TAMAT
Rara bersembunyi sebisa mungkin agar tak terlihat oleh pria yang sudah dilihatnya sedang menghajar seorang wanita yang sudah terkapar berlumuran darah, membuatnya terpaksa harus bersembunyi agar tak menjadi korban berikutnya. Namun sayang persembunyian Rara pun diketahui oleh lelaki itu dan Rara pun menjerit ketakutan saat sebuah tangan mengcengkram bahunya dengan sangat kuat.
" Aaaa sakit, Aku minta maaf, aku tak sengaja melihatmu, aku hanya sedang lewat dan mendengar sebuah teriakan dari gadis itu. aku benar-benar tak bermaksud untuk ikut campur, aku hanya sedang lewat saja. Aku mohon ampuni aku, jangan sakiti aku, aku berjanji akan tutup mulut, aku tak akan menceritakan pada siapapun. Aku mohon lepaskan aku" Ucap Rara dengan tangis lirih. Rasa takut yang amat sangat, membuatnya pingsan dihadapan lelaki itu. Namun bukan meninggalkan Rara, lelaki tersebut malah menggendongnya ala bridal, membawanya menuju kediaman seorang Pria Psychopath.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Rubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Terbaik
Setelah saling mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Rasanya mereka tidak ingin berpisah, tapi mau bagaimana lagi Rara harus kembali ke kost tempat ia tinggal karena besok ia harus bekerja. Jika tidak bekerja lagi bisa-bisa Ferdy memotong Gajinya atau memecatnya. Tapi Ferdy tak akan sejahat itu pada Rara, paling dia hanya akan menjitak kepala Rara saja.
Saat ini Rara dan Daffa sudah sampai di tempat Kost Rara, Mereka baru saja keluar dari mobil. Sebelum meninggalkan Daffa Rara punya segera menyuruh nya untuk segera pulang.
" Pulang lah kak, lalu istirahat. Agar luka di wajah mu lekas sembuh dan kembali menjadi Daffa yang tampan. " Ucap Rara yang sudah mulai berani menggoda Daffa.
" Tidak bisa kah aku menginap di tempat mu. " Ucap Daffa yang meraih tangan Rara. Rara yang mendengar ucapan Daffa langsung melotot tidak percaya lalu senyum tersipu malu.
" Tidak bisa kak, Ini bukan rumah ku, tapi ini rumah sejuta umat. Sudah sana nanti ada yang melihat ku bersama mu." Ucap Rara yang mendorong Daffa masuk kedalam mobilnya.
Daffa pun menurut namun sebelum menutup pintu, Daffa kembali tangan Rara membuatnya membungkuk menghadap ke wajah Daffa yang sudah duduk di kursi mobilnya, Lalu dengan segera namun mencium Rara kembali, Rara pun membelalakkan matanya dan memukul dada Daffa untuk melepaskan ciuman nya.
" Ada apa. " Tanya Daffa polos.
" Malu kak, nanti ada yang lihat. " Jawab Rara malu-malu dan Rara pun berlari masuk kedalam rumah agar Daffa tak melakukan hal-hal yang membuatnya terlihat oleh teman-teman kostnya.
Daffa pun pergi setelah melihat Rara sudah masuk ke dalam rumah kost nya. Rara pun mengintip dari jendela dalam ruangan kost nya melihat mobil Daffa sudah berlalu pergi. ia pun mengambil kunci lalu membuka kamar kostnya, namun belum sempat Rara masuk, Rani sudah menggoda nya.
" Cieee.... Romantis banget si yang habis dianterin sama pacar. " goda Rani.
" Rani. " Sapa Rara yang terkejut bahwa Rani menyapanya.
" Habis dari mana saja, pergi tidak bilang-bilang bahkan tidak mengajakku." tanya Rani yang nyelonong masuk kamar Rara lalu tiduran di tempat tidur nya.
" aku pikir kamu masih marah padaku, jadi aku tak berani untuk mengajakmu, takut kamu menolak ku lagi. " Sahut Rara.
" Kamu masih tidak mau cerita padaku. Padahal aku hanya pura-pura marah saja padamu, agar kamu dengan segera menceritakan padaku. Malah aku yang dibuat stres sendiri mikirin kamu. " Jawab Rani ketus.
" Kamu benar-benar kamu mendengarkan cerita ku. " Tanya Rara meyakinkan. Rani pun mengangguk seperti anak kecil yang akan dibelikan es krim.
Rara pun akhirnya menceritakan awal mula bertemu dengan Daffa, yang membuat Rani mendengar nya sampai ngeri bergidik, tak ada yang Rara tutup-tutupi sampai pertemuan terakhir nya barusan dengan Daffa pun ia ceritakan. Namun yang belum ia ceritakan hanya saat Daffa mencium dan memeluknya. Rara malu menceritakan hal seperti itu pada Rani.
" Berarti waktu kita berdua dan Kak Ferdy pergi ke apartemen Kak Daffa, itu baru ketiga kalinya kamu bertemu dengan nya." Tanya Rani penasaran, yang hanya di iyakan oleh Rara.
" Terus kenapa Kak Daffa bisa berbohong dan mengaku kalau kalian berpacaran. " Tanya Rani kembali, namun Rara hanya menjawab dengan bahu nya yang naik turun.
" Lalu saat kita pergi, kamu disana ngapain aja. Padahal itu kan baru kedua kali nya kamu berduaan dengan nya." Tanya Rani yang membuat Rara menghela Nafas kasar.
Flashback on.
Malam Pun menjelang, akhirnya Rara pun terbangun dari tidur nya dan betapa terkejut nya ia, melihat semua ruangan terlihat gelap. bahkan sudah tak terlihat sinar matahari menyinari ruangan.
Tiba-tiba masuk seorang Pria kedalam kamar yang ia tempati, Ia berjalan sangat pelan sekali namun nampak dari pakaian yang ia kenakan bahwa pria itu perlahan mendekat dan hampir mendekati Rara.
Rara pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mundur menghindari pria tersebut.
" Kak Daffa... " Panggil Rara tanpa Pria itu hanya diam saja tak menjawab.
" Kak Daffa, Jangan menakuti ku. " Ucap Rara semakin cemas karena tak ada jawaban lagi dari Pria tersebut.
Rara pun tersentak kaget saat ia sudah tak dapat berjalan mundur karena ia sudah menabrak dinding,
Rara menutup wajah saat sudah tidak ada Jalan lagi untuk ia menghindar, Rara menangis, memohon dan meminta maaf, agar di lepaskan untuk kedua kalian ya. ia sangat berharap bahwa ini hanya mimpi karena Rara benar-benar sangat takut sekali. Rara pun mengira ini sudah saatnya Ia mati ditangan Daffa.
" Kau Takut. " tiba terdengar Suara Daffa yang sudah didepan Rara, Lalu menyalakan Lampu kamar yang terletak disamping Rara. Rara hanya terus menangis ketakutan.
" Jadi Kau masih Takut padaku. Ku pikir kau sudah tidak takut padaku. " Rara yang mendengar ucapan omong kosong itu langsung memukuli dada Daffa.
" Kak Daffa nyebelin. " ucap Rara yang terus memukuli nya. Daffa pun meringis kesakitan karena tak memukuli tapi Rara pun mencubit nya bertubi-tubi di tubuh Daffa.
" Hentikan Ra, Rara." Bentak Daffa sontak membuat Rara menghentikan pukulan nya.
" Kak Daffa jangan menakuti ku seperti itu lagi, Aku takut kak. " pinta Rara yang tak hentinya menangis.
Daffa yang melihat nya menangis pun tak tega, Daffa memeluknya dan membawanya bentuk duduk di tepi kasur lalu memberikan Rara segelas air untuk menenangkan nya.
" Minumlah, Sudah jangan menangis aku tak bermaksud menakuti mu. Saat diluar aku baru teringat lampu kamar belum dinyalakan, jadi aku masuk ternyata kamu sudah bangun. dan tiba-tiba seperti orang kesurupan, aku jadi bingung sendiri. aku berjalan kearah mu hanya ingin menyalakan lampu, sakelar nya berada di samping mu." ucap Daffa yang perlahan membuat Tangis Rara mereda.
" Di luar hujan dan sudah malam juga, sebaiknya kamu' menginap saja. Besok aku antar ke minimarket Ferdy. " Pinta Daffa dan di anggukan Rara.
" Kamu Lapar, Aku sudah memaksakan makanan untuk mu. Ayo kita makan. " Ajak Daffa
mereka pun keluar dari kamar, dan langsung memakan makanan yang sudah dibuat Daffa. Setelah selesai makan, Rara berniat menghubungi Rani tapi lowbet.
" Kemari lah. " Ucap Daffa menyuruh Rara untuk duduk di samping nya, Rara pun menurut dan duduk disebelah Daffa.
" Apa kau begitu takut padaku. " Tanya Daffa yang memandangi Rara. Rara pun menundukkan wajahnya karena malu Daffa menatap Daffa.
" Jawab, Apa aku begitu menakutkan bagimu. " bentak Daffa. Rara pun mengangguk Ragu.
" kejadian malam itu, saat aku memukuli seorang wanita karena aku mempunyai alasan sampai tega memukulinya, tapi wanita itu juga sampai sekarang masih hidup. " Ucap Daffa lalu Rara yang mendengar nya pun langsung terkejut.
" Hah, Benar kah kak wanita itu belum mati. syukur lah. " Tanya Rara
" Iya karena kau telah menolongnya, mungkin jika kau tak melihat nya malam itu, aku sudah membunuhnya bahkan membunuhmu jika kau tidak pingsan. " Ucap Daffa membuat Rara tertunduk kembali.
" Sekarang Kau adalah milik ku, Biasakan dirimu untuk selalu menyambut ku dengan baik saat bertemu dengan ku. Kau mengerti. " Ucap Daffa penuh penekanan dan hanya di anggukan oleh Rara.
Flashback Off.
" Pertemuan kalian benar-benar sangat menyeramkan" ucap Rani yang bersabar mendengar cerita Rara.
" Ya seperti itulah Ran. Tapi akhirnya aku mengerti, dia tak sejahat itu. Mungkin dia punya alasan kenapa melakukan hal seperti itu. Mulai hari ini aku akan mencoba mempercayainya dan tulus menyayangi nya, Kamu tau Ran, Awalnya aku kira dia kasar dan dingin. Tapi nyatanya dia sangat lembut dan penyayang." Ucap Rara merasa bangga karena memiliki orang yang menyayangi nya tulus.
" Duuuh.... yang lagi jatuh cinta. Banggain aja terus pacarnya hahahaha." ledek Rani dan membuat mereka tertawa bersama karena Rara menjadi malu.
" Jadi sekarang kamu udah gak marah lagi kan padaku. " Tanya Rara.
" Aku gak pernah marah sama kamu, Aku hanya sedang mengolok-olok mu saja. " Ucap Rani lalu mereka pun berpelukan.
" Aku akan selalu ada buatmu Ra, Walau nantinya aku akan marah-semarah nya aku paling itu hanya 2 Jam saja. tak butuh waktu lama untuk kita bisa berbaikan kembali. " Ucap Rani yang di anggukan Rara.
* Terlalu berharap hanya akan menyakitimu, namun itu bukan hal untuk menyesalinya, ingat, Sahabat selalu ada untuk mu. *