Hidup Nadine yang hancur sejak ia diculik oleh mantan pacar suaminya dan di perkosa oleh pria asing yang tak dikenal. Hingga suatu ketika saat sedang istirahat di rumah sakit, ia di cari seorang tentara, tentara itu dalam keadaan terburu-buru karena ada kasus genting, Nadine pun ikut dengan dia, disitu ia bertemu sosok Pria bertubuh besar yang tinggi dan tampan berjalan kearahnya, siapakah sosok pria asing ini?.
Mohon dukungan selalu serta kritik dan saran, atas Novel yang saya buat, agar saya selalu bisa memberikan karya cerita yang bisa menginspirasi dan menarik minat baca kalian para pembaca novel.
Karya ini diterbitkan atas izin MangaToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili MangaToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAHMA ANNISA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 14
Nada bicara Radit tegas seakan tak boleh ditolak. Nadine terbelalak kaget, ia segera berdiri. Dengan gugup ia berkata, "Kamar ini bukannya untuk aku tidur?"
"Iya memang." Kata Radit, ia lalu menambahkan dengan dingin, "Kamu tidur di ranjang, aku tidur di sofa."
Pria lajang dan wanita lajang tidur dalam kamar yang sama, dirinya dengan Angga bahkan tak pernah melakukannya. Wajah Nadine langsung memerah, pikirannya kacau, "Tidak, tidak boleh, kita kan lawan jenis, tidak boleh tidur dalam satu kamar."
Baru saja selesai berbicara, Nadine melihat mata hitam Radit bersinar suram. la berjalan mendekat. Nadine bukan tentaranya, juga bukan bawahannya, tapi aura mengancam yang dipancarkan Radit membuat Nadine rmerasa takut.
Nadine mundur selangkah, tapi kemudian terjatuh di atas sofa. Radit pun berbaring di atas sofa itu, tangannya menyangga tubuhnya, sehingga posisi Nadine sekarang persis di bawah Radit. Sorot mata yang dingin dan tajam itu menatap Nadine lekat-lekat tanpa bicara sepatah katapun, membuat Nadine merasa tak nyaman.
"Kenapa?" tanya Nadine, pupil matanya bersinar ketakutan.
"Memangnya aku ular atau binatang bagimu Kenapa kamu begitu ingin menghindariku?" tanya Radit tajam.
"Bukan itu maksudku!"... Nadine segera menjelaskan, " Hanya saja .... "
Hanya saja status Radit yang tinggi dan Nadine yang telah bersuami, keduanya selamanya tak mungkin bisa bersama, dan lagi mereka hanyalah orang asing, tidak bagus kesannya untuk tidur di dalam kamar yang sama. Tapi Nadine takut untuk mengatakan ini.
Nadine langsung mengganti topik pembicaraan, '"Aku tidur di sofa saja."
Sorot mata Radit melemah, tapi tetap terlihat seperti samudera yang luas tak berujung, "Mau bagaimana lagi, hanya tersisa satu kamar ini saja. Aku tidak akan menyentuhmu, jangan khawatir. Kamu tidurlah di ranjang, aku tidur di sofa."
Nadine tentu saja mempercayainya. Kalau dia ingin menyentuhnya, semalam pasti sudah ia lakukan. Tapi mustinya Radit tak tertarik pada dirinya.
Radit bangkit berdiri, lalu berjalan ke kamar mandi.
Nadine teringat akan baju, rok dan dalaman yang tergantung di dalam sana. Segera ia berteriak, "Tunggu sebentar."
Radit melatapnya dingin, pandangan matanya tiba-tiba bersinar menggoda, mulutnya tersungging sebuah senyuman, "Kenapa? Kamu ingin memandikanku?"
Nadine kaget, seorang pangeran berstatus tinggi bisa juga berkata seperti itu, sangat tak disangka. la lalu berjalan maju, "Bukan begitu, mana mungkin haha. Ada beberapa barangku didalam sana, aku bereskan dulu, baru kamu boleh masuk."
Radit tak menghalanginya, tapi matanya terus
mengamati Nadine. Dengan cepat Nadine segera membereskan pakaian-pakaiannya. Tapi sandal kamarnya yang menginjak lantai itu tiba-tiba meluncur.
Ahhh. Teriak Nadine, ia akan terjatuh.
Secepat kilat Radit menerjang masuk memegang lengan Nadine, menariknya dalam pelukannya. Tapi gerakannya ini terlalu cepat, menyebabkan handuk Nadine jatuh ke lantai, Tubuh Radit tak sengaja menyentuh tubuh tanpa pakaian Nadine itu. Hati Radit berdegup kencang, ia mulai ter*******, pandangannya
tak beralih dari Nadine. Sementara Nadine yang merasa canggung tak mengatakan apa apa, wajahnya bersemu merah.
"Ma...maaf" ucapnya.
Radit melepaskannya. Telapak tangannya masih dapat merasakan halusnya kulit Nadine, persis seperti tiga tahun yang lalu
Nadine segera memungut kembali handuknya dan memakainya. Radit tak segera beranjak dari sana, pandangan matanya yang liar menatap wajah Nadine yang bersemu merah itu. la berjalan mendekat. Nadine spontan berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kamar mandi yang dingin. Suhu rendah yang dirasakan itu membuatnya tersentak.
Radit berjalan ke depannya, tangannya ditaruhnya ke dinding untuk menyangga tubuhnya, pandangannya yang tajam membuat Nadine ketakutan.
"Kamu takut?" tanya Radit.
Melihat wanita itu tak berkata apa-apa, ia
menambahkan, "Bagi aku, kamu lebih seperti ular beracun dan binatang ganas."
Nadine menatapnya bingung. Maksud Radit, apa dia membencinya? Yang tidak berpakaian kan Nadine, yang tidak memperbolehkannya masuk ke kamar mandi kan Nadine, yang terjatuh juga Nadine bahkan kejadian tak terduga dimana handuknya terlepas, itu semua kan bukan salah Nadine. Tapi memang, kalau dia adalah Radit pasti ia juga akan merasa dirinya sengaja melakukan itu semua.
"Maaf" kata Nadine. la menunduk, tak tahu harus berkata apa lagi.
Tatapan Radit masih belum beralih darinya.
Kamar ini untukmu sekarang, aku keluar saja. Katanya sambil berbalik, matanya bersinar kesal.
Radit khawatir kalau dirinya akan melakukan kejadian yang sama seperti yang telah ia lakukan tiga tahun yang lalu terhadap Nadine. Tiga tahun yang lalu, ia dibawah pengaruh obat asmara. Tapi barusan, ia sendiri tak mengerti mengapa pergerakan tadi bisa ia lakukan.
Hall di lantai2.
Nadia diuduk di sebelah Radit, dengan anggun ia menuangkan Radit teh, "Sepupu, nenek bilang perusahaan keluarga adalah milikmu. Kamu tidak datang saat berita hari selasa yang lalu diumumkan, ya tak papalah, tapi perjamuan besok malam kamu harus
datang ya."
Radit menatap sepupunya dengan mata beningnya, seakan memang mengerti apa yang seharusnya ia lakukan, "Aku pasti akan datang ke perjamuan besok malam, tapi kalau ada motivasi lain disini, kedepan jangan ajak aku lagi untuk datang."
Wajah Nadia langsung berubah, ia kembali membujuk Radit. "Radit, Sinta dari kecil sudah menyukaimu. Perbuatannya selama ini di masa lalu, itu semua ia lakukan karena ia terlalu mencintaimu. Keinginan nenek adalah, orang seumuranmu sudah sepantasnya
untuk menikah. Dilihat dari latar belakang keluarga, pendidikan, kemampuan, tak bisa disangkal bahwa Sinta memang adalah wanita yang paling pantasuntukmu. Jadi perjamuan besok malam kamu harus datang."
Radit tersenyum sinis, ia meletakkan gelas tehnya, lalu berkata dingin, "Kalau aku tidak menyukainya, meskipun harus melepaskan seluruh bisnis keluarga, aku tidak mau dengannya. Besok malam aku tidak akan datang."
"Berarti apa kamu menyukai wanita yang datang denganmu hari ini?" tanya Nadia sambil memiringkan kepala, mencoba untuk mencari tahu.
Radit terdiam, pupil matanya yang jernih dan seperti samudera luas itu membuat orang tak bisa menerka apa yang sedang dipikirkannya, "Apa pendapatmu mengenai dia?."
"Aku rasa, ia terlalu lemah. Kamu tahu kan
bagaimang kriteria yang nenek inginkan dalam mencarikanmu istri? Aku khawatir kamu akan memilih jalan yang sulit." kata Nadia khawatir.
"Kamu berpikir terlalu banyak.Asalkan aku suka, tak peduli seberapa banyak rintangan didepan, pasti akan aku lalui" kata Radit percaya diri. Posisi duduknya ditegakkannya ia terlihat sangat gagah saat itu.
Prestasi Radit yang sekarang adalah hasil jerih payahnya selama ini, setapak demi setapak ia lalui, bukan atas latar belakang kakeknya yang adalah wakil presiden ataupun kekayaan negara.
Nadia selalu kagum pada sepupunya ini, ia tersenyum, "Kalau kamu bukan sepupuku sendiri, aku mungkin akan lebih tergia-gila padamu daripada Sinta."
Radit menatapnya dingin, "Kalau tidak suka ya tidak suka, aku lebih menyukai kualitas daripada status, aku tak akan memaksakan perasaanku."
"Wah, kamu nantinya pasti akan sangat mencintai istrimu." ucap Nadia kagum.
Di otak Radit tiba-tiba muncul bayangan Nadine, pandangan matanya suram, "Tolong bantu aku menyiapkan sebuah outfit wanita dan sepatu flat berbahan kulit yang lembut. Besok pagi sebelum berlabuh sudah harus diantar padaku. Dan lagi, tolong ambilkan aku sebuah selimut. Aku hari ini tidur di ruang
tamu."
"Ha? Kamu diusir keluar sama dia ya?" pernyataan ini memang pantas membuat siapapun yang mendengarnya terheran-heran.
Nadia menggoda, "Bagaimana bisa? Pesona sepupu kan tidak mungkin disangkal wanita manapun."
"Urus saja urusanmu sendiri, jangan banyak
bicara." kata Radit kesal.
"lya dehhhh." Nadia mengerjipkan mata pada
sepupunya sambil tersenyum. lapun berdiri dan berjalan keluar ruang tamu.
Radit berbaring di sofa, otaknya terus teringat akan kejadian tadi di kamar mandi. Kejadian ini hampir sama dengan kejadian tiga tahun yang lalu. Kalau saat itu ia memberitahukan identitasnya pada Nadine, apa yang akan terjadi? Tapi Radit tak ingin merusak kebahagiaan gadis itu, walau sekarang ia nampaknya tidak bahagia.