Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Auri dan rekan-rekannya di minta berkumpul usai mengajar nanti sore. Ternyata ada hal yang akan di bahas oleh kepala sekolah mengenai keributan yang Auri ciptakan di proyek depan.
"Bu Auri ngga apa-apa kan?"
"Memangnya saya kenapa Bu Dina? Selama saya benar, saya tidak boleh takut kan?" tanya Auri balik. Demamnya belum turun, badannya pun masih sedikit lemas. Hanya saja, Auri memaksakan dirinya seolah tak ada yang salah dengan tubuhnya.
Tepat jam setengah tiga sore, guru dan karyawan serta kepala sekolah berkumpul di ruang guru.
"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan semua terutama Bu Auri."
Auri mengangguk pelan, sedangkan Awan dan yang lainnya tampak tegang dan harap-harap cemas.
"Kalian tahu kenapa saya mengadakan meeting mendadak seperti ini?" tanya kepala sekolah.
Tak ada yang menjawab. Tapi mereka tahu apa yang sebenarnya akan di bahas oleh pemimpin sekolah ini.
Lelaki sepuh itu membuang nafas beberapa saat.
"Bu Auri."
"Saya pak."
Auri berusaha bersikap tenang dan menatap kepala sekolah dengan tatapan yang tergolong sopan namun berani, tanpa ada unsur ketakutan dan tertekan.
"Anda tahu, apa yang anda lakukan kemarin adalah sebuah kesalahan?" tanya kepala sekolah.
"Tidak pak, itu bukan kesalahan. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya untuk kepentingan pengguna jalan terutama anak-anak di sekolah kita."
Kepala sekolah meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Kenapa anda tidak membicarakan hal ini lebih dulu ,Bu Auri? Apa anda tidak menganggap saya?"
"Maaf pak, posisinya anda sedang di luar."
"Ya telepon!!!! Masa ngga bisa?" kepala sekolah itu menggebrak meja hingga membuat yang ada di sana terkejut.
Auri menarik nafas dalam-dalam.
"Saya minta maaf!" kata Auri dengan nada datar. Permintaan maafnya hanya karena tidak melapor pada atasannya itu, bukan karena kejadian kemarin.
"Anda tahu, mereka sudah lebih dulu meminta ijin ke saya kalau aktivitas sekolah akan sedikit terganggu?"
"Maaf pak, setidaknya sebelum anda menyetujui seharusnya anda mengkaji dan melihat kondisi. Jalan di depan sekolah bukan jalan provinsi, cuma jalan kabupaten yang tak seberapa luas. Dan itu jalan satu-satunya yang menghubungkan dengan perkantoran pemerintahan juga sekolah-sekolah lain. Yang terganggu bukan hanya sekolah kita pak, banyak yang lain."
Awan memejamkan matanya beberapa saat untuk menenangkan degub jantungnya karena mendengar jawaban Auri.
Bagaimana bisa Auri setenang itu menghadapi orang nomor satu di sekolah itu???
"Anda sudah mempermalukan saya bu Auri."
"Maaf sekali lagi pak. Di bagian mana saya mempermalukan bapak? Saya tidak meminta mereka menghentikan proyek. Saya hanya minta mereka mengatur jadwal untuk beroperasi, jangan di jam sibuk. Dan mereka menerimanya...."
"Kalau mereka menerima, tidak mungkin mereka menegur saya. Anda paham?"
Oh...jadi ada yang menegur kepala sekolah? Apa pria itu? Batin Auri.
"Atas dasar apa anda ditegur pak? Karena apa yang saya lakukan kemarin?"
"Tentu saja!" sahutnya.
"Saya minta maaf jika apa yang saya lakukan membuat anda di tegur. Tapi mohon maaf juga, saya tidak merasa bersalah dalam hal ini. Karena apa pun yang saya lakukan semata-mata untuk kenyamanan bersama bukan pribadi saya sendiri."
Srekkkk!
Kepala sekolah berdiri dari bangkunya.
"Pak Dimas, buatkan teguran tertulis untuk Bu Auri. Skors dia agar tidak mengajar selama tiga hari!" ujar kepala sekolah.
Awan dan Dimas yang merupakan operator pun terkejut.
Bagaimana bisa seorang pemimpin semena-mena begitu? Batin rekan-rekannya yang lain.
Auri hanya mengangguk pelan.
Setelah itu, kepala sekolah pun keluar dari ruang guru tersebut.
Sesama guru wanita, tampak menguatkan Auri dengan mengusap-usap bahunya.
"Bu, bu Auri demam?" tanya salah seorang guru yang tak sengaja menyentuh punggung tangan Auri.
"Iya Bu, dari semalam memang agak kurang enak badan."
"Bawa motor tidak?" tanya Bu Dina. Auri menggeleng pelan.
"Tidak Bu, tadi di antar Abah."
Awan bergabung dengan mereka.
"Biar saya yang mengantar Bu Auri."
Semua tampak setuju dengan ide Awan. Auri ingin sekali menolak, tapi ada perasaan tak enak di sudut hati kecilnya.
Akhirnya mereka pun bubar. Auri dan Awan berjalan beriringan menuju ke parkiran.
Sepeda motor Awan cukup besar hingga agak kesulitan bagi Auri untuk menaikinya. Beruntung ia bertumpu pada bahu Awan meski ada perasaan canggung dan tak enak. Akan tetapi berbeda dengan Awan. Bahunya yang di jadikan tumpuan, namun jantungnya yang tak aman.
Teman satu profesi itu pun berboncengan menuju ke kediaman Abah Aceng.
💗💗💗💗
Terimakasih buat yang masih setia mampir di tulisan receh Mak Othor. Beberapa hari kemarin nemenin ayahnya anak-anak kemoterapi lagi. Eh....pulang dari RS malah Mak Othor nya yang tumbang 🤪
Selamat hari Senin....