Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 014: Kebangkitan Sang Ratu
Seraphina tersenyum tenang, lalu seketika mengerahkan seluruh tenaga batinnya memancarkan gelombang kekuatan yang menyapu lurus ke arah rantai sihir yang melilit tubuh Alaric. Tak butuh waktu lama, rantai besi hitam itu bergetar hebat lalu pecah berantakan seketika.
Kaelan yang sudah bersiap langsung melesat maju, menendang keras tubuh Gorah dan Drakar hingga terpental menjauh. Sementara Boras dengan sigap berlari mendekat dan menuntun Alaric berdiri tegak kembali di samping putrinya.
"Ayah, tidak apa-apa kan?" tanya Seraphina menatap lekat wajah ayahnya dengan penuh kekhawatiran.
Alaric tersenyum lembut sambil menepuk pelan punggung tangan putrinya. "Ayah baik-baik saja, Nak. Jangan khawatirkan Ayah."
Seraphina pun berbalik menatap tajam ke arah Elara. "Sekarang giliranmu, Elara. Kau berani menebar kekacauan di Klan De Luna, maka kau harus siap menerima akibatnya."
Elara menyadari posisinya mulai terdesak. Ia segera merapalkan mantra-mantra gelap, memanggil ribuan burung gagak hitam yang berterbangan menggelapkan langit, siap menyerang siapa saja yang menghalangi jalannya.
Seraphina tanpa ragu melepas gelang penyembunyi kekuatannya. Seketika wujud Srigala Merah Legenda muncul gagah di sampingnya, menangkis dan menyapu bersih setiap serangan burung gagak hitam satu per satu hingga lenyap tak berbekas. Wajah Elara memerah menahan amarah dan rasa tak berdaya.
"Seraphina! Hari ini aku memang belum mampu mengalahkanmu. Namun ingatlah, suatu saat nanti aku pasti kembali dan akan menghabisimu!" Elara tertawa sinis lalu seketika menghilang bersama kepulan asap hitam yang pekat.
Hening sejenak, hingga sosok Nazar muncul perlahan dari balik bayangan, didampingi Lira yang tampak cemas namun lega melihat putrinya selamat. "Apakah semuanya berjalan baik-baik saja, Nak?" tanya Nazar lembut.
"Syukurlah, semuanya sudah aman. Tapi bagaimana anda dan Ibu bisa datang ke sini?" tanya Seraphina.
"Aku datang membawa kabar baik. Aku mampu membangkitkan kembali kekuatan dan wujud srigala Ratu Lira," ucap Nazar penuh keyakinan.
"Benarkah itu?" Seraphina bersorak bahagia.
"Benar sekali. Malam ini adalah waktu yang paling tepat untuk melakukannya, di bawah sinar Dewi Bulan. Terlebih lagi nanti malam akan terjadi gerhana bulan merah, saat kekuatan sihir mencapai puncaknya," jelas Nazar.
Malam pun tiba. Di halaman luas Kerajaan Bulan Perak, seluruh kaum srigala berkumpul dengan penuh harap. Di tengah lingkaran cahaya bulan, Lira berdiri tegak bersiap menerima kembali kekuatan yang dulu dirampas darinya.
"Yang Mulia, apakah sudah siap?" tanya Nazar pelan.
"Aku siap," jawab Lira mantap.
Seraphina, Alaric, Kaelan, Boras, dan seluruh warga kerajaan menatap dengan penuh harap. Nazar pun mulai merapal doa-doa kuno, memanggil kembali wujud Srigala Putih yang dulu menjadi kebanggaan Kerajaan Bulan Perak.
Perlahan aura kekuatan menyelimuti tubuh Lira. Namun seiring berjalannya waktu, rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ia tak kuasa menahan teriakan panjang. Cahaya putih menyilaukan memancar, dan di hadapan semua orang, Lira berubah wujud menjadi Srigala Putih yang gagah, dengan mahkota bercahaya indah melingkar di atas kepalanya.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Ratu!" seru seluruh kaum srigala serentak sambil menunduk hormat.
Lira kembali berubah wujud menjadi manusia. Wajahnya tampak kembali muda, bercahaya dan memancarkan wibawa seorang Ratu yang sesungguhnya. "Terima kasih, Nazar," ucapnya tulus.
"Tugasku telah selesai. Izinkan aku pamit undur diri, Yang Mulia," ucap Nazar sambil melangkah mundur, lalu perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.
Lira menatap kedua telapak tangannya yang bercahaya lembut. "Akhirnya... aku kembali memiliki kekuatan untuk melindungi rakyatku sendiri."
Seraphina segera memeluk ibunya erat dengan penuh kasih sayang. "Iya, Ibu... Ibu kembali menjadi pelindung kami."
Seraphina lalu menatap wajah ibunya dengan cemas. "Ibu... bisakah Ibu mencoba menyembuhkan luka yang diderita Ayah? Akibat ikatan sihir hitam Elara, tenaga dalam tubuhnya terus menyusut." Seraphina tahu betul, kekuatan penyembuhan Lira adalah yang terbaik, bahkan mampu menyembuhkan penyakit yang tak tertangani tabib istana sekalipun.
Lira menatap Alaric dengan senyum hangat. "Tentu saja akan Ibu coba. Sudah sangat lama sekali Ibu tak menggunakan kemampuan ini untuk menyembuhkan orang lain."
Alaric tersenyum tulus. "Tak apa-apa, Lira. Jadikan saja aku orang pertama yang menjadi percobaanmu. Aku percaya padamu."