Indonesia
NovelToon NovelToon
HINTERKAIFECK

HINTERKAIFECK

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Misteri / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mn_Ikye

Pada tahun 1922, di desa Bavaria. Keluarga Gruber ditemukan tewas tanpa kepala, banyak dari pihak penyidik mengasumsikan jika mereka kemungkinan digilir masuk ke dalam gudang dan dilenyapkan.

Franz, detektif sekaligus selaku anak kedua dari keluarga Gruber, ia harus menyelidiki pelaku kematian anggota keluarganya. Namun, siapa sangka dibalik kematian keluarga Arsya Nur't, kasus pertama yang ia tangani ada campur tangan dengan anggota keluarganya, bagaimana jika ternyata Frissca ada sangkut pautnya dengan kasus kematian temannya? Sebelum keluarga mereka dibunuh secara massal, pada 31 Maret 1922 itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mn_Ikye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hinterkaifeck; 15

    Keringat menetes beberapa kali, suhu dua tubuh manusia terasa saling menghangatkan. Tubuh Andreas rubuh tersandar di dinding, Franz liar mencium leher remaja tujuh belas tahun itu. Beberapa kali terdengar lenguh geli Andreas di telinga Franz, yang rupanya memancing libido Franz—tubuh Andreas jatuh di atas lantai berubin kasar, Franz melepaskan topi bundarnya yang menganggu dirinya, perlahan tapi begitu pasti—Franz melepas kemejanya melepas celananya hingga menyisakan ****** ***** yang ketat.

  Andreas menatap penuh keraguan, Franz menindih tubuhnya kembali mencium kasar anak tujuh belas tahun ini. Libido yang tak tertahankan memaksa Andreas melepas sendiri pakaiannya, bercak merah di sekitar leher dan juga bahunya membekas hingga memberikan warna kehitaman, keringat terus menetes sejalan dengan adegan-adegan mereka yang semakin membuat telinga memanas dan berdengung.

   Andreas berubah peran, ia mengulum dan menjilat barang Franz, menjilat sampai bagian perut dan dadanya yang bidang. Franz mengacak rambut Andreas, matanya terpejam menikmati setiap permainan lidah anak remaja laki-laki itu. Semakin lama, Franz tidak bisa menahan hasratnya lagi. Ini mungkin kali pertamanya, tapi sejujurnya sudah lama Franz menyimpan perasaannya terhadap anak itu.

  Kaki mereka saling melilit, dua tangan Andreas mencakar punggung Franz yang saat ini telah melakukan penggeledahan diri pada Andreas. Franz masih tidak memperdulikan anak itu, ia masih melayani libidonya yang semakin lama semakin menjadi, Andreas dua kali mengerang dengan suara yang ternetralkan. Kaki Andreas dirubah menjadi menekuk sementara wajahnya tersembunyi di balik dada Franz yang sedang menggeledah tubuhnya. Dan bahkan, ****** ***** keduanya sudah sejak tadi tergeletak di lantai.

  Wilona, melepas kapas penyumpal telinganya, suara-suara ******* dua orang sudah tidak lagi terdengar. Wilona merapatkan jaketnya, ia merasakan sedikit jantungnya masih berpacu belum normal, rupanya kehadiran Andreas menjadi pemacu hasrat seksual Franz, entah sejak kapan Franz mempunyai daya tarik pada anak itu. Wilona melangkah pelan, menunju pintu yang tertutup rapat, itu adalah ruang kerja pribadi Franz—mula-mula Wilona kembali mengambil rantang susun itu, kemudian bergegas kembali ke ruang tengah.

  Terlihat Wilona menyapu keringatnya, mempersiapkan dirinya sendiri, seolah ia baru datang dan tidak melihat secara sekilas dan tak mendengarkan lebih lama suara-suara kejam itu. Wilona pura-pura merapikan kayu perapian, sebelum akhirnya memanggil nama Franz sebanyak tiga kal. Wilona sok sibuk memasukkan kayu pada perapian seolah ia baru saja menyalakannya.

"Mana Tn. Rasmus? Aku baru saja menyelesaikan gagasan dibantu dengan Andreas." ucap Franz, bahkan tak perlu berbohong seperti itu Wilona sudah jelas tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.

"Benarkah? Em kurasa Tn. Rasmus akan segera datang, kita perlu menunggunya beberapa menit lagi. Oh iya, aku membawakan makan malam untuk mu dan..." Wilona menelan air ludahnya, "Untukmu dan Andreas." sambungannya terdengar kesulitan.

Franz mengangguk sambil mengambil rantang susun itu, "Akan ku dahulukan untuk Andreas." pungkas Franz, sedikit lembut. Wilona mengangguk dan sedikit tersenyum agar gerak geriknya tak ternilai aneh di mata Franz.

  Oh astaga bahkan dari balik celana itu, Wilona melihat bekas percum masih terlihat basah. Wilona berusaha sekeras mungkin untuk melupakan apa yang telah ia lihat tadi, matanya segera beralih ketika cahaya mobil menyorot, Wilona merasa sedikit lega ketika Rasmus sudah datang. Artinya, ia tak akan merasa serba salah dan salah tingkah lagi saat rapat nanti.

"Selamat malam Tn. Rasmus, kami menunggu mu untuk rapat kita, Franz bilang ia sudah menemukan gagasannya." Wilona langsung menyambut kedatangan Rasmus dengan perihal penting.

Rasmus melepas jaketnya, mendekat ke arah perapian yang menghangatkan suasana dan juga suhu tubuhnya, "Baiklah, kita akan memulai rapat. Omong-omong dimana Franz dan Andreas?" aduh, Wilona jadi serba salah.

Wilona berpikir dua kali sebelum menjawab pertanyaan Rasmus, "Sedang menikmati makan malam, kita bisa menunggu sebentar lagi." jawab Wilona, dengan memasang ekspresi wajahnya yang begitu meyakinkan.

   Baru saja mereka membicarakan perihal Franz, anak itu tiba-tiba keluar dari ruang kerja pribadi. Ia tersenyum simpul, berjalan mendekat ke arah dua orang yang lebih dulu duduk di kursi kayu ruang tengah kantor kepolisian, secara sekilas Wilona melirik celana yang dikenakan Franz—rupanya Franz sudah mengganti celanaya, Wilona mengambil sedikit napas lalu mengeluarkan napas itu penuh kelegaan. Sebelum memulai rapat kali ini, Franz membuka kertas yang berisi tulisan pendapat dari Andreas tadi.

"Ini pendapat Andreas, sangat besar dugaannya jika pelaku invasi rumah adalah orang-orang berekonomi kecil. Seperti pengrajin keliling, para gelandangan dan masyarakat sekitar." Franz lebih dulu membuka pembicaraan, rapat tertutup mereka.

"Jadi kau sudah sangat memastikan jika orang-orang yang yang kau sebutkan memang ada kesimpulannya melakukan invasi rumah? Alibinya?" Rasmus tidak mau hanya sekadar mendengarkan, ia juga butuh kejelasan kenapa Franz atau pun Andreas menyimpulkan bahwa mereka yang dimaksud termasuk ke dalam dugaan.

"Seperti yang kutuliskan di sini, jika dinilai menurut pandangan ekonomi, jelas gelandangan dan pengrajin keliling paling mencurigakan." pungkas Franz lagi, matanya menyorot pada Rasmus, tidak lupa tangan kanannya menyodorkan kertas bertulisan itu.

Tidak ada pembicaraan selanjutnya, Rasmus masih membaca dan memahami isi dari tulisan itu. Rasmus menelan ludah, ia mulai mencerna pendapat dari Andreas, "Franz, kurasa besok kita yang lebih pagi datang. Kita akan melakukan wawancara dengan beberapa pengrajin keliling dan juga gelandangan di sekitar desa, lebih tepat kepada mereka yang sering melewati Hinterkaifeck." pada akhirnya Rasmus memberikan keputusannya.

"Yap! Bagus, akan kuusahakan datang lebih pagi untuk besok Tn. Rasmus dan kau Wilona, kau masih punya tugas memeriksa TKP dan sekitar rumahku." permintaan Franz disanggupi oleh Wilona, dengan anggukan kepala.

...  🗞️🗞️🗞️...

    Pagi itu, Wilona memeriksa kembali dapur keluarga Gruber, ia beberapa kali mendapatkan keanehan. Beberapa kali Wilona melipat jidatnya, ia heran, dapur hanya digunakan jika anggota keluarga Gruber masih hidup. Tapi ditempat ini, Wilona mendapatkan persediaan roti memang sudah benar-benar kosong melompong bahkan jika dilihat lebih saksama baru-baru ini seperti ada seseorang yang memotong daging. Tunggu dulu, ia harus mendapatkan sesuatu yang lebih kuat sebelum menyimpulkan hipotesis.

  Kemarin, saat jasad keluarga Gruber ditemukan tewas oleh Lorenz Schlittenbauer, Jacob Sigi, dan Michael Poll—menurut keterangan, keadaan rumah keluarga Gruber memang benar-benar sepi pada saat Lorenz Schlittenbauer meminta dua anaknya yakni Johan (16 tahun) dan Josep (9 tahun). Kedua anaknya melapor jika persediaan makanan kuda benar-benar habis pada saat itu, jika diperkirakan kemungkinan besar makanan kuda masih terisi sekitar tiga hari sebelum benar-benar habis pada tanggal 4 April 1922.

  Persediaan roti telah habis seperti ada yang memakannya, terlihat pula jika seseorang baru saja memotong daging sekitar tiga hari yang lalu. Tunggu dulu, sejak kapan keluarga Gruber tidak lagi terlihat ada di dalam rumah? Wilona memilih pergi ke luar, ia punya spekulasi yang kuat. Wilona menemui beberapa orang yang dibawa oleh anggota kepolisian, tentunya para gelandangan dan pengrajin keliling yang jadi dugaan kuat atas kasus ini.

  Wilona sedikit melangkah pelan mendekati Jaksa Pop yang baru saja bergabung untuk melakukan penyidikan lebih lanjut akan kasus ini. Wilona tidak banyak bicara, dirinya cukup melihat ketika orang-orang mencurigakan digiring masuk ke tenda—tempat mereka dimintai keterangan, Jaksa Pop melangkah menuju tempat itu bersamaan dengan Polisi Rasmus, Detektif Franz, dan dirinya sendiri. Ada sekitar sepuluh orang yang akan dimintai keterangan, untuk pertama ada seorang gelandangan laki-laki yang berusia sekitar dua puluh tahun.

  Sayangnya, dari delapan orang yang sudah melakukan wawancara, di antara mereka tidak ada yang serius. Seperti menganggap wawancara ini seperti wawancara biasa, agar nama mereka bisa masuk dalam media cetak—Jaksa Pop terlihat memijat pangkal hidungnya, sekarang Polisi Rasmus memanggil orang selanjutnya untuk dimintai keterangan, Wilona setia dengan banyaknya teori di dalam pikirannya sementara Franz akan setia mencatat setiap perkataan jika orang selanjutnya ini serius melakukan wawancara, bisa-bisanya anggota kepolisian menangkap beberapa dari mereka yang sama sekali tidak mengetahui kasus ini.

Semua mata tertuju pada orang yang baru saja mendudukkan pantatnya di kursi kayu, "Sebelumnya maaf, aku bukan seorang gelandangan. Aku ikut wawancara ini karena aku ingin memberikan kesaksian ku." ucapnya, Jaksa Pop mengangkat alis kirinya, ia tertarik.

"Baiklah siapa namamu?" tanya Jaksa Pop pada orang ini.

"Aku, aku Reiblander. Pedagang daging Simon, pada malam itu sekitar pukul 3.00 dini hari tanggal 1 April aku dan seorang petani—dia teman ku, kami berdua melewati Hinterkaifeck dalam perjalanan pulang dekat Brunnen kami berdua melihat jika ada dua orang asing di dekat hutan, tapi saat dua orang asing itu melihat ke arah kami, kami memalingkan wajah. Sayang sekali kami tidak bisa melihat jelas bagaimana wajah dua orang itu." itu keterangan dari Reiblander pedagang daging Simon.

Jaksa Pop menelaah sebentar keterangan dari Reiblander, "Jadi, apa kau berpikir jika dua orang asing itu terlibat atas pembunuhan ini, Tn. Reiblander?" tanyanya.

Reiblander lantas mengangguk pasti, "Aku tahu ini membantu penyelidikan atau tidak. Alasan ku ikut ke sini karena aku curiga bisa saja dua orang asing itu terlibat, bahkan hutan tidak berjauhan dengan Hinterkaifeck, ada sedikit kemungkinan jika malam pada tanggal 31 Maret keluarga Gruber sudah tewas, ironisnya pada malam tanggal 1 April kami melihat lampu di rumah keluarga Gruber sudah tidak dinyalakan."

"Huff, baiklah terima kasih atas keterangannya, Tn Reiblander." ucap Jaksa Pop, orang yang baru saja memberikan keterangan lantas berucap jika senang sudah membantu sedikit kebuntuan penyelidikan mereka.

  Baiklah, Jaksa Pop harus beristirahat sebentar sebelum orang terakhir memberikan keterangan, Jaksa Pop meneguk air mineral sebelum mempersilahkan orang itu masuk ke dalam tenda wawancara. Orang terakhir masuk, Jaksa Pop mempersilahkan orang itu duduk dan memperkenalkan diri sebelum memberikan keterangan.

"Yang kuingat di waktu malam, mungkin sekitar tiga hari sebelum jasad ditemukan kebetulan aku lewat Hinterkaifeck. Aku mencium bau aneh dipanaskan di dalam oven, baunya sangat menjijikan—aku bahkan didatangi oleh seseorang yang asing dari rumah keluarga Gruber, orang asing yang kutahu itu pasti bukan Aaric Gruber menghampiri sambil membawa lentera, sial aku tidak bisa melihat rupa wajahnya karena cahaya lentera membuat mataku silau," orang selaku pengrajin dengan nama Michael Plockl atau akrab dipanggil dengan sebutan Tn. Plockl.

Plockl menelan ludahnya sebelum meneruskan kesaksiannya, Franz bahkan sudah sejak tadi sibuk mengerakkan penanya, "Aku memilih melanjutkan perjalanan, yang sudah otomatis meninggalkan orang aneh yang menyilaukan mataku saat itu. Bukan itu saja  jika ku perhatikan, cerobong asap masih digunakan—maka dalam artian seharusnya keluarga Gruber masih hidup pada saat itu." pungkas Tn. Plockl sembari menatap penuh selidik kepada Jaksa Pop pada saat ini.

Franz langsung angkat bicara setelah mendengar dengan jelas keterangan itu, "Pada hari minggu, keluargaku tidak absen ibadah ke gereja."

"Apa bisa dikaitkan jika sebenarnya keluarga Gruber tewas sebelum bulan April?" tanya Rasmus.

"Aku tidak tahu pasti, jika menurut Tn. Franz dihari minggu dia tidak menemukan keluarganya sendiri di gereja maka sangat memungkinkan keluarga Gruber sudah tewas sebelum bulan April." Wilona yang tidak mau diam ikut angkat suara.

"Lorenz Schlittenbauer juga bilang, jika dia tidak lagi melihat Frissca melewati rumahnya dan menunggu bus sekolah datang, padahal Sebelumnya Frissca selalu berada di tempat itu pagi dan sore." Rasmus menimpali, mereka semua saling bersintatap.

"Em baiklah terima kasih atas kesaksiannya Tn. Plockl." ucap Jaksa Pop, ketika menyadari jika orang itu ternyata belum pergi.

   Wilona lagi dan lagi memikirkan teori dalam pikirannya, ia masih mempertimbangkan apakah pendapatnya ini bisa jadi pembenar atau justru melenceng jauh. Tapi setidaknya jika tebakannya benar maka ini akan menjadi penentu mereka, Wilona sengaja mendekati Franz pada saat ia duduk dalam keadaan bingung.

"Ini membingungkan, Wilona." belum sempat Wilona membuka suara, Franz lebih dulu berucap.

Wilona mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya, "Ya, aku paham. Apalagi ini menyangkut keluargamu, setidaknya kita meninggalkan asumsi kita tentang perampokan." ucapan Wilona mengundang Rasmus, dengan menoleh ke arah Wilona pada saat itu.

"Apa? Membuang asumsi perampokan?" seperti tanpa rasa persetujuan, Rasmus berkacak pinggang di hadapan Wilona dan Franz.

Wilona mengangguk tanpa keraguan, "Aku melakukan pengecekkan ulang di TKP, aku memeriksa dapur. Tapi, kalian tahu apa yang kulihat? Persediaan roti di dalam lemari telah habis, papan dan pisau pemotong daging terletak tidak jauh dari mesin oven dan yang terakhir sejumlah uang ditemukan di kamar korban, seperti keterangan Tn. Plockl tadi, aku yakin ada seseorang yang melakukan itu," mata mereka kembali saling bertemu, termasuk Jaksa Pop yang setia mendengarkan perkataan Dokter labolatorium forensik ini.

Wilona berkata lagi, "kemarin dua putra Lorenz Schlittenbauer bilang jika mereka menemukan jerami di tempat makan kuda telah habis, jadi boleh aku menerapkan hipotesis? Begini, aku yakin jika kuda masih diberikan makan dalam jangka waktu tiga hari—dan kemungkinan ditanggal 4 April kuda sudah tidak lagi diberikan makanan. Bayangkan saja, jika kuda tidak makan selama empat hari seharusnya kuda itu sudah mati kelaparan—ingat apa yang dikatakan Tn. Reiblander jika pada tanggal 1 April ia melewati Hinterkaifeck di waktu dini hari? Aku punya spekulasi kemungkinan pelaku pembunuhan telah menetap di rumah korban selama tiga hari."

Jaksa Pop tertegun, "Aku patut membenarkan spekulasi mu. Benar, pada tanggal 1 April Tn. Reiblander dan temannya melihat orang asing di hutan, dan Tn. Plockl juga mengatakan jika ia melihat orang asing membawa lentera dan mendekatinya, tidak menutup kemungkinan jika orang asing yang mereka temui bisa jadi sebagai pelaku atas pembunuhan. Jadi, roti yang habis dan papan serta pisau daging pasti orang asing itu yang melakukannya."

Rasmus berpikir sebentar, "Itu artinya pelaku sempat tinggal di rumah korban. Orang yang pertama kali menemukan jasad keluarga Gruber adalah Lorenz Schlittenbauer, orang itu suspek utama kita. Mari mengambil keputusan untuk melakukan wawancara dengan Lorenz Schlittenbauer!" pungkas Rasmus yang diberikan anggukan kepala oleh peserta rapat.

   Uang keluarga Gruber telah ditemukan, maka dalam artian kasus ini bukan perampokan. Jika balas dendam dari beberapa orang rasanya nihil, lagi pula jasad enam korban yang dikirim ke Munich tanpa kepala, ketika kembali diselidiki di sekitar tempat penemuan jasad, kepala mereka tidak ditemukan. Lalu, apakah pelaku sudah mengubur diam-diam kepala anggota keluarga ini?

–––––––––––––––

1
Riezki Arifinsyah
mangstab Thor
Riezki Arifinsyah
keren banget Thor ceritanya /Good//Good//Good/
Mn_ikye
Keren, banget
hooman
luarbiasa
Mn_ikye: Terima kasih kak.
total 1 replies
Evelyne
aduuuhhh...jadi ini di angkat dari kisah nyata ya...serem banget
Evelyne
huuuuhhh serem.... psikopat ...
Evelyne
haiiiii... makin seru dan tegang... ayo..koment dong...cerita bagus kok diem aja...
Evelyne
hai... come on... koment dong...apa kira2 ayah franz yang berselingkuh dengan kekasih nya...frenia..
Evelyne
semakin menarik... inget tanda baca thor... biar enak di baca liat tiap jeda nya... biar terlihat nyata dalam imajinasi pembaca
Evelyne
haiii...kenapa cerita sebagus ini sepi koment...ayo dong...kasih... biar arthor semangat untuk nulis...yo to...?
Evelyne
awalan yang cukup bagus... cuma terasa ada yang kurang...mungkin sedikit di penekanan di setiap gambaran tentang para tokoh... kurang dalam aja... coba gali sedikit lagi...biar berasa rasa nya thor... tapi cukup ok.. gw mau lanjut.. semoga makin menarik..
Mn_ikye: baik kak, bakal saya coba lagi untuk revisi, makasih sudah membaca karya sya kak;)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!