Indonesia
NovelToon NovelToon
Tangan-Tangan Dari Surga

Tangan-Tangan Dari Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Anak Genius / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Juliana

Seorang gadis pengidap sindaktilia (jari tangan yang saling menempel) dituntut ayahnya untuk menjadi aktris. Pada mulanya, ia ambisius karena termakan kata-kata manis ayahnya. Namun, setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya, ia mulai enggan untuk menjadi aktris lagi. Lalu, jalan hidup seperti apa yang akan dirinya ambil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Juliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Speak Up

Ponsel berwarna merah miliknya kembali dinyalakan setelah semalaman sengaja dimati daya. Bilah notifikasi panggilan tak terjawab muncul di layar. Ada lebih dari tiga puluh panggilan. Anna menghela napasnya dalam-dalam. Memberanikan diri untuk membuka kunci layar. Menyalakan data dan membuka aplikasi chatting berwarna hijau.

Dering sekaligus getar dari notifikasi yang masuk saling menyerobot. Bilah notifikasinya untuk sementara timbul-hilang dengan cepat, menampilkan chat yang terus bertambah. Gadis berkerudung lembut itu memijat pelipis yang terasa pening, menunggu ponselnya kembali normal dan memunculkan notifikasi yang utuh.

Selang beberapa waktu, barulah ponselnya kembali normal. Chat yang membeludak itu berasal dari nomor sang ayah, hampir sekitar dua ratus chat. Grup keluarga besarnya pun menyumbang chat terbanyak, sekitar seribu chat. Anna dapat menebak langsung apa yang dibicarakan di dalam grup tersebut tatkala notifikasi chatnya menampilkan icon tag berwarna hijau. Menandakan bahwa nomor miliknya sempat ditag dalam chatingan tersebut.

Anna tidak membukanya. Ia memilih tak acuh. Chat pribadi dari sang ayahlah yang pertama kali dibuka. Debar di dada terasa begitu kentara melingkupi. Hawa panas naik dan menyebar pada bagian wajah. Ia mengibaskan tangan untuk menghilangkan rasa panas tersebut. Jujur, Anna merasa ketakutan saat membuka chat dari ayahnya, ia takut diancam dan sang ayah benar-benar nekat, tidak main-main dengan ancamannya.

Baru saja akan membaca runtutan chat dari ayahnya, ponsel yang digenggam malah berdering nyaring, menampilkan notifikasi panggilan yang masuk. “Ayah is calling.”

Anna meringis. Ah, ayahnya benar-benar sangat cepat bertindak. Ia baru online di aplikasi chatting selama lima belas menit, tapi pria empat puluh tahun itu sudah meneleponnya lagi. Anna menarik napas. Mencoba mengontrol tangannya yang mulai bergetar untuk menggeser icon hijau agar panggilannya tersambung. Ya, setelah tadi siang bertemu dengan Gevan dan meminta saran padanya, Anna memutuskan untuk menghadapi masalah ini dengan transparan, bukan dengan cara memanipulasi seperti pikiran sebelumnya.

“Anna, saya pikir … sebaiknya kamu tidak memanipulasi hal tersebut.” Gevan menanggapi cerita Anna. Laki-laki itu menyeruput kopi hitamnya. “Ingat, ada sebuah pribahasa yang mengatakan, ‘Sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga.’ Artinya, meskipun kali ini kamu merasa sangat pandai dalam merahasiakan sesuatu, tapi jika itu adalah perbuatan salah, tetap pada akhirnya akan terbongkar juga,” lanjutnya setelah selesai menyeruput kopi.

“Cobalah menghadapi masalahmu ini dengan transparan, jujur saja. Katakan pada ayahmu jika kamu butuh waktu. Entah untuk melakukan operasi atau terjun di dunia perfilman. Kamu punya potensi dan nilai plus untuk bergabung di dunia perfilman. Katakan pada ayahmu, jika kamu punya cara dan jalan sendiri untuk menggapai cita-cita. Untuk beberapa saat, minta pada ayahmu sedikit waktu untuk kamu mempersiapkan diri.” Serentetan kalimat panjang itulah yang menjadi penutup obrolan Anna dan Gevan tadi siang. Perkataan yang juga mendorong Anna berani mengambil langkah besar seperti ini.

Telepon antara dirinya dengan sang ayah sudah tersambung. Hal yang pertama didengar Anna adalah makian dari seberang telepon. “Akhirnya kau mengangkat telepon, dasar bodoh. Ah, sialan ke mana saja kau seminggu terakhir ini? Membuat khawatir saja. Anak bodoh!”

Hati Anna terasa disayat sembilu. Perih. Matanya mulai berkaca-kaca. Perkataan sang ayah memang terdengar sarkas. Namun, entah kenapa Anna merasa terenyuh dengan pengakuan ayahnya yang mengatakan jika pria itu khawatir. “Ayah, aku baik-baik saja,” jawab Anna singkat. Ia berusaha keras untuk menahan isak tangis yang nyaris pecah.

“Apa operasimu lancar, Anna? Kenapa tidak mengabari?” Suara ayahnya di seberang telepon kembali terdengar. Kini, nada dan gaya bahasanya berubah, terkesan lebih lembut.

Mendengar hal tersebut, Anna bukannya merasa lega, melainkan malah merasa bersalah. Ya, merasa bersalah karena sudah berusaha menipu ayahnya. Isak tangis pecah dalam hitungan detik. Anna menjauhkan ponselnya. Ia mencoba meredam isak tangis sebelum pada akhirnya memberanikan untuk menjawab, “Maaf, Ayah. Anna tidak melakukan operasi sindaktilia itu. Untuk sekarang, Anna pun tidak berada di Jakarta, tapi—“ Jawaban Anna tentu saja langsung terpotong dengan makian di seberang sana.

“Apa kau gila, Anna? Berani sekali kau tidak melakukan operasi sindaktilia tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Kau sinting? Di mana kau sekarang? Kuperintahkan kau untuk kembali ke Jakarta dan melakukan operasi itu. Sialan. Anak bodoh!” Makian sang ayah terdengar sangat menggebu. Deru napas pria itu bahkan dapat didengar oleh Anna. “Kembali ke Jakarta dan lakukan operasi sindaktilia, atau kau akan menerima konsekuensi yang besar jika berani membantah!” lanjutnya lagi.

Tangis Anna semakin kencang. Namun, gadis itu dengan segera membalas perkataan ayahnya meski dengan suara yang nyaris tak jelas karena tenggelam oleh isak tangis. “Ayah! Tolong, untuk kali ini dengarkan Anna. Anna mohon, Yah,” pintanya.

“Anna butuh waktu untuk semua ini, Yah. Setelah bunda meninggal, Anna pikir … Anna harus berhenti bercita-cita menjadi seorang aktris, karena cita-cita itulah yang juga mengakibatkan bunda meninggal. Namun, akhir-akhir ini Anna sadar, jika jauh di dalam diri Anna, ada sedikit keinginan untuk tetap menjadi aktris. Sekali lagi maafkan Anna, Yah, beri Anna waktu untuk memikirkan kembali semuanya. Jika tidak, beri Anna waktu untuk mempersiapkan diri. Dan biarkan Anna menggapai cita-cita dengan cara dan jalan Anna sendiri.”

“Jangan mengekang Anna lagi, Yah. Meski begitu, satu hal yang harus ayah tahu, bahwa Anna tidak akan mengecewakan ayah. Anna akan berusaha membuat ayah bangga, tapi dengan cara Anna sendiri. Beri Anna waktu, dan jika Allah berkehendak, kelak Anna akan muncul kembali sesuai dengan apa yang diharapkan ayah.”

1
arisawa miya
mari saling dukung kakak, tetap semangat~
arisawa miya
semangatt
arisawa miya
sukaa, semangat thor, saling mampir yuuu.. ^^
Elsa Julianaa: Terima kasih sudah mampir, kak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!