Xie Feng. Pemuda biasa yang berambisi terkenal menjadi pahlawan besar dan pendekar terkuat. Keajaiban terjadi ketika pengemis tua memberikannya pedang. Bertemu dengan sesama pengembara hingga menjadi saudara.
Kaisar Li Xuan mengirimkan putra dan putrinya pergi mengelana hingga perjalanan legenda kembali terulang. Perjalanan sang phoenix putri Li Ruolan ke barat terjadi. Xie Feng terseret karena teknik pedangnya dan bergabung menjadi ksatria giok bulan. Perjalanannya menjadi terkenal dimulai dan beragam intrik istana terjadi. Pergantian takhta dinasti berada di ujung tanduk. Apakah Xie Feng menjadi seorang pahlawan atau abai akan tugas negara? Silahkan baca untuk mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dalang Dibalik Layar?
Hari eksekusi raja Zhuo Dongfang telah tiba. Pengumuman terpampang disetiap sudut ibukota hingga para warga berbondong-bondong ke halaman istana melihat proses eksekusi. Raja Zhuo Dongfang dibawa pengawal menuju tempat eksekusi. Seluruh pejabat berkepentingan hadir. Kaisar Li Xuan duduk di kursi kebesaran menatap raja Zhuo Dongfang.
"Hari ini raja Zhuo Dongfang dijatuhi hukuman mati! " ucapnya melemparkan papan nama ke tanah. Algojo siap dengan golok besarnya mengangkatnya ke atas.
"Crashhhh!!!! "
Pisau terbang menembus tubuh algojo membuatnya tewas seketika. Orang-orang disisi Kaisar bersikap waspada. Badai topan tercipta membawa debu menutupi halaman istana.
"Kau berani datang! " ucap Kaisar meledakkan auranya memecah badai topan menampilkan seseorang berjubah hitam memegang kedua pisau tajam.
"Yang Mulia begitu terburu-buru dalam melaksanakan eksekusi. Apakah tak menyelidiki keterlibatan istana sendiri? " ucapnya begitu tenang tanpa rasa takut.
"Ternyata Xiao Qinghe menurunkan teknik pedangnya, " balas Kaisar.
"Hmph! Benar-benar seorang Kaisar. Aku ingin membawanya pergi"
"Membawanya pergi? Apakah kau berpikir istana mudah kau hadapi?! " ucap Kaisar mengangkat jari telunjuknya membuat seluruh pedang bergetar melesat di udara.
"Ribuan pedang kembali ke lautan melalui sungai dan gunung suci memanggil yang abadi untuk menaklukkan? Sutra pedang Tianjian! "
"Bagus bila kau tahu. Aku ingin kau pergi dan tinggalkan raja Zhuo Dongfang ditempat! " perintah Kaisar.
Tak ada balasan dari sosok misterius itu membuat Kaisar marah memerintahkan pedangnya turun menyerangnya. Dentingan pedang terdengar ketika orang tersebut berlarian menghindari hujan pedang.
"Benar-benar tajam! " ucapnya begitu senang.
Kaisar beranjak berdiri menatap tajam. Amarahnya benar-benar memuncak.
"Diam!!!!! " teriaknya mengglegar hingga menciptakan gemuruh di langit.
Teknik auman sang naga yang mampu membuat siapapun tuli ketika terkena dampaknya.
Angin berhembus kencang. Awan gelap datang disertai guruh mengglegar.
"Aku tahu siapa kau. Lebih baik pergi dan jangan kacaukan proses eksekusi atau istana akan menyerbu markas utamamu, " ucap Xie Feng.
Suasana hening seketika. Sosok tersebut diam menatap Xie Feng dengan mata yang cerah.
"Pangeran Xie Feng benar-benar detail. Tapi aku mendapatkan imbalan jika membawanya kembali dengan selamat. Aku menginginkan kompensasi"
"Apa yang kau inginkan? " tanya Xie Feng.
"Jika pangeran menjadi Kaisar dimasa depan, aku ingin menjadi permaisuri! " jawabannya begitu lantang.
Semua orang tercengang ketika mendengarnya. Tak tahu malu sebagai seorang perempuan yang terang-terangan menginginkan kekuasaan.
"Baik! Aku akan memenuhi janjiku! " balas Xie Feng.
Sosok tersebut membunuh raja Zhuo Dongfang sebelum pergi. Eksekusi berhasil dengan tawaran. Kaisar Li Xuan menoleh kepada Xie Feng setelahnya.
Proses berjalan dengan baik dan hasil akhir adalah Xie Feng dipanggil ke istana utama oleh Kaisar.
"Menghadap ayahanda, " ucap Xie Feng.
"Kau tahu siapa Dia? " tanya Kaisar Li Xuan.
"Menjawab. Dia adalah ketua paviliun kesenangan, " jawab Xie Feng.
"Aku lihat Dia menggunakan teknik angin ekstrem, " balas Kaisar menaikan nada bicaranya.
"Ini..... " ucap Xie Feng terbata-bata.
"Tak masalah namun kau harus ingat bahwa menelusuri jejak dengan mengikuti taktik musuh adalah resiko terbesar. Satu kesalahan membuyarkan semuanya, " balas Kaisar.
"Putra ini mengerti nasehat ayahanda, " ucap Xie Feng merendah.
"Kau membuat janji dengannya. Apakah Dia benar-benar cantik?" ucap Kaisar membuat Xie Feng terkejut dan kikuk.
"Putra merasa Dia cantik dan berbahaya. Seperti ular yang memiliki bisa beracun, "
"Baiklah. Para pangeran sebentar lagi akan memasuki ibukota. Aku harap kau menyiapkan segalanya. Pertandingan di gelar esok hari, " ucap Kaisar.
"Mengerti, " balas Xie Feng undur diri.
Penasehat Lin Shen datang memasuki aula mengadap kepada Kaisar.
"Bagaimana? Kedua putra ku Li Qiao dan Li Bai pergi ke sekte Xuantian dan lembah terlarang. Mereka ingin menggempur dari dua sisi. Apakah Dia akan bertahan malam ini hingga esok berakhir? " tanya Kaisar kepada penasihatnya.
"Pangeran Xie Feng memiliki pemikiran tersendiri dan berprinsip dari rakyat untuk rakyat terlebih lagi perjalanannya ke barat pasti membuahkan hasil tertentu. Pencerahan kemungkinan di dapatkan olehnya, " jawab Lin Shen.
Kaisar Li Xuan menyunggingkan senyum setelahnya seakan rencana baru tersusun matang telah ada di depannya.
Xie Feng tengah berjalan di jalanan ibukota menuju paviliun kesenangan. Langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang berlarian di atap. Dirinya melompat melihat kemana arahnya pergi.
"Paviliun kebebasan! " ucapnya terkejut.
Jalanan disekitar paviliun kesenangan terlihat lebih ramai dari biasanya. Xie Feng mendarat di atap salah satu bangunan disekitar paviliun melihat situasi.
"Pertemuan apa hingga penjagaan seketat ini, " gumam Xie Feng.
Di dalam paviliun kesenangan lantai dua, Ning Xia bersama dengan putra mahkota Li Qiao melakukan pertemuan sapa jumpa teh. Keduanya tampak memiliki motif masing-masing.
"Jadi, pangeran datang kemari meminta jalan dalam pengendalian ekonomi negara? " tanya Ning Xia.
"Benar. Wilayah Shengjing jatuh ke dalam kemiskinan akibat gempa meruntuhkan ladang perkebunan. Raja Zhuo Dongfang tewas dan ayahanda belum mengambil langkah ini. Aku ingin wilayah Shengjing lepas kembali menjadi wilayah administratif dengan aku mengangkat bawahanku menjadi walikota, "jawab Li Qiao.
" Aku dengar pangeran mendapatkan wilayah Nanjiang dan mendapatkan gelar raja Nanyu?Bukankah itu cukup untuk memobilisasi pasukan? "tanya Ning Xia.
" Aku menginginkan wilayah disepanjang pegunungan punggung naga, "jawab pangeran Li Qiao.
" Baiklah. Aku meminta pangeran mengundurkan diri dari posisi putra mahkota esok hari, "balas Ning Xia.
" Kau berani! Tidak akan aku lepaskan gelar putra mahkota secepatnya! "ucap pangeran Li Qiao marah.
" Kalau begitu silahkan pergi. Paviliun kesenangan bukanlah kekuatan mutlak ibukota. Seharusnya Anda pergi ke markas pusat bukan dimari, "balas Ning Xia tertawa kecil.
Pangeran Li Qiao mengepalkan tangannya marah. Ledakan aura memenuhi ruangan. Aura penekanan kuat begitu terasa. Orang-orang di luar merasakan tekanan tersebut.
" Kalau begitu jangan salahkan aku menghapuskan paviliun kesenangan dari ibukota,"
"Maka begitu kesepakatan kita batal dan paviliun kebebasan memasukkan nama pangeran ke dalam daftar buku hitam cabang menara langit. Surat peringatan aku keluarkan! " balas Ning Xia tegas.
Pengawal pribadi pangeran Li Qiao mengangkat pedangnya. Ning Xia tak panik sama sekali ketika ujung pedang tepat berada di depannya.
"Paviliun kesenangan bukan tempat yang mudah ditindas! " balas Ning Xia meledakkan auranya salto menendang pengawal tersebut. Pangeran Li Qiao mengambil pedang hendak menyerang sebelum Xie Feng datang menangkis pedang tersebut. Ning Xia begitu senang ketika melihatnya.
"Kekasihku, pangeran Li Qiao mencoba membunuhku. Hukum lah Dia.., " ucapnya begitu manja bergelayut di lengan Xie Feng. Masker hitam menutupi setengah wajah membuat identitasnya tak diketahui.
"Siapa kau! Beraninya menghalangi pangeran bertindak! " ucap pangeran Li Qiao marah.
"Kesepakatan batal dan Anda menyerang ketua maka Anda jelas orang tak tahu malu. Paviliun kesenangan bukanlah tempat yang mudah ditindas. Tak peduli seorang pangeran ataupun lainnya, paviliun kesenangan memandang orang dengan sama bukan berdasarkan status!" ucap Xie Feng.
"Hmph! Kau begitu berani menantangku. Baiklah! Pangeran ini akan memberikan pelajaran! " balas Li Qiao menggebrak meja menendang Xie Feng dan berputar di udara mengayunkan pedangnya.
Keduanya beradu teknik pedang. Teknik pedang pangeran Li Qiao begitu mumpuni sesuai dengan gelarnya seorang putra mahkota. Gerakan tajam hingga presisi tepat dalam waktu menyerang maupun bertahan. Lama kelamaan gerakan Xie Feng tercium membuat pangeran Li Qiao mengetahui indentitasnya.
"Bagus! Kau memang layak menjadi seorang pangeran namun dari rahim seorang selir bukan permaisuri, " ucapnya mendengus dingin.
"Hmph! Sayangnya aku terlahir sama sepertimu dari rahim seorang permaisuri! " balas Xie Feng menendang tubuh pangeran Li Qiao hingga menbrak jendela dan terjatuh ke luar paviliun.
Orang-orang di bawah terkejut melihat junjungannya terjatuh. Seketika serempak mengeluarkan pedang ketika melihat Xie Feng terjun dari atas.
"Apakah Guru istana benar-benar mengajarimu dengan benar? Aku rasa ilmu pedangmu standar dan tak layak menjadi seorang putra mahkota. Aku rasa penaklukan daerah Nanjiang olehmu dilakukan dengan bantuan orang luar " Ucap Xie Feng mengejek.
Pihhh...!
"Kau begitu lancang! Tak heran kau begitu pantas menjadi berandalan perebut takhta, " balas pangeran Li Qiao.
"Sayangnya aku berandalan seorang pangeran, " ucap Xie Feng menyerang melawan anak buah pangeran Li Qiao. Pertarungan berlangsung begitu cepat. Xie Feng layaknya tengah berlari di udara.
Ning Xia melihat dengan antusias dari jendela paviliun. Xie Feng menurun pedang membersihkan noda darah diatasnya.
"Mengapa aku tak melihat sekte Xuantian? Apakah tak berani memasuki ibukota? "
"Kau benar-benar meremehkanku! " balas pangeran Li Qiao maju menyerang. Keduanya bertarung secara imbang.
"Layak menjadi kuda hitam selama ini. Teknik pedang yang kuat hingga membuat pedangku bergetar, " batin Xie Feng kagum.
"Tebas!!"
Xie Feng mundur dibuatnya. Keduanya saling bertatapan cukup tajam.
"Putra Kaisar dilatih oleh guru istana dengan sutra pedang Tianjian. Namun kau tak perlu takut, tak ada satupun dari mereka yang mampu melakukannya dengan lengkap selain Kaisar sendiri. Kau mungkin akan kerepotan dan sedikit usaha lebih, " ucap Ning Xia berkomunikasi melalui batin. Xie Feng menoleh sekilas melihat Ning Xia tersenyum cerah melambaikan tangan dari jendela.
"Sepertinya aku harus menggalkan keinginan putra mahkota atau esok akan kacau. Pasukan sekte Xuantian akan memasuki ibukota jika tak dihentikan malam ini, " batinnya menggenggam erat pedangnya.
Gerombolan orang datang dengan pangeran Li Bai membawa kelompok assasin sekte pemburu malam.
"Hari ini kau akan mati dan tak akan pernah ada pangeran bernama Xie Feng, " ucap pangeran Li Qiao.
"Kau begitu khawatir jika posisi putra mahkota aku miliki. Namun aku tak akan membiarkan kalian membawa pasukan masuk ke dalam ibukota, " balas Xie Feng tegas.
"Aku mendukungmu! Para pangeran bahkan meminta paviliun kesenangan mencari jalan dan memberikan rumah bagi mereka, " ucap Ning Xia berteriak keras.
Pasukan dua sekte berada di sekeliling benteng ibukota menunggu perintah untuk masuk. Kedua pangeran tak bisa membawa pasukan lebih atau penjaga akan melaporkan kepada Kaisar.
"Ternyata kau. Pangeran terbuang, " ucap pangeran Li Bai.
"Membawa bantuan dari lembah terlarang? Sungguh taktik adu domba yang pintar, " balas Xie Feng.
Kedua pangeran mengepung Xie Feng dari dua sisi membuat tak ada pilihan selain melawan. Mereka saling melemparkan tatapan tajam. Keadaan begitu mencekam.
"Pangeran bisa kembali ke istana masing-masing dan bagi mereka yang memiliki pasukan di luar ibukota diminta untuk menariknya kembali, " ucap Huang Ming tiba-tiba datang berdiri di puncak paviliun. Semua orang mendongak untuk melihatnya.
"Bagaimana jika aku tak ingin? " tanya pangeran Li Qiao.
"Maka aku bisa memaksa, " jawab Huang Ming mengangkat jari mengambil pedang dari tangan Xie Feng.
Beberapa menit saling pandang sebelum kedua pangeran mengisyaratkan untuk mundur. Xie Feng menoleh untuk sesaat sebelum pergi kembali ke istana.
"Junior perlu berterimakasih telah mencegah kekacauan, " ucap Ning Xia.
"Aku harap Anda tahun batasan dan tak bermain-main dengan istana. Yang Mulia adalah pemain handal dalam catur dan tak segan-segan menggerakkan bidak catur dalam papan demi kesenangan pribadi, " balas Huang Ming.
Ning Xia menganggukkan kepalanya. Huang Ming melesat pergi dan melemparkan pedang ke arah perginya Xie Feng hingga ditangkap oleh pemiliknya kembali.
"Seseorang mengendalikan segalanya dari balik layar, " gumam Xie Feng.