Ujung Ukur itu jarak yang jauh dan mustahil untuk di tempuh atau di raih.
Hidup Alisha tidak sekejam itu, tetapi rasanya menyedihkan. Mulai dari ayahnya yang sering memukuli ibunya. Kematian sang Ibu yang sudah tidak sanggup hidup. Perekonomian yang sulit hingga berujung perundungan.
Semua itu membuatnya trauma dengan laki-laki. Ia hanya ingin bekerja keras sendirian tanpa bantuan siapapun.
Namun, perasaannya mulai tumbuh untuk seorang Pangeran berkuda putih yang selalu menyelamatkannya. Arazka.
Merasa hidupnya menyedihkan, Alisha hanya bisa mencintai secara diam-diam.
Terlalu jauh untuk di raih.
Aku tanpa sadar berlari jauh meraihmu.
Namun, ternyata semua itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinsky4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan
Andi kini berada di luar pintu utama rumahnya, dia berdiri di depan sana tanpa berniat untuk masuk ke dalam. Matanya terus menatap pintu di depannya. Semalam dia sengaja menginap di rumah temannya untuk menghindari kakaknya. Entahlah, dia sendiri pun tidak tau kenapa dia melakukan hal itu.
Tentu saja Andi tidak membenci Alisha, mana mungkin dia membenci kakaknya yang selalu melindungi dan berkorban untuknya itu tidak mungkin. Dia hanya tidak ingin membebani kakaknya dan membuat kakaknya terus berkorban untuknya.
Menghembuskan napasnya, tangannya kini tergerak untuk membuka pintu di depannya.
Cklek!
Baru saja Andi membuka pintu itu, dia sudah di sambut oleh pemandangan ruang tamu rumahnya yang terlihat sangat berantakan. Semua barang pecah dan berceceran di lantai, ada apa ini? Kenapa bisa seberantakan ini? Apakah ayahnya pulang kemarin? Tapi, biasanya ayahnya itu tidak membuat barang-barang pecah, lalu kenapa sekarang jadi lebih parah.
Matanya tiba-tiba membola saat melihat kakaknya sedang terbaring lemah di atas lantai. "Kakak!"
Andi segera menghampiri kakaknya itu dan memangku kepala Alisha dengan lembut. "Kak, apa yang sudah terjadi kemarin?" tanyanya saat melihat mata kakaknya yang sembab seperti menangis semalaman dan juga luka yang sudah mengering di tangan kakaknya.
Perlahan, mata Alisha yang asalnya terpejam langsung terbuka. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Andi yang sedang menangis. Alisha langsung memegang lembut pipi adiknya itu.
"Andi,"
"Iya, Kak, ini aku. Ada apa, Kak, kenapa semuanya kayak gini? Ayah datang lagi kemarin?"
Alisha menggeleng pelan. "Bukan Ayah, Kakak yang buat semuanya kayak gini."
Andi menatap Alisha dengan pandangan tidak percaya. Apa yang terjadi dengan kakaknya itu hingga melakukan semua ini?
Alisha bangkit dan segera duduk berhadapan dengan Andi. "Kamu kenapa kemarin gak pulang dan malah nginep di rumah temen kamu?"
"I-itu--"
"Kamu tau gak sih, kalau Kakak itu khawatir banget sama kamu!" bentak Alisha memotong ucapan Andi yang sepertinya akan memberikan penjelasan.
"Kak--"
"Kenapa kamu jauhin Kakak terus? Kamu benci sama Kakak, iya?" Alisha memukul bahu Andi secara brutal sambil menangis. Dia Benar-benar takut Andi membencinya dan akan meninggalkannya. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain Andi.
Andi menggeleng, sama seperti Alisha, dia juga menangis ketika melihat kakaknya menangis. "Gak, Kak! Aku gak pernah benci sama Kakak, Kakak jangan bilang kayak gitu."
"Terus kenapa kamu gak mau ngomong sama Kakak, kamu malu punya Kakak?"
"Gak gitu, Kak!"
"Terus kenapa Andi? Pokoknya kamu harus jelasin semuanya sekarang!"
Andi menghembuskan napasnya sejenak, sebelum mengutarakan perasaannya. "Sebenarnya ... Aku gak mau jadi beban buat Kakak, aku gak mau Kakak terus berkorban demi aku, Kakak harusnya mikirin diri Kakak sendiri bukannya malah mikirin orang lain."
Alisha terdiam sejenak mendengar perkataan adiknya itu. Lalu, di detik selanjutnya dia langsung memeluk Andi. "Bodoh! Kamu itu gak pernah jadi beban buat Kakak, kalau kamu pergi Kakak juga gak akan bisa hidup di dunia ini, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi ninggalin Kakak lagi, ngerti!"
Andi tersentak namun dia tetap membalas pelukan kakaknya. "Iya, Kak, aku janji gak akan pernah ninggalin Kakak lagi dan akan selalu lindungin Kakak. Maafin aku ya, Kak!"
"Baguslah, kalau kamu sadar."
Andi tersenyum mendengar itu, kemudian dia langsung melerai pelukannya.
"Kenapa?" tanya Alisha tidak mengerti, kenapa Andi melepaskan pelukannya.
"Tangan Kakak harus segera di obatin, habis itu kita beresin semua barang-barangnya dan baru boleh pergi ke sekolah." ucap Andi yang kini bangkit dan pergi mengambil kotak obat.
"Oh iya sekolah," mata Alisha melebar ketika mengingat hal itu. "Berarti nanti Kakak telat dong, beresin barangnya nanti aja, ya!"
"Gak bisa, Kak, kita harus beresin sekarang baru pergi ke sekolah. Gak pa-pa terlambat yang penting sekolah!"
"Kakak ini anggota OSIS sekarang, masa iya telat sih."
"Bodo amat, Kak, itu sih derita Kakak dan aku gak mau tau!"
Alisha mendengus. "Kayaknya dia bukan adik gue!"
...√^^√...
Seperti yang Alisha duga tadi pagi, kini dia berdiri di hadapan bendera sembari hormat karena terlambat datang ke sekolah. Sialnya lagi, Reno ternyata telat juga hari ini, alhasil dia di hukum berdua dengan Reno dan kesialannya bertambah lagi ketika Sherina lah yang bertugas mengawasinya dan juga Reno. Benar-benar hari yang sial bukan?
Tidak, sebenarnya hari ini bukan hari yang sial karena Andi akhirnya pulang juga ke rumah dan mereka bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi secara baik-baik tanpa menimbulkan pertempuran.
Alisha benar-benar merasa tidak nyaman karena sedari tadi Reno terus saja menatapnya, lalu sekarang dia tiba-tiba tertawa? Sebenarnya nih orang masih waras, kan?
"Lo kenapa sih?" tanya Alisha pada akhirnya.
"Lucu aja, cewek kayak lo kenapa bisa suka sama gue. Lo bahkan gak nyebut gue dengan embel-embel 'Kak' padahal gue lebih tua dari lo,"
"Ya itu sih karena lo emang gak pantes di panggil Kakak."
"Kenapa?"
"Gak tau,"
"Muka gue terlalu muda untuk di sebut Kakak ya?" tanya Reno dengan percaya dirinya.
Sumpah, rasanya Alisha ingin muntah saat ini juga. Ayolah, Alisha tidak menyebut Reno dengan embel-embel 'Kak' karena Reno tidak pantas di beri sopan santun atas sikapnya yang seenaknya. "Jangan kepedean, Kak!"
Reno hanya mengangkat bahunya acuh, lalu kemudian tatapannya beralih pada Sherina yang berdiri di bawah sebuah pohon. Dia memang terlihat cantik hari ini, rambut panjangnya di gerai dan tatapan lembutnya, jangan lupakan juga sinar matahari yang menambah kesan tokoh utama dalam sebuah novel. Lihatlah, bahkan matahari pun mendukung sang tokoh utama.
Alisha hanya diam dan tetap melakukan hukumannya untuk hormat bendera, berbeda dengan Reno yang kini malah beranjak dan akan pergi menghampiri Sherina.
Tidak bisa di biarkan! Lagian Azka di mana sih, Tuan putrinya akan di ganggu oleh pria antagonis dia harusnya datang dan menyelamatkannya, namun kenapa tidak ada tanda-tanda akan kedatangannya. Tidak bisa di biarkan, jika di biarkan mungkin sang putri akan tergoda rayuannya dan beralih kapal dengan sang Antagonis pria hingga membuat sang pangeran menjadi sedih.
Alisha tidak akan membiarkan pangerannya bersedih dan kehilangan tuan putrinya, dia harus bahagia bersama tuan putrinya.
"Kak Reno!" Alisha kini berlari mengejar Reno sebelum Reno berhasil menghampiri Sherina.
"Apaan sih?" Reno menghentakkan lengan Alisha dengan kasar, namun itu tidak berpengaruh bagi Alisha karena dia tetap saja memegang lengan Reno.
"Kita masih di hukum, Kak, lo mau hukumannya bertambah kalau lo kemana-mana, hah?"
"Urusannya sama lo apa? Kalau gue dapet hukuman tambahan yang rugi juga gue bukan lo,"
"Justru karena itu, aku gak mau Kakak rugi dan dapet hukuman tambahan."
Reno tetap saja berusaha untuk melepaskan genggaman Alisha dari tangannya. "Apa-apaan sih, lo, urusannya sama lo apa sih?"
Alisha melirik ke arah Sherina yang kini mulai berjalan ke arahnya dan juga Reno. Sepertinya dia ingin tau apa yang terjadi.
"Kak!"
"Lepasin gak!"
"Aku gak mau Kakak dapet hukuman tambahan!"
"Bukan urusan lo tau gak!"
"Jelas urusan aku juga lah,"
"Kenapa?"
"Karena aku suka sama Kakak!" teriak Alisha lantang ketika Sherina berhenti tepat di belakang Reno.
"Kalian ngapain?" tanya Sherina yang sepenuhnya tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi di depannya. "Jangan malah pacaran dan lanjutin hukuman kalian berdua atau aku laporin ke Guru!"
"Iya, Kak, maaf!" Alisha segera menarik lengan Reno untuk kembali ke lapangan dan melaksanakan hukuman yang tadi sempat tertunda.
"Lo kenapa sih?"
"Gue gak mau kita di hukum lagi!"
"Gue gak--" omongan Reno langsung berhenti seketika, Alisha melirik karena penasaran, dia melihat tangan Deno yang mengepal kuat dan tatapan yang tajam sambil menatap ke satu objek.
Azkara! Dia akhirnya datang dan menghampiri Sherina sambil memberikan susu dan roti coklat. Alisha tersenyum miris melihat itu, ternyata susu dan roti coklat itu kesukaan Sherina bukan kesukaan Arazka. Namun, dia senang karena setidaknya Azka sudah datang jadi dia bisa melindungi tuan putrinya sekarang.
"Jangan cemburu, Kak, karena nanti aku juga ikut cemburu!" gumam Alisha sembari hormat ke arah bendera.
Reno langsung menoleh dan menatap tajam Alisha. "Gue gak peduli,"
Alisha tersenyum mendengar itu. Tidak masalah, jika orang yang di cintainya bahagia, maka Alisha rela melakukan apapun agar membuat orang yang di cintainya bisa bahagia, bahkan jika itu harus mengorbankan perasaannya sekaligus dan Alisha sudah melakukannya. Dia sudah membuktikan kalau cintanya ini serius bukan main-main!