Hai aku Amora, Kehidupan bahagiaku hilang saat aku berusia 17 tahun.
Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil, semua aset perusahaan dan rumah yang seharusnya jadi milikku diwalikan kepada teman ayahku karena aku masih tidak mengerti apapun.
Tahun berlalu ternyata teman ayahku memiliki rencana licik untuk menguasai semua harta peninggalan orang tuaku
Saat aku berusia 22 tahun, semua terjadi tunangan yang paling aku percaya mengkhianatiku dengan anak teman ayahku tersebut.
Konspirasi licik tercipta aku terbunuh pada malam itu, saat mereka mengira aku telah mati dan membuang mayatku di tengah hutan
"Disisa nafasku aku bersumpah akan membalas semua kelakuan mereka,
membuat mereka menderita."
"Aku, Amora tidak rela mati sendiri seperti ini, setelah itu akupun menutup mata."
"Saat aku membuka mata aku berada di kamarku tanpa luka sedikitpun, apakah ini mimpi atau kilasan masa lalu sebelum Malaikat maut menjemput ku."
"Mungkinkah kesempatan kedua,"
Simak kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.
Beberapa saat kemudian, setelah membersihkan tubuhnya Amora memakai dress berwarna putih. Menyisir rambutnya yang panjang, kemudian menggulungnya asal.
Selesai menggulung rambutnya, Amora bergegas turun ke bawah. Dapat dilihatnya ketiga sahabat dan juga Arlan telah duduk menunggu dirinya.
"Sorry lama, ayo kita makan sekarang," kata Amora. "Lu mandi apa bertapa sih, lama Amir!" ketus Liona, Amora memutar bola matanya.
"Kayak gak tau cewek aja," ucap Miu menimpali, Amora mengangguk membenarkan. "Gue cewek gak gitu," bantah Liona.
"Lu, cewek? Yakin? Meragukan?" ucap Rex sambil memandang Liona dari atas ke bawah berulang kali.
"Astauge, astongtong, Miu ... Amora ... tolongin Liona yang comel diganggu sama Abang Rex," Liona mengadu. Miu tak menjawab, dia hanya fokus pada makanan yang ada di piringnya.
Amora menggelengkan kepalanya, "Udah jangan bercanda lagi ya, kita lanjut makan yuk. Emmm, maafin sikap mereka ya Kak." Amora menghentikan perdebatan sahabatnya sekaligus meminta maaf pada Arlan.
Arlan mengangguk dan tersenyum kecil. "Gak apa-apa, aku suka kok. Rasanya jadi lebih akrab," katanya ramah. Makan malam pun dilanjutkan, sesekali Liona dan Rex masih saling melempar ejekan.
Setelah makan malam selesai, Arlan berniat pamit walau sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di dekat Amora.
"Aku pamit pulang dulu ya,"
"Yaelah baru kelar makan belum ada lima menit, udah pamit kentara banget cuma niat makan doang," ketus Liona. Arlan gelabakan mencari alasan, "Gak gitu, cuma gak enak aja kalau di sini kemalaman. Aku kan cowok," kata Arlan.
"Abang gue cowok tuh, yang lagi di pojokan masang tampang datar." Ucap Miu melirik Rex yang duduk di pojokan ruang tengah.
"Bedalah, dia kan teman Amora. Kalau aku baru kenal," kilah Arlan. Baru saja Amora akan menjawab, Rex mendahului. "Sini aja dulu, baru juga jam segini. Temenin gue main game,"
"Memangnya gak apa-apa kalau aku di sini ya," Arlan bertanya menutupi kesenangan di hatinya.
"Gak a ...," ucapan Amora terputus untuk kedua kalinya.
"Santai aja kali, udah ayo kita mulai. Amora gak akan marah kok, ya kan Mora?" kata Rex setengah berteriak.
Tersenyum manis di permukaan, padahal dalam hati mengumpat kasar pada sahabatnya itu, sialan Lo Rex, kok jadi baik sama orang. Biasanya paling anti, kemana Rex yang gue kenal. Begitulah kira-kira isi hati Amora saat ini.
Memilih cuek dan menikmati acara yang ditayangkan di TV, Amora mulai melupakan keberadaan dua makhluk di dekatnya. Liona yang bosan mengganti channel TV secara terus-menerus.
"Mau diganti seribu kali-pun tetap aja siarannya sama Bambang," kesal Miu. "Bete gue siarannya gitu-gitu mulu," balas Liona.
"Sini remote-nya, kalau bete jangan ditonton lagi mending dimatiin aja," Miu pun mematikan TV dan menyimpan remote-nya.
"Makin bete lah gak ada kerjaan," keluh Liona. "Ngapain kek sana, nyanyi di kamar mandi kek, makan cemilan kek, atau apalah gitu. Lama-lama gue yang bete liatin muka Lo," Miu mulai jengah.
Liona menatap Amora yang sedari tadi diam, merasa ditatap Amora balas menatap dan bertanya. "Apa?" katanya. Liona menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Buat cerita dong, udah lama kamu gak cerita lagi Amora," kata Liona sambil cengengesan.
"Cerita? Mau cerita apa?" tanya Amora. "Apa aja deh, semua cerita yang kamu buat pasti seru," kata Liona bersemangat. "Aku benar kan Miu, Rex?" lanjutnya meminta dukungan. Miu segera mengangguk setuju.
"Baiklah aku punya satu cerita, ini kisah nyata ya! Jangan dipotong dan dengarkan aja ok!" ucap Amora. Rex mematikan mainannya, ikut bergabung mendengarkan cerita Amora. Arlan jangan ditanya dia pasti ikut juga. Miu dan Liona mengangguk patuh, memberi isyarat mulut mereka terkunci rapat.
"Ok, aku mulai ceritanya," kata Amora memulai. "Jika ada yang menyela cerita berakhir, paham!" lagi-lagi mereka berempat mengangguk bersama.
"Alkisah, di sebuah desa yang makmur. Tinggallah sebuah keluarga yang bahagia, sehari-hari mereka selalu tertawa seakan kesedihan tak akan pernah menyapa." menghela napas sejenak.
"Satu waktu berlalu, kesedihan itu pun datang menghampiri, si anak yang bernama Putri ditinggal pergi untuk selamanya oleh kedua orang tuanya," lanjut Amora.
"Datanglah Pamannya, berkata bahwa putri akan dirawat oleh keluarga mereka. Putri sangat senang karena dia memiliki keluarga baru, dipikirannya dia tak akan kesepian lagi." Amora berhenti sejenak.
"Tahun berlalu, Putri tumbuh dengan banyak kasih sayang tapi dia kekurangan teman. Dia seperti terkurung di dalam sangkar yang dibuat oleh Pamannya. Pertunangan-nya pun Pamannya yang mengatur segala sesuatunya,"
"Memperingati hari jadi pertama pertunangannya, Putri berencana memberi kejutan pada tunangannya Adi. Membawa kado, mendatangi rumah Adi hanya untuk melihat kejutan yang tak terduga," Amora menatap sahabatnya yang masih diam mendengarkan kisahnya.
"Di depan teras dia melihat seseorang yang sangat dikenalnya datang berkunjung ke rumah Adi, kemarahan menyebar saat melihat bagaimana Adi menyambut tamu tersebut, dapat dilihatnya Adi memeluknya erat kemudian mengajak wanita itu masuk," Amora dapat melihat wajah Liona mulai mengerut tak suka.
"Putri mengendap perlahan, bagaimanapun dia bukan orang yang asal menuduh tanpa bukti. Melewati pintu rumah yang tak tertutup rapat, putri mendengar obrolan mereka. Tentang rencana mereka menyingkirkan dia, termasuk paman yang selama ini dipercayanya, tenyata juga ikut terlibat,"
"Sang tunangan yang tak pernah menginginkan dirinya, hanya mengincar uangnya saja. Bagaimana Adi mengatakan kalau yang dia suka hanya Ami, anak Pamannya. Hatinya semakin sakit menerima kenyataan itu, ingin menganggap semua hanya ilusi tapi dirinya sangat jelas mendengar segalanya,"
"Mendorong pintu kamar tunangannya, mengucapkan sumpah serapah dan bertanya kenapa pada keduanya yang terlihat kaget. Dirinya tidak perduli apapun hanya ingin melampiaskan rasa sakit di hatinya,"
"Bukannya takut mereka tertawa dan menganggap kedatangan Putri adalah berkah, mereka tak perlu repot berpura-pura. Mereka bahkan ingin melenyapkan Putri saat itu juga, sebilah pisau tajam menghunus tepat di jantungnya," Amora tersenyum melihat wajah sahabatnya tegang.
"Sebelum menutup mata Putri bersumpah jadi hantu pun dia akan membalaskan semuanya, Adi sang pelaku hanya tertawa mengejek. Mengabaikan Putri yang meregang nyawa, mereka meninggalkannya begitu saja," lanjut Amora bercerita.
"Malam pun datang mayat Putri dibuang di jurang yang dalam, Kisah berlanjut, kembali bermula saat Paman-nya datang, Putri bingung bertanya-tanya apa yang terjadi,"
"Menyadari bahwa kisahnya terulang, Putri berjanji akan membalas dan takkan melakukan kesalahan yang sama. Singkat kata Putri berubah dan tak menerima tawaran Pamannya," tutup Amora mengakhiri cerita.
"Ya Allah, tuh cowok kalau ada beneran terus ketemu gue geprek," kata Miu emosi. "Gue bantu gantung di tower Miu," kata Liona menimpali.
"Gue B aja," ucap Rex. Miu, Liona dan Arlan menoleh serempak mengirim tatapan sengit. "Paling gue dorong ke jurang atau kolam hiu, biasa aja kan," lanjut Rex datar. Amora tertawa kecil sedangkan, yang lain bergidik ngeri.
"Tapi gue ngerasa sedih deh, ceritanya itu seperti pernah kamu alami sendiri Amor," deg ... tebakan Arlan meningkatkan detak jantung Amora, rasa terkejut tak bisa ditutupinya dan itu tak luput dari penglihatan Rex dan Arlan.
"Ye, rese Lo pikir Amora udah pernah end. Mana ada cerita gitu di dunia jaman gini," bantah Liona. "Kalau jaman dulu mungkin bisa kali ya," timpal Miu. Amora hanya tertawa canggung.
Melihat jam tangannya, Arlan pun berpamitan, "Udah jam segini, aku pulang dulu ya. Makasih makan malamnya dan juga cerita tadi, seru abis aku gak tau kamu bisa bercerita Amor,"
"Amora jagonya ngarang cerita kak," kata Liona. "Cuma karangan gak segitu jagonya," bantah Amora.
"Ya udah aku pulang dulu." Meninggalkan kediaman Amora setelah melambaikan tangan.
"Hati-hati Kak," seru Amora. "Sampai jumpa Kak," kata Miu.
"Kesini lagi ya Kak," ucap Liona, "Main game bareng lagi," Rek ikut menimpali, semua menatap tak percaya pada Rex.
"Apaan sih kalian?" tanyanya. "Lo aneh Bang, gak biasanya open sama anak luar," kata Liona curiga. "Jangan-jangan bener lagi yang kamu bilang Liona, Abang gue lagi ngumpulin orang yang sejenis sama dia." Miu berucap alay sambil memegang pipinya.
"Sok tahu kalian berdua, gue cuma ngerasa Kak Arlan bisa dipercaya. Ya gak Amora?" Tanya Rex. Tersenyum kecil Amora menjawab, "Entah, kepercayaan itu mahal,"
Amora meninggalkan teman-teman setelah menjawab pertanyaan Rex. Dia berlalu pergi ke kamar dan mengunci pintunya. Di dalam Amora menangis mengingat akhir ceritanya dahulu. Bagaimana dia dikhianati dan bagaimana dia terbunuh.
Lelah menangis Amora jatuh tertidur dengan air mata yang masih menetes di pipinya.
Sekian ya Wassalam 🙏
bagaimana mana guyys🤔
maaf kak vie aq baru baca lagi sudah sekian lama off baca 🤭🤭🤭