Indonesia
NovelToon NovelToon
Fate Between

Fate Between

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Light Novel
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ally Jane

Setelah melihat kematian kakaknya, Light, di depan mata, Thunder berubah menjadi malaikat kematian. Bertahun-tahun ia tenggelam dalam nerakanya. Sampai ia melihat gadis itu, adik dari salah satu korbannya.

Setelahnya, Thunder pun menghilang dari dunia hitam. Di saat Thunder tenggelam dalam kegelapan terdalam, gadis itu menyelamatkannya. Sosok itulah yang membuat Thunder tak kehilangan dirinya sebagai manusia.

Namun, saat Thunder kembali, gadis itu juga sedang mencarinya. Untuk membunuhnya.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ally Jane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13-2

“Tapi yang jelas, aku tidak ingin kau sampai melakukan hal seperti ini lagi. Jangan melukai dirimu sendiri, menempatkan dirimu dalam bahaya, karenaku. Aku juga tidak suka jika ada orang lain yang terluka karenaku. Karena itu, jika kau memang menyukaiku, jangan lakukan apa pun yang membahayakan nyawamu karenaku,” lanjut gadis itu.

Well, Thunder tak bisa berjanji untuk itu. Ia membuat pengakuan ini hanya untuk memberi alasan pada Joanna, agar gadis itu tidak mencurigainya. Alasan yang sama yang diberikannya pada George. Seperti dugaannya, gadis ini terlalu baik untuk tega mengusirnya setelah ia tahu perasaan Thunder. Atau lebih tepatnya, alasan yang diberikan Thunder tadi. Setidaknya, dengan begini, ia bisa berada di samping gadis itu dan menjaganya. Pada akhirnya, dengan ini Thunder bisa meraih tujuan akhir rencananya, untuk menyerang Stanton dari dalam.

“Tapi …” Joanna berdehem. “Sejak kapan kau menyukaiku?” tanya gadis itu seraya mengangkat dagunya.

Thunder harus menahan senyumnya kini. “Sejak pertama kali aku melihatmu.”

“Ah.” Hanya itu yang dikatakan Joanna.

Selama beberapa saat, Thunder bisa merasakan kecanggungan Joanna, sampai gadis itu tiba-tiba merubah topik, “Kau sudah bertemu Karen?”

Thunder mengangguk. Bohong.

“Kau tahu apa yang dia katakan tentangmu?” tanya Joanna. Dengan ekspresi polos, Thunder menggeleng. “Dia bilang kau …” Joanna tiba-tiba menghentikan kalimatnya, lalu berdehem. “Dia bilang, wajahmu baik-baik saja dan kau tidak terluka. Bagaimana kau melakukannya?” tuntutnya.

“Kurasa dia salah mengenaliku dengan seorang penghuni apartemen lain yang juga melihat keributan itu setelah para polisi datang,” jelas Thunder. Bohong.

Namun mendengar itu, entah kenapa Joanna justru tersenyum, membuat Thunder mengerutkan kening bingung.

“Apa … ada yang salah?” pancing Thunder.

“Tidak ada. Hanya saja, dia mendeskripsikanmu tam …” Joanna menghentikan kalimatnya, lalu menatap Thunder galak. “Itu bukan urusanmu dan jangan bertanya lagi. Jika dia memang salah orang, itu berarti aku yang benar. Dia yang mungkin tadi bermimpi. Aku akan memberitahunya sendiri nanti dan … ah, tidak, kurasa dia akan tahu sendiri jika dia menemuimu besok atau entah kapan. Dia bertekad untuk menemuimu dan menguliahimu tentang … ehm, perasaanmu padaku.”

“Dia … tahu?” Thunder mengerutkan kening bingung.

Joanna mengerjapkan mata, lalu memalingkan wajahnya yang memerah. “Aku hanya mengungkapkan dugaanku padanya. Tapi, toh ternyata dugaanku itu benar, kan? Jadi, yah, anggap saja, aku sudah memberitahukan tentang itu padanya juga.”

Thunder berbalik dengan cepat untuk menyembunyikan senyum. Joanna benar-benar polos. Gadis itu lebih mudah percaya dibanding yang Thunder pikir. Namun, saat ia mengingat wajah memerah Joanna tadi, gadisnya itu benar-benar tampak polos. Tunggu, gadisnya? Astaga, Thunder pasti sudah gila.

“Zen?” Suara Joanna membuat Thunder kembali berbalik dengan cepat.

“Kau marah?” tanya gadis itu, dengan ekspresi polos bersalahnya.

Thunder menggeleng. Tidak pada gadis itu.

“Kau tampak marah,” kata gadis itu lagi.

“Kenapa aku harus marah?” Thunder berusaha mengontrol emosi yang mendadak mengacaukan akal sehatnya.

“Karena aku memberitahukan pada Karen tentang … perasaanmu padaku?” sebut gadis itu hati-hati.

Thunder tersenyum, tapi ia merasakan senyumnya begitu kaku. “Tidak. Kau benar. Aku memang menyukaimu.” Ketika Thunder mengatakan itu, ia merasakan jantungnya berdegup kacau. Tidak. Apa-apaan ini?

“Zen,” panggil Joanna hati-hati. “Kau baik-baik saja?” Suaranya terdengar cemas.

Thunder berbalik, bergegas duduk di sofa dan beralasan, “Aku sedikit pusing tadi. Kurasa aku harus tidur sebentar.”

“Ah, benar. Maaf, kau juga pasti masih butuh istirahat. Maafkan aku, astaga, aku benar-benar bodoh. Istirahatlah. Kita bisa melanjutkan pembicaraan kita ini besok,” ucap Joanna. “Ah, tidak. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” ralatnya cepat. “Maaf, sepertinya aku juga butuh istirahat. Kalau begitu, selamat malam.”

Setelah mengatakan itu, gadis itu membalik tubuh hingga memunggungi Thunder. Melihat itu, amarah Thunder sedikit berkurang, berganti senyum kecil. Ia tidak pernah tahu, Joanna bisa bertingkah selucu ini. Ah, ini bukan pertama kalinya. Thunder lagi-lagi tersenyum mengingat ketika gadis itu ikut masuk ke kamar ganti dengannya saat ia meminta Thunder mencoba baju yang ia belikan.

Sepertinya Thunder mengerti, kenapa George begitu mencemaskan Joanna. Juga Karen, yang sepertinya tidak setuju jika gadis itu dekat dengan Zen. Joanna memang terlalu baik untuk Thunder. Jauh terlalu baik.

Setelah membunuh senyumnya dengan pikiran muram itu, Thunder memejamkan mata, berusaha untuk tidur, meski satu-satunya hal yang memenuhi kepalanya adalah Joanna. Ia pasti sudah gila.

***

Ketika Joanna bangun, didapatinya Zen sudah duduk di samping ranjangnya. Hal pertama yang muncul di pikirannya adalah,

“Kau bermimpi buruk lagi?”

Zen tersenyum dan menggeleng. “Kau sendiri?” ia balik bertanya.

“Aku … tidak bermimpi buruk …” Seiring Joanna mengatakan itu, ia tersadar, ia tidak bermimpi buruk. “Bagaimana bisa …?”

Joanna menatap Zen, lalu tanpa sadar ia bertanya, “Ini bukan karena ada kau, kan?”

Zen mengerutkan kening bingung. “Apa … maksudmu?” tanyanya.

Joanna seketika tersadar. Ia menggeleng kasar. “Tidak, lupakan saja. Maaf, aku melantur. Aku pasti tidak tahu apa yang kukatakan,” cerocosnya kacau.

Zen tersenyum tipis dan mengangguk. “Kau mau minum? Makan?” tawarnya.

Joanna menggeleng. “Jam berapa ini?”

“Jam empat pagi,” jawab Zen, seketika membuat Joanna melotot ke arahnya.

“Jangan bilang kau tidak tidur,” gadis itu berkata.

Zen tersenyum. “Tidur. Tapi, aku bangun lebih awal dan menungguimu, khawatir kau bermimpi buruk.”

Joanna tercekat mendengar penjelasan Zen. Pria ini … ia benar-benar menyukai Joanna, hingga sejauh itu?

“Lenganmu … tidak sakit?” Joanna bertanya seraya menyentuh lengan Zen lembut. Namun, Joanna dibuat terkejut ketika dengan cepat, seolah tersengat listrik, Zen menarik tangannya. “Zen, apa …”

“Jika kau tidak menyukaiku, jangan melakukan apa pun agar aku bisa segera melupakan perasaanku padamu,” pria itu berkata, membuat Joanna menahan napas.

Ah, semalam ia sudah berjanji untuk itu juga.

“Dan jangan mencemaskanku ataupun mengkhawatirkanku. Aku akan belajar sebanyak mungkin dari George agar kau tidak perlu lagi mengkhawatirkanku,” Zen melanjutkan.

Ketika akhirnya Joanna sanggup berbicara, hanya satu kata yang berhasil lolos dari bibirnya, “Ah …”

“Sebentar lagi George akan kemari. Aku akan pulang dulu,” kata pria itu seraya berdiri.

Ketika tangan Joanna reflek terulur untuk menahannya, Joanna dengan cepat menarik tangannya lagi. Tidak melakukan apa pun, ia mengingatkan dirinya. Namun, ketika Zen sudah berada di depan pintu, Joanna tak dapat menahan diri dan bertanya,

“Kau akan pulang naik apa? Kau tahu jalannya?”

Zen berhenti di depan pintu, tapi tidak berbalik. Ia menjawab, “Aku akan naik taksi. George sudah memberiku alamat rumah dan alamat kantormu, kalau-kalau aku tersesat.”

“Ah … baiklah,” ucap Joanna lemah. “Hati-hati,” pesannya.

Joanna melihat Zen mengangguk kecil, sebelum meninggalkan kamar rawat Joanna. Sepeninggal Zen, Joanna hanya bisa mendesah berat. Baiklah, ia tidak akan melakukan apa pun pada Zen. Namun, kenapa ia tidak boleh mencemaskan pria itu? Bahkan mencemaskan Zen adalah hal pertama yang dilakukan Joanna ketika membuka mata semalam.

***

 

 

1
Alyra Una
typo nerasa
Neynakha Afiya
Makasih kesayangan update nya
Neynakha Afiya
Buat Joana, apa sih yang gak?
Neynakha Afiya
Ngakak cuyy...
Alasan perceraian adalah kondisi mobil yang berantakan.
myavatar
Kumenangiiiissss..
Neynakha Afiya
Mengandung irisan bawang
@Biru791
lah joana malah ninggalin thundur
@Biru791
uh joana bnr tapi juga egois
Neynakha Afiya
Kalau aku jadi Thunder, akupun akan bingung. Tapi satu hal yang perlu diingat, rasa cinta bisa mengalahkan semuanya
Alyra Una
ada typo terbebelalak
Neynakha Afiya
Ada Hans
myavatar
Good
Neynakha Afiya
Love you thor... Makasih update nya. Titip salam untuk Thunder
Alyra Una
typo utukmu
Neynakha Afiya
Tahun baru double up ya thor. Heheheh
Neynakha Afiya
Akhirnyaaaaaaaaa ketemu Thunder
@Biru791
kok gak up up lagi thour
Neynakha Afiya
Hadeuh ini calon mantu masa manggil nama sama calon mertua.
Neynakha Afiya
Kenapa part ini pendek ya? Apa cuma perasaan aku aja? Mana Hans? Tanggungjawab Hans ini. Wkwkwkwk
Alyra Una
di tiga paragraf terbawah ada kalimat yg kurang kata 'ini'
harusnya 'seperti ini'
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!