Indonesia
NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Keesokan harinya, kabut tebal membungkus hutan cemara di sekeliling villa. Suasana yang biasanya hangat kini diselimuti ketegangan yang hening. Setiap sudut villa tua itu dikondisikan ulang bukan lagi sekadar sebagai rumah tinggal, melainkan sebuah benteng isolasi taktis.

Dion menghabiskan waktu sejak subuh memasang kembali sensor gerak dan kawat pemantau di perimeter luar hutan. Sementara itu, di dalam basement villa yang berdebu, Dr. Helena sibuk merakit ulang fasilitas laboratorium darurat, mengurung seluruh data genetik Hayra dalam drive terenkripsi tingkat tinggi yang tidak terhubung ke jaringan apa pun.

Di kamar utama lantai atas, Fiora duduk di samping jendela seraya memeluk Hayra yang tertidur pulas. Wajah Fiora masih pucat, mata sembapnya menatap kosong ke arah pepohonan cemara di luar. Meski rasa syok dan histerianya semalam telah mereda, paranoia seorang ibu kini sepenuhnya mengambil alih. Ia enggan melepaskan Hayra dari dekapannya, bahkan hanya untuk meletakkannya kembali ke dalam keranjang.

Hayden melangkah masuk membawa segelas teh hangat. Ia berlutut di samping kursi Fiora, meletakkan cangkir itu di meja kecil lalu mengusap lembut jemari istrinya.

"Kamu belum tidur sepanjang malam, Fiora," bisik Hayden halus.

Fiora menoleh pelan, menatap Hayden dengan mata yang sayu namun tajam. "Bagaimana aku bisa tidur, Hayden? Setiap kali aku memejamkan mata, aku membayangkan ada helikopter Aegis yang mendarat di luar... atau pasukan penyintas yang datang membawa senjata untuk merebut anak kita."

"Tidak akan ada yang datang," tegas Hayden, menggenggam erat tangan Fiora. "Dion sudah memastikan seluruh jalur menuju lembah ini bersih. Sinyal pengacak juga sudah aktif. Bagi dunia luar, villa ini hanya reruntuhan kosong di tengah hutan mati."

Fiora menatap wajah bayi mungil di pangkuannya. Hayra menggeliat pelan, menempelkan pipi lembutnya ke dada Fiora.

"Helena bilang... virus itu tidur di sistem sarafnya," suara Fiora bergetar, menahan tangis yang hendak pecah kembali. "Artinya, kita harus membesarkannya dalam ketakutan? Kita tidak bisa membiarkannya terluka, kita tidak bisa membiarkannya stres... kita bahkan tidak bisa membiarkannya demam tinggi tanpa takut virus itu tiba-tiba terbangun?"

Hayden mengepalkan tangannya di atas pangkuan Fiora. "Kita akan belajar menghadapinya bersama. Helena sedang merancang supresan biologis pasif dari sampel darahmu untuk menstabilkan imun Hayra secara alami. Kita tidak sendirian, Fiora."

Pintu kamar terbuka sedikit. Leo dan Maya berdiri ragu di ambang pintu. Leo menggandeng tangan Maya yang tampak cemas.

"Mama... Papa..." panggil Leo pelan, matanya menatap adik bayinya yang ada di dekapan Fiora. "Adek Hayra sakit ya? Kenapa Papa dan Tante Helena mukanya seram sekali dari semalam?"

Fiora memaksakan senyum tipis, menyapu sisa air mata di sudut matanya. Ia merentangkan satu tangannya, memberi isyarat agar kedua anak angkatnya mendekat. Maya langsung berlari kecil dan memeluk pinggang Fiora, sementara Leo berdiri siaga di samping Hayden.

"Adek tidak sakit, Leo," ujar Fiora lembut, mengusap kepala Maya. "Adek cuma... sangat istimewa. Dan mulai hari ini, tugas kita berdua—Mama, Papa, Kakak Leo, dan Maya—adalah menjaga Adek Hayra baik-baik dari siapa pun. Bisa?"

Leo mengangguk mantap dengan mata berbinar tekun. "Aku akan belajar menembak dari Om Dion dan Om Hayden! Aku bakal jaga rumah ini biar nggak ada orang jahat yang masuk!"

Hayden bangkit berdiri, menepuk bahu tegap Leo dengan penuh rasa bangga. Namun di dalam hatinya, rahasia besar ini terasa bagaikan beban besi yang menindih dadanya.

Langkah kaki Dr. Helena terdengar menaiki tangga kayu dengan terburu-buru. Wajah ilmuwan wanita itu tampak tegang saat ia berhenti di depan pintu kamar.

"Hayden, Fiora... kalian harus turun ke bawah," kata Helena setengah berbisik, matanya menyiratkan kegetiran baru. "Dion baru saja menangkap sinyal radio terenkripsi gelombang pendek dari batas hutan luar. Ada pergerakan."

Hayden seketika memiringkan kepalanya, matanya berubah dingin dan tajam. "Aegis?"

"Bukan," jawab Helena seraya menelan ludah. "Sinyal itu menggunakan protokol milisi Sektor Utara... tapi kode pemanggilnya adalah kode darurat yang hanya diketahui oleh satu orang."

Fiora mendongak, matanya membelalak. "Karl?"

Dua kendaraan taktis tanpa identitas berhenti di balik lindungan pohon-pohon cemara raksasa, ratusan meter dari batas luar perimeter villa. Di tengah kabut pagi yang pekat, dua sosok berkerudung tebal melangkah keluar.

Hayden dan Dion berdiri siaga di balik barikade kayu tua, dengan senapan serbu terkokang penuh. Namun, begitu sosok tinggi tegap di depan membuka penutup kepalanya, Hayden menghentikan jarinya di atas pemicu.

Tangan kiri bermaterial bio-mekanik yang berkilat keemasan di bawah sinar matahari redup, serta bekas luka bakar struktural di lehernya—itu Karl. Di sampingnya, berdiri Mery yang menggandeng erat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun.

"Hayden..." suara Karl yang dalam dan serak memecah kesunyian hutan.

Hayden menurunkan moncong senjatanya, melangkah maju menerobos kabut. "Karl? Mery?"

Mery menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelelahan. "Kalian benar-benar bersembunyi di tempat yang sangat terisolasi. Butuh waktu seminggu bagi kami untuk melacak sinyal darurat unik yang pernah ditinggalkan Fiora."

Pintu depan villa terbuka lebar. Fiora, yang mendengar percakapan dari radio taktis, berlari keluar tanpa menghiraukan udara dingin yang menusuk. Dalam dekapannya, Hayra terbungkus kain hangat. Mata Fiora membelalak tak percaya saat melihat dua orang yang pernah bertaruh nyawa menyelamatkan hidupnya tiga tahun lalu.

"Mery! Karl!" seru Fiora, air matanya merebak seketika.

Mery mendekat, dan kedua wanita itu saling merengkuh erat—sebuah pelukan penuh kerinduan, rasa syukur, dan duka terpendam dari dua ibu yang berhasil selamat dari neraka masa lalu.

"Kamu selamat, Fiora... kamu selamat," bisik Mery haru, mengusap punggung Fiora. Saat merenggangkan pelukan, mata Mery tertuju pada bayi mungil di dada Fiora. "Jadi... ini keajaibanmu?"

"Namanya Hayra," jawab Fiora lembut, sebelum matanya perlahan beralih pada sosok anak laki-laki kecil yang bersembunyi di balik kaki tegap Karl.

Anak itu mengenakan jaket kulit kecil yang agak kebesaran. Ketika ia perlahan mendongakkan kepalanya menatap Fiora, jantung Fiora seolah berhenti berdetak seketika.

Anak laki-laki itu memiliki paras yang sangat tampan dan bersih, mirip dengan Karl dan Mery. Namun, sepasang matanya tidak berwarna cokelat atau hitam. Manik matanya menyala terang dengan warna merah murni—sebuah iris mata berpigmen kristal merah yang memancarkan pendaran mutasi biologis laten.

"Dialah alasan kami membongkar penyamaran dan mencarimu, Fiora," ujar Karl dingin namun getir.

Hayden dan Dr. Helena mendekat, menatap anak laki-laki bermata merah tersebut dengan keterkejutan yang sama beratnya.

"Siapa namanya?" tanya Hayden pelan, berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu.

"Nico," jawab Mery, jemarinya mengelus lembut rambut hitam putra kecilnya. "Dia lahir tiga tahun lalu, tepat saat benteng kalian memancarkan sinyal vaksin Genesis. Kami pikir... vaksin yang tersebar di udara dan air akan menetralkan seluruh sisa eksperimen Aegis dalam tubuh Karl."

Mery menahan napasnya yang sesak, mengunci pandangan dengan Fiora.

"Tapi kami salah. Virus hibrida dalam tubuh Karl tidak hancur oleh vaksin... virus itu bermutasi, beradaptasi, dan merekayasa genetiknya sendiri sebelum berpindah penuh ke dalam janin yang sedang kukandung saat itu. Nico... lahir dengan *Virus Mutan Genesis-X* murni yang menyatu sempurna di dalam sel darahnya."

Kata-kata Mery bagaikan gema dari ketakutan yang baru saja melanda Fiora dan Hayden malam sebelumnya.

Dr. Helena melangkah maju, menurunkan kacamatanya dengan tangan gemetar. "Mata merah itu... apakah itu penanda lonjakan mutasi?"

"Bukan," pangkas Karl tegas. "Itu pigmen alami dari stabilisasi virus di dalam tubuhnya. Nico tidak gila, dia tidak berubah menjadi monster, dan dia tidak menularkan infeksi melalui udara. Dia sepenuhnya manusia, berakal, dan sangat aktif... tapi darahnya adalah racun mutan tempur murni. Jika dia terluka dan darahnya menyentuh zat pemicu biologis Aegis... virus itu bisa meledak dan mengontrol sistem sarafnya."

Fiora menatap Mery dengan mata bergetar. Dua wanita yang kini sama-sama berdiri sebagai ibu dari anak-anak yang membawa kutukan dari eksperimen paling kelam di muka bumi. Rasa terasing dan keputusasaan yang sempat meremukkan jiwa Fiora semalam mendadak mencair, berganti menjadi sebuah ikatan emosional yang amat kuat.

"Kamu datang ke sini... karena kamu tahu apa yang terjadi pada bayiku juga, kan?" bisik Fiora parau.

Mery mengangguk pelan, air matanya menetes melintasi pipinya. "Sinyal analisis terenkripsi yang Helena kirim ke jaringan satelit rahasia dua hari lalu... Karl berhasil meretasnya. Kami tahu darah Hayra membawa varian yang sama. Kami tahu kalian mengisolasinya di sini karena ketakutan yang sama dengan apa yang kami alami selama tiga tahun terakhir."

Karl menatap Hayden, mata cybernetic-nya meredup pasrah. "Kami tidak punya tempat tujuan lagi, Hayden. Di luar sana, jaringan intelijen penyintas dan sisa-sisa laboratorium independen mulai memburu anak-anak yang memiliki tanda mutasi. Mereka menganggap anak-anak seperti Nico dan Hayra sebagai ancaman pemusnahan massal yang harus dimusnahkan sebelum dewasa."

Hayden menatap Nico kecil yang kini dengan polosnya mengulurkan tangan pendeknya, mencoba menyentuh jemari Hayra yang terulur dari balik selimut Fiora. Begitu kulit kedua anak itu bersentuhan, warna merah di mata Nico meredup lembut, sementara Hayra tertawa kecil tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat interaksi tersebut, Hayden mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu berpaling menatap Karl dan Mery dengan ketegasan seorang pemimpin yang telah kembali dari kegelapan.

"Kalian tidak perlu lari lagi," kata Hayden, suaranya menggelegar tenang di antara deru angin hutan cemara. "Villa ini dibangun untuk bertahan dari kiamat. Jika dunia di luar sana menganggap anak-anak kita sebagai monster atau ancaman... maka tempat ini akan menjadi rumah sekaligus benteng terakhir tempat kita membesarkan dan melindungi mereka."

Dion melangkah maju, menepuk bahu Karl dengan senyum tipis. "Lagipula, tempat ini butuh tambahan dua penembak jitu dan satu ahli peretas untuk menjaga perimeternya."

Mery mengusap air matanya dan tersenyum haru, sementara Fiora merangkul Mery rapat-rapat. Untuk pertama kalinya sejak kelahiran Hayra, rasa takut yang membayangi hati Fiora tergantikan oleh harapan baru.

Di tengah isolasi hutan cemara yang dingin, dua keluarga yang terikat oleh darah, pengorbanan, dan racun mutasi yang sama kini bersatu kembali. Hayden, Fiora, Karl, dan Mery menyadari bahwa masa depan mungkin masih dipenuhi ancaman, namun selama mereka berdiri bersama, tak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang akan mampu merebut anak-anak mereka.

1
Yurmanitya Fadilah
👍👍👍
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!