Indonesia
NovelToon NovelToon
GEANDO

GEANDO

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintapertama / Masalah Pertumbuhan / Teen School/College / Teen Angst / Persahabatan
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saraka.

Sebuah kejadian terberat terjadi pada seorang pemuda bernama Geando. Hal tersebut terjadi karena kondisi yang kurang memadai. Geando cukup pasrah dan menyalahkan diri dengan sepenuhnya. Banyak orang mengangap dengan apa yang Geando lakukan disengaja olehnya. Mulut demi mulut menyalur dan mengalir di setiap ucapan masyarakat, bahkan teman Geando sendiri. Kebencian dan tekanan batin semakin mengikat pada dirinya, seorang. Kemaluan yang dianggap telah menghancurkan nama baik keluarganya. Diperintahkan bahwa Geando akan jauh lebih dikekang tanpa ada kebebasan yang menyelubungi dirinya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saraka., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 15. Tangisan Abadi

Lembah rasa telah tiada. Meleburkan segala kebahagiaan dalam durjana. Mengikat seisi frasa yang telah menjadi ilusi semesta. Tangisan keruntuhan akan diabadikan secara asa.

Geando mulai berada dalam sisi keruntuhan. Sisi gelap yang hanya bisa berbicara pada remang. Bayang-bayang menjadikan abu percakapan dalam dirinya. Meliput segala kesengsaraan yang telah ia alami saat ini. Merangkul kesialan dan menyatu jadi satu dalam tubuhnya.

"Telepon keluarganya pak," warga berbondong-bondong ricuh akan suatu hal. Berbincang-bincang akan sebuah kepanikan yang terjadi. Menghubungi keluarga Geando, akan suatu tragedi yang terjadi padanya saat ini.

Geando mengalami kerusakan yang sangat parah. Dari tubuhnya terlihat hancur. Luka lecet menyeruak dari urat nadinya. Bergelambir dan menggoyahkan tubuh yang rusak. Tubuhnya terasa dingin ketika disentuh. Layaknya ilalang yang bernaung seperti benalu.

"Pak...Bu...".

"A-apakah benar ini dengan orang tua Geando," seseorang menghubungi salah satu anggota keluarga Geando. Berbicara dengan terbata-bata. Menyatakan sebuah informasi yang menggema.

Renza terhubung telepon, "Kebetulan saya dengan adiknya pak. Ada apa dengan kakak saya pak?" tanyanya sambil bergumam.

"Adiknya!"

"Kakak kamu kecelakaan, nak."

APA!

"Jangan bercanda pak," lugas Renza.

Renza terkejut, "Tolong ini cuman bercanda kan pak?" Renza memegang jantungnya yang berdetak kencang.

Bapak itu menyaut, "Kalaupun saya bercanda, mengapa saya mengangkut kakak kamu disini. Cepat kemarilah ke RS Mulia Jaya," belusang bapak itu.

"B-baik pak, saya kesana sekarang," Renza panik seketika. Entah tangisan batin apa yang membuatnya menjadi gila. Dirinya mencoba untuk datang secepat mungkin menuju lokasi tersebut.

"K-kak jangan tinggalin aku. Ini salahku kak."

"Seharusnya aku hubungin kakak, supaya kakak gak cari aku dimana-mana." Renza menangis kejang. Menyetir motor dengan menyalahkan dirinya. Matanya memerah merona dengan tangisan yang mengikat tubuhnya.

Selang beberapa lama. Tibalah Renza dalam lokasi. Masih dengan tekanan batin yang membakar wajahnya. Mengairi matanya dengan deras. Berlari kencang demi melihat keadaan sang kakak. Bernaung pada sebuah kesalahan yang berujung pada nasib sial. Melihat kebaikan Geando, sang adik menjadi seseorang yang benar-benar kehilangan penyemangat dalam hidupnya.

"Kakak."

"Maafkan aku," Renza berlari menuju ke dalam rumah sakit. Berlari terbirit-birit. Dengan tetesan air mata yang tak kunjung berakhir membanjiri matanya.

Tepat di dalam rumah sakit. Renza mulai menanyakan keberadaan Geando sekarang. Letak dan lokasi Geando ditempatkan. Pikiran yang menggambang membuat dirinya bergelombang. Pikiran tanpa arah, membuatnya pusing seketika mencari ruang Geando ditempatkan.

"Sus."

"Pasien atas nama Geando. Ditempatkan dimana ya sus?" Renza bertanya dengan terkesah-kesah. Luluh hatinya telah remuk. Perasaan bersalah mulai melayang dalam dirinya.

"Oh."

"Pasien atas nama Geando masuk ke dalam ruang UGD. Kebetulan pasien harus melewati jalur pertolongan pertama."

Renza mulai berlari sekencang mungkin kearah UGD. Melihat cendana yang telah berakhir dalam obama. Menyerutu dan membisu dalam kalbu. Nasib sial berakhir sunyi siam. Melihat kearah pintu diantara dua jendela yang bertabrakan. Tangisan abadi dikeluarkan demi sang sejati. Renza meluluhkan hatinya, sambil menggerigikan tubuhnya yang dingin.

"K-kak."

"Jangan tinggalin aku," Renza tak henti-hentinya menangis di depan pintu UGD. Di kerumunan orang banyak, dirinya mengeluarkan tangisan yang sangat kencang. Menggema ke seluruh lorong demi lorong rumah sakit.

Tiada lagi kata malu bagi sang kakak untuk mengeluarkan air mata. Deras senja membawakan duka yang lara. Menetes setiap kali demi nyata abdi. Berulang kali, Renza cumbana kasih dalam diri sang kakak. Berkutik manis layaknya Geando berada disampingnya.

"Dok."

"Bagaimana keadaan kakak saya?" Renza menatap raut wajah dokter. Berharap keadaan Geando mulai membaik. Akan luka yang bertetesan sejenak.

"Kondisi kakak kamu_",

"K-kenapa dok?"

"Dia mengalami luka lecet yang sangat parah. Kondisinya melemah saat ini. Karena bertabrakan dengan benda berat yang membuatnya mengalami luka di kepala dan dimana-mana."

"Kamu berdoa saja. Supaya semua baik-baik saja. Kini kakak kamu harus mengalami perawatan penuh."

"Baik kalau begitu saya tinggal dulu. Untuk pasien bisa langsung dilihat, namun jangan terlalu ajak dia berbicara dan mengingat kejadian tersebut."

"B-baik dok," Renza masuk ruang UGD. Melihat Geando yang tengah lengah. Tertampar oleh bayang ilusi. Membuat Renza yang mengeluarkan air mata derasnya kembali.

Kebahagiaan sejati telah tiada. Renza seperti kehilangan sesosok kakak yang selalu peduli kepadanya. Renza merasa menjadi seseorang yang sangat kehilangan. Cerka luka menusuk uluh batinnya.

"K-kak. Maafin aku."

"Aku yang salah, gak seharusnya aku begini. Nasib sial datang kepadamu ketika kamu mendatangkan kebaikan kak," Renza bergumam sambil membelai rambut Geando. Memeluk erat dengan penuh kasih sayang. Mata Geando melihat remang-remang bayangan sang adik.

Geando menukik, "B-bukan salahmu, dek", Geando mencibir sedikit. Berkutik pada bibirnya yang pecah-pecah. Tersenyum tipis dengan keikhlasan keadaan duniawi.

"K-kakak!" Renza mengusap air matanya. Terkejut hingga matanya melotot tajam. Menelan ludah demi melihat sesuatu yang mustahil.

"Kak ini salahku. Kenapa aku gak pernah bilang ke kakak kalau aku mau pergi."

Geando membuka matanya walau terlihat remang-remang. Membuka dan menjabarkan sesuatu yang membuat sang adik tidak merasa bersalah. Geando mencoba menyela segala ambisi adiknya untuk tenang sejenak.

"Ini salah seseorang dek, seseorang yang jahat sama kita_", Geando bergumam dengan menjelaskan. Mengelus-elus pipi Renza untuk menenangkan adiknya. Tepukan halus membuatnya merasa terlelap.

"S-sudah kak, cukup".

"Kakak istirahat aja dulu. Kakak harus butuh istirahat penuh. Sini aku bantu," Renza tidak ingin berkutik akan sebuah permasalahan. Renza membantu sang kakak untuk tidak bersuara sejenak. Demi menenangkan pikiran dan perasaannya.

"Kamu gak usah kabarin papa sama mama. Kakak gak mau mereka tau," Geando bersenandung halus. Memegang belahan tangan sang adik. Meminta pertolongan untuk diam.

"K-kenapa kak?"

"Kenapa gak boleh? Kakak kan sedang kecelakaan. Mereka harus tau."

"Hei."

"Kakak gak mau mereka panik akan suatu tragedi ini. Kakak juga gak mau orang tua kita kepikiran akan kakak."

"Cukup kali ini ya, kamu mau nurutin kemauan kakak."

"I-iya_", Renza mulai menuruti segala kemauan Geando. Pikiran dia mulai terhubung akan suatu kejadian tersebut. Renza tidak mau orang tuanya kepikiran akan hal seperti ini.

Geando mulai terlelap kembali. Sang adik mulai keluar dari ruang UGD. Menghubungi teman-teman Geando. Tragedi akan kecelakaan yang membuat teman-temannya harus tau menahu akan kejadian ini. Renza berkutik kepikiran penuh akan segala hal yang kerap diucapkan oleh Geando. Akan seseorang yang jahat kepadanya.

"Seseorang yang jahat kepada kakakku?"

"Siapa yang dimaksud? Sehingga kakakku bisa mengalami kecelakaan ketika mencariku?"

"Ada yang gak beres," Renza mulai mencari sesuatu dengan apa yang dimaksud. Meliput segala informasi yang berbekas dalam inangnya. Menjalar dan mengetuk pintu asanya.

Tak lama dari semua itu. Renza mulai mengambil ponsel Geando. Dan meminjam jari jemari Geando, untuk membuka kunci ponsel layarnya. Demi mengetahui sesuatu yang selama ini menjadi bahan persembunyian dan tragedi kecelakaan tanpa disengaja. Otak Renza mulai mengasah sesuatu yang harus dipecahkan.

"S-siapa dia?"

1
anggita
ikut ng👍like aja. smoga novelnya sukses.
Ohhhhh
Dyu
tulisannya rapih kak...
mampir juga ya ^^
kubaca pelan2 ;)
No Name: 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧 𝐤𝐚𝐤 👌
total 2 replies
Ciki
Hi! 🐈💨
Fidia K.R ✨
Hay ka thor, aku udah mampir ya /Smile/ suka alur ceritanya, semangat up ka thor/Good//Ok/
No Name: Makasih kak udah mampir
total 1 replies
Dah mampir
No Name: 𝐌𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡!!!
total 1 replies
your boss
semankha
No Name: Makasih!!!
total 1 replies
Young Nappi
ceritanya menarikk
Young Nappi
mampir ya ka, jangan lupa like🤗
No Name: Wah makasih kak!!! Otw
total 1 replies
cerry
Aku tandai dulu yaa🤗 Semangat
No Name: Makasih kak
total 1 replies
Anindya
Se romantis itu 😀
Anindya
Mampir kakak
Ceysss
Mampir kak
Ciki
kok sebagus ini sepi?
No Name: Doain aja rame ya kak, makasih sebelumnya udah mampir 😁🫶
total 1 replies
sukacoklat
uhuyy semangat
No Name: ᴋᴍᴜ ᴊᴜɢᴀ!!
total 1 replies
Elisya Citra
aku udah mampir kak
No Name: ᴍᴀᴋᴀsɪʜ ᴋᴀᴋ!
total 1 replies
Sean
Next Thor
Nit_Nit
mampir kak
Nit_Nit: sama sama Kak othor
total 2 replies
Aditya HP/bunda lia
langsung cus tapi aku masukin fav dulu
Aditya HP/bunda lia: sAma sama 👌👌😘
total 2 replies
No Name
Makasih kak 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!