Riri seorang wanita yang gila belajar. Berawal dari ambisinya untuk kuliah di ibukota, mengharuskannya untuk menikah dengan seorang pria tampan bermuka dua.
Pasangan muda yang terkadang bersikap pasif dan belum mengerti tentang cinta, bagaimana keseruan cerita rumah tangga mereka?
Musim ke dua
Hubungan Angga dan Riri kembali di uji, kesalahpahaman akibat kurangnya komunikasi semakin memperkeruh situasi. Pak Agus yang menjabat sebagai rektor kampus, dulunya memendam rasa pada ibunya Riri, ia pun ingin menjodohkan Hans putranya pada Riri.
Munculnya wanita perfect dalam segala hal, yang tidak lain adalah presiden mahasiswa yang sebelumnya mengikuti program studi banding dengan kampus lain. apa tujuannya mendekati mereka?
Musim ke 2 update tiap hari Minggu 1-2 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chan Aki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Keesokan harinya jadwal perkuliahan di Minggu ke dua. Angga dan Riri berdebat di pagi hari hanya karena masalah sepele.
Saat Angga baru terbangun dari tidurnya, ia melihat Riri yang sedang sibuk ke sana kemari merapikan kamarnya.
Karena rasa penasaran, ia segera membuka lemari pakaiannya yang baru saja di tutup Riri, dia langsung marah saat tau kalau Riri mencampur baurkan pakaian mereka berdua tanpa seizinnya.
"Aku gak suka barang-barang milik ku di satukan dengan milik mu! Ini, itu dan semuanya!" Cetusnya sambil menunjuk ke arah lain.
Angga sebenarnya tidak suka, jika barang miliknya di ganggu gugat ataupun hanya sekedar di lihat oleh orang lain.
Riri yang sedang asyik menyusun tumpukan buku miliknya di atas lemari belajar milik Angga, terhenti karena mendengar perkataan pria itu.
"Mas, cuma karena masalah sepele kamu marah sama aku. Kalau gitu aku balik ke kamar belakang aja, biar kamu gak terganggu," cetus Riri yang mulai kesal.
Walaupun Angga sedang marah, namun ia masih bisa mengendalikan emosi, jika terkait ibunya. "Baik semua yang ada di kamar ini kita bagi dua. Apa kau puas?" kesalnya.
"Puas… sangat puas!" Jawab Riri.
Angga segera mengambil spidol yang ada di tasnya, lalu menggaris setiap benda yang ada di sana. "Setiap isi di kamar ini, sebelah kiri milik mu dan sebelah kanan milik ku. Jangan melewati batas!" Tegasnya.
Riri tercengang melihat tingkah Angga yang begitu kekanak-kanakan, lalu ia tersenyum mengejeknya. "Ha Mas lagi main drama ya… sama sekali gak lucu!" Sahut Riri.
"Hah... si Cupu yang gila belajar, mana tau tentang drama!" Ucap Angga dengan angkuh.
"Si-siapa bilang! Aku sudah nonton banyak drama sejak SMA," ucap Riri ragu-ragu.
Sebenarnya Riri tidak pernah nonton drama, karena ia merasa tidak ada guna melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi masa depannya. Terkadang ia hanya mendengar temannya bergosip tentang drama terbaru yang banyak di sukai anak sekolahan.
"Benarkah? Paling cuma film bawang putih bawang merah." Cetus Angga meremehkan.
"Me-memangnya Mas dukun bisa tau! Lagi pula gak ada gunanya bahas ini, a-aku pergi buat serapan dulu…," sahut Riri yang takut kebohongannya terbongkar. Dengan sigap ia pergi keluar meninggalkan buku-bukunya yang masih berserakan di atas meja.
"Hah dasar wanita aneh!" Cetus Angga.
***
Saat Riri sedang serapan bersama ibu Yani. Angga keluar dari kamarnya berniat berangkat ke kampus.
"Angga serapan dulu… istri mu sudah susah-susah menyiapkan sarapan loh," sahut ibunya.
"Gak usah Ma, Angga takut terlambat... hari ini dosennya agak galak."
"Oh gitu… Riri kenapa gak pergi barengan sama Angga?"
"I-itu Ma, Riri masuknya agak siang jadi masih bisa nemenin, Mama," sambungnya.
Ia tersenyum senang. "Angga kamu harus bisa menjaga istri mu dengan baik kalau Mama gak di sini. Jangan sampai Mama dengar Riri nangis hanya karena masalah sepele."
"Iya Ma… Angga pergi dulu ya," ucapnya lembut.
"Eiitts tunggu, salam dulu." Ucap ibunya sambil menjulurkan tangan.
Langkahnya terhenti dan kembali menghampiri ibunya. "Angga pergi ya, Ma. Assalamu'alaikum." Sambil menyalam tangan ibunya.
"Wa'alaykum sallam…"
Angga beranjak pergi namun masih di tahan oleh ibunya. Ia melihat kebelakang dan ternyata bajunya di pegang oleh sang ibu yang sedang mengisyaratkan ke arah Riri.
Ia pasrah dengan kemauan ibunya dan menghampiri Riri sambil menjulurkan tangannya.
"Hati-hati ya Mas," sahut Riri sambil meraih tangannya untuk di salam.
"Iya, Mas pergi dulu ya. Nanti pulangnya kita barengan."
"Iya Mas," jawab Riri.
Ibu Yani tersenyum melihat mereka berdua, " nah gitu kan enak di lihat." Rasa puas sesaat membuatnya memalingkan wajah melanjutkan makannya yang sempat terhenti.
Sementara Angga dan Riri tersenyum sambil memandang ke arah satu sama lain dengan tatapan mata saling bermusuhan.
Setelah Angga beranjak pergi, pesan darinya masuk ke HP Riri. Diam-diam Riri mengambil hp yang terletak di samping piringnya, lalu membacanya.
Akting mu bagus! Teruskan…
Begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Angga, lalu Riri membalas pesan darinya.
Jangan lupa nanti sore pulangnya sama supaya ibu gak curiga…
"Sayang, kamu lagi kirim pesan ke siapa? Kok serius kali," ucap ibu Yani.
"Sama Mas Angga, Ma."
"Apa katanya?" tanya ibunya penasaran.
"Haha hmm… cuma pujian sepele," sahut Riri tersenyum canggung.
"Oh jadi keingat saat Mama masih muda seperti kalian… dulu Mama juga di jodohkan orang tua..."
Ibu Yani menceritakan kisahnya pada Riri untuk mengisi waktu di antara mereka.
Nantikan keseruan kisah antara Angga dan Riri selanjutnya 🌸