Cinta yang suci dan tulus ke dua pasangan ini harus berjalan sangat rumit karena tak mendapat restu dari orang tua wanita lantaran status ekonomi pihak laki-laki tidak sebanding dengan status ekonomi yang dimiliki oleh keluarga wanitanya.
Sang orang tua melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka berdua agar tidak lagi saling cinta dan sayang. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah mereka dapat melanjutkan hubungan yang rumit ini??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Ibu juga berpikiran seperti itu nak. Ibu tau pasti Ibunya Gina akan kecewa dan marah, tapi disisi lain Ibu berpikir, kasihan juga Gina jika ia harus hidup dan menikah dengan laki-laki yang kamu sebutkan tadi," tambah Ibu Maryam yang sudah menaruh sayang kepada Gina semenjak lama.
"Aku juga berpikiran seperti itu Pak, Bu. Terima kasih atas masukan Bapak dan Ibu. Besok, aku akan menemui Papanya Gina dan meminta restunya kembali," ucap Ardi memantapkan niatnya.
***
Sementara di rumah Gina. Setelah kepulangan Niko dan keluarganya, Almira langsung menuju kamar putrinya. Almira benar-benar marah dan emosi sekali.
"Gina buka pintunya. Mama mau bicara," teriak Almira menggedor kuat pintu kamar anaknya itu.
"Almira buka, atau nggak kamu nggak akan boleh keluar selamanya dari kamar kamu," ancam Almira namun tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Ma sudah, jangan teriak-teriak. Malu sama tetangga, ini sudah malam ma. Bicaranya kamu lanjutkan besok saja," ucap Aditama yang menyusul istrinya itu ke lantai dua.
"Papa kamu diam ya Pa. Maka tidak peduli. Mau malu atau enggak, aku sama sekali tidak peduli. Yang jelas, aku harus bicara sama anak durhaka itu," jawab Almira membuat Aditama terdiam.
Almira benar-benar keras kepala sekali. Bagi dirinya, jika ia sudah menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus ia dapatkan bagaimana pun caranya. Almira tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain. Ia benar-benar Ibu dan istri yang sangat egois sekali.
"Ma sudah. Kasihan Gina. Dia juga memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Stop sikap kamu yang selalu saja seperti ini," ujar Aditama mencoba untuk menyadarkan istrinya itu.
"Apa kamu bilang? Hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri? Hhhhhh, jangan gila kamu Pa. Gina itu masih gadis dan memiliki orang tua. Lain halnya jika Gina itu anak yatim atau yatim piatu, tidak ada yang mengarahkannya. Kamu kalau tidak bisa mengurus anak, sudah mending diam saja. Biar aku yang mengurus semuanya. Cari saja duit yang banyak untuk membahagiakan anak dan juga istrimu," ucap Almira masih tetap pada pendiriannya.
"Sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Aku capek jika harus seperti ini terus. Dan buat Mama, mau bagaimana pun cara Mama memaksaku untuk menikah dengan Niko, aku tetap tidak akan mau Ma. Jadi jangan harap akan ada pernikahan antara aku dan juga Niko. Jika mama suka, Mama bisa kok menggantikan aku menikah dengan Niko," ucap Gina membuat Aditama dan juga Almira terdiam.
Plak
"Anak kurang ajar kamu Gina. Berani ya sekarang kamu melawan Mama. Mama tidak mau tau, pokoknya, kamu harus mau menikah dengan Niko. Ingat Gina, jangan harap kamu bisa menikah dengan Ardi si supir angkot itu. Kalian hanya bisa bermimpi, tapi kalian tidak akan bisa bersatu. Ingat itu," ucap Almira lalu meninggalkan kamar putrinya itu.
"Gina kamu sabar ya sayang. Maafkan Mama mu. Gina Papa mau tanya, apa kamu sudah memberi tahu Miko mengenai rencana kita? Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi sayang. Cepat atau lambat, keluarga Niko pasti akan kembali lagi dan melamar mu secara resmi. Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat, kamu dan juga Ardi harus sudah menikah. Soal Mama mu, nggak usah kamu pikirkan. Biar Papa yang mengurusnya," ucap Aditama saat berada di dalam kamar putri tercintanya itu.
"Papa benar. Aku sudah memberi tahukannya kepada Ardi, dan Ardi bersedia Pa. Ardi akan mengabari ku secepatnya," jawab Gina yang kini sudah mulai tenang.
"Baiklah. Papa tunggu kabar baiknya," ucap Aditama lalu meninggalkan kamar putrinya itu.
Keesokan harinya, Ardi tidak menarik angkutan umum seperti biasanya. Hari ini, ia berniat untuk mengurus semua persyaratan menikahnya dengan Gina.
Setelah semuanya selesai, Ardi pun menghubungi Gina dan ia meminta bertemu dengan Aditama. Setelah membicarakannya dengan Gina, Aditama memutuskan untuk bertemu di rumah Ardi saja.
Ardi benar-benar senang sekali. Ia benar-benar semangat untuk menikahi pujaan hatinya itu.
"Halo selamat siang," jawab Aditama pura-pura menelpon dengan seseorang di depan istrinya.
"Oh, ya benar. baiklah, jika anda berminat dengan perumahan saya itu, kita bertemu di sana saja. Saya akan jalan sekarang," ucap Aditama masih berpura-pura.
"Baik.. Baik.. Ya.. Terima kasih. Saya akan ke sana sekarang," ucap Aditama lalu menyimpan ponselnya kembali.
"Siapa Pa?" tanya Almira penasaran.
"Ini, ada orang yang akan membeli salah satu perumahan kita. Aku akan berangkat ke sana sekarang juga," jawab Aditama berbohong.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," balas Almira lalu melanjutkan kembali membaca majalahnya.
Beberapa saat kemudian, Aditama sengaja menelpon sang istri. Ia yang telah mengatur semua rencana dengan matang pun meminta Almira untuk menyuruh Gina membawakan dokumen-dokumen yang tertinggal.
Tanpa rasa curiga sedikitpun, Almira pun meminta Gina untuk segera mengantarkan dokumen tersebut kepada suaminya, Aditama.
"Ma, Gina berangkat dulu," jawab Gina yang pura-pura sedikit keberatan untuk mengantar dokumen tersebut.
"Ya sudah sana. Kamu jangan keberatan gitu dong. Ingat, itu surat-surat penting. Jangan sampai hilang," ucap Almira mengingatkan putrinya.
"Iya," singkat Gina lalu melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Gina merasa senang sekali. Ia tak menyangka, jika Ardi telah menyiapkan dan mengurus semuanya.
Tak lama kemudian, Gina pun akhirnya memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ardi.
"Assalamualaikum," ucap Gina masuk lalu menyalami Papa dan calon mertuanya itu.
"Walaikum salam. Duduk nak," jawab Ibu Maryam menyambut kedatangan Gina dengan senyumannya.
"Jadi bagaimana Ardi? Apa semuanya telah selesai?" tanya Aditama kepada calon menantunya itu.
"Sudah Om. Semuanya sudah selesai. Punya Gina sendiri bagaimana Om? Apa sudah semuanya?" tanya Ardi semangat.
"Sudah. Om sudah mengurus semua surat-suratnya. Dan Om juga sudah meminta kepada pihak yang terkait agar tidak memberi tahukannya kepada Mamanya Gina," jawab Aditama membuat semua orang yang ada di sana menjadi lega.
"Syukurlah. Lalu, kapan mereka akan melangsungkan pernikahan?" tanya Pak Akbar, bapaknya Ardi.
"InsyaAllah Jumat mendatang. Dari rumah, Gina akan berangkat kuliah seperti biasa, dan saya akan berangkat bekerja seperti biasa. Semoga saja tidak ada kendala sampai hari H nya," jawab Aditama di amin kan oleh Ibu Maryam dan juga Bapak Akbar, di susul oleh Gina dan juga Ardi.
"Makasih ya Pa. Papa sudah selalu ada untukku," ucap Gina memeluk Papanya itu dengan penuh haru.
Gina benar-benar bersyukur sekali memiliki Ayah seperti Aditama.
Di saat semua keluarga menentang hubungannya dengan Ardi, Aditama selalu ada untuk membela dan mendukungnya. Aditama sama sekali tidak mau menyerah meskipun ia dihina dan di marahi oleh semua anggota keluarga besar Almira dan keluarga besarnya juga.