LIBUR TIAP JUMAT
-------
Novel pertama saya ini, saya dedikasikan untuk pembaca. Semoga dapat memberikan hiburan sekaligus pembelajaran❤️
°°°
Lea merupakan gadis berusia 20tahun yang tengah menempuh pendidikan kedokteran tahun kedua.
Ditengah kebahagiannya menempuh pendidikan tiba-tiba ia harus menggantikan kakaknya menikahi seorang CEO gila bernama Dean Sanders.
Perjodohan yang harusnya dilakoni kakak tirinya malah kini berbalik pada Lea. Uniknya, CEO itu juga menyetujui perjodohan tanpa cinta itu.
Mungkinkah Lea bisa menjalani semuanya? pernikahan? perebutan harta warisan? masa lalu suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina Blu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 11 Hutang Budi?
Perasaan pegal melanda tubuhku dengan sangat kuat, apa sekarang aku sudah berada disurga menemui mamah? Karena semalam yang kuingat aku ada diruangan gelap. Tapiiiiiii, alih-alih kematian ternyata aku berhasil selamat dan berada di kamar pengantin?? Bukankah ini kamar pengantin yang Mamah Inggrid siapkan? Pandanganku mencoba menyapu sekeliling.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok tampan presdir gila yang tengah tertidur sembari duduk dikursi samping tempat tidur. Wajahnya nampak lelah, ia bahkan tidak sempat melepas tuxedo yang ia kenakan sejak acara semalam. Apakah mungkin sesuai doa permohonan yang kukirim, akhirnya suami perjodohannya itu berhasil menyelamatkan hidupku?
Seperti menyadari bahwa aku sudah terbangun tiba-tiba si pemilik wajah yang aku perhatikan itu akhirnya terbangun juga.
Matanya yang memiliki bola mata kebiruan itu mengerjap kaget menemukan aku tengah memandanginya. Ia kemudian bergegas pergi ke mini pantry untuk mengambil sesuatu yang ternyata adalah minuman untukku.
“Kau sudah bangun? Ini minumlah.” Tidak seperti Dean yang ganas dan dingin, kenapa tiba-tiba dia begitu perhatian? apa dia baru terbentur dinding semalam? Pikirku.
“Aku tidak bisa bangun…Nanti saja kalau sudah bisa bangun aku akan minum.” Ujarku lemah, bukan karena sok ingin manja ya! Tapi sepertinya aku bener-bener belum kuat meski hanya untuk sekedar bangkit. Punggungku seperti baru saja dipukuli orang sekampung, pegal!
Melihat aku yang mengeluh seperti itu, Dean kemudian beranjak lagi mencari sedotan di mini pantry untuk memudahkanku minum. Ia benar-benar bertindak seperti suami siaga bagiku. Wah aku benar-benar curiga dengan perlakuannya.
“Sudah tidak ada alasan, minumlah.” Dean menyorongkan minuman itu kearahku, merasa canggung tapi haus juga akhirnya kuteguk beberapa kali air yang disuguhkan wahhh terasa segar.
“Apa kamu sudah merasa baikan?”
“Ah… lumayan. Semalam apa kamu yang menemukanku?”
“Ya kau pikir siapa lagi?” Mendengar suara ketusnya keluar lagi, aku yang baru ingin berterima kasih akhirnya memilih untuk diam saja.
“Apa kamu ingat siapa yang melakukan tindakan itu padamu? Bisakah kamu ceritakan kronologinya? Karena semalam aku cek daftar tamu tidak ada sama sekali yang menjadi musuh bisnisku.”
“Mmmm, aku hanya ingat saat tengah dikamar mandi tiba-tiba lampu mati dan aku dibekap, dipukul juga dibawa kesuatu tempat. Ditempat itu aku beberapa kali dipukul, ditali dan yaa semacam itu.” Mendengar apa yang baru saja terjadi pada bocah berusia 20 tahun ini Dean menjadi ngilu sendiri.
“Apakah pelakunya dua orang?”
“Ya aku rasa pelakunya dua orang karena lamat-lamat aku mendengar langkah kaki dan menyadari jumlah tangan mereka.”
“Beristirahatlah, hari ini kita akan kembali ke Jakarta menggunakan jet pribadi.”
“Para tamu?? Apakah mereka tidak jadi meneruskan perjalanan ke Maldives?”
“Tidak, mereka akan tetap mendapatkan perjalanan itu. Hanya aku dan kamu yang kembali, biarkan nanti pihak mata-mataku yang akan memeriksa semua tamu selama perjalanan.”
“Terima kasih.”Ucapku lirih menahan malu.
“Apa? Aku tidak dengar.”
“Alah kamu berpura-pura tidak mendengarnya. Aku tadi mengatakan dengan jelas kok!”
“Apa? Aku benar-benar tidak mendengar apa yang kamu katakan bocah! Jangan mencoba menguras emosiku yang sudah menolongmu ya!” Dean mendelik ke arahku, seolah menuntut permohonan maaf lebih kencang, iiiiiiih gemes!
“AKU MINTA MAAF DAN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH”
“Kenapa kamu berteriak heh!!!” Dean nampak kaget mendengar aku yang tiba-tiba saja berteriak sembari menutupi wajahku yang agaknya menahan malu dan memerah.
“Habisnya tadi katamu kamu tidak mendengar apa yang aku katakan?” Masih menutup wajah aku mencoba menjawab pertanyaan Dean. Tanpa diketahui Lea, suami perjodohannya itu menyunggingkan senyum diwajah tampannya.
“Jangan terlalu bahagia dulu, nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit kau harus membayar uang kompensasi kepadaku. Kamu tau tidak kamu itu sudah membuatku kesulitan? Mengacaukan pestaku dan membuat daftar pekerjaan baru untukku? Setelah sembuh kamu harus membayarnya! Tagihannya akan aku kirimkan ke emailmu! Jangan anggap ini semua gratis!”
Dasar! Baru saja aku benar-benar akan berterima kasih dengan tulus malah presdir gila ini sudah mencoba menabuh genderang perang.
Memang sepertinya aku dan dia tidak akan pernah bisa berbicara dalam keadaan baik-baik ya. Aku akan mengingat kalau nanti dia membutuhkan bantuanku aku akan mengirimkan nota 1 miliar untuk dia bayar!
“Baiklah presdir gila!!!”
“Apa kamu bilang? Presdir gila?”
“Waduuh keceplosan.” Aku menggelung tubuhku ke dalam selimut ingin menjauhi tatapannya, aku baru saja mengeluarkan panggilan kurang ajar yang kubuat untuk dirinya. Matilah akuuuu!!!
“Apa yang kamu katakan coba ulangi???” Tubuh Dean mendekat kearahku yang mencoba mengalihkan diri darinya, tangannya mulai menyentuh bahuku sembari terus mengeluarkan kalimat protes.
“Presdir gila! Wek!!!”
“Bocah!!”
“Presdir gila!!!”
“Bocah!!!!”
“Ihhhhh presdir gila!!!” Aku mencoba menghalau keberadaan Dean yang berada diatas tubuhku. Naas tapi karena terlalu heboh akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan ambruk diatas tubuh lemahku. Aduh! Mata kami bertatapan dan mulut kami saling terkatup.
Diam, kami sama-sama terdiam… waaah ternyata kalau dia diam itu wajah gantengnya lumayan juga. Sayang dia lebih suka ngomel!
“Aduh sakit.” Tanpa sadar karena tubuh si presdir gila yang berorot ini cukup berat akhirnya aku tak bisa menahannya lagi. Lagipula kalau terus berpandang-pandangan begitu nanti dia tahu lagi kalau aku deg-degan, nanti dia bisa GR lagi.
“Sorry sorry.” Dean yang menyadari ada bagian tubuhnya yang mulai menegang dan jantungnya juga tak kalah berdetak cepat buru-buru kabur meninggalkanku. Ia bergegas mengambil minum didapur untuk menenangkan dirinya.
Melihat Dean yang sudah ngacir pergi membuat aku pun lantas menekan dadaku sendiri, mencoba menenangkan detak jantungku yang juga meloncat-loncat.
“Tenang… ini bukan ketertarikan apapun. Ini hanya keterkejutan karena aku sama sekali tidak pernah berhadapan secara dekat dengan perempuan manapun.” Dean mencoba mengatur nafasnya, air es yang dinginnya sampai ke otak sedikit banyak berhasil menenangkan bagian sensitifnya untuk berhenti mengembang.
“Lea… sadarlah sadarlah… dia adalah presdir gila, pak tua yang sudah berumur. Tenang… jangan gugup, wajar kamu berdebar begini karena kamu sama sekali belum pernah berdekatan dengan lelaki manapun dan ada tekanan di jantung karena tubuh Presdir gila itu. Tenanglah...”
Kami berdua nampaknya tengah saling menenangkan debaran yang menimpa, diruang berbeda. Tak lama ketika aksi diam-diaman itu berlangsung dan kami tengah mencoba saling menjauh, ponsel Dean disamping ranjangku malah berdering panjang.
“Presdir gila!!! Ini telfonmu berdering…”
“Aku sudah tahu bocah! Aku tidak budek sepertimu!” Dean datang dari arah dapur dengan wajah yang memerah, kenapa wajahnya memerah?
“Dih! Yang tidak mendengar apa yang tadi aku katakan kan kamu!! berarti ya kamu itu yang budek!!!”
“Diam deh! Atau mau kamu aku ceburin ke laut?” Mendengar ancaman yang sebenarnya hanya gertakan itu aku akhirnya mengalah diam. Sudah ah, aku akan berhenti mengerjai si presdir gila kasian wibawanya bisa turun. Lagi pula aku benar-benar harus berterima kasih karena dia berhasil menemukan dan sudi merawatku.
“10 menit lagi jet kita tiba. Tim medis professional akan segera membawamu kerumah sakit. Barang-barangmu akan dikemas dan dikirim dengan helikopter setelah evakuasi.”
“Baik… terima kasih ya sekali lagi Tuan Dean terhormat. Aku benar-benar berhutang budi padamu.”
"Bayarlah hutangmu dengan terus menjadi istriku."
Dean menyeringai penuh arti, meninggalkan tanda tanya besar dan debaran aneh di hati Lea.
d tunggu lanjut💪💪💪😍😍🙏
semangat terus..
mari berbuka dengan yang manis😂😂😂😂