Altar persembahan yang mempersebahkan begitu banyaknya penyihir tingkat 8. Dimana antagonis membangkitkan ras demon dan giand sepirit god, dari dunia bawah (neraka) di panggil oleh sihir terlarang yang tertulis di buku hitam usang secara paksa untuk membalas dendam.
Tapi Protagonis yang di berkahi Toko dewa, ia menciptakan keajaiban. Dunia yang akan hancur melihat cahaya harapan, dengan skill sihir yang di beli dari toko dewa membuatnya menjadi pahlawan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11. Pengajaran Guru pada muridnya.
Ada dua gadis yang lucu, satu berambut hijau panjang berponi bernama Siska dengan pipi tembam dan tinggi sekitar 150cm, sedang memegang sepotong daging segar untuk menyuapi anak fenrir yang sedang berguling-guling. Naomi, berambut hitam dikuncir kuda di kedua sisinya, dengan senyum hangat menggosok bulu-bulu lebat anak fenrir tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Seorang pria gemuk bernama Hagao, dengan kepala botak, sedang menyiram tanaman dengan gayung kayu di tangannya. Ia tampak sangat bersemangat. Yugi, Hayate, dan Inuyasa, tiga pria kembar berambut hitam, tampak malas-malasan sambil mencangkul.
Nanagi, Iruna, Isuna, dan Nana adalah empat gadis cantik yang hobi menanam herbal. Dengan semangat, mereka menanam berbagai herbal, seperti embun beku, mawar hijau beracun, labu kuning bulan, dan bunga kristal elemen yang langka.
Semua murid yang melihat gurunya membawa murid baru, dengan sigap meninggalkan pekerjaannya dan berlari dengan cepat masuk ke dalam ruang kelas.
"Hahaha, lihatlah mereka, mereka adalah senior kalian. Tidak perlu takut, mereka memang seperti itu setiap kali melihatku."
"Guru, apakah Ana boleh bermain dengan hewan di sini? Apalagi serigala merah itu sangat lucu," ucap Ana sambil menunjuk ke anak fenrir yang sedang berbaring.
"Ana, kau akan memiliki banyak teman yang kau sukai di sini. Apa kau lihat tatapan mata mereka yang senang melihatmu datang ke sini?"
"Iya, Guru. Mereka sangat imut dan lucu. Aku mau memeluk mereka semua," kata Ana dengan mata yang berbinar.
Andrea Han bersama murid-murid barunya berjalan menuju sebuah rumah yang cukup mewah dengan dua pintu sebagai pintu masuk. Saat mereka memasuki ruangan yang sangat mewah, suasana begitu hening sehingga kicauan burung pun terdengar. Murid-murid duduk di kursi dan meja belajar, dan di sudut belakang terdapat rak buku yang bersandar di dinding, penuh dengan buku-buku sihir yang tertata rapih. Sinar matahari yang menembus jendela memberikan cahaya alami untuk ruangan tersebut.
Semua mata murid menatap papan tulis yang menggantung di dinding, di mana Azel Kara, Ana dan Kunigami berdiri. Dengan tatapan mata senior mereka, mereka tampak sangat gugup. Sedangkan Andrea Han duduk di kursi dan meja guru di samping mereka.
"Kalian bertiga, silahkan memperkenalkan diri kalian masing-masing kepada senior kalian."
"Namaku Ana, aku berasal dari Desa Hage. Mohon bimbingan, senior," ucap Ana sambil membungkuk. Wajahnya tampak sedih.
"Aku Kunigami, kakak dari Ana. Kami berasal dari tempat yang sama. Mohon bantuannya," ucap Kunigami sambil membungkuk.
"Namaku Azel Kara. Saya dari keluarga bangsawan yang telah runtuh. Mohon pertemanan kalian," ucap Azel Kara dengan nada serius sambil membungkuk.
"Duduklah, aku akan memulai kelas ini," ucap Andrea Han. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju papan tulis. Sementara itu, Azel Kara bersama Ana dan Kunigami berjalan menuju bangku kosong di belakang, dekat jendela.
Ketika pelajaran sihir dimulai, Andrea Han dengan sedikit menggerakkan jarinya, membuat buku sihir yang berada di rak melayang dengan sendirinya menuju tangannya. Ia membuka buku sihir pemula, menulis gambar di papan tulis dan menjelaskan tentang pengendalian mana.
"Mana adalah esensi sihir murni yang terbentuk dari berbagai elemen yang mengambang di udara. Dengan menyerap mana ini, tubuh akan berevolusi menjadi lebih tajam."
"Mana juga dibagi menjadi tiga tahap: Mana Kotor, Mana Berkembang, dan Mana Murni."
"Mana Kotor adalah kondisi di mana tubuh seseorang dipenuhi oleh kotoran, sehingga mana murni yang diserap oleh tubuhnya terhambat dalam meridian, atau seperti yang dikatakan oleh seorang prajurit, 'kelainan Qi'."
"Sedangkan Mana Berkembang adalah mana yang tidak dapat Anda kontrol dan tidak dapat Anda rasakan karena tubuh Anda kekurangan mana. Anda harus mengisinya kembali, di mana jantung adalah pusat mana itu sendiri."
"Mana Murni dibagi menjadi dua tahap: pertama, tubuh sudah bisa mengendalikan mana tersebut, dan kedua, bisa membuat keahlian Anda sendiri dengan berbagai elemen."
Semua siswa yang mendengar penjelasan Andrea Han menulis semua yang dia katakan di buku catatan mereka masing-masing yang telah disediakan di atas meja.
Azel Kara berdiri dari tempat duduknya dan bertanya, "Guru, bagaimana jika seseorang memiliki mana yang murni, tetapi tidak bisa mengendalikannya atau bahkan merasakannya?" Dia kemudian duduk kembali.
Andrea Han menjawab dengan senyum penuh dan menjelaskan, "Mana murni yang tidak dapat dirasakan dan dikendalikan disebabkan oleh jantung mana yang kosong. Seharusnya mana murni akan mudah dirasakan oleh tubuh atau mudah dikendalikan. Dengan insiden seperti ini, mungkin ada satu cara untuk melatihnya dengan bermeditasi dan merasakan mana di sekitarmu yang mana tersebut akan diserap secara otomatis."
"Ingatlah ini, siswa-siswi, tidak semua penyihir bisa mempelajari regenerasi mana tersebut. Kebanyakan penyihir setelah kehabisan mana, mereka akan memulihkan mana mereka dengan ramuan atau beristirahat, di mana tubuh akan menyerap mana alami dan mengisinya kembali."
"Regenerasi mana adalah di mana tubuh itu sendiri akan otomatis menyerap mana dalam jumlah besar dan mengisi mana dengan cepat ke dalam jantung, di mana pusat sihir itu berada."
Azel Kara sangat puas dengan penjelasan gurunya, dia tersenyum dan merasa penasaran dengan keahlian regenerasi mana itu sendiri.
"Nanagi, kemarilah dan jelaskan pengendalian manamu,"
Gadis berkulit hitam bernama Nanagi, dengan rambut panjang berwarna pink, berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke depan kelas. Semua teman-temannya yang duduk di bangku sekolah memperhatikannya. Dengan percaya diri, dia mempraktekkan sihir pengendalian mana, di mana tangan kanannya diangkat ke atas langit-langit, mana yang berkumpul dan diserap oleh tubuhnya membuat angin di sekitarnya dan lingkaran sihir putih muncul di atas telapak tangannya.
Dengan mana yang terus diserap dan berubah menjadi sihir angin, suasana menjadi cukup tegang.
"Inilah yang disebut Regenerasi Mana, di mana pengguna sihir akan menyerap mana dan mengubahnya menjadi elemen. Nanagi adalah contoh di mana lubang mana di jantungnya seperti lubang hitam yang tak pernah penuh, dia adalah jenius mana itu sendiri."
Nanagi membuka matanya dan dalam sekejap sihir itu menghilang. Dengan wajah yang malu dan memerah, dia berlari kembali ke tempat duduknya.
"Jadi ini yang disebut regenerasi mana, sekarang aku tahu kalau diriku sama dengan Nanagi. Gadis itu memiliki kelainan aneh sama sepertiku," ucap Azel Kara dalam hati, "mungkin aku bisa mencoba keahlian itu untuk mencoba memahami manaku."
□□
Disisi lain kelas, kelas bangsawan.
Di dalam ruang belajar akademi sihir yang mewah, suasana gaduh memenuhi udara. Para siswa bangsawan, berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, berbicara dengan suara yang keras dan bersemangat. Dinding kelas yang dilapisi marmer berkilau dihiasi dengan simbol-simbol sihir dan pengetahuan kuno. Cahaya dari lampu kristal gantung memenuhi ruangan dengan cahaya yang hangat dan misterius.
"Pelajar pemula yang tidak tahu apa-apa, perhatikan ini!," ucap kasar seniornya yang berdiri di atas meja, memamerkan sihir dasarnya, "lihatlah ini yang disebut pengendali mana, gunakan akalmu."
Rin yang terganggu oleh laki-laki kurus itu dengan wajah penuh jerawat, ia naik ke atas mejanya dan bertatapan dengan laki-laki bernama Richat Arlon, anak dari Baron Arlon. "Bisakah kau tidak berbicara seperti itu kepada juniormu, dirimu sendiri yang tidak kompeten masih berada di tahap pertama meski sudah dua tahun mengikuti pelajaran!"
"Berani sekali kau mengatakan itu pada saudaraku, gadis sialan! Apa yang bisa dilakukan ayahmu kepada kita," ancam laki-laki bergigi kelinci, anak dari Jenderal Kekaisaran bernama Libon Sakrat.
"Kau hanya bisa mengandalkan nama keluargamu, tapi kau lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkanku!," ucap Rin dengan sombong. "Jika kalian merasa hebat, mari kita bertarung!."
Semua yang mendengar ucapannya yang arogan dan menantang, hanya bisa diam membisu. Dimana Rin adalah ketua kelas mereka dan individu paling berbakat di angkatannya.
Di tengah keramaian itu, seorang guru duduk dengan tenang di belakang meja pengajarnya yang besar dan mewah. Meski tampak pasif, matanya memperhatikan setiap gerakan dan suara di ruangan itu. Dia tidak menghentikan keributan, melainkan membiarkan para siswanya merasakan dan belajar dari interaksi mereka sendiri.
"Sudah begini mereka menjadi pengecut, sungguh mengecewakan," gumam Gilson Abraham dalam hatinya.
Para siswa, yang kebanyakan adalah bangsawan, tampaknya menikmati kebebasan ini. Mereka berdebat, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan sihir mereka dengan antusias. Meski tampak gaduh, ada semacam harmoni dan dinamika dalam keramaian itu.
Suasana kelas ini mungkin tampak kacau bagi orang luar, namun bagi mereka yang berada di dalamnya, ini adalah bagian dari proses belajar. Guru dengan sabar memperhatikan, membiarkan para siswanya belajar dari pengalaman mereka sendiri sebelum memberikan bimbingan dan arahannya.
••••
aku mampir kak, semoga kita bisa saling support dan mendukung satu sama lain🤗
ayo saling berbalas membaca di setiap part'nya, lanjut like dan komen yu kak.
ayo saling follow 🤗