"Dia adalah anak perempuan lemah yang akan membawa nasib buruk keluarga ini."
Kalimat dukun perempuan itu tampaknya tertanam dalam ingatan kedua orang tuaku.
Akibat dari pernyataan tak berdasar itu, mereka selalu memandangku sebelah mata. Segala hal yang menjadi hakku mereka alihkan pada kakak laki-lakiku.
Karena hal itu juga, aku begitu membenci Teo, kakak laki-lakiku.
Aku bertekad untuk bisa menjadi sosok yang kuat seperti seorang anak laki-laki. Membuktikan bahwa aku bisa!
Sial! Masalah tidak sampai di situ.
Nasib buruk dan kecelakaan selalu menghantuiku.
Dukun itu berkata, jika aku tidak segera menikah di usia 21 tahun, maka aku akan mati.
Menikah, adalah salah satu cara agar aku bisa lepas dari rentetan kesialan atas waktu kelahiranku yang salah.
"Bagaimana jika kita menikah? Maukah kau menikah denganku?"
Di waktu yang tidak masuk akal, seorang pria asing tiba-tiba saja mengajakku menikah.
Entah harus mengrutuki nasib atau berterima kasih padanya, aku tidak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GoldenSpider, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARE YOU OK?
Sore ini aku duduk seorang diri di teras depan menikmati pemandangan taman sembari mengerjakan beberapa pekerjaan.
Aku meniup kopi panas. Sebelum aku menyeruput, seseorang mencubit pipiku hingga membekas kemerahan.
Aku menoleh agak sebal. "Max!"
"Hehe. Maaf." Katanya sembari menggosok pipiku, merasa bersalah telah mencubitku begitu keras.
"Malam ini kita makan malam di luar ya. Aku minta maaf sudah sibuk sendiri belakangan ini." Sambungnya.
Tawarannya terlihat begitu tulus. Aku rasa suasana hatinya sedang baik hari ini. Ada keceriaan yang aku tangkap dari wajahnya.
Dengan segala pertimbangan itu. Aku mengangguk setuju.
Kami pergi ke sebuah restoran. Aku agak terkejut dia memesan tempat yang menurutku cukup romantis. Beruntung, dia tidak menuntutku untuk mengenakan gaun atau semacamnya.
Saat aku sibuk memesan makanan, aku melihat Max yang baru saja datang dari toilet tanpa sengaja menabrak seseorang.
Pria paruh baya itu tersenyum pada Max. Sayangnya aku tidak suka melihat senyumnya. Entahlah, hanya terasa tidak nyaman dibenakku.
Aku bergegas mendekati Max saat menyadari Ia tampak tertekan. Ia menjatuhkan lututnya di lantai. Sangat disayangkan, orang itu pergi begitu aku mendekat. Ingin sekali aku menegur sosok itu.
"Max, apa kau baik-baik saja?" Aku menepuk bahu Max, sebelum akhirnya ditepis dengan kasar olehnya.
Aku menatapnya tak percaya. Tidak lagi, pikirku. Tidak ingin acara kami kacau.
"Max! Aku tidak tahu apa permasalahanmu. Tapi, haruskah begini caramu memperlakukanku di depan banyak orang?" Aku tersulut, tak terima. Niat baikku justru ditolak mentah-mentah olehnya.
Kini Max mengalihkan perhatian padaku. Aku tak bisa mengartikan tatapannya. Max meraih daguku dengan kasar.
"Jangan ikut campur." Satu kata darinya untuk menutup percakapan kami lalu melenggang pergi meninggalkanku.
Niatku untuk mengejarnya urung saat petugas restoran memintaku untuk menyelesaikan pembayaran sebelum kami meninggalkan tempat.
Sial! Umpatku.
Aku segera membayar semuanya tanpa sempat menikmati apa yang telah aku pesan. Hal terpenting saat ini ada menemukan Max.
Aku mengacak rambutku. Memaki diriku seorang diri atas kesalahanku yang telah kehilangan jejaknya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Selama perjalanan pulang aku masih terus memikirkan Max. Sesekali menatap ke jalan berharap menemukan sosoknya.
Sekelebat memori terputar ulang dalam ingatanku.
"Pria paruh baya itu. Dia orang yang sama seperti yang di Bali?" Gumamku seorang diri.
"Permisi, kita sudah tiba di tujuan." Sopir taksi itu membuyarkan lamunanku. Aku menuruni taksi dengan segala macam skenario dalam kepalaku.
Berjalan dengan cepat ke lantai dua kamar kami, aku mencoba mencari tahu sesuatu di kamar Max. Barangkali aku dapat menemukan petunjuk.
Sayang, aku tidak menemukan apapun. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Nyaris putus asa, hingga sosok di bawah sana mencuri perhatianku.
Aku mendekat ke arah jendela. Memperhatikan sosok bertubuh tinggi berdiri di tikungan gang rumah kami. Suasana sekitar rumah cukup sepi. Kehadirannya seorang diri agaknya membuatku penasaran.
Aku menyipitkan mata, mencoba melihat dengan lebih fokus. Ia meraih seekor kucing yang baru saja melintas di hadapannya untuk kemudian ia gendong. Ia mengelus lembut, memberi rasa nyaman pada kucing yang kini berada dalam dekapannya.
Semua berjalan normal, hingga sesuatu tak terduga terjadi.
Darah segar baru saja mengenai pipinya. Aku membungkam mulutku. Berusaha menahan diri. Sosok itu baru saja menancapkan sebuah pisau pada kucing tak berdosa itu.
Ia mengusap pipinya sebelum akhirnya menoleh ke atas. Tepat ke arah jendela kamarku. Cepat-cepat aku memiringkan tubuhku. Bersembunyi dibalik dinding kamarku. Nafasku mulai tak beraturan, gugup.
Sepertinya ia menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
Perlahan aku kembali mengintip ke arahnya. Berhati-hati dan berharap dia tidak melihatku.
Sosok itu masih di sana. Kini ia berjongkok. Tangannya begitu sibuk. Mataku kembali terbelalak saat sosok itu memotong hewan manis itu menjadi beberapa bagian dan mengulitinya.
Seketika itu aku merasa mual. Pemandangan tak biasa yang aku lihat dengan mata kepalaku ini cukup membuatku pusing.
Bagaimana bisa ada sosok sekejam ini?
Aku harus melaporkannya. Gumamku sembari mengeluarkan ponsel untuk merekamnya.
Kini sosok itu beranjak dari tempat. Pergerakannya membuat wajahnya samar-samar tertangkap mataku.
PLETAK!
Ponsel itu tak sengaja terjun bebas dari telapakku yang mendadak lemas. Untuk kedua kalinya mataku terbelalak. Tubuhku membatu untuk beberapa saat.
Max? Kataku lirih.
Aku bersimpuh, bersandar pada dinding. Lututku seperti tak mampu menopang tubuhku.
Pupil mataku bergetar untuk beberapa saat. Belum dapat mencerna semua ini dengan jelas. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Terjadi kontra dalam benakku.
Satu. Max, dia sedang tidak baik-baik saja. Dia membutuhkan seseorang.
Dua. Apakah aku aman? Haruskah aku kabur menyelamatkan diri darinya?
Aku meraih ponselku yang tergeletak di lantai. Memutar otakku dengan cepat, aku bergegas untuk tidak melupakan hal terpenting. CCTV!
Dengan tangan gemetar, aku melakukan segala cara untuk menghilangkan jejak kamera pengawas dari tempat tinggal kami yang menyorot gang.
Sial! Aku melupakan hal lain.
Aku berlari keluar rumah membawa beberapa alat untuk membersihkan tempat kejadian. Dengan perasaan panik, aku sesegera mungkin menghapus jejak tindakan tak terpuji Max. Sesekali aku mengamati ke sekeliling. Berharap tidak ada seseorang yang melihat.
Merasa semua aman, aku kembali ke rumah. Tak dapat aku pungkiri, terbersit perasaan berdosa dalam benakku.
Berharap keputusanku tidaklah salah lalu menyesalinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengambil keputusan genting tanpa berpikir panjang. Tidak ada waktu bagiku.
Aku berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Aku terhenyak disaat yang bersamaan seseorang menarik pintu rumah. Max beridiri di depan pintu.
"Ma, dari mana?" Tanyanya memandangku heran.
"Aku? Hanya cari angin segar." Aku berusaha menjawab dengan tenang. Menyempatkan untuk meilirik pakaian dan tangan Max, tidak terlihat bercak darah maupun hal-hal mencurigakan di sana.
'Cepat sekali dia di sini.' Pikirku
"Maafkan aku soal kejadian di restoran tadi." Aku tak menjawab. Aku pikir lama-lama aku akan terbiasa.
"Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan makan. Untung saja Ana sudah memasak lebih dulu sebelum kita keluar tadi." Max mempersilahkan aku masuk lalu membawaku ke meja makan.
Aku meneguk sebotol air dingin yang tersaji di atas meja makan. Mencoba menenangkan diri. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Menyandarkan kepalaku pada kursi meja makan kemudian melirik ke sekitar, aku baru menyadari Ana tak terlihat sejak aku pulang.
"Ah. Sudah tidur mungkin." Aku bermonolog dalam hati.
Suasana makan malam saat ini benar-benar tidak pernah aku harapkan. Rasa laparku sirna sejak melihat kejadian itu.
"Kau tidak lapar?" Max menghentikan aktivitasnya. Menyadari belum ada satu suapan-pun yang masuk ke dalam mulutku. Tanganku hanya sibuk memainkan makanan yang tersaji sementara aku tenggelam dalam pemikiranku.
Ingin rasanya aku bertanya. Tapi lagi-lagi aku berpikir ini bukan momen yang tepat.