Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Pada akhirnya, Amira ikut dengan Zian. Soal makanan gratis, Amira memang tidak pernah pikir panjang, apalagi perut saya sudah keroncongan.
Saat sampai di restoran, Amira terkejut bukan main. Ini pertama kalinya saya masuk ke tempat berkelas dan mewah. Yang lebih mengejutkan lagi adalah hidangan yang Zian pesan—makanan yang sama sekali belum pernah saya lihat di warteg.
Amira menelan saliva. Kelihatannya enak, tapi… bagaimana cara makannya?
“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Zian.
“Kayaknya sih enak, tapi…”
“Tapi kenapa?”
Amira menggigit bibirnya, lalu menatap Zian dengan wajah polos.
“Pertama, saya tidak tahu ini apa, Pak. Halal atau tidak. Kedua, saya tidak tahu cara makannya.”
Zian tersenyum gemas. Ia memotong kecil steak di piringnya, lalu mengangkat garpu ke arah Amira.
“Ini halal. Ayo, buka mulutmu.”
“Eh, tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri. Saya makan sen…”
“Kamu bilang tidak tahu cara makannya. Cepat, buka mulutnya,” ucapnya tegas.
Amira akhirnya membuka mulut, menerima suapan itu. Dagingnya meleleh di mulut, gurih, lembut—beda sekali dengan daging biasa.
“Enak?”
Amira mengangguk cepat.
Zian memotong lagi. “Kalau enak, habiskan. Jangan mubazir.”
Amira menurut. Kali ini tanpa ragu.
Di luar, pelayan dan tamu lain pura-pura tidak melihat. Di meja itu, hanya ada Zian dan Amira. Dinginnya Zian mencair sedikit demi sedikit, diganti cara merawat yang canggung tapi tulus.
“Terima kasih, Pak… saya kenyang,” ucap Amira sambil menunduk.
“Belepotan sekali, seperti anak kecil,” ucap Zian sambil menyeka sudut bibir Amira dengan tisu.
Amira terkejut. Zian baru saja menyeka bibir saya begitu saja.
“Habis ini kamu pulang, istirahat, dan minum obatnya. Saya akan kembali setelah pekerjaan saya selesai.”
“Tapi, Pak, kalau Bu Miss mencari saya bagaimana?”
“Itu urusan saya. Kamu pulang dan istirahat. Satu lagi, jangan makan pedas. Nanti maagmu kambuh.”
Amira terdiam. “Kok… Bapak tahu saya ada maag?”
Zian mengangguk. “Waktu di rumah sakit, dokter bilang begitu. Oh ya, bukankah kita sudah sepakat kalau di luar kamu tidak perlu memanggil saya ‘Bapak’? Lihat, pelayan itu terus menatap kita.”
Amira menoleh. Dua pelayan memang mencuri-curi pandang.
“Maaf, saya lupa. Kebiasaan… Pak. Eh, maksudnya Mas.”
“Pokoknya jangan panggil ‘Pak’. Saya belum setua itu.”
“Iya, Mas,” ketus Amira pelan. “Memang dia lebih tua dari saya, masih saja tidak mau dibilang tua.”
Zian mendengar itu.
“Kamu bilang apa? Mengataiku tua?”
“Hah? Tidak kok, Mas. Sumpah!” Amira panik dan langsung berlari keluar restoran.
“Amira?” panggil Zian dengan nada tegas.
Amira menoleh perlahan.
“Maaf, Mas. Saya tidak ada maksud mengataimu TUA!”
“Kalau meminta maaf tidak usah diperjelas kata ‘tuanya’. Kamu ini memang senang mengejekku, ya?”
Amira menyengir.
“Cepat naik mobil.”
“Tidak usah, Mas. Saya naik bus saja. Bagaimana kalau ketahuan orang kantor?”
“Kalau ketahuan kenapa? Kamu istri saa. Sekarang masuk. Kevin, antar dia pulang setelah ke kantor.”
“Tapi, Mas…”
“Masuk, atau mau saya gendong?”
Amira langsung masuk sebelum Zian benar-benar nekat.
Di mobil, Amira diam. Jari saya meremas ujung baju.
“Saya mau minta maaf, Mas. Pagi tadi kayaknya saya membuat kamu marah.”
Zian mengangkat alis. Sejak kapan dia marah pada Amira?
“Kalau saya tidak memaafkan, kamu mau bagaimana?”
“Mas! Jangan begitu dong. Sebagai manusia kita harus saling memaafkan.”
“Jadi menurut kamu saya bukan manusia?”
Amira manyun. Zian tertawa kecil, lalu menyeka sisa saus di pipinya.
“Saya maafkan. Tetapi dengan syarat, kamu harus menjaga kesehatan. Jangan makan pedas, jangan telat makan.”
Jantung Amira berdetak kencang. Pria ini kenapa selalu membuat perasaan nya merasa aneh?
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care