Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Mengkhianati Pelayan Setia
Baik Ling Yujian maupun Ling Yuchen hanya bisa terdiam, dan itu pasti. Mereka dapat menyadari betapa besar dan beratnya kejadian hari ini.
Jika saja tuduhan yang direkayasa itu berlanjut, sudah pasti Ling Qingxue bakal menerima hukuman yang berat, tanpa ada kesempatan membela diri, sesuai tebakan Ling Qingxue.
Ling Qingxue seketika menoleh pada empat prajurit penjaga yang berada di luar, lalu memerintah mereka tanpa ragu.
"Bawa pelayan rendahan ini dan temannya itu!" sambil menunjuk pelayan yang satunya. "Cambuk mereka berdua dengan tongkat kayu sebanyak 100 kali!"
Keempat prajurit penjaga itu segera masuk, bersiap membawa kedua pelayan itu keluar untuk menerima hukuman, tanpa merasa ragu.
Sedangkan pelayan pemilik kamar semakin bersimpuh, memohon pengampunan kepada Ling Qingxue, diikuti oleh pelayan yang satunya.
"Ampuni hamba, Shao jie, hamba tidak bermaksud menuduh Anda...."
"Mohon ampunannya, Shao jie, hamba cuma ikut-ikutan, tidak ada niat menuduh Anda...."
Namun Ling Qingxue menulikan pendengarannya, mengeraskan perasaan, kali ini, tidak menggubris ratapan memohon ampun kedua pelayan itu yang dusta.
"Tidakkah hukuman itu terlalu berat bagi mereka, Ling Qingxue?" akhirnya Ling Yuchen angkat bicara, mencoba menyanggah keputusan Ling Qingxue.
"Terlalu berat katamu?!" kecam Ling Qingxue dengan sengit. "Jika aku yang dituduh dan dihukum cambuk, apakah itu juga tidak terlalu berat? Bahkan, mungkin saja aku dicambuk lebih dari 100 kali, betul 'kan?"
"Cuma karena aku ini seorang Ling Qingxue yang diabaikan, maka aku pantas dihina oleh pelayan, lalu dicambuk tanpa alasan, apa begitu?" lanjutnya amat berani menyuarakan penuntutannya.
"Bagaimana jika kejadian ini tersebar ke luar kediaman Jenderal Ling? Apa kata orang jika mereka mendengar keluarga Jenderal Ling membiarkan pelayan rendahan menindas putri sah sang jenderal?"
Lagi-lagi, Ling Yujian hanya bisa terdiam, begitu juga dengan Ling Yuchen. Mereka seperti tidak bisa berbuat sesuatu. Sementara keduanya semakin menyadari sesuatu pada diri Ling Qingxue.
"Cepat, bawa kedua pelayan ini keluar!" perintah Ling Qingxue lagi dengan tegas. "Cambuk mereka 100 kali dengan keras!"
Segera saja keempat prajurit penjaga itu, tanpa ragu lagi, membawa paksa kedua pelayan itu, meski mereka berusaha meronta memohon ampun.
"Er Shao jie, mohon tolong hamba!" mohon pelayan yang ikut-ikutan kepada majikannya, Ling Yaofei. "Hamba tidak tahu apa-apa, hamba hanya mengikuti perintah...."
Belum sempat pelayan yang dikhianati majikannya itu menyelesaikan ucapannya, buru-buru Ling Yaofei, sang pengkhianat berteriak panik.
"Cukup! Aku... tidak tahu apa yang terjadi, tapi kalian telah bersekongkol mencuri perhiasanku.... Kalian... memang pantas dihukum cambuk!"
Bukan main terkejutnya kedua pelayan itu. Tidak menyangka, mereka yang yang begitu setia kepada Ling Yaofei, akhir dikhianati dengan licik.
"Tidak, Shao jie...., Anda yang menyuruh kami...."
"Tutup mulutmu!" bentak Ling Yaofei dengan keras, lepas kendali, wajahnya begitu merah karena marah bercampur panik. Topeng kepura-puraannya seakan lepas saat itu juga.
Tentu saja Ling Yujian maupun Ling Yuchen amat terkejut melihat kejadian langka itu.
Baru kali ini mereka melihat adik kesayangan mereka yang amat mereka manjakan yang tidak pernah berperangai kasar, membentak dengan keras seseorang.
Sungguh pemandangan yang mengherankan!
Menyadari tatapan kedua kakaknya, Ling Yaofei langsung tertunduk dalam-dalam, menunjukkan penuh rasa bersalah.
Sedangkan kedua pelayan itu semakin diseret keluar oleh empat prajurit penjaga untuk menerima hukuman cambuk.
Sementara Ling Qingxue menyaksikan pemandangan yang menarik itu dengan tersenyum puas.
O..., jadi begitu ya caramu, Ling Yaofei? Kau rela menyingkirkan kedua pionmu, bahkan dengan terang-terangan mengkhianati mereka di depan mata mereka demi menyelamatkan kebusukanmu! Menarik sekali!
Ling Qingxue melangkah mendekati Ling Yaofei yang semakin tertunduk diam, lalu berbisik di samping telinganya, kalem tapi dingin.
"Kau tidak bisa lagi mempermainkan aku sekarang, brengsek! Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagimu untuk lebih bermain halus denganku!"
"Ayo, Liu Xui, kita tinggalkan tempat ini!"
"Hamba, Shao jie!"
Tak lama kemudian, Ling Qingxue meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh pelayan setianya.
Sementara itu, Ling Yujian maupun Ling Yuchen masih saja terpaku diam, hanya bisa menatap kepergian Ling Qingxue yang semakin jauh. Untuk pertama kali kedua pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam diri mereka.
Mereka tidak bisa lagi membantah sebuah fakta, Ling Qingxue telah berubah sekarang. Menyadari perubahan aneh itu, membuat mereka cukup khawatir, jika tidak mau dibilang takut.
★☆★☆
Sementara itu, Ling Qingxue yang ditemani oleh Liu Xui tampak berdiri tenang di halaman belakang. Sepasang matanya yang bening menatap dingin ke arah kedua pelayan yang terbaring lemah di atas papan bangku hukuman cambuk.
Tampak tubuh kedua pelayan itu sudah remuk, penuh luka dan bercak darah yang mengotori pakaian mereka sendiri akibat cambukan tongkat kayu.
Udara di siang yang amat panas itu terasa begitu kejam. Tapi tidak lebih kejam dari tatapan Ling Qingxue, di situ tak ada belas kasihan sama sekali dari pemandangan menegangkan dan mengerikan yang berlangsung di tempat penghukuman itu.
Para pelayan yang menyaksikan penghukuman itu hanya bisa menahan napas, seakan tak berani mengeluarkan suara. Sementara mata mereka masing-masing menyorotkan kengerian dan ketakutan.
Hingga suatu ketika....
"Cambukan ke 59....!" seru salah seorang prajurit penjaga.
Bughk!
Bughk!
Menyusul suara tongkat kayu dengan keras menghantam belakang kedua pelayan itu. Darah segar langsung muncrat dari mulut mereka seakan berlomba, lalu menciprat membasahi tanah berumput.
Lalu....
Bruk!
Bruk!
Kedua pelayan itu langsung jatuh terlentang ke atas tanah berumput. Sempat kelojotan beberapa detik, sebelum akhirnya diam. Akhirnya mereka menghembuskan napas terakhir, setelah sebelumnya melewati penderitaan yang amat menakutkan.
Semua kejadian itu disaksikan oleh para pelayan dengan perasaan ngeri bercampur takut.
Ling Qingxue masih berdiri tenang di tempatnya, sepasang matanya masih sama, tak ada belas kasihan. Sama sekali kematian kedua pelayan itu tidak ada artinya, baginya. Bahkan, jauh di relung hatinya merasa puas dengan kematian kedua pelayan itu.
Pada kehidupannya yang pertama, kedua pelayan itu adalah kaki tangan Ling Yaofei yang cukup kejam lagi licik. Bukan saja membantu Ling Yaofei dalam menuduhnya yang bukan-bukan, bahkan keduanya juga menjadi dalang terbunuhnya Liu Xui.
Dengan tuduhan palsu yang sudah direkayasa, kedua pelayan itu menuduh Ling Qingxue yang berujung Liu Xui yang terkena imbasnya, sehingga Liu Xui tewas karena kejadian itu.
Ling Qingxue, waktu itu, hanya bisa menangis tersedu-sedu menyaksikan pelayan setianya mati terbunuh di depan matanya. Tanpa dia dapat berbuat sesuatu, waktu itu.
Namun sekarang, keadaan sudah berbalik. Ling Qingxue akan mengubah takdir, akan membalikkan keadaan....
"Kamu puas, Liu Xui?" Ling Qingxue melirik pelayannya yang masih setia di sampingnya.
"Puas, amat puas!" sambut Liu Xui dengan antusias. "Mereka yang menuai kejahatan, pantas menerima hukuman mati!"
Lalu keduanya berlalu meninggalkan tempat itu, tanpa perduli lagi akan keadaan, tanpa menghiraukan empat prajurit penjaga yang menyeret mayat kedua pelayan itu bagai menyeret karung sampah.
Sementara Ling Yaofei yang berdiri dari kejauhan, hanya bisa menyaksikan kedua pelayan setianya mati dengan tragis. Wajah cantiknya sebentar pucat sebentar memerah karena memendam dendam dan kemarahan. Kedua tangan terkepal kuat menahan amarah.
Sungguh mati, dia sama sekali tidak menyangka Ling Qingxue bisa sekejam itu. Dia semakin merasa jika Ling Qingxue telah berubah.
Sepertinya ini bukan Ling Qingxue yang dulu lagi yang dengan mudah dia permainkan....
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,