya, Sani yang datang mewakili sang Ayah yang berhalangan hadir.Dilihat dari tampilannya, gadis itu sangat anggun dan tertutup.

Namun siapa sangka, saat percakapan bisnis mereka berakhir, Sani justru melamar Aman yang memiliki selisih usia sepuluh tahun lebih tua darinya.

"Aku ingin melamarmu!Menikahlah denganku?", kata wanita itu dengan percaya diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernia Fadni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segalanya terungkap

Sudah sepuluh jam berlalu sejak Sani diberikan obat sedasi oleh dokter. Ia terlihat begitu tenang dengan masker oksigen melekat di wajahnya.

Perawat nampak berlalu lalang tiap satu jam untuk mengecek kondisi Sani. Pak Heri pun dengan setia terus berada di samping sang putri sembari membacakan ayat-ayat suci Alqur'an.

"Selamat malam, Pak Heri." Suara seorang pria tiba-tiba mengagetkan Pak Heri. Ia segera menghentikan bacaannya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya dokter Gunawan, dokter yang menangani Sani sedang berjalan menghampirinya.

"Malam, dok," jawab Pak Heri lesu, namun tetap berusaha untuk tersenyum.

Dokter Gunawan mengecek kondisi Sani sembari mengamati layar monitor yang ada di samping Pak Heri.

"Sepertinya denyut jantung dan pernafasan Sani sudah mulai stabil. Saya akan mengurangi dosis obatnya secara perlahan dan melihat kondisinya lagi setelah dua puluh empat jam. Mudah-mudahan Sani bisa bangun tanpa merasa kesakitan lagi."

"Terima kasih, dok."

Sebenarnya tak ada lagi hal terkait kondisi Sani yang perlu ia sampaikan, namun dokter Gunawan merasa berat untuk pergi. Ada sesuatu hal yang sangat mengganjal di pikirannya dan dokter Gunawan ingin menyampaikan hal tersebut pada Pak Heri.

"Maaf jika saya lancang Pak Heri, tapi saya merasa harus menyampaikan hal ini pada anda."

Mendadak mata Pak Heri mengerut. "Apa itu, dok?"

"Apa tidak sebaiknya kita menyampaikan kondisi Sani yang sebenarnya pada suaminya? Bagaimanapun juga, dia adalah wali Sani yang sah. Saya khawatir, dia akan marah dan merasa dibohongi, jika mengetahui penyakit Sani di saat kondisinya sudah semakin memburuk," kata dokter Gunawan cemas.

Pak Heri terdiam sambil menunduk cukup lama. "Saya juga inginnya begitu, dok. Tapi Sani meminta saya menutupinya dari nak Aman. Dia khawatir, reaksi suaminya akan sama seperti Rafli saat mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan mereka."

Dokter Gunawan tak dapat berkata apa-apa. Ia bisa memahami ketakutan yang Sani rasakan, jika benar suaminya akan bereaksi sama seperti mantan calon suaminya yang dulu.

Dokter Gunawan bahkan menyaksikan sendiri bagaimana reaksi pria itu saat tahu Sani mengidap kanker......

Tiga Puluh Enam hari yang lalu.....

"Dokter, hasil pemeriksaan kesehatan Tuan Rafli dan Nona Sani telah keluar." Seorang perawat wanita menghampiri dokter Gunawan yang sedang duduk bersantai di ruangannya. Ia menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan Rafli dan Sani yang berencana akan berangkat ke Amerika usai menikah, karena harus bekerja di sebuah perusahaan pertambangan minyak di sana.

Salah satu persyaratan yang diajukan pihak perusahaan tempat Rafli akan bekerja adalah melakukan tes kesehatan secara menyeluruh sebelum berangkat.

"Terima kasih, sus." Dokter Gunawan mengambil beberapa amplop dengan ukuran yang berbeda dari tangan perawat.

Tanpa menunggu waktu lama, dokter Gunawan segera mengeluarkan isi amplop ukuran sedang. Ia dengan teliti membaca satu persatu hasil pemeriksaan Sani dan Rafli yang telah dilakukan satu minggu yang lalu.

Namun dahi dokter Gunawan tiba-tiba mengkerut, saat melihat sesuatu yang tak biasa dari hasil laporan milik Sani.

Seakan tak yakin dengan apa yang tertulis, dokter Gunawan segera membuka amplop besar berisi gambar otak yang diperoleh melalui pemindaian MRI, untuk memastikan kebenarannya.

Dokter Gunawan mendadak tertegun setelah memastikan jika yang tertulis dalam hasil pemeriksaan kesehatan milik Sani telah sesuai dengan hasil pemindaian MRI.

Karena alasan itulah dokter Gunawan menghubungi Rafli dan memintanya untuk datang. Ia ingin menjelaskan terkait kondisi Sani pada calon suaminya, dan berharap pria itu bisa diandalkan untuk menyampaikan berita buruk tersebut pada Sani tanpa membuatnya down.

"Tuan Rafli, saya meminta maaf jika menyampaikan kabar kurang menyenangkan ini di saat anda sedang mempersiapkan diri menuju pelaminan. Namun hal ini sangat penting untuk saya sampaikan secepatnya, agar Sani bisa segera mendapatkan penanganan," kata dokter Gunawan saat Rafli datang menemuinya.

"Penanganan? Maksud dokter?"

Dokter Gunawan lalu menyerahkan amplop berisi hasil pemeriksaan kesehatan milik Sani dan mengeluarkan hasil pemeriksaan MRI untuk diperlihatkan kepada Rafli.

"Saat mengecek hasil pemeriksaan kesehatan Sani, saya mendapati sesuatu yang tidak terduga. Hasil pemindaian MRI Sani menunjukkan adanya sel-sel abnormal yang tumbuh dan berkembang di dalam otaknya. Sel-sel tersebut mulai menyebar ke beberapa jaringan dan membentuk gumpalan, tepatnya di area batang otak. Dilihat dari penyebarannya, dapat dipastikan jika sel abnormal tersebut merupakan kanker. Untuk memastikan apa jenis kankernya dan sejauh mana tingkatannya, kita harus segera mengambil tindakan biopsi dan menyusun metode pengobatan untuknya."

Rafli terdiam dengan wajah pucat. Sangat jelas terlihat jika ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sang dokter.

"Maksud dokter, sebentar lagi Sani akan mati?"

Pertanyaan yang dilontarkan Rafli saat itu benar-benar membuat dokter Gunawan terkejut. Ia tidak menyangka, pertanyaan pertama yang Rafli tanyakan justru tentang kematian. Seolah memperlihatkan betapa pesimisnya pemuda itu dengan kesembuhan Sani, bahkan sebelum berusaha mencari jalan keluar.

"Saya tidak bisa memastikan hal tersebut, Tuan Rafli. Hanya Tuhan yang bisa menentukan ajal seseorang. Saat ini kita hanya perlu mengupayakan segala usaha untuk kesembuhan Sani."

"Tapi tetap saja, dok! Kanker otak! Semua orang juga tahu peluang hidup untuk orang yang menderita penyakit ini sangat kecil! Kalau pun ada yang survive, itu karena dia rela menjalani pengobatan dalam waktu yang lama dengan biaya yang tidak sedikit. Lalu bagaimana saya harus menghadapinya, dok? Saya akan menikah dengan dia besok! Mau tidak mau saya harus merawat dia sambil bekerja untuk membiayai pengobatannya yang tidak murah! Belum lagi saya akan menjadi duda hanya dalam waktu hitungan bulan!"

Dokter Gunawan benar-benar syok mendengar ucapan Rafli. Ia tak menyangka jika pria itu akan bereaksi se-emosional ini. Namun ia tak bisa mengomentari ranah pribadi orang lain. Tugasnya hanya menyampaikan keadaan pasien pada keluarganya.

"Saya turut prihatin atas keadaan yang menimpa anda saat ini. Tapi saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang dokter dengan memberitahu kondisi pasien pada pihak keluarga dan memberikan opsi pengobatan untuk pasien agar bisa sembuh."

Setelah mendengarkan perkataan dokter Gunawan, Rafli berusaha tenang. "Maaf, dok! Saya tidak bermaksud marah pada anda. Saya hanya terkejut dan tidak menyangka hal ini akan terjadi. Saya akan mencari cara mengatakan hal ini pada Sani dan keluarganya!"

Dokter Gunawan lega mendengar ucapan Rafli. "Saya harap anda bisa membawa Sani segera untuk mengambil tindakan lanjutan. Meski peluang kesembuhannya kecil, namun jika ditangani dengan cepat, Sani masih bisa berpeluang hidup lebih lama."

"Baik, dok!"

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, dokter Gunawan mempercayakan pria itu menyampaikan kondisi kesehatan Sani.

Namun tak disangka, besoknya Sani dan Ayahnya datang dengan membawa kabar mengejutkan mengenai Rafli yang membatalkan pernikahan melalui pesan singkat.

Dalam pesannya, pria itu menyatakan jika keluarga besarnya keberatan menikahkan dirinya dengan Sani yang ternyata didiagnosis menderita penyakit kronis. Mereka tidak terima jika putra mereka harus mengorbankan waktu, tenaga dan materi, demi merawat orang sakit yang hidupnya bahkan tidak lama lagi.

Dan karena itulah, semangat Sani untuk sembuh jadi hilang. Terlebih saat hasil biopsi-nya keluar dan dokter Gunawan menyatakan jika ia mengidap kanker Glioblastoma yang sudah mencapai stadium 4 dan hanya memiliki peluang hidup selama enam bulan.

Sani pun menolak segala bentuk pengobatan yang ditawarkan dokter Gunawan dan hanya memilih mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan sang dokter untuknya. Ia ingin menjalani hari-harinya seperti biasa, seakan tak memiliki penyakit serius.

...****************...

"Saya akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu nak Aman tanpa diketahui Sani. Tapi untuk saat ini, saya belum bisa, dok. Hati saya masih belum siap."

"Saya mengerti, Pak! Tapi anda juga harus ingat, setiap detiknya sangat berharga bagi Sani. Jangan sampai reaksi suaminya yang mungkin tidak menerima kondisi Sani, akan memperburuk keadaannya. Ada baiknya jika memang suaminya meninggalkan Sani sekarang, daripada dia melakukannya di saat Sani sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya," dokter Gunawan berusaha menasehati.

Pak Heri lantas menatap sayu wajah anaknya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat. "Saya akan mempertimbangkan saran dokter."

"Kalau begitu saya permisi pulang, Pak Heri. Perawat akan terus datang setiap satu jam sekali selama dua puluh empat jam untuk mengecek kondisi Sani. Jika tiba-tiba keadaannya memburuk, saya akan segera datang."

"Sekali lagi terima kasih, dok. Nasehat anda benar-benar menguatkan hati saya."

"Sama-sama, Pak. Bapak harus kuat demi Sani."

Pak Heri hanya bisa mengangguk sambil menghapus air matanya yang entah sejak kapan jatuh membasahi pipinya.

Dokter Gunawan menepuk pundak Pak Heri untuk memberinya semangat, lalu beranjak pergi.

Sementara itu, Pak Heri segera meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Aman, namun nomornya belum aktif karena masih dalam perjalanan.

Lalu Pak Heri tiba-tiba teringat pada sopir pribadi Aman yang tadi pagi ia suruh pulang. Ia takut Pak Adi akan lebih dulu menghubungi Aman dan melaporkan kejadian di bandara pada majikannya.

Pak Heri pun segera menghubungi Pak Adi, bermaksud ingin memintanya untuk tidak menyampaikan perihal kejadian yang menimpa Sani kepada atasannya.

"Halo, Assalamualaikum, Pak Heri," sapa Pak Adi setelah panggilannya tersambung.

"Wa'alaikum Salam, Pak Adi. Pak Adi ada di mana?"

"Ada di rumah, Pak!"

Pak Heri diam sejenak. Ia sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk disampaikan pada Pak Adi.

"Apa saya bisa meminta bantuan Pak Adi?"

"Bantuan apa, Pak?"

"Apa boleh kejadian di bandara tadi pagi tidak disampaikan pada Nak Aman? Saya tidak ingin nak Aman tidak konsentrasi dengan pekerjaannya hanya karena mendengar Sani pingsan. Saya janji akan menjelaskan pada nak Aman begitu dia pulang dari Italia."

"Tenang saja Pak! Saya tidak akan menyampaikannya pada Tuan Aman."

Pak Heri pun bernafas lega. "Terima kasih atas pengertiannya, Pak Adi."

"Bagaimana keadaan Nyonya Sani, Pak?"

"Aaa.... Dia sudah siuman, tapi sekarang sudah tidur lagi."

"Apa ada sesuatu yang harus saya bawa untuk Nyonya Sani besok?"

"Aaa.... Tidak perlu repot-repot, Pak Adi. Kalau kondisi Sani sudah lebih baik, besok dia sudah bisa pulang. Saya akan membawa Sani ke rumah saya untuk sementara waktu, sampai nak Aman pulang. Jadi Pak Adi tidak perlu cemas."

"Baik, Pak!"

"Kalau begitu saya tutup teleponnya ya, Pak Adi. Assalamualaikum."

"Wa'alaikum Salam."

Panggilan mereka terputus dan Pak Heri lanjut melantunkan ayat suci di samping Sani.

1
Kusuma setyawati Setyawati
kenapa lama g up...thor
Risy Risyda
jangan biarkan aman dan Isha kawin
TQ author update nya
Kusuma setyawati Setyawati
tetap setia menanti kelanjutannya
@tik jishafa
meskipun baru baca awal bab tpi udah yakin cerita ini pasti kereeen....seperti cerita dr Isao 🥰
@tik jishafa
Hallo thor jumpa lgi d novel terbaru ..maaf bab nya udah bnyk baru mampir baca, semangaat 💪😊
Nur Anjar
Wih...Isha mau jadi ulat bulu nih.
Kusuma setyawati Setyawati
sangat bagus sekali.
Nur Anjar
kakek jelek layak bebek biarin aja bobok di penjara.kejamnya dah kelewatan.
Devina Putri
kejam sekali kau kek😢😢😢
Devina Putri
pikir aja trus bi, ampe kepalamu puyeng memikirkan bagaimana Aman bisa sukses tanpa bantuan si kakek tidak tahu diuntung itu!
Devina Putri
benar banget!Diatas langit masih ada langit.Akhirnya kalian dibuat terkaget-kaget kan???🤭🤭🤭
sutriani alif
nangis terus pokoknya bacanya😭😭😭
Nur Anjar
Jangan kasih ampun si kakek jelek kyk bebek.
Devina Putri
sehat selalu ya thor!aku selalu setia menunggu up nya
Kusuma setyawati Setyawati
tetep setia menunggu up nya...
Devina Putri
Ibu tirinya aja baik. kenapa si kakek kandung justru jahat banget sm cucu sendiri😢
Nur Anjar
Makin seru ceritanya.lanjut!
Devina Putri
nyaho lu kek! orang yg selama ini berusaha kau dekati, ternyata adalah cucumu yg sudah kau sia-siakan!
Devina Putri
akhirnya...selamat menikmati rumah baru yah kek😆😆
Nur Anjar
oh..kakek jelek kyk bebek.bobok di penjara dulu ya.lumayan dingin kok,jadi gak usah pakai AC.
Maisan: akhirnya kakek dapat batunya😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!