Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Di Pasir Waktu

Jejak Di Pasir Waktu

Status: tamat
Genre:Kontras Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: A. Yan U.

Naya, seorang remaja penuh semangat dengan bakat bermain drum yang luar biasa, harus menghadapi kenyataan pahit. Diagnosis kanker pankreas mengubah banyak hal di dalam hidupnya.
Dalam kesendiriannya, Naya merenung tentang kehidupan dan arti persahabatan. Dia menyadari bahwa penyakitnya tidak hanya merenggut fisiknya, tetapi juga menguji kekuatan batinnya. Namun, Naya tidak menyerah. Dia memilih untuk fokus pada hal-hal positif dalam sisa hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. Yan U., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan Naya

Langit senja semakin meredup, menyisakan semburat oranye yang berpendar di cakrawala. Naya duduk di tepi bangku taman yang terbuat dari kayu, memeluk angin yang membelai wajahnya dengan lembut. Bintang, yang duduk di sampingnya, tak mengalihkan pandangannya dari adiknya.

"Apa kita bisa selamanya seperti ini?" suara Naya terdengar lirih, nyaris terbawa angin.

Bintang menoleh, menatap wajah adiknya yang semakin tirus. Ia paham betul maksud pertanyaan itu, tapi ia tak berani memberikan janji yang belum tentu bisa ia tepati.

"Meski aku tidak bisa janji, tapi aku akan berusaha memberikan semua yang terbaik untukmu, Nay," ucapnya, suaranya penuh ketulusan.

Naya akhirnya menoleh, menatap kakaknya dengan intens sebelum tersenyum samar. Namun, senyum itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya.

"Jangan hanya memikirkan diriku, Kak. Pikirkan juga dirimu, kebahagiaanmu, dan yang paling penting, masa depanmu."

Bintang tercekat. Dadanya terasa sesak. Ia tahu Naya ingin yang terbaik untuknya, tapi bagaimana mungkin ia memikirkan masa depannya sendiri ketika keadaan Naya semakin memburuk?

"Jika suatu saat aku tidak bisa bertahan lagi, kalian harus tetap hidup dengan baik, Kak. Jangan biarkan kepergianku menghalangi kebahagiaan kalian."

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. Tangannya sigap menghapusnya, tak ingin terlihat lemah di hadapan Bintang.

"Jangan katakan itu, Nay." Bintang menarik adiknya ke dalam pelukan. "Kita akan bertahan bersama-sama. Kita tidak boleh lagi berpisah."

Naya membalas pelukan itu, meski tangannya bergetar. Ia ingin percaya pada kata-kata kakaknya, tapi tubuhnya semakin lemah seiring berjalannya waktu.

"Janji, Kak. Jika aku sudah tidak ada, wujudkan impian Ayah. Jangan berlama-lama di kota ini. Kejarlah semua yang terbaik dalam hidup."

Bintang mengeratkan pelukannya. Ia tidak sanggup mengucapkan janji itu. Bagaimana bisa ia pergi meninggalkan satu-satunya keluarga yang tersisa?

Hening menyelimuti mereka. Di lubuk hatinya, Bintang tahu—waktu yang mereka miliki bersama semakin menipis.

STUDIO BAND STARRY

Studio tempat Band Starry berlatih biasanya dipenuhi suara dentuman musik, namun hari ini suasana begitu sepi. Hanya ada Jimi dan Liam yang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

Pintu tiba-tiba terbuka tanpa diketuk lebih dulu.

"Sorry, gue telat! Gue harus antar Sintia dulu sebelum ke sini," ungkap Aiden sambil melangkah masuk. Namun, dia segera menyadari tatapan aneh dari kedua temannya.

"Kenapa?" tanyanya heran.

Liam menghela napas sebelum menjawab. "Lo belum baca grup, ya? Kita nggak jadi latihan."

Aiden mengernyitkan dahi. "Kenapa?"

"Naya nggak bisa datang hari ini," Jimi menjawab datar.

Aiden terdiam, lalu berjalan malas menuju sofa yang masih kosong. Ia menjatuhkan dirinya di sana, kepalanya menengadah, menatap langit-langit studio.

"Mengapa semuanya terasa asing? Apa hanya aku yang terlalu lamban menyadari perubahan ini?" batinnya.

Suasana di antara mereka terasa begitu berbeda dibandingkan dulu. Tidak ada lagi tawa lepas, candaan usil, atau obrolan panjang tentang mimpi-mimpi mereka. Semua terasa canggung, seolah ada batas tak terlihat yang memisahkan mereka.

"Naya udah berubah, ya?" gumam Aiden akhirnya.

Liam mendengus. "Tahu tuh. Sejak dekat sama Kak Bintang, dia jadi nggak seru lagi."

Jimi masih diam, tak ingin ikut menghakimi Naya. Dia tahu betapa berat beban yang gadis itu tanggung.

Aiden terkekeh sinis. "Mereka kayaknya udah dekat banget, bahkan sampai tinggal bareng."

Nada suaranya penuh ketidaksukaan. Sudah beberapa kali ia diam-diam mengikuti Naya sepulang sekolah, dan kenyataan yang ia dapatkan membuatnya semakin kesal.

"Loe kayak nggak tahu aja, Den," kata Liam santai. "Dia kan udah nggak seperti dulu. Pasti ada sesuatu."

Jimi menoleh ke arah Aiden, memperhatikan ekspresinya. "Lo kenapa sih kayaknya marah banget?"

Aiden terdiam. Ia sendiri tidak tahu pasti apa yang mengganggunya.

Apa karena Naya berubah?

Atau karena ia tak lagi menjadi bagian dari dunianya?

Liam yang menyadari ketegangan semakin memberatkan suasana di antara mereka segera berinisiatif menghentikan pembicaraan tentang Naya.

"Udah, jangan dibahas lagi," ujarnya seraya meletakkan ponselnya ke meja. "Lebih baik kita balik aja dulu, atau kita pergi nongkrong di kafe."

Namun, usulannya tidak langsung ditanggapi oleh kedua temannya. Jimi hanya mengangkat bahu, sementara Aiden terdiam, pikirannya berkecamuk. Ia tahu ia telah bersikap kekanak-kanakan selama ini, merasa marah karena Naya berubah tanpa pernah benar-benar mencoba memahami alasannya.

1
Sarah
Karyanya bagus kok kak, temannya lumayan karena kalau kucari Chiklit yang temanya berjuang melawan penyakit ini gak terlalu banyak yang banyak malah balas dendam lagi, anak yang terabaikan lagi.

kalau aku sih ngerasa relate aja ama Naya karena lagi sakit langka juga sebenarnya cuma gak separah itu kok, banyak orang yang gak sadar kalau kesehatan itu mahal, banyak orang yang gak sadar kalo waktu itu berharga.

kalau yang ceritanya tentang seseorang yang terabaikan atau dikhianati mereka masih bisa bangkit lagi dan nempuh hidup yang lebih baik, masih bisa bertemu banyak orang, kalau yang sakit kan hanya bisa mengandalkan doa, dan udah gak bisa aktivitas normal lagi....

Cuma palingan untuk endingnya terlalu sad aja takutnya bikin beberapa orang yang bernasib sama dengan naya jadi berputus asa, apalagi si maya juga kayak mau aja dijahatin terus.

tapi aku ngerti kok Thor ini emang temannya angst dan sad ending, dan nilai Plusnya di sini membuat kita belajar menghargai waktu dan masa sehat kita, terus emosinya juga dapet banget di sini aku sampe nangis bacanya loh.

yang jelas kalau secara ending emang sedih dan yaa gitu aja tapi novel ini menang banget secara emosional mantep thorr!. nice work😊
Mutiara Nisak
lama sekali semedi nya....
Mutiara Nisak
aq jd penasaran sm reaksinya aiden saat tau penyebab stik yg d pkk naya putus,semoga organ naya yg d sumbangkan k 3 orang bs lbh manfaat k dpn nya.....
Mutiara Nisak
alhamdulillah.....makasih banyak udah d kasih bonus double ceritanya,semoga makin lancar rizqi nya dan up nya double trs.....
Mutiara Nisak
si naya beneran pergi y mak.....entar jd krg seru dong klo pemeran utamanya pergi duluan.....kira2 ada misteri apa d balik pergi nya si naya,apa dia akan mengalami time travel waktu...,
Mutiara Nisak
baru buka udah d ajak termehek2.....jgn d suruh pergi dulu lah mak si naya nya,biarkan dia melihat kakak nya punya pasangan dulu dan semoga ada keajaiban dr tangan mu y mak buat si naya ......kasian kakak nya klo hidup sendirian.....
Sarah
Bagus, semangat! ❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!