Galvyn dan Afifah berteman sejak lama, hingga dimana saat mereka meneruskan pendidikan perguruan tingginya, jadi mereka harus pisah namun setelah perpisahan lama itu akhirnya mereka berdua pun ketemu di Satu tempat kerja yang sama, dari sana dua insan itu memiliki rasa saling membutuhkan satu sama lain. Hingga suatu ketika, rasa dalam diam itu harus terkoyak oleh sebuah fakta; Galvyn akan menikah. Dan pernikahan itu pun sungguh Galvyn tidak menginginkannya.
Afifah pun terluka. ia merasa harus membawa rasa perihnya ke suatu tempat yang amat jauh.
Dan Afifah pun memutuskan mendaftarkan diri sebagai relawan medis ke Palestina.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baiq Intan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan part 2
"Selama Allah bersama kita, apalah arti dari ketakutan,dan apalah arti cemas"
Galvyn pun ikut terharu mendengar cerita dari starla tentang afifah.ia bersyukur Afifah masih bisa di selamatkan.
Galvyn pun mengeratkan pelukannya pada starla. Ia terus mengusap punggung adiknya agar lebih tenang.
Cukup lama dalam posisi itu, starla pun melepaskan pelukannya ketika telah berhenti menangis.
"Bang, starla ngerasa bersalah sama kakk Afifah. Kalau bukan karena starla, kakk Afifah nggak bakalan seperti ini," sesal starla.
"Sudahlah la, ini udah takdir dan sudah terjadi. Kita patut bersyukur, Allah SWT mengirimkan Afifah untuk kamu," kata galvyn.
"Ya udah, mending kamu bersih- bersih, ganti baju. Kita pergi ke rumah sakit sekarang,"kata galvyn lagi.
Starla pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar.
Galvyn penasaran, siapakah Afifah? Galvyn ingin sekali berterima kasih karena telah rela mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan starla.
---+++---
Galvyn dan starla sampai di rumah sakit tempat Afifah di rawat. Saat mereka masuk ke dalam ruangan itu, ternyata masih ada lelaki paruh baya yang sedang menemani Afifah. Di samping itu, ada juga pak Harto yang menemani.
"Assalamualaikum," salam mereka berdua Lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Starla membawa beberapa buah-buahan segar dan meletakkannya di atas nakas.
Galvyn menyalami ayah Afifah. Ia pun memperkenalkan dirinya.
"Terimakasih atas kunjungannya," kata Aldebaran tulus.
Galvyn dan starla tersenyum atas ungkapan itu.
"Tapi maaf sebelumnya, saya masih ada tugas kantor mendadak. Apa kalian bisa menjaga putri saya? Saya pastikan pekerjaan saya cepat selesai," kata Aldebaran sedikit tidak enak meminta.
Starla tersenyum ramah.
"Insya Allah bisa pak. Lagi pula jadwal hari ini lagi kosong," jawab starla.
Aldebaran bersyukur mendengarnya. Bukan ia mementingkan pekerjaan kantor daripada anak sendiri, tapi ia sudah terlanjur membuat janji untuk bertemu dengan salah satu rekan kerjanya.
"Bapak selesaikan saja pekerjaan di kantor bapak dulu, kami akan di sini sampai bapak kembali," kata starla lagi.
"Baik terimakasih, kalau begitu saya pamit dulu," kata Aldebaran.
" saya juga ikut pamit, soalnya mau mengantarkan bapak ke kantor, nanti saya juga akan kembali," kata pak Harto yang juga beranjak dari duduknya.
"Iya pak, hati-hati di jalan," kata starla.
Akhirnya, tinggalah starla dan Galvyn menemani Afifah yang masih belum sadar dari keritisnya.
"Oh ya, Abang kapan balik ke London?" tanya starla.
""Mungkin abang nggak balik ke sana. Abang berencana untuk pindah kerja di Indonesia," kata galvyn.
Starla yang mendengar itu pun tersenyum bahagia. Setidaknya Masih ada orang yang akan menjaga dirinya.
"Seneng tuh?!" tanya galvyn menggoda adiknya.
"Jelas dong!" balas starla semangat.
"Gimana awal kuliahnya, asyik ya? Punya banyak teman," tanya galvyn pada starla yang memang baru masuk kuliah.
"Asyik bang. Aku memang gak salah pilih jurusan," kata starla. Padahal sebenarnya orangtua mereka memaksa anak-anaknya untuk menjadi pembisnis seperti ayah mereka.
"Yang giat belajarnya, biar cepat tamat dan ambil profesi," kata galvyn.
Starla hanya mengangguk saja.
Galvyn dan starla yang sedang asyik ngobrol seketika berhenti saat melihat pergerakan dari tubuh Afifah.
Starla mendekat, dilihatnya Afifah yang berusaha membuka matanya perlahan.
Tangan starla menggenggam tangan Afifah.
"Kakk...," starla mencoba memanggil Afifah dengan suara pelan.
Afifah masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Abang..," panggil Starla dengan nada pelan.
Galvyn pun mendekat, dia memeriksa kecepatan detak jantung Afifah lewat nadi di tangannya.
"Normal," gumam Galvyn.
Starla terus menatap Afifah, mata Afifah sudah terbuka sempurna walaupun masih terlihat buram penglihatannya.
Afifah mengedarkan pandangannya pada ruangan itu.
Galvyn membantu melepaskan alat bantu pernapasan Afifah.
"Ini dimana?" tanya Afifah parau sambil menatap starla.
"Kakk lagi di rumah sakit,"
Afifah terdiam, dia berusaha mengingat apa saja yang terjadi pada dirinya.
Galvyn menekan tombol merah di samping ranjang Afifah, memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Afifah.
tapi menurut hasil pemeriksaan Galvyn, Afifah sudah mulai membaik.
Seorang dokter pun masuk ditemani oleh perawat di ruangan itu. Mereka memeriksa kecepatan detak jantung dan pernapasan Afifah.
"Kondisi pasien sudah mulai membaik. Hanya saja kita perlu menunggu luka bekas operasinya mengering." kata dokter menjelaskan pada Galvyn.
Galvyn mengangguk. Hal yang dikatakan dokter tadi sesuai analisis darinya.
Dokter itu pun keluar dari ruangan Afifah. Starla masih menatap Afifah, begitu pula dengan galvyn.
"Tolong ambilkan air minum!" kata Afifah masih dengan suara seraknya.
Starla pun mengambilkan air minum yang berada di atas meja.
"Jangan bangun dulu!" perintah galvyn ketika melihat Afifah yang hendak akan bangkit dari tidurnya. Starla dan Afifah melirik Galvyn bersamaan.
"Luka di perut kamu masih belum kering," lanjut Galvyn
"Maaf ya kakk kalau tadi mengagetkan kakk. Kakk tiduran aja biar biar aku ambilkan sedotan untuk minum," ucap starla.
"Dia abangku kakk. Namanya Galvyn. Dia seorang dokter bedah, jadi maklum kalau dia itu sok tahu," kata starla.
Afifah tersenyum mendengarkan penjelasan starla.
"oh iya, aku starla kakk. Aku sangat berterima kasih karena kakk telah menolongku. Jika saja kakk nggak datang, mungkin aku sudah menyendiri di kamar saat ini. Sekali lagi aku minta maaf ya kakk, karena aku kakk jadi seperti ini," kata starla dengan nada menyesal.
"kamu nggak salah kok. Ini sudah takdir Allah dan kewajiban bagi kami untuk saling menolong," kata Afifah.
Starla pun tersenyum atas tanggapan Afifah.
"makasih ya kakk,"
"Jangn bilang makasih terus ke saya, saya hanya perantara Allah yang datang membantumu, berterima kasih sama Allah,"
Afifah memberanikan senyumnya. Saat ini dia tidak cukup bertenaga untuk berbicara lagi.
."kamu istirahat saja. Untuk fase penyembuhan ini kamu lebih baik berbaring sampai lukanya kering dan jangan terlalu banyak gerak," jelas Galvyn.
Afifah hanya mengangguk mengiyakan, lalu ia menutup matanya.
"Bang, Ika beli bubur dulu ya di kantin," kata starla yang hendak meninggalkan Abangnya itu.
"Abang saja yang ke kantin," kata galvyn menahan lengan starla lalu melangkah menuju pintu keluar.
Starla sadar, jika ia pergi sudah pasti di dalam ruangan itu hanya ada Abangnya dan Afifah. Yang namanya fitnah lebih baik dihindari.
Starla mengangguk paham, bahwasanya di dalam Islam tidak boleh lawan jenis berdua dalam satu ruangan.
Starla mengizinkan Abangnya, Galvyn pun melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit.
Starla kembali duduk di samping ranjang Afifah, memandang wajah tidur Afifah sambil senyum.
"Makasih kakk, sudah ikhlas membantu starla mungkin jika kakk tidak ada entah apa yang sudah preman itu lakukan pada starla, Allah begitu baik ya mengirimkan kakk kepada starla," ucap starla dalam hati sambil tersenyum.