Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Zuraida segera putar balik saat penjaga sekolah mengatakan jika si kembar sudah pulang di antar orang tua temannya. Padahal ia sampai tepat waktu penjemputan, bahkan lima menit lebih awal.
Setibanya di rumah Zuraida langsung ke kamar si kembar. Ia mendapati Sena yang sedang belajar.
"Mana Sean?," tanyanya.
"Tidur," menunjuk arah tempat tidur.
"Sean sakit?," Zuraida mendekat hendak mengecek keadaan Sean namun Sena segera menghalangi dengan tubuh kecilnya.
"Nggak, cuma capek aja. Sean minta padaku jangan ada yang mengganggunya."
"Iya nggak apa-apa, nanti bangunkan saja kalau mau makan."
"Iya."
Zuraida keluar dan menuju ke dapur. Melewati pintu depan di mana suaminya baru saja memasuki rumah.
"Mas," Zuraida langsung menghampiri.
"Pulang cepat?." Zuraida mendapatkan kecupan pada pucuk kepalanya.
"Mas mau menghabiskan malam ini lebih lama sama kamu. Mas rindu kamu, Zuraida." Lanjut memeluknya.
"Saya juga rindu, Mas," malu-malu dalam pelukan suaminya.
Arfan tak menyia-nyiakan rasa rindu yang berbalas. Ia menggendong tubuh istrinya. Membawa ke kamar mereka untuk segera menikmati romantisnya di atas tempat tidur. Pakaian keduanya sudah berserakan, dahaga Arfan sudah dipenuhi oleh istrinya sendiri.
Entah sudah berapa lama mereka memandu kasih. Yang jelas sangat lama. Arfan langsung tidur pulas setelah membersihkan diri dari sisa percintaannya yang kesekian. Zuraida sendiri ikut pulas dalam dekapan suaminya.
"Zuraida..."
Dalam lelapnya tiba-tiba Zuraida tersentak. Matanya terbuka dengan irama jantung yang berdebar. Ia beringsut bangun, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di kamar itu terasa ada yang memanggilnya. Sean, batin Zuraida.
Ia turun dari tempat tidur, berjalan setengah berlari menuju kamar putranya. Di sana hanya tampak wajah Sena yang terlelap. Di kasur satunya lagi masih sama posisi tidur Sean yang ditutupi selimut. Zuraida duduk di sebelah Sean, menarik pelan selimut tebah itu dan alangkah terkejutnya ternyata itu hanya sebuah guling. Sean, di mana?.
Kali ini Zuraida tak menemukan Sean ada di sudut-susut rumah itu seperti malam sebelumnya. Ia terpaksa membangunkan Sena.
"Aku ngantuk," Sena tak mau bangun.
"Jawab jujur saya, Sena. Di mana Sean?.
Tanya itu membangunkannya. Ia menatap guling yang tak tertutup selimut lagi.
"Di mana Sean?." Tanya Zuraida lagi. Ia melihat jam dinding. Sudah dini hari. Zuraida merasa sangat khawatir tentang Sean yang baru disadarinya tak ada di rumah sudah sejak tadi siang.
Sena belum juga menjawab.
"Di mana Sean? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya, Sena?. Kamu pasti tahu di mana Sean, Sena." Nada itu semakin tinggi terdorong rasa khawatir yang luar biasa.
"Aku nggak tahu, Zuraida."
Zuraida menghela napas panjang. Ia dekati Sena, duduk di sebelahnya.
"Jadi tadi siang kamu pulang nggak bareng Sean?," nada suara itu melemah. Rasanya dadanya sangat sesak. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Sean. Matanya seketika basah.
"Kenapa nggak jujur pada saya?," jatuh semakin deras. Betapa hatinya dipenuhi rasa bersalah yang teramat.
Zuraida tak bisa diam lebih lama lagi di rumah. Ia harus mencari Sean secepatnya. Ia bangkit lalu meninggalkan Sena di kamar itu, menutup rapat pintu kamar putranya. Walau tak tahu tujuannya harus ke mana, tapi ia tahu harus mulai mencari Sean di mana.
Perempuan itu bergerak sendiri tanpa melibatkan suaminya yang tertidur pulas. Ia juga merasa ini karena kesalahannya. Sambil terus menyetir harinya tak berhenti berharap yang baik-baik untuk Sean.
Mobil sudah berhenti tepat di depan gerbang. Cahaya lampu yang sangat terang menyilaukan penjaga sekolah yang sedang terlelap.
"Bapak yakin Sean ikut pulang bersama Sena?."
"Aku nggak melihatnya sendiri, kata anak-anak."
"Tapi Sean nggak ada di rumah. Apa bapak sudah memastikan di sekolah tidak ada Sean?."
"Sudah, Bu, di sekolah clear tak ada murid."
"Tapi Sean tak ada di rumah," suara Zuraida terdengar sangat frustrasi. Ke mana perginya Sean?.
"Apa boleh saya mengecek ke dalam sekolah?," tanyanya lirih sambil menatap bangunan gedung. "Atau bisa cek CCTV? Sekolah pasti ada CCTV nya kan?."
"Tapi itu bukan kewenangan aku, Bu."
"Minta tolong segera hubungi orang yang berwenang. Ini sangat darurat."
"Tapi ini akan mengganggu, Bu."
"Saya nggak peduli," geramnya. "Anak saya nggak ada di lingkungan sekolah. Harus ada yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa dengan Sean karena terlambat ditangani."
Bapak penjaga mengeluarkan handphone. Menghubungi namun tak mendapatkan respon. Zuraida meronta nomor itu, berusaha menghubungi dengan cara sebisanya. Kirim pesan panah lebar terkait putranya.
Sambungan terhubung, tergesa-gesa Zuraida meminta orang itu untuk segera datang mengecek CCTV. Setengah jam kemudian pria itu tiba, turun dari motornya. Menatap tak percaya pada sosok perempuan yang sekarang ada di hadapannya. Tapi sepertinya Zuraida tak mengenalnya.
"Segera cek CCTV!," perintah Zuraida yang langsung dikerjakan pria itu. Mata Zuraida tak lepas dari layar monitor itu sementara mata si pria tak lepas dari wajah Zuraida.
Zuraida beserta penjaga sekolah segera berlari ke arah samping sekolah di mana posisi toilet berada. Pria itu juga ikut menyusul. Lampu dinyalakannya, pintu segera dibuka.
"Sean...kamu di mana?." Sambil mencari setiap bilik toilet. Meski tak ada sahutan tapi Zuraida tetap memanggil nama putranya.
"Sean...Sean...Sean..."
Brak
Di ujung bilik toilet Zuraida mendapati putranya duduk dengan tubuh gemetar. Air matanya jatuh bercucuran. Segera memeluk tubuh putranya.
"Saya ada di sini, bersamamu." Lalu membawa tubuh i tu memasuki mobil. Duduk di kursi belakang dengan tetap memeluk erat tubuh Sean. Meminta bantuan pria itu membawanya ke rumah sakit.
"Saya akan melindungimu, kamu sekarang aman bersama saya, Sean." Air matanya tak henti-hentinya menetes. Mengenai tubuh Sean yang terus dipeluknya.
Sean masih dalam pelukan Zuraida saat dokter memeriksa tubuhnya. Tak mau lepas dari Zuraida. Bahkan anak itu sekarang memeluknya. Zuraida meminta perawat memberinya makanan dan minuman setelah dokter mengatakan Sean lemas. Selang infus dipasang supaya Sean tak dehidrasi.
Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lanjutan kalau Sean sudah mau lepas dari Zuraida.
"Kamu aman, ada saya. Sekarang kamu harus makan dan minum. Tubuhmu sangat lemas." Zuraida berusaha mengangkat wajah Sean dengan memegangi kedua sisi wajah putranya. Tapi putranya enggan, rasanya ia masih ingin berlama-lama di sana. Mengabaikan tubuhnya yang lemas.
"Tolong makan untuk daddymu," mengusap lembut pucuk kepala Sean. "Untuk mommymu," terus mengusap pucuk kepala itu. "Untuk Sena juga." Zuraida tak berhenti mengusapnya. Tetapi Sean masih enggan.
Zuraida tak memaksa lagi, ia hanya membalas pelukan Sean yang semakin erat terhadapnya.
Tubuh lemas itu terlelap dalam pelukan Zuraida tanpa melepaskan pelukannya pada Zuraida. Zuraida membawa tubuh itu tidur dengan posisi miring supaya tetap bisa memeluknya. Sudah seperti mimpi saja bagi Zuraida.
Sean tak mau jauh dari Zuraida yang menolongnya.
Hanya Zuraida yang datang menolong, bukan daddy, Sena apalagi mommynya.
Bersambung