Malam pertama,malam yang seharusnya menjadi pelabuhan cinta dua insan.Malah berakhir dengan surat perjanjian pra-nikah yang dibuat oleh Kenan Alvaro Syah untuk istri yang baru saja ia nikahi Afiqah Purnama Sari.
Afiqah seorang gadis cantik berjilbab harus dihadapkan dengan suami yang tidak percaya dengan adanya Tuhan.Bahkan hal yang paling buruknya suaminya adalah seorang psik0p4t yang pernah membunuh kekasihnya sendiri.
Lantas bagaimana kah kelanjutan rumah tangga mereka??
Lanjut baca yuk.
Dilema pernikahan
by: evidayanti ali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon evidayanti ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14
💕 Happy reading 💕
POV author
"Jadi kapan kalian nikah?,"tanya Kenan menatapi dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Secepatnya,do'ain aja semuanya berjalan lancar."ucap Alfin sembari meraih tangan Selya.
"Ih...paan sih,belum muhrim."ucap Selya menarik tangannya dengan cepat yang justru membuat Afiqah tertawa.
"Kita punya prinsip nikah dulu baru pacaran."lanjut Selya yang segera diangguki oleh Afiqah.
"Nah tu benar.Tapi ini kalian udah pacaran juga Sel?,"
"Kesalahan teknis."jawab Selya yang lagi-lagi membuat Afiqah tak bisa menahan tawa.
"Tapi aku udah dapat lampu hijau dari mama papa.Kata mereka Alfin cukup baik jadi mantu."
"Alhamdulillah.Berarti harus segera dilaksanakan Sel,gak baik nunda-nunda niat baik."ucap Afiqah mengingatkan.
"Nah,itu masalahnya.Dana belum cukup."ucap Alfin menengahi kedua sahabat itu.
"Dana?,hem...kalau bagi Fiqah ya,gak perlu lah acara mewah-mewah,mahar seadanya aja yang penting bisa akad dulu."ucap Afiqah yang membuat Alfin mengangguk.
"Itu sih harus om Rizwan yang jadi wali gue,nah ini papa gue minta mahar yang mahal.Kan udah beda cerita."ucap Selya nampak kesal.
"Pembahasan udah sampe situ?,"tanya Kenan membuka suara.
"Iya,makanya bingung deh.Eh Fiq kenapa gak Lo coba ceramahi papa?,"ucap Selya sembari mengedip-edipkan matanya.
"Ceramah?,gak ah gak bakal didengar."tolak Afiqah sembari menyedot minumannya.
"Hem...gitu ya,bantuin ngapa,Lo kan anak kesayangan mama gue."
"Anak mama kan,bukan anak papa."ucap Afiqah dengan nada polosnya yang justru lucu bagi Kenan.
"Sama aja Fiqah...papa juga sayang bangat sama kamu,asal Lo tahu nih ya gue yang anak kandung aja gak pernah dibangga-banggain,beda sama Lo yang terus-menerus dibanding banding sama gue."
"Ayah juga sama, katanya Selya lebih penurut daripada Fiqah."rungut Afiqah seketika murung.
"Mulai deh..."ucap Selya sembari memeluk Afiqah.
"Tukaran ayah aja yok."celetuk Selya yang berhasil membuat Afiqah tertawa kecil.
"Kalau kalian tukaran ayah,kan jadi enak saya."lanjut Alfin dan berhasil membuat Afiqah dan Kenan tertawa.
"Om Rizwan itu cuma tegas Fiqah,tapi penyayang bangat kok orangnya."ucap Selya yang diangguki Afiqah.
"Dan untuk itu Mas Kenan,kamu harus baik sama Afiqah.Kasihan tahu Afiqah kan dipaksa nikah sama kamu."
Seketika, Afiqah meraih tangan Selya.Sedangkan Kenan kini menatap Afiqah meminta penjelasan.
"Di paksa?,sama dong Kenan juga kan di paksa nikah sama Fiqah."ucap Alfin seadanya.
"Apa Fiqah punya pacar sebelumnya?,"tanya Kenan.
"Benar bangat, tunangan lebih tepatnya."ucap Selya cepat yang segera dapat tatapan tajam dari Afiqah.
"Terus kenapa kamu gak nikah sama dia?,"tanya Kenan kini menatap Afiqah penuh tanya.
"Karena...em...,"
"Karena mereka LDR an,terus putus setelah empat tahun pacaran."
"Selya."
"Cowoknya gak bertanggung jawab,lupa sama janji,dia janji bakal pulang setelah tiga bulan eh nyatanya tiga tahun di tunggu tak kunjung nongol."
"Meski gitu,kamu gak berhak benci sama dia."
"Hello Fiqah...masih ada otak gak?,itu orang udah nyakitin perasaan kamu,ngancurin impian kamu, permalukan keluarga kamu,apa pantas aku gak benci sama dia."
"Aku gak benci sama dia,kenapa kamu yang benci!."ucap Afiqah meninggikan suaranya.
"Iii kesal gue sama Lo!."ucap Selya kesal sembari berdiri dan menggebrak meja.Hal itu sungguh mengejutkan kedua lelaki itu.
"Iii sebel."ucap Selya sembari menjauhkan pandangannya.
"Gue juga kesal."ucap Afiqah ikut membuang muka.
"Hemk...perasaan tadi kalian adem deh."
"Gak usah ikut campur!."ucap Afiqah dan Selya berbarengan sembari saling melotot yang justru lucu bagi Kenan dan Alfin namun mereka tahan tawanya masing-masing.
"Itu cowok kalau gue ketemu,gue picek picek tahu."kesal Selya masih geram dengan Afiqah.
"Lo gak berhak buat benci sama dia."jawab Afiqah ikut kesal.
"Lo masih cinta sama dia?,"tanya Selya yang membuat Afiqah terdiam.Hal itu pun berhasil membuat Kenan menatapinya.
"Gak,cuman gue gak pendendam kayak Lo."jawab Afiqah sejujurnya.
"Halo... Afiqah Rizwan...hati Lo terlalu baik,makanya disakitin terus sama cowok."ucap Selya masih dengan kekesalannya.Afiqah tak bergeming ia diam seribu bahasa.
"Setiap orang punya alasannya masing-masing kan,termasuk dia.Hum...secara logikanya aku yang ninggalin dia bukan dia yang ninggalin aku."
"Logika darimana Fiqah,yang jelas Lo itu dikhianati."
"Buktinya,aku menikah di depannya kan,apa itu belum cukup untuk membalasnya."ucap Afiqah masih dengan tatapan kosong.
"Dia udah nyesal Sel,aku udah baca semua cerita tentang aku dan dia."
"Dan kamu percaya gitu aja?," tanya Selya yang diangguki oleh Afiqah.
"Hah...,"Selya menghela nafasnya panjang kemudian ia menghampiri Afiqah dan memeluknya.
"Sabar ya."ucap Selya yang membuat Afiqah tersenyum.
"Intinya,aku bahagia kok tanpa dia,pilihan ayah udah benar dengan perjodohan ini."ucap Afiqah kemudian.
Dari sini,Kenan pun tahu yang sebenarnya.Bukan hanya dia yang ditinggalkan tapi juga Afiqah.Bukan hanya dia yang terpaksa tapi juga Afiqah.Dan bukan hanya dia yang merasa tersiksa dengan pernikahan mereka tapi Afiqah juga sebab di hati keduanya masih ada cinta untuk yang lain.
**
"Hem...aku gak nyangka."ucap Kenan saat mereka diperjalanan pulang.
"Apa mas?,"tanya Afiqah sembari menatap Kenan yang masih pokus menyetir.
"Gak nyangka aja,kamu punya mantan."
"Hem,itu sebelum aku hijrah.Eh tapi dia yang meminta ku berhijab.Katanya biar bisa jadi istri sholehah."
"Jadi,dia masih spesial buat kamu?,"tanya Kenan yang segera membuat Afiqah tertawa.
"Enggaklah mas, sekarang aku cuma nganggap dia sebagai kakak aja,ya biar gimana pun dia banyak ngajarin aku untuk kebaikan."ucap Afiqah sambil tersenyum.
"Em... ikhlas bangat ya?,"tanya Kenan yang segera diangguki Afiqah.
"Kedepannya,aku hanya ingin mengisi hariku dengan kebahagiaan bersama kamu."ucap Afiqah sembari tersenyum dan meraih tangan Kenan.
"Insyaallah ya mas,kita sama-sama berusaha untuk saling mencintai."ucap Afiqah yang hanya disenyumin oleh Kenan.
"Habis ini kita kemana?,"tanya Kenan.
"Aku ingin ketemu Tiara bentar."
Mereka pun Akhirnya segera pergi ke restoran yang mana disana sudah ada Tiara yang menunggu.
"Duh...panas bangat,apa mau hujan ya?,"tanya Tiara sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Sangking kepanasannya,Tiara pun menguncir rambutnya tinggi.Sembari menunggu Afiqah menulis bahan-bahan yang kurang untuk ia belanjakan besok,Tiara menggoyang goyangkan kakinya seperti bos.
Tak sengaja,Kenan yang berada disampingnya melihat tanda lahir yang ada di telapak kaki kanannya.
"Mayra."bathin Kenan.
"Em,maaf...maaf banget.Boleh gak aku lihat telapak kaki kanan kamu?,"tanya Kenan yang sesaat membuat Afiqah maupun Tiara heran bin bingung.
"Tapi buat apa ya?," tanya Tiara heran.
"Bentar aja."ucap Kenan.
Akhirnya,meski ragu.Tiara akhirnya mau memperlihatkan telapak kaki kanannya pada Kenan.
"Mayra...,"lirih Kenan pelan tapi masih terdengar samar oleh Afiqah.
"Nama kamu Mutiara Almayra ya?,"tebak Kenan tapi hal itu justru diangguki oleh Tiara.
"Selain di kaki,kamu juga punya tanda lahir di pinggul kan?,"tanya Kenan yang justru membuat Afiqah dan Tiara saling menatap tak percaya.
"Lo pernah ngintip gue mandi ya?,"kesal Tiara sembari memukul lengan Kenan.
"Enak aja,gak,gue cuman nebak aja."
"Tapi kok bisa pas gitu,oh...Lo dukun ya?,"kesal Tiara lagi merungut.
"Enggak!,"ucap Kenan kesal.
"Nama papa kamu Arham Adryan kan?,"lanjut Kenan.
"Iya,kok kamu bisa tahu?," heran Tiara.
"Iya mas,kok mas bisa tahu tentang Tiara?."tanya Afiqah juga heran.
"Anak broken home,dan tumbuh bersama papa dan mama tiri serta kakak angkat."ucap Kenan yang semakin membuat Tiara dan Afiqah bingung bin heran.
"Serius jawab,Lo tahu diri gue dari mana?,"tanya Tiara tapi justru Kenan malah memeluknya erat.
"Aku kangen sama kamu Ra."lirih Kenan dalam dekapan itu.
"Eh,eh...lepasin gak, sembarangan pelak peluk."kesal Tiara sembari mencubit lengan Kenan yang segera membuat Kenan melepaskan pelukannya.
"Ra,kamu masih hidup?,"tanya Kenan lirih sembari mengelus pipi Tiara dan pada saat yang sama air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.
"Fiq,laki Lo kenapa dah?,"heran Tiara sembari mengawaskan tangan Kenan darinya.
"Mayra,masa kamu lupa sama aku,aku Kenan kakak angkat kamu.Aku kangen sama kamu."ucap Kenan lirih sembari menggenggam tangan Tiara.
"Tapi gue Tiara bukan Mayra.Lo salah orang Kenan..."ucap Tiara sembari melepaskan tangannya dari genggaman Kenan.
"Iya mas,dia Tiara bukan Mayra."ucap Afiqah sembari memapah Kenan berdiri.
"Mending Lo bawa pulang deh Fiq,lama lama takut gue."ucap Tiara nampak merinding.
Akhirnya,Afiqah pun membawa Kenan yang masih dilanda kesedihan itu pulang bersamanya.
**
"Fiqah,aku gak bisa tidur."ucap Kenan saat ia baru saja menuruni anak tangga dan menemui Afiqah yang masih berkutat dengan laptopnya di ruang tengah.
"Terus mas maunya gimana?,"tanya Afiqah menghentikan acara menulisnya.
"Aku tidur sama kamu ya."ucap Kenan sembari duduk di shofa lebih tepatnya di depan Afiqah.
"Ya udah,tapi Fiqah masih nulis.Bentar lagi ya mas."ucap Afiqah kembali pokus pada tulisannya.Ia kembali mengetik naskahnya.
"Hah...Fiqah,aku ngantuk banget loh...,"ucap Kenan yang terus-menerus menguap.
"Ya udah,ya udah,mas duluan ke kamar,bentar lagi aku nyusul."jawab Afiqah yang segera diangguki oleh Sedang Kenan berlalu, Afiqah pun membereskan laptop dan buku-bukunya.Kemudian ia pun menyusul Kenan ke kamarnya.
"Loh mas, katanya ngantuk tapi kok main hape?,"tanya Afiqah begitu ia membuka pintu kamar dan mendapati Kenan sedang berkutat dengan gamenya.
"Eh iya,sambil nunggu kamu datang."jawab Kenan segera menyimpan ponselnya di atas nakas.
"Sini,aku mau ngomong sesuatu sama kamu."lanjut Kenan.Meski bingung Afiqah segera menghampiri suaminya.
Afiqah pun duduk disamping Kenan.
"Kenapa mas?,"tanya Afiqah.
Bukannya langsung menjawab,Kenan justru langsung memeluknya erat yang membuat Afiqah bingung.
"Tugas istri."bisik Kenan.
"Hem,jadi kamu cuma modusin aku tadi."kesal Afiqah namun hanya dibalas senyuman oleh Kenan.
"Ayolah Fiqah...,"lanjutnya setengah berbisik.
"Ya udah,tapi sebelumnya aku mau tanya sesuatu sama mas."
"Apa?,"singkat Kenan yang masih memeluk Afiqah dengan manjanya.
"Apa ciri-ciri Mayra juga seperti Tiara?,"
"Persis banget,dan aku yakin bangat Tiara itu Mayra."ucap Kenan kembali bersemangat setelah melepaskan pelukannya.Seakan lupa pada hasratnya yang belum tuntas.
"Hanya wajah mereka yang beda,dan mungkin dia melakukan oplas karena luka bakar diwajahnya."ucap Kenan melanjutkan ceritanya.
"Tapi kenapa mas begitu yakin?,Tiara kan gak kenal sama mas."
"Hatiku gak mungkin salah menilai Fiq.Hati ini yang berbicara dia itu Mayra,Mayra ku."ucap Kenan begitu percaya diri.
"Ya udah kalau gitu,Fiqah bantuin mas buat buktiinnya kalau dia bukan Mayra."ucap Afiqah yang justru membuat Kenan menatapinya kesal.
Afiqah tak menghiraukannya lagi dan membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya.
"Tidur mas,besok mas masih harus ke kantor bukan?,"ucap Afiqah sembari tersenyum.
"Aku gak jadi tidur sama kamu."kesal Kenan sembari berdiri dari tempat tidur.Afiqah pun dengan cepat segera menghalaunya.
"Is...gitu aja ngambek sih mas.Ya udah sih,Fiqah bantuin mas buat cari tahu kebenarannya ya."ucap Afiqah sembari tersenyum dan bergelayut manja di lengan Kenan.
"Udahlah Fiqah,gak mempan.Lepas,aku mau tidur di kamar atas."ucap Kenan sembari melepaskan tangan Afiqah darinya.
"Ya udah,selamat tidur ya mas."ucap Afiqah membiarkan Kenan melangkah pergi.
"Iii...kesal."ucap Kenan berbalik arah dan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya.Hal itu justru membuat Afiqah tertawa.
"Gak ada yang lucu Fiqah."kesal Kenan.
Afiqah pun segera menghampirinya dan menelungkupkan dirinya disamping Kenan.Ia pun mengelus pipi Kenan dengan lembut.
"Gak usah mancing-mancing."ucap Kenan sembari memejamkan matanya.
Afiqah yang paham sifat Kenan tak memperdulikan hal itu.Ia hanya pokus pada permintaan Kenan yang belum ia selesaikan.Ia pun melepas kancing kemeja sang suami satu persatu hingga nampaklah dada bidang itu.Ia pun membaringkan kepalanya di dada itu.
"Kamu ngapain?,"tanya Kenan sembari mengelus pucuk kepala Afiqah.
"Cek detak jantung."ucap Afiqah dan berhasil membuat mereka berdua tergelak.
Bersambung
Tinggalkan jejak kalian ya