Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Mengejutkan Dari Agam
Seminggu kemudian.
Sejak malam itu, komunikasi antara Agam dan Alea kembali terjalin. Bahkan, komunikasi tersebut terjalin semakin intens.
Hampir setiap hari keduanya saling bertukar kabar. Meski hanya sekadar menanyakan, apa mereka sudah makan atau belum, atau bagaimana dengan pekerjaan mereka hari itu.
Percakapan mereka hanya percakapan sederhana, namun hal itu selalu berhasil membuat Alea tersenyum.
Kehadiran Agam mengubah banyak hal dalam keseharian Alea. Termasuk mood wanita itu.
Jika dulu, Alea lebih sering menghabiskan waktunya dengan pekerjaan, kini, wanita itu sering terlihat sibuk dengan ponselnya.
Jika dulu Alea terlihat banyak diam dan murung, kini, ia jadi terlihat banyak tersenyum dan lebih ceria dan bersemangat.
Bahkan, beberapa kali Bu Ratna memergoki putrinya tersenyum sendiri ketika sedang melihat layar ponsel.
Pagi itu, setelah Alea berpamitan untuk berangkat ke kantor, Bu Ratna masih duduk santai di ruang makan bersama suaminya, Pak Hartono.
“Apa terjadi sesuatu yang baik di kantor?” tanya Bu Ratna tiba-tiba.
Pak Hartono yang sejak tadi sibuk membaca berbagai berita di layar tabletnya itu, seketika langsung mengangkat wajahnya, menatap penuh tanya ke arah sang istri.
“Maksudnya?”
“Apa, ada hal baik terjadi di kantor?” tanya ulang Bu Ratna.
“Setahu Ayah sih, nggak ada apa-apa. Semua normal-normal saja. Memangnya kenapa?”
“Aneh.”
“Apanya yang aneh?”
“Akhir-akhir ini Alea terlihat jauh lebih ceria dari biasanya. Bahkan, Bunda juga sering melihat dia senyum sendiri. Dia juga jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan ponselnya itu. Bunda pikir, mungkin sesuatu yang baik terjadi di kantor.”
Pak Hartono yang sejak tadi sibuk membaca pun akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia menurunkan tablet dari hadapannya, lalu menatap istrinya.
“Memangnya kenapa, kalau Alea jadi lebih ceria? Bukankah itu hal yang bagus?”
“Iya sih. Hanya saja... Tidak biasanya dia begitu.” jawab Bu Ratna sembari tersenyum tipis.
“Sudah. Biarkan saja. Mungkin dia lagi mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.”
“Bunda hanya penasaran, apa yang sudah membuatnya seperti itu. Seperti gadis remaja yang sedang puber saja.”
Pak Hartono hanya tertawa kecil menanggapi curhatan istrinya tentang perubahan Alea akhir-akhir ini.
“Kira-kira, apa, ya, penyebabnya? Bunda benar-benar penasaran.”
Pak Hartono terdiam sesaat. Mencoba mengingat semua kegiatan yang dilakukan oleh Alea akhir-akhir ini.
Namun, tiba-tiba, Pak Hartono tersentak pelan. Seolah baru mengingat sesuatu, detik kemudian, sudut bibirnya pun mulai terangkat membentuk sebuah senyum kecil.
“Mungkin semua itu karena pertemuannya dengan Agam.”
“Agam?”
Seketika, Bu Ratna langsung menoleh, lalu menatap Pak Hartono dengan tatapan yang serius.
“Iya. Agam. Beberapa waktu lalu mereka bertemu lagi.”
“Kapan? Dan di mana?”
Pak Hartono tersenyum melihat antusiasme istrinya tentang pertemuan putrinya dan juga Agam, setelah sepuluh tahun berlalu dari kejadian itu.
“Satu-satu dong nanya nya, Bun. Bunda seperti wartawan saja?”
“Ya, Bunda kan penasaran!”
Bu Ratna pun bergegas bangkit dari duduknya, lalu pindah ke samping Pak Hartono.
“Lalu bagaimana reaksi Agam saat bertemu lagi dengan Alea?”
“Biasa saja. Tidak ada yang aneh.”
“Benarkah?”
“Tentu saja. Bahkan, Agam memperlakukan Alea dengan sangat baik.”
Bu Ratna terdiam sejenak. Ada sedikit kelegaan yang tampak dari wajahnya.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Bukan hanya itu. Mereka bahkan terlihat jauh lebih dekat dari sepuluh tahun yang lalu. Dan Ayah sangat senang melihat kedekatan mereka.”
Pak Hartono kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Setelah semua yang terjadi dulu, Ayah kira Alea benar-benar sudah tidadek mau berurusan lagi dengan Agam. Ternyata, setelah mereka bertemu kembali, hubungan mereka malah terlihat semakin baik.” lanjut Pak Hartono membuat Bu Ratna ikut tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu. Jujur, Bunda takut sekali kalau Agam membenci Alea dan tidak mau mengenal Alea lagi.”
“Itu tidak mungkin. Agam adalah anak yang baik dan pria yang dewasa. Tidak mungkin dia membenci Alea.”
“Benar juga. Agam adalah anak yang sangat baik.”
“Seandainya saja Agam belum bertunangan… Mungkin Ayah akan mencoba kembali perjodohan yang dulu sempat gagal itu.”
“Praaannnggg!”
Seketika, baik Pak Hartono maupun Bu Ratna sama-sama dibuat kaget oleh suara benda jatuh dan pecah tiba-tiba menggema di ruangan itu.
Refleks, keduanya langsung menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.
“Alea?”
“Alea?”
Ucap Pak Hartono dan Bu Ratna secara bersamaan saat melihat putrinya tengah berdiri membeku di ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan.
Di lantai, sebuah vas bunga yang sudah pecah menjadi beberapa bagian, tergeletak begitu saja.
Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari ketiganya. Pak Hartono menatap putrinya dengan kening berkerut.
“Loh. Alea, kamu belum berangkat?” tanyanya kebingungan.
Alea menelan ludah. Seketika, Alea pun lupa, alasan ia kembali ke rumah saking kagetnya saat mendengar kabar kalau Agam sudah bertunangan.
Suasana ruang makan yang tadinya hangat seketika berubah jadi terasa dingin. Alea masih berdiri membeku, matanya menatap pecahan vas bunga di lantai sebelum perlahan beralih ke arah kedua orang tuanya.
Dadanya terasa sesak saat Pak Hartono mengatakan jika Agam sudah “bertunangan”. Menghancurkan seluruh perasaan bahagia yang selama satu minggu terakhir ini ia rasakan.
Namun, menyadari tatapan cemas dan bingung dari Ayah dan Bundanya, Alea dengan cepat mengendalikan dirinya.
Ia menarik nafas dalam-dalam, menguasai ekspresi wajahnya, lalu memasang senyum yang ia paksakan.
“Maaf. Alea tidak sengaja.” ucapnya saat kedua orangnya menoleh secara bersamaan karena mendengar suara vas bunga yang tidak sengaja ia jatuhkan.
Bu Ratna buru-buruk mendekat, menatap putrinya dengan tatapan khawatir.
“Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang kena pecahan belingnya?”
“Nggak kok, Bun. Alea nggak apa-apa,” sahut Alea lembut.
“Bukannya tadi sudah berangkat?”
“Iya. Tapi, ada dokumen yang ketinggalan. Makanya Alea balik lagi.” jelas Alea, suaranya sedikit bergetar di awal meski berusaha keras ia buat terdengar biasa saja.
Ia melangkah mendekati meja makan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, meski detak jantungnya berpacu hebat.
Pak Hartono menatap Alea lekat-lekat, ada yang berubah dari ekspresi wajah putrinya saat ini.
“Tadi... Kamu dengar apa yang Ayah bicarakan?” tanya Pak Hartono pelan-pelan.
Alea menghentikan langkahnya sejenak. Ia tahu, ia tak bisa menghindar dari pembicaraan ini.
Dengan kepala tegak, wanita itu menatap ayahnya, lalu tersenyum. Senyuman yang ia pasang semanis mungkin di tengah-tengah hati yang terasa remuk.
“Tentu saja dengar,” ucap Alea dengan nada suara yang dibuat seceria mungkin.
“Syukurlah... Alea ikut senang dengan kabar bahagia itu,” lanjutnya dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.
“Kamu... nggak apa-apa dengar kabar ini?” tanya Pak Hartono memastikan.
“Ya ampun, Ayah! Nggak apa-apa lah! Kenapa juga Alea harus kenapa-napa? Sekarang ini, kami kan hanya teman.” jawab Alea santai sembari tertawa kecil.
Alea pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah jam tangannya, memanfaatkan momen untuk segera pergi, menghindari pembahasan pertunangan Agam lebih jauh lagi.
“Aduh, Alea hampir terlambat! Ada rapat penting pagi ini. Alea berangkat dulu ya, Yah, Bun. Soal pecahan vas biar nanti Alea yang minta tolong Bi Sari yang bersihkannya.
Tanpa menunggu balasan dari kedua orang tuanya, Alea langsung mencium tangan Bu Ratna dan Pak Hartono secara bergantian, lalu dengan langkah cepat ia pergi meninggalkan ruang makan dan juga rumah itu.