Tinggal dengan orang asing yang tidak diketahui identitasnya membuat gadis cantik dan mandiri bernama Kasih Aprilia mengenal cinta. Satu tahun silam, Ayahnya menemukan seorang pria tabrak lari terkapar di tepi jalan dengan luka parah di sekujur tubuhnya di tengah malam. Akibat dari kecelakaan tidak jelas itu membuat pria tampan itu mengalami amnesia, hingga berbulan-bulan di rawat di rumah sederhana itu.
Kesulitan ekonomi keluarga dan lilitan hutang, memutuskan Kasih dan kekasihnya nekat merantau ke Ibu kota. Kebetulan di sana ada sahabatnya yang bekerja sebagai Office Girls di perusahaan besar. Dari sanalah identitas pria itu terkuak.
"Aku yang mengalah karena pada dasarnya aku tidak mencintaimu El!" Kasih Aprilia
"Siapa yang harus aku pilih? Kalian berdua adalah wanita yang menempati hatiku. Jujur aku tidak bisa memilih!" Raja Baba Bahtiar
Siapakah yang akan menjadi pilihan sang amnesia? Ikuti kisahnya di 2 hati 1 cinta sang CEO.
Sekuel dari Perjanjian Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15. Kekasihku
Kalimat yang dilayangkan oleh Papi Balin membuat Raja membeku. Kaget, tak menyangka tentu saja meliputi dirinya saat ini. Bagaimana bisa lelaki paruh baya ini menyematkan nama kekasihnya, ya Raja masih menganggap Kasih adalah kekasihnya karena sampai saat ini ia belum menyatakan putus dari Kasih.
"Siapa wanita yang bernama Kasih?" sekali lagi lelaki itu mengulangi pertanyaan yang sama.
"Sayang, tenanglah. Beri waktu untuk putra kita menjelaskan," ucap Mami Gia seraya mengusap punggung tangan suaminya. Wanita cantik itu tidak ingin ada perdebatan atau situasi memanas, karena itu dapat menimbulkan masalah ke depannya.
Raja masih terdiam. Hal itu membuat Papi Balin menghela nafas. Walau mereka sudah tahu siapa sosok yang sedang mereka pertanyakan, namun mereka ingin mendengar secara langsung dari putranya.
"Boy, apa kau tidak mendengar apa yang Papi tanyakan sejak tadi?" kali ini suara lelaki itu merendah, bahkan seperti sedang memohon.
Raja tersentak, kemudian menatap dengan tatapan sendu kepada ke-dua orang tuanya secara bergantian.
"Apakah Papi ataupun Mami mengetahui sesuatu?" tanya Raja dengan menyelidik, sejak tadi ia berpikir kenapa ke-dua orang tuanya membahas nama Kasih dalam obrolan mereka.
Mami Gia menghela nafas panjang. Kemudian menyesap air putih untuk menyegarkan tenggorokannya. "Sayang, kami tidak sengaja mendengar obrolan kalian tadi di kantor," ucapnya dengan tatapan tak kalah sendunya.
Raja kaget hingga matanya melebar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita yang sangat ia sayangi. Raja pun memejamkan matanya sesaat seraya menarik nafas kasar.
"Wanita yang bernama Kasih adalah kekasihmu? Benar begitu boy?"
Raja mengigit pipi dalamnya sebelum menjawab. Lalu ia mengangguk. "Iya Pi, dia adalah kekasihku!" jawabnya dengan jujur tanpa melepaskan tatapannya di wajah ke-dua orang tuanya.
"Sayang, bukan hanya Mami atau Papi saja yang mengetahuinya, namun Naya serta ke-dua calon mertuamu juga," papar Mami Gia dengan nada begitu pelan, seakan menandakan sesak di dalam dadanya.
Mendengar penuturan Mami Gia, sontak saja Raja kaget, bahkan tubuhnya menegang. Bukan karena ingin menyembunyikan masalah tersebut, namun ia akan menjelaskan secara langsung.
Raja semakin tersudutkan. Pikirannya kepada dua nama yang sangat penting dalam hatinya, yaitu Kasih maupun Kanaya. Dua sosok wanita yang menempati hatinya saat ini yang begitu sulit untuk di pisahkan dalam hatinya.
Raja benar-benar dilema dengan masalah yang tengah dihadapinya. Di satu sisi ia menyalahkan amnesianya sembuh, dan di sisi lain ia bersyukur dapat menguak identitas aslinya.
Raja mengusap wajahnya berkali-kali, sementara ke-dua orang tuanya ikut terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mereka menunggu Raja untuk membuka suara tentang permasalahan yang tengah dialaminya tanpa disengaja dapat melukai hati ke-dua wanita tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan Mi, Pi?" gumam Raja dengan tatapan kosong. Meminta pendapat ke-dua orang tuanya. "Kasih maupun Naya adalah wanita yang sangat aku sayangi, dan jujur aku tidak dapat memilih diantara mereka berdua." Akui Raja dengan jujur, sesuai kata hatinya.
Baik Papi Balin maupun Mami Gia, saling menggelengkan kepala setelah mendengar ungkapan atau pernyataan putra mereka.
Mami Gia menghela nafas sesak, beranjak bangkit, kemudian berpindah duduk di sebelah Raja, putra semata wayang mereka. "Sayang, Mami paham dengan perasaanmu, namun kamu tidak bisa memilih ke-duanya. Kamu tidak boleh egois dalam hal ini." Mami Gia memberi pendapatnya seraya mengusap pundak Raja.
Papi Balin, tiba-tiba teringat dengan masa lalu puluhan tahun silam. Di mana ia juga pernah mengalami perasaan seperti putranya, namun tentunya ada perbedaannya. Dulu ia juga sangat mencintai mantan kekasihnya, namun seiring berjalannya waktu semua itu beralih kepada Mami Gia, wanita yang sampai saat ini mendampinginya disaat senang maupun susah dan lain sebagainya
Cinta dan sayangnya kepada Mami Gia, melampau rasa yang pernah ia berikan kepada mantan kekasihnya yang sudah tiada.
"Papi sependapat dengan Mami-mu boy. Kau tidak boleh egois!"
"Aku mencintai Kasih."
"Bagaimana dengan Naya?"