Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : SENYUM YANG MENGALAHKAN DEMAM
...BAB 12...
...SENYUM YANG MENGALAHKAN DEMAM...
Pagi itu rumah Rian kembali berjalan seperti biasanya.
Mira sibuk menyiapkan sarapan di dapur, sementara Wulan membantu menyiapkan pakaian Rana.
Setelah kejadian beberapa hari terakhir, suasana rumah memang masih terasa berbeda. Namun Wulan berusaha tidak memikirkan hal-hal yang bukan urusannya.
Baginya, selama pekerjaan tetap berjalan dan anak-anak baik-baik saja, itu sudah cukup.
Saat Wulan hendak membawa pakaian Rana ke kamar, suara Rian terdengar dari belakang.
“Wulan.” panggilnya.
Langkah Wulan terhenti. Ia menoleh. Rian berdiri beberapa langkah darinya sambil memegang secangkir kopi. Tatapannya justru tertuju pada lengan Wulan.
“Lukamu itu, apa masih terasa sakit?”
Wulan refleks menarik ujung lengan bajunya sedikit ke bawah.
“Ini sudah lebih baik kok Pak.”
“Lebih baik bukan berarti sudah sembuh.”
Wulan hanya tersenyum tipis. “Memang masih agak sakit kalau terkena sesuatu.”
Rian menghela napas. “Itu luka bakar cukup lebar, Wulan. Kenapa tidak diperiksakan?”
“Saya bisa mengobatinya sendiri, Pak.”
“Sudah diperiksa dokter?”
Wulan menggeleng.
Rian langsung mengernyit. “Belum?”
Wulan menggeleng lagi. "Belum."
“Kenapa?”
“Saya... tidak punya waktu.”
Rian menatapnya tidak percaya. “Tidak punya waktu atau kau memang tidak mau?”
Wulan kembali terdiam.
Rian meletakkan cangkir kopinya di meja. “Begini saja. Saya punya kenalan dokter yang bagus, beliau spesialis kulit. Dia bisa menangani bekas luka seperti itu dengan baik. Kalau ditangani dari sekarang, kemungkinan bekasnya bisa diminimalkan.”
Wulan segera menggeleng. “Tidak perlu Pak.”
“Kenapa tidak perlu?”
“Saya tidak ingin merepotkan anda.”
“Yang direpotkan siapa?”
“Saya hanya tidak enak kalau harus memakai fasilitas Bapak.”
Rian memejamkan mata sebentar. Entah kenapa, menghadapi Wulan terasa jauh lebih sulit daripada menghadapi rapat direksi.
“Wulan.”
“Iya, Pak?”
“Kalau saya bilang saya antar, kamu ikut.”
Wulan kembali menggeleng. “Saya bisa pergi sendiri.”
“Tidak.” Jawaban Rian begitu cepat sampai
Wulan sedikit terkejut. “Pak?”
“Saya yang antar.”
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Pak Rian—”
“Wulan.” Kali ini nada suara Rian sedikit meninggi.
Wulan langsung diam.
Rian sendiri seperti baru sadar bahwa dirinya mulai kesal. Bukan kesal karena Wulan membantah. Tapi karena perempuan itu seolah tidak pernah menganggap dirinya pantas mendapatkan pertolongan.
“Kamu tahu tidak?” ujar Rian akhirnya, berjalan mendekat. Wulan menatapnya terpaku.
“Saya ini sudah menawarkan dokter terbaik yang saya kenal. Bahkan saya bersedia mengantarmu sendiri. Tapi kamu masih saja menolaknya.”
“Saya hanya tidak ingin merepotkan Bapak.”
“Kalau begitu jangan anggap saya sedang menolongmu.”
Wulan mengerutkan kening. “Lalu?”
“Anggap saja saya sedang memastikan orang yang bekerja di rumah saya tidak mengalami luka yang semakin parah.”
Wulan akhirnya terdiam.
Rian kemudian menambahkan dengan nada lebih santai, “Lagipula, kalau nanti bekasnya tidak hilang, kamu sendiri yang akan menyesal.”
Wulan melihat lagi lengannya. Ia memang sering merasakan nyeri samar di bagian luka itu.
Tetapi sejak bercerai dari Handi, ia terlalu sibuk memikirkan Delon dan Astrid sampai tidak pernah benar-benar memedulikan dirinya sendiri.
“Saya akan pikirkan lagi,” jawab Wulan akhirnya.
Rian langsung menghela napas panjang. “Pikirkan lagi?”
“Iya.”
“Berarti belum tentu?”
Wulan mengangguk.
Rian menatapnya beberapa detik. “Dasar keras kepala.”
Wulan spontan menatapnya. "Apa?"
Rian langsung mengambil kembali cangkir kopinya. “Sudahlah. Terserah kau saja.” Namun sebelum pergi, ia masih sempat berkata, “Tapi ingat, jangan sampai lukanya itu bertambah parah.”
Wulan hanya mengangguk. Sedang Rian berjalan pergi dengan wajah sedikit kesal.
Mira yang sejak tadi diam-diam memperhatikan dari dapur menahan senyum.
“Pak Rian kalau sudah khawatir memang begitu, Bu.” ujarnya setelah Wulan ke dapur.
Wulan menoleh. “Begitu bagaimana?”
“Banyak ngomelnya.”
Wulan tersenyum kecil.
“Beliau memang suka mengatur.” Mira terkekeh. "Tapi sebenarnya dia sangat peduli." lanjut Mira.
"Hem.." Wulan hanya mengangguk saja.
Namun di dapur Wulan tidak menyadari satu hal. Di ujung lorong, Rian masih sempat menoleh dan memperhatikannya.
Dan entah kenapa, ucapan Wulan barusan membuat sudut bibirnya ikut terangkat. Setidaknya dia dan Wulan mulai bisa bicara kembali setelah sekian lama, walau hanya perdebatan kecil.
****
Keesokan harinya, suasana rumah mendadak berubah.
Rana yang biasanya paling cepat bangun dan langsung mencari Wulan justru masih terbaring di tempat tidur.
Wulan yang menyadarinya segera mendekat.
“Rana?”
Anak kecil itu membuka matanya perlahan.
“Mama Wulan…” Suara Rana terdengar lemah.
Wulan langsung menyentuh dahinya. Wulan terkejut karena suhu tubuh Rana terasa panas.
“Ya ampun…" Wulan segera memanggil Mira. “Bu Mira, tolong ambilkan termometer.”
Mendengar teriakan Wulan yang panik, Mira langsung berlari mengambilnya. Lalu suhu tubuh Rana diperiksa.
“Panasnya cukup tinggi,” ujar Mira khawatir.
Wulan mengangguk. “Saya akan menghubungi Pak Rian.”
Namun baru saja Wulan hendak mengambil ponselnya, Rana merengek. “Mama Wulan…”
“Iya, Sayang.”
“Gendong…”
Wulan tersenyum lembut. “Sebentar, Mama gendong.” Ia mengangkat Rana ke dalam pelukannya. Lalu meminta Mira untuk menelepon Rian secepatnya.
Rian yang sedang berada di kantor pun terkejut, begitu mendengar Rana demam, ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan pulang.
Saat memasuki rumah, suara langkahnya terdengar tergesa. “Rana di mana?”
“Di kamar, Pak,” jawab Mira.
Rian langsung menuju kamar. Begitu melihat putrinya berada dalam pelukan Wulan, wajahnya langsung cemas.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Rian yang kini duduk di tepi ranjang putrinya.
“Masih panas.”
Rian mendekat dan menyentuh dahi Rana. “Panas sekali.”
Rana yang setengah mengantuk membuka mata. “Papa…”
“Iya, Papa di sini Nak.” Rian mengusap kepala putrinya lembut “Kita ke dokter, ya?”
Rana langsung menggeleng. “Enggak mau.”
“Kok enggak mau?”
“Takut.” rintihnya.
Rian menghela napas. “Papa akan temani.”
“Enggak mau…” anak itu menolak lagi.
Wulan menahan senyum.
Rian menatap putrinya. “Kalau Rana tidak mau ke dokter, nanti bisa-bisa Papa juga ikut sakit.”
Rana memandang ayahnya dengan wajah polos. “Kok Papa bisa sakit?”
“Iya.”
“Kenapa?” tanya Rana polos.
“Karena Rana tidak mau sembuh.”
Rana berpikir beberapa detik. Kemudian dengan suara lemah ia berkata lagi, “Kalau Papa yang sakit... Kan nanti ada Mama Wulan yang obatin.” celotehnya tiba-tiba, membuat Rian terdiam.
Wulan langsung menunduk, menahan tawa. Mira yang berdiri di dekat pintu bahkan sudah menutup mulutnya.
Rian menatap putrinya. “Jadi Papa sakit juga tetap kalah sama Mama Wulan?”
Rana mengangguk mantap. “Iya.”
“Kenapa?”
“Karena Mama Wulan kan hebat.”
Wulan akhirnya tidak mampu menahan tawanya. “Hahaha…” Tawa itu keluar begitu saja.
Tidak dibuat-buat, tidak ditahan. Wulan bahkan sampai menutup mulutnya karena merasa malu telah tertawa cukup keras.
Rian mendadak diam. Matanya tertuju pada wajah Wulan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ia melihat perempuan itu tertawa lepas. Bukan senyum tipis yang selalu muncul ketika sedang bekerja. Bukan ekspresi sopan ketika menjawab pertanyaannya.
Tetapi tawa yang benar-benar hidup.
Mata Wulan sedikit menyipit ketika tertawa. Wajahnya terlihat jauh lebih lembut.
Rian bahkan sampai lupa bahwa beberapa detik lalu ia sedang mengkhawatirkan demam Rana.
“Pak?” Suara Wulan membuat Rian tersadar.
“Hm?”
“Bapak kenapa diam?”
Rian segera mengalihkan pandangan kepada Rana. “Tidak apa-apa.”
Namun sebenarnya ada sesuatu yang baru saja berubah dalam pikirannya. Selama ini ia selalu melihat Wulan sebagai perempuan pendiam yang menjaga jarak.
Ternyata ketika tertawa, Wulan bisa terlihat semenarik itu. Rian tanpa sadar tersenyum.
Wulan kembali memperhatikan Rana. “Sudah, Sayang. Kamu minum obat dulu ya...”
Rana langsung menggeleng kuat. “Gak mau rasanya pahit.”
“Tidak pahit.”
“Pahit.”
“Sedikit saja.”
“Enggak!” Rana menggeleng cepat.
Rian mencoba membantu merayunya. “Rana, ayo minum obat. Setelah itu Papa belikan mainan.”
Rana masih menggeleng.
Wulan berpikir sebentar. “Kalau Rana minum obatnya, Mama Wulan kasih satu permen, mau?!”
Sontak Rana langsung membuka mulut. “Mau!” angguknya cepat.
Rian melohok, menatap putrinya dengan wajah tidak percaya. “Lho? Papa tadi menjanjikan mainan saja tidak berhasil.”
Wulan kembali tertawa kecil. “Rana memang pintar memilih.”
“Berarti selama ini saya salah strategi?”
“Sepertinya begitu, Pak.”
Rian menggeleng sambil tersenyum. “Baiklah. Saya mengaku kalah.” ujarnya, mengangkat tangan.
Wulan terkekeh kecil, lalu memberikan obat sirup penurun demam kepada Rana. Anak kecil itu menelannya dengan cepat demi mendapatkan permen.
Setelah itu Rana kembali bersandar di dada Wulan.
Beberapa menit kemudian, matanya terpejam.
Rian memperhatikan keduanya. Ada rasa hangat yang aneh memenuhi dadanya. Bukan hanya karena melihat putrinya mulai tenang.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa ingin melihat senyum Wulan lagi.
Berkali-kali. Tanpa sadar, pandangan Rian kembali jatuh pada wajah Wulan. Dan kali ini ia tidak segera mengalihkan pandangan.
Wulan yang menyadarinya di perhatikan, akhirnya bertanya. “Kenapa Bapak melihat saya begitu?”
Rian tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.” jawabnya yang lekas memalingkan wajah.
“Benar?”
“Benar.” Rian lalu berdiri. “Saya cuma baru tahu ternyata kamu bisa tertawa juga.” sindirnya.
Wulan langsung salah tingkah. “Saya juga kan manusia, Pak.”
“Kirain kamu robot.” celetuknya.
Sontak Wulan melotot kecil. “Apa?!”
Rian tertawa kecil.
"Sembarangan." gerutu kecil Wulan.
Dan untuk pertama kalinya, Wulan pun ikut tersenyum lagi. Senyum sederhana itu justru membuat Rian semakin sulit mengalihkan perhatiannya.
Sementara di luar rumah, tanpa mereka ketahui, seseorang sedang mulai mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan Wulan.
Seseorang yang belum bisa menerima kenyataan bahwa mantan istrinya ternyata bisa hidup jauh lebih baik setelah meninggalkannya. Dan orang itu adalah Handi. Mantan suaminya yang sebenarnya tidak benar-benar menganggap perceraian mereka terjadi.
Bersambung....