Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.
menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.
Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.
Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Belum Halal Untuk Dibantai
"Kalian ngapain di sini?" Rendah suara Hali terdengar mengintimasi. Menyaratkan api amarah yang berusaha ia bendung. Masih mencoba bersabar, sembari menyerukan, 'Sabar, mereka manusia. Anak orang. Belum halal untuk dibantai' dalam hati.
"Kita juga nggak bakal di sini kalo bukan karena adek mu, kak. Bisa-bisanya adek lagi sakit malah ditinggal sendiri. Abang macam apa?" ungkap Sevan. Sekalipun ia mengatakan hal demikian tanpa sedikitpun melirik lawan bicara nya. Nyatanya kalimat itu menclok tepat sasaran.
Mungkin ucapan Sevan terlalu jahat, tapi tak bisa Hali bantah. Memang benar dirinya meninggalkan Taufan seorang di rumah. Tapi selalu ada alasan di balik setiap keputusan yang ia ambil.
Hali menghela napas lelah. "Kau pikir buat apa aku pulang awal kalo bukan karena mikirin kondisi Taufan? Lagian nggak bakal juga aku ninggalin dia di rumah sendiri kalo bukan karena urusan di kampus. Sekarang di mana anak nya?"
"Tuh, dari tadi tiduran di sofa," Tunjuk Sevan dengan dagunya.
Langkah Hali bergulir menuju sofa panjang yang membelakangi nya. Mendapati adiknya itu dibalut selimut tebal, bergelung nyaman di dalamnya. Menjadi penonton setia dari game yang Leon dan Sevan mainkan.
"Kau ngapain di sini? Bukan nya istirahat. Terus kenapa telfon ku nggak diangkat?" Reflek Hali mengomel.
"Iya ini juga lagi istirahat. Emang kak Hali liat aku lagi lari maraton? HP nya di kamar, ya mana aku tau kalo kak Hali telfon." Serak suara Taufan terdengar sarkas. Berucap tanpa sempat membalas tatapan Hali yang mengisyaratkan kekhawatiran.
Ketus yang terselip di kalimat Taufan menyadarkan Hali jika anak itu tidak sedang dalam mood yang baik.
Bara api yang semula membakar sudut hatinya seakan padam. Membiarkan sekali lagi rasa penyesalannya merangkak ke permukaan. Hali menghela nafas, mencoba menurunkan emosinya yang sempat melonjak.
"Iya, kenapa istirahat nya enggak di kamar aja?" Perubahan suara Hali kini terdengar lembut justru mendatangkan perasaan bersalah bagi Taufan. Meski bukan maksudnya melukai perasaan Hali, tapi jujur ia juga tak nyaman dengan segala perhatian Hali yang dirasa berlebihan.
Andai jika fisik nya sedikit bersahabat. Ia akan membuang selimut engap ini, dan merebut posisi Sevan untuk menantang Leon PS. Tapi, jangankan untuk duduk bersandar. Untuk bangun saja ia tak yakin sanggup.
Tubuhnya terus-terusan merasa lelah, bahkan saat ia tak melakukan apapun. Pusing juga masih ia rasakan, membuatnya tak bisa duduk terlalu lama. Saat mendengar Hali mengomel, ada kesal, sesal juga bersalah. Kesal karena masih sempat menyuarakan nada tinggi padanya dan sikapnya yang selalu berlebihan atas apapun yang ia lakukan.
Sesal karena sempat membalas dengan nada yang tak seharusnya, juga bersalah karena sekali lagi Hali harus repot karena dirinya. Mengutamakan dirinya di atas segala kesibukannya yang jauh lebih penting.
Namun yang paling ia benci justru terletak dalam dirinya. Kondisinya yang naik turun tanpa mengenal waktu dan kadang tak mampu ia tahan. Kembali membuat kakaknya khawatir setiap saat. Ia yakin, kakaknya itu bahkan tak sempat memejamkan matanya barang sejenak karena menjaganya semalaman.
Meski semua itu di luar kuasanya, tapi ia berharap bisa membuat orang di sekitarnya berhenti mencemaskan nya.
"Gapapa, sekali-sekali doang. Dia pasti juga bosen seharian di kamar." Suara Arga hadir, menjadi penengah di antara dua ego yang sebenarnya ingin saling peduli, tapi terlalu sulit memahami dan berujung saling melukai.
Benar. Hali sebenarnya hanya ingin melindungi namun terlalu keras dengan perintah nya. Sementara Taufan sudah jelas bukan tipikal orang yang suka dikekang. Tanpa pernah paham ketakutan apa yang Hali simpan dan menganggap kecemasannya hal sepele. Mereka ibaratkan dua mata kutub magnet yang sulit dipertemukan.
"Obatnya udah diminum lagi belum?" tanya Hali saat punggung tangannya masih merasakan kontras suhu di kening Taufan. Meski tidak setinggi sebelumnya, tapi patut diwaspadai.
"Udah, abis makan. Tadi sempet dikirimin bubur sama tetangga sebelah, katanya kak Hali yang nyuruh." Sahut Arga mewakili.
Hali mengangguk kecil. "Tadi aku minta buat sesekali nengokin sih." Pandangannya kemudian beralih, pada Taufan yang masih enggan bersuara.
Kemudian melirik Sevan yang duduk di bawah. "Kalian sendiri udah makan belum?"
"Ntar aja, gampang kita mah." Sahut Sevan.
"Kalau mau makan, deliv aja. Pesen pizza ato apa kek. Terserah." Ucap Hali sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Wih, ditraktir nih?" girang Leon.
"Iya. Kalo Taufan mau apa, beliin aja sekalian. Tapi jangan junk food, jangan yang banyak micinnya ato manis."
"Ck, kak Hali berisik ah. Naik aja sana, tidur kek, ato ngapain. Yang penting jangan di sini, ngoceh mulu!" Seru Taufan balas mengomel, mengundang kekehan sang kakak.
Tangan besarnya yang mengusak pucuk kepalanya selalu berhasil menghantarkan nyaman yang Taufan sendiri tak pernah bisa pungkiri.
Meskipun terkadang perhatian nya itu mengganggu, tapi di satu waktu ia merasa aman. Ia mulai mampu mengindra aura pelindung seorang kakak mulai tumbuh dalam Hali.
"Iya, Taufan serahin aja ke kita. Aman sama kita mah..." Ujar Leon.
"Ya udah aku naik dulu. Itu sampah nya entar diberesin sebelum Ken balik kalo nggak mau kena amuk." Pesan Hali sebelum melenggang pergi. tapi kembali tertahan saat Arga memanggilnya.
"Kak, jangan ngomong sama Bang Khai kalo aku di sini, ya?" ujar Arga was-was. Bisa disate dia kalau kakaknya sampai tahu dia bolos hari itu.
"Wani piro?" (Berani berapa?)
"Yaelah kak, utang budi mu sama aku lebih banyak kali." Jangan lupa jika Arga adalah orang pertama yang memberikan uluran tangan ketika Hali masih bersikap abai pada adiknya sendiri.
Hali hanya tergelak. Sebelum melanjutkan langkahnya meniti anak tangga. Memercayakan adiknya pada mereka.
"Abang mu itungan banget Fan," celetuk Arga.
"Gitu gitu juga abang ku." Taufan sudah terpejam, mengeratkan selimut tebalnya untuk lebih mendekap tubuhnya. Mengusir dingin yang datang menyergap bersamaan dengan pening yang turut hadir.
"Tidur di kamar aja gih. Jangan di sofa gitu, badanmu sakit entar."
Kerutan yang tercetak di kening sahabatnya jelas tak bisa mengelabuinya, bahwa anak itu. tidak sedang baik-baik saja. Tapi simpatis nya hanya ditanggapi gumaman tak jelas.
Arga paham, itu cara Taufan agar tak menarik perhatian yang lain dan membuat keributan. Caranya yang lebih memilih menyimpan sakitnya demi tak membuat orang lain khawatir justru membuat Arga tak pernah bisa melepas pengawasannya dari anak itu.
"Arga.."
"Hmm?"
"Pesen makan gih. Laper juga lama lama. Pengin makan apa gitu rasanya." Ucap Taufan mencoba mengganti topik.
Arga hanya ber 'hm' ria, menanggapi sahabat nya itu.
bonchap ya thor
beneran ini Taufan meninggal...
koq pemeran utamanya meninggal
di satu sisi boleh kah taufan egois dengan apa yg pernah dilakukan Hali dan ken... apa yg pernah ia rasakan dulu tak pernah sebanding dengan kata maaf dari mereka...