Sebuah kejadian mengerikan yang menyerang keluarganya membuat Mahlini harus terpisah dari kedua orang tuannya sejak kecil. Berkat didikan orang tua angkatnya membuat Mahlini tumbuh menjadi gadis kuat dan pemberani.
Kehidupannya berubah semenjak mengenal kaka kelasnya Bagas Putra Hermawan, sehingga membuat dirinya harus terjebak dalam permainan sang ketos. Akankah Mahlini mengikuti permainan yang di buat Bagas dan mampu menemukan orang tua kandungnya.
Simak ceritannya. Jangan lupa like, coment dan vote jangan sungkan beri author semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Apa-apaan si? Lepasin aku nggak!" Lini menyentak kasar tangan Bagas.
Hari ini Lini bener-bener di bikin jengah sama Bagas, apalagi mengingat kejadian tadi pagi saat dia di hukum bersihin toilet kusus perempuan dan menyapu halaman serta berlari keliling lapangan, walaupun bukan cuma dirinya saja yang mendapatkan hukuman tapi tetep saja dia nggak terima. Semua ini terjadi karena Sisi cs yang mencari ulah dengannya.
Bagas menautkan alisnya dan menatap Lini tajam karena sudah berani melawanya, dia yakin kalau Lini pasti masih kesel soal kejadian tadi pagi karena dirinya cewe di depannya harus mendapatkan hukuman dari kepsek, tapi tetep saja Bagas tidak suka kalau Lini melawan dirinya pikir Bagas. Di tambah ada Indah dan cowo yang selalu mencari masalah dengannya siapa lagi kalau bukan Niko.
Niko yang mendengar teriakan Lini, sontak membalikan badannya dia melihat Lini dan Bagas berdiri saling berhadapan, Niko yang ingin masuk kedalam mobil mengurungkan niatnya dia lebih memilih menghampiri Bagas dan juga Lini, sedangkan Indah berdiri mematung tidak tau harus berbuat apa.
"Loh.. Harus ikut sama gue," Bagas ingin kembali menarik tangan Lini tapi tidak kena karena Lini lebih dulu menghindar.
"Aku nggak mau," tolaknya.
"Gue nggak terima penolakan. Loh harus ikut sama gue sekarang." Bagas memaksa agar Lini ikut dengannya.
Niko menahan tangan Bagas yang mau menyentuh tanga Lini, dia menyuruh Lini agar segera masuk kedalam mobilnya sedangkan dia masih menghalangi Bagas dan berdiri di depannya.
"Kalau dia tidak mau jangan dipaksa! Lagian dia mau pergi sama gue. Loh ngapain datang-datang maksa Lini agar mau ikut sama loh," ucap Niko santai.
"Loh nggak usah ikut campur urusan gue dan Lini. Lebih baik loh minggir," Bagas menyingkirkan Niko dari hadapannya.
"Jelas ini menjadi urusan gue, karena sekarang Lini sudah menjadi karyawan gue dan apapun yang berhubungan sama dia tentu aku harus ikut campur!" seru Niko menghentikan langkah Bagas yang mau menghampiri Lini.
Bagas mengeraskan rahangnya tangannya terkepal kuat rasanya dia ingin memberi bogeman untuk Niko dan menghajarnya habis-habisan tapi sayangnya mereka masih berada di lingkungan sekolah, Bagas mencoba bersabar agar tidak membuat keributan atau dirinya yang akan terkena masalah.
Bruk!
Niko berjalan melewati Bagas begitu saja dengan sengaja menyenggol pundaknya. Dia mau menghampiri Lini dan Indah yang sudah menunggunya di dalam mobil, baru 2 langkah Niko melewati Bagas tangannya langsung di tarik dan di dorong kebelakang, Niko yang kaget dengan tindakan Bagas sampai tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri alhasil dia jadi tersungkur.
"Hei.. Apa yang loh lakukan!" teriak Niko marah urat-urat lehernya menonjol.
"Gue kasih tau sama loh, mulai sekarang Lini bukan lagi karyawan loh dan mulai detik ini juga dia akan bekerja sama gue menjadi OB di kantor gue. Jadi loh nggak berhak lagi ikut campur urusan dia." Bagas mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Niko.
Bagas membalikan badannya tatapan tajam dia hunuskan melihat Lini sudah duduk anteng di dalam mobil Niko bersama Indah, dengan langkah lebar dia berjalan menghampri Lini.
Niko tidak terima di perlakukan semena-mena sama Bagas di depan Lini, tangannya terkepal meninju aspalan berdiri dan berlari kencang mengejar Bagas yang mau membuka pintu mobilnya. Niko memegang pundak Bagas membalikan badannya dan langsung memberi bogeman di rahangnya membuat Bagas tersungkur.
Bugh!
"Loh pikir loh siapa hah! Apa loh kekasihnya, suaminya? Loh bukan siapa-siapanya Lini jadi loh nggak berhak ikut campur," ujar Niko memukuli Bagas membabi buta.
Mendengar ucapan Niko amarah Bagas memuncak sampai ke ubun-ubun di membalikan tubuh Niko dan menghajarnya habis-habisan sampai lawannya kewalahan mendapatkan serangan darinya, dia tidak terima sama apa yang Niko katakan. Mahlini adalah calon istrinya jadi dia berhak atasnya dan siapapun tidak boleh ikut campur urusannya termasuk Niko.
Niko tidak tinggal diam dia membalas perbuatan Bagas, kini keduanya sudah sama-sama babak belur tidak ada siapapun yang melihat perkelahian mereka berdua karena semuanya sudah pada pulang, sedangkan para guru masih ada di ruangannya yang cukup jauh jadi tidak mungkin kelihatan. Untuk security sendiri mereka masih bertugas di depan sekolah. Sehingga tidak ada yang memisahkan perkelahian antara Bagas dan Niko. David sahabat Bagas sudah pulang lebih dulu karena mendapatkan perintah dari Bagas.
Sedangakan di dalam mobil Lini menjadi penonton setia adegan Bagas dan Niko lagi saling baku hantam tanpa berniat memisahkan keduanya, dia merasa bodo amat dan tidak peduli padahal mereka berdua berkelahi karena merebutkan dirinya siapa suruh pikirnya.
"Lin! Ayo pisahin mereka kalau nggak salah satu dari mereka akan ada yang mati," ucap Indah ketakutan wajahnya sudah pucat di banciri keringat.
"Biarkan saja, mereka itu lagi pamer kehebatannya masing-masing supaya di bilang jagoan. Jadi ya sudah biarkan saja itu mau mereka," jawab Lini cuek dengan pandangan tak lepas memperhatikan 2 cowo yang masih saling menyerang satu sama lain.
"Ya ampu Lini, kau nggak boleh bicara seperti itu kasian mereka. Ayo kita turun kalau kau nggak mau biar aku panggil kepsek nggak peduli kalau kita ber 4 akan mendapatkan surat peringatan dari kepsek." Indah terlihat kesal dia keluar dari mobil menarik Lini yang masih duduk manis.
"Ya, iya aku turun, nggak sabaran banget padahal aku pengen lihat di antara mereka siapa yang bakal mati duluan," ucap Lini ngasal.
"Astaghfirullah. Lini!" seru Indah kesel dalam situasi genting sahabatnya itu masih saja bercanda.
Lini memutar bola matanya malas dia nurut saat tangangannya di tarik-tarik Indah menyuruh dirinya untuk memisahkan Bagas dan Niko, Lini meringis melihat waja mereka berdua yang sudah babak belur dia tidak menyangka kalau mereka berdua beneran berantem, Mahlini pikir mereka cuma bohongan saja. Astaghfirullah Lini dari tadi kemana saja author geleng-geleng kepala sama kelakuan Mahlini kalau boleh karungin saja deh.
Berisik denger ucapan Indah yang menyuruh dirinya untuk memisahkan mereka berdua.. Dengan gerak cepat Lini berlari mendekati Bagas dan Niko, dia juga kasian melihat keduanya sudah terluka.
Bugh!
Bugh!
Lini, memberi tendangan di perut Bagas dia juga melayangkan sikunya di rahang Niko, keduannya sama-sama terpental Bagas memegangi perutnya sedangkan Niko memegangi sudut bibirnya. Mereka melihat Lini lagi memberinya tatapan maut.
"Sudah merasa hebat? Mau jadi jagoan iya hah!" teriak Lini menatap kedua cowo di depannya tajam.
"Kalian pikir kalian hebat? Oh mau di bilang keren dan jagoan! Kenapa nggak sekalian saja ikut adu tinju kan bisa dapet duit daripada babak belur nggak dapet apa-apa masih untung nggak mati. Kaya anak kecil tau nggak!" lanjutnya lagi.
Baik Bagas dan Niko nggak ada yang menjawab ucapan Lini, keduannya sama-sama terdiam, Lini menghampiri Indah menggandeng tangannya agar meninggalkan mereka berdua. Bagas berlari mengejar Lini dan menarik tangannya membawanya pergi tidak perduli teriakan Niko dan Indah yang terus memanggilnya.
"Argh! Bagas sialan! Ngapain dia bawa pergi Lini." Niko menjambak rambutnya kasar.
"Nik, loh nggak papa? Wajah loh terluka parah biar gue obati ya?" Indah menawarkan diri untuk mengobati luka Niko.
"Nggak perlu, gue bisa sendiri lebih baik loh pulang ke cafenya batal." Niko menolak tawaran Indah.
"Dasar sombong masih untung gue mau bantuin bukannya terimakasih ini malah marah-marah," Indah menggerutu dalam hati.
***
Brak!!!
"Apa maksud loh ha?" tanyanya tidak terima menutup pintu mobilnya kasar.
*****
Bersambung.....