Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

   "Ayah cepat lihat, dia berteriak kesakitan. " Jesica berlari ke arah ayahnya.

"Dokter tolong periksa dia!" Pak Pohan mempersilahkan dokter desa itu untuk memeriksa pemuda itu.

Setelah beberapa saat dokter desa itu pun selesai memeriksa pemuda itu.

"Pasien ini sepertinya mengalami geger otak. Tapi harus di lakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit untuk memastikannya. Ini saya berikan obat penghilang rasa sakit dan obat luka. " Dokter itu menyerahkan beberapa jenis obat kepada pak Pohan.

"Dokter apakah akan ada epek samping seperti amnesia atau yang lainnya?" Tanya pak Pohan kepada sang dokter.

"Melihat dari kondisi lukanya kemungkinan itu ada, tapi sepertinya bersifat sementara. Cuma seperti yang saya katakan tadi lebih baik di bawa ke rumah sakit untuk mengetahui kondisinya lebih jelas. Kalau boleh tau pasien ini siapanya bapak, saran saya kalau memang tidak ada hubungan lebih baik serahkan ke kantor polisi saja agar tidak menjadi beben bapak. " Ucap dokter itu.

"Iya dok saya mengerti, terimakasih banyak. Tapi pemuda ini keponakan jauh saya dia tergelincir saat ikut saya mencari kayu bakar di kaki gunung kemarin. "

Usai mengatakan itu pak Pohan mengantarkan dokter desa itu keluar dari rumahnya.

"Kenapa ayah berbohong?" Jesica merasa heran. Padahal setahunya ayahnya itu tidak pernah berbohong.

"Pemuda ini sedang tertimpa musibah, Tuhan Yesus selalu mengajarkan kita untuk saling berbelas kasih kepada sesama. Apa kamu mengerti?"

"Tapi bagaimana kalau dia itu seorang buronan?" Jesica masih merasa takut.

Pak Pohan hanya tersenyum. "Tuhan akan melindungi kita. " Ucapnya lembut.

Keesokan harinya pemuda itu kembali sadar.

"Kamu sudah sadar? Pelan-pelan!" Jesica membantu pemuda itu yang terlihat ingin duduk.

"Aku haus!" Ucapnya dengan suara serak.

"Ohh,.... tunggu sebentar aku ambilkan air. "

Jesica menuangkan segelas air lalu menyerahkannya kepada pemuda itu. Lalu pemuda itu langsung meminum habis air dari dalam gelas itu hanya dalam satu tarikan napas. Terlihat jelas kalau dia sedang sangat kehausan.

"Masih mau lagi?" Tanya Jesica saat menerima gelas kosong dari tangan pemuda itu.

"Tidak, tapi aku sangat lapar. " Ucap pemuda itu kemudian.

"Baiklah akan aku ambilkan bubur, kata ayah kamu untuk sementara kamu hanya boleh makan bubur. " Jesica pergi ke dapur untuk mengambilkan bubur yang tadi sudah di masak oleh ibunya.

"Kenapa aku mendadak jadi seorang pembantu sih!" gerutu Jesica sambil melangkah ke dapur.

Beberapa saat kemudian Jesica sudah kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.

"Ini makanlah!" Jesica menyerahkan mangkuk itu kepada pemuda itu.

"Tidak enak. " Ucap pemuda itu setelah memakan sesendok bubur itu.

"Kalau tidak enak ya tidak usah di makan, mati kelaparan aja sana!" Akhirnya emosi Jesica meledak juga. Kamu ini kenapa galak sekali sih? Suami lagi sakit bukannya di urusi baik-baik, kamu malah marah-marah"

Mata Jesica terbelalak dan mulutnya mengaga lebar, sangking lebarnya bisa di masukan satu butir telur Bebek utuh.

"Suami? apa maksud kamu Jangan menyebar fitnah kamu! Aku ini masih gadis, jadi jangan ngaku-ngaku jadi suamiku. " Bentak Jesica.

"Ada apa ini kenapa marah-marah?" Pak Pohan dan istrinya yang baru saja pulang dari ladang sedikit terkejut mendengar anak gadisnya marah-marah.

"Kalian siapa?" Tanya pemuda itu kepada pasangan suami istri itu.

"Nak Albert perkenalkan nama saya Pohan dan ini istri saya Maria." Ucap Pak Pohan memperkenalkan diri.

"Albert siapa Albert?" Pemuda itu semakin bingung.

"Ya kamu! Bukannya nama kamu Albert?"

"Albert..... aaaaaaa..... " Pemuda itu kembali menyerang kesakitan dan memengang kepalanya.

"Sudah... sudah... jangan di paksakan. Kata dokter kepalamu terbentur sangat keras dan kemungkinan mengalami geger otak. Jadi jika tidak ingat ya tidak usah di paksakan pelan-pelan saja. " Ucap pak Pohan lembut.

"Ini minum obatnya dulu. " Pak Pohan menyerahkan beberapa butir obat dan segelas air putih kepada pemuda yang menurutnya bernama Albert itu.

Setelah meminum obat itu sakit kepala Albert berangsur-angsur hilang dan dia kembali menjadi tenang. "Terimakasih." ucapnya.

"Tidak usah sungkan istirahat saja, saya mau mandi dulu. Kotor baru pulang dari ladang. "

Pak Pohan ingin melangkah pergi tapi di hentikan oleh pemuda itu.

"Tunggu sebentar pak, sebenarnya saya ini siapa kenapa saya tidak bisa mengingat apapun kecuali ingatan samar tentang pernikahan. Tapi gadis itu bilang dia bukan istri saya?"

"Entahlah bapak juga tidak tau siapa kamu. Bapak dan Jesica menemukan kamu didalam hutan di kaki gunung saat kami sedang mencari kayu bakar saat itu kamu sedang terluka dan pingsan, jadi bapak dan Jesica memutuskan untuk membawa kamu pulang. Dan di tubuh kamu bapak hanya menemukan ini. " Pak Pohan menyerahkan sebuah dompet dan sebuah kartu Identitas yang sebagian besar sudah rusak hanya tinggal sebuah nama Albert dan agama Kristen yang tertera di sana.

Pemuda itu hanya terdiam dan menatap kartu Identitas yang rusak parah itu. Entah apa yang di pikirkannya.

Pak Pohan menepuk pundak pemuda itu pelan. "Tidak usah terlalu di pikirkan Tuhan akan memberi jalan bagi setiap umatNya. Tinggal lah di sini selama yang kamu mau, dan anggaplah kami sebagai keluargmu. Jika nanti ingatanmu sudah kembali dan kamu memutuskan untuk pergi kami tidak akan menahan ataupun menyusahkanmu."

"Terimakasih banyak pak, maaf karena saya sudah menyusahkan bapak. "

Pak Pohan hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan pemuda itu.

"Maaf untuk yang tadi. " Ucap Albert saat melihat Jessica mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi nasi lembek dan sup ikan dan sayur.

"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan ngomong sembarangan lagi bagaimana jika ada orang lain yang mendengar bisa jadi gosip satu kampung. "

Jesica meletakkan nampan yang di bawahnya tadi.

"Ini ibu sudah memasakkan makanan yang tidak hambar, tapi kata ibu masih belum boleh makan nasi keras biar cepet sembuh. "

"Maaf sudah merepotkan. " Albert meraih makanan itu dan langsung melahapnya. Karena ia memang merasa sangat lapar.

"Ya kamu memang merepotkan. " Ucap Jesica tanpa rasa bersalah.

Albert hanya terkekeh menanggapi ucapan gadis itu. Karena dia tau walaupun ucapan gadis ini ceplas ceplos tapi hatinya baik. Buktinya gadis ini mau merawatnya walaupun tidak kenal sama sekali.

"Aku sudah selesai. " Ucap Albert.

"Kalau sudah selesai ya taruh kebelakang, masa harus aku juga yang bereskan. " Jesica berkecak pinggang.

"Iya, iya baiklah. "

Albert berusaha turun dari ranjang. Tapi belum sempat dia berdiri dengan tegak tubuhnya sudah oleng akibat rasa pusing yang luar biasa. Mungkin karena ia kehilangan banyak darah akibat lukanya.

"Hey.. " Jesica yang melihat hal itu rep lek berusaha menangkap tubuh Albert, namun karena tenaganya yang kurang kuat keduanya malah jatuh bersama keatas ranjang dengan posisi Jesica terjatuh tepat di atas tubuh Albert.

Sepersekian detik kedua terdiam dan hanya saling pandang. Kelenjar aneh tiba-tiba menjalar di hati Jesica membuat wajahnya memerah dan tersipu malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!