Apakah hidup semenyedihkan ini??
Namanya Bulan gadis periang mudah bergaul. Dimana ada Bulan pasti ada Bintang mereka bersahabat dari kecil Selalu bersama dan saling menjaga. sampai suatu hari salah satu dari mereka ada yang terjebak FRIENDZONE. Bulan terus memendam perasaan cinta nya untuk Bintang. Sampai ada Kanaya yang datang ditengah-tengah mereka disitulah kehidupan Bulan perlahan mulai hancur bagai debu dan hilang tersapu angin.
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rismasuzy93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 16
Happy reading ✓
"Sudah anak-anak tidak papa kita mendapat urutan dua pun itu sudah sangat bagus kalian hebat" ujar pak Bayu memberikan apresiasi untuk anak didiknya. walaupun sebenernya ia berharap agar ketiga anak didiknya bisa membawa sekolahnya menjadi juara Utama. Tapi apa boleh dikata Dewi Fortuna sedang tidak memihak nya.
Sementara bintang, Naya dan juga bulan hanya diam dengan semua ucapan semangat dan apresiasi yang dilontarkan dari pak bayu.
"Ya sudah bapak tinggal dulu yah" pamit pak Bayu pergi dari hadapan tiga remaja yang kini saling diam. Selanjutnya bintang mulai melirik marah kearah sahabat kecilnya. setelah nya ia langsung pergi sembari menggandeng tangan Kanaya melewati bulan begitu saja. Tentu saja bulan bisa merasakan kemarahan dan kekecewaan yang bintang tunjukan. walaupun tidak berkata namun dari raut wajahnya sudah bisa menjawab semua itu.
*****
"Masa kamu gitu aja nggak bisa jawab sih lan" ucap Dimas yang kini sedang makan malam bersama dengan keluarga nya. Bulan diam menunduk hanya mampu melihat nasi yang tertata di piringnya.
"Nggakpapa Mas yang penting bulan sudah berusaha, menang kalah itu sudah biasa lah disetiap perlombaan" ujar Yuni menengahi baik Kanaya maupun bulan sama-sama melirik kearah wanita paruh baya itu.
"Iya aku tahu Yun tapi kemarin aku lihat Naya coba memberikan jawaban kan di kertas. Tapi kenapa bulan gak ambil jawaban yang Naya kasih"
"Udahlah Dimas nggak usah dibahas toh sudah berlalu mau diapain lagi" dimas mengangguk kan kepala ketika melihat istrinya mulai geram.
"Aku udah kenyang mau keatas dulu" pamit bulan Langsung berdiri dan berjalan menaiki tangga satu persatu.
Dikamar bulan berbaring menatap langit-langit diatasnya. Dirinya sedang berfikir akankah ia harus meminta maaf pada bintang. Pasalnya hubungan mereka sebagai sahabat tidak pernah marahan sampai dengan waktu yang lama. Dan juga bintang tidak pernah marah sampai seperti ini. Palingan dulu-dulu jika dirinya kesal dengan sedikit rayuan remaja itu akan luluh.
Namun tidak kali ini. dia benar-benar marah. Maka dari itu bulan besok disekolah akan menemui bintang dan mencoba meminta maaf. Karena bulan memang sadar yang ia lakukan kemarin saat mengikuti cerdas cermat ia sengaja melakukan hal itu. Namun ia harus melakukannya itu dikarenakan karena menurutnya Naya terus saja memancing emosinya. makanya mungkin dengan cara itu membuat Naya bisa merasakan kesal sama seperti dirinya.
****
Bulan berjalan seorang diri di koridor lantai tiga gedung sekolah nya. kakinya terus melangkah berniat akan menemui sahabatnya. Seperti yang sudah direncanakan tadi malam dirinya akan meminta maaf atas kelakuan nya waktu itu. Dari kejauhan ia melihat Kanaya yang juga berjalan dari arah berlawanan. Disisi lain Kanaya pun melihat bulan yang berjalan dari kejauhan. kebetulan sekali memang dirinya sedari tadi sedang mencari-cari keberadaan saudari tirinya itu. Naya semakin cepat melangkahkan kaki guna menghampiri bulan.
Setelah jarak keduanya semakin dekat. Bulan tampak enggan untuk menyapa atau berhenti sejenak kala dirinya sudah berpapasan dengan Naya. Namun hal yang tidak terduga terjadi. Kanya menghadang langkah bulan sehingga gadis itu terpaksa menghentikan laju kakinya. Bulan menaikan satu alisnya menatap tanda tanya pada gadis cantik yang kini menatapnya sendu.
"Lo ngapain menghalangi jalan gue" tanya bulan kedua tangannya ia lipat didepan dada.
Tanpa menjawab Kanaya langsung mencengkram tangan bulan dan membawanya kepinggir besi pembatas tembok lantai tiga. Sehingga suasana dibawah sana sangat terlihat keseluruhan.
"Kamu lihat dibawah pojok sana ada bintang yang masih merasa sedih dan kecewa sama kejadian kemarin" ungkap Naya menunjukan keberadaan bintang memakai jari telunjuknya dengan nada sendu.
"Terus Lo mau apa" ujar bulan ketus.
"Kamu sengaja kan lan ngelakuin itu kemarin, kamu sengaja kasih jawaban salah, Jujur aku nggak mempermasalahkan tapi kamu coba liat bintang dia itu sahabat kamu kan. Kenapa kamu tega bikin dia sedih..." Kanaya menghentikan sejenak ucapannya. mengatur kembali deru nafasnya yang mulai memberat. "Aku tahu kamu benci sama aku tapi apa itu cara pembalasan kamu sampai bintang kamu buat kecewa seperti itu" kali ini Kanaya berbicara panjang lebar. air wajahnya memerah antara menahan amarah dan sedih secara bersamaan.
"Sampai kapan bulan kamu giniin aku?! Apa salah aku. Siapa yang mau akan terjadi seperti ini, aku nggak pernah minta agar papa kamu nikah sama mamaku. Tapi kenapa kamu malah benci sama aku. Harusnya kamu sadar aku nggak pernah rebut siapa pun dari kamu" Naya mengatakan hal itu penuh frustasi. bulir cairan asin sudah menjalari pipinya. Namun ekspresi bulan berbeda ia tampak sangat kesal. baginya saudari tirinya itu semakin Banyak bicara. Ia semakin maju dan mencengkram bahu Naya.
"Jangan banyak bicara sialan Lo nggak tau apa-apa tentang gue" ujar bulan dengan melotot seraya menggoncang-goncangkan bahu Naya kencang. Ia melakukan itu reflek karena rasa emosi yang terlanjur menyeruak begitu saja akibat Naya yang semakin berani padanya.
"Aaaaakkkkkkkhhh" bruuggghh
"Kanayaaa" teriak bulan memanggil nama saudari tirinya. atensinya kini mengarah kebawah sana. bulan melotot mulutnya yang menganga ia tutup menggunakan telapak tangannya. Kala melihat tubuh Naya yang sudah terkapar bersimbah darah yang merembes keluar dari kepala nya.
Murid-murid yang sedang berkumpul diarea lapangan dan lantai dasar tergopoh-gopoh mendekati Naya yang sudah sangat mengenaskan.
"Woi ada yang jatuh bantuin" teriak murid-murid yang kaget saat ada salah satu siswi perempuan terjatuh dari lantai atas kebawah. dengan kondisi yang sudah mengenaskan.
"Tang bintang Naya'' ucap Niko dengan nafas tersengal akibat berlarian.
"Naya? kenapa sama Naya?"
"Naya jatuh tang dari lantai atas" bintang tidak menjawab lagi. Ia langsung lari tunggang langgang menghampiri kerumunan. disana sudah banyak guru serta murid-murid yang mencoba mengangkat tubuh gadis malang itu.
"Naya bangun nay" raut wajah remaja itu langsung panik saat ia ikut membopong tubuh kekasihnya masuk kedalam ambulance. ia tidak perduli dengan seragam putihnya yang terkena banyak noda merah. Tak hanya itu ia pun ikut naik kedalam mobil itu.
Disisi lain kini bulan sudah diamankan oleh para guru untuk dimintai keterangan. Tubuh gadis itu gemetaran duduk dengan wajah menunduk. Kepala sekolah langsung menghubungi orang tua Kanaya. Memberi tahukan apa yang kini sedang terjadi.
"Mari bulan ikut saya, orangtua Kanaya dan juga orang tuamu meminta agar kamu kerumah sakit sekarang. Karena orangtuamu akan langsung kesana" beritahu sang kepala sekolah. Meminta agar bulan ikut dengannya dan juga beserta beberapa guru lainnya. Sepanjang jalan para siswa-siswi tampak melihat kearah bulan dengan geram. Ada juga yang berbisik-bisik tentu saja mereka tau kalau apa yang terjadi dengan Naya akibat perbuatan bulan.
Apa lagi teman satu kelasnya. Mereka rata-rata sudah mengetahui jika hubungan dua saudara tiri itu tidak akur. Terutama bulan yang sangat membenci Kanaya.
"Ayo bulan naik" pinta kepala sekolah saat mereka sudah sampai diparkiran. Sepanjang perjalanan bulan hanya diam. Pikirannya melayang entah kemana. Ia sudah membayangkan pasti papa Dimas akan murka padanya. Bulan kalut dan gusar rasanya ia ingin menangis namun sialnya air matanya tak kunjung menetes. Jantung nya pun sudah berdebar tidak karuan.
Tak berselang lama mobil kepala sekolah sampai dilobi rumah sakit. Rombongan guru itu turun serta bulan yang mengekori. Mereka mencari ruangan dimana Kanaya dirawat. Didepan ruangan IGD terlihat sudah ramai ada Dimas, Yuni, bintang serta kedua orang tuanya yakni Erik dan Alda dan ada juga Niko, Ares.
Dimas menatap bulan nyalang saat dari kejauhan ada sosok Putrinya yang berjalan mendekat dengan para guru. Setelah sudah bergabung Dimas menghampiri bulan.
PLAAAKK. Tanpa basa-basi lagi Dimas menampar pipi bulan. Tamparan yang sangat keras dirasa Sampai-sampai gadis itu jatuh terjungkal merasakan rasa kebas pada pipinya. Orang-orang disitu nampak shock dengan apa yang Dimas lakukan. Alda ingin mencoba mendekati bulan namun ditahan oleh suaminya. Erik menggeleng tanda agar Alda jangan ikut campur dulu.
"Anak sialan kamu" Bugghhhh buuggghh dengan membabi-buta Dimas menginjak berkali-kali tubuh putrinya. Bulan mengerang kesakitan belum usai rasa sakit dipipinya yang masih terasa perih. kini dengan tega Dimas menjejak tubuhnya hingga ia semakin tersungkur.
"Kamu mau jadi pembunuh iya hah. nyesel saya sudah membesarkan kamu. Kalo ujungnya akan jadi calon pembunuh begini" Dimas berteriak marah melototi bulan yang masih tersungkur. kini air matanya sudah menderas dikedua pipinya.
"Pak Dimas maaf bapak tenang ingat ini area rumah sakit" ujar pak kepala sekolah. Namun pria paruh baya itu tak mengindahkan peringatan si kepala sekolah. Ia masih terus mengumpati anak gadis nya dengan nafas yang memburu.
"Biarkan saja anak ini memang harus dihajar. Semakin hari tingkahnya semakin menjadi saya nyesel dulu pernah mungut kamu di panti asuhan tau kamu" ucap Dimas lantang, jari telunjuknya ia arahkan pada tubuh putrinya, yang masih tersungkur.
Deg!
Bulan menoleh cepat kearah sang papa, dengan air mata yang masih mengucur. Tubuhnya semakin bergetar. seusai mendengar pernyataan yang dilontarkan Dimas.
"Dimas aku mohon diam" kali ini Alda yang bersuara. memperingati laki-laki yang baru saja mengatakan hal mengejutkan.
"Biarkan saja Alda. Anak ini harus tahu siapa dia. Asal kamu tau bulan saya ini bukan ayah kandung kamu saya yang udah pungut kamu dari panti asuhan saat kamu masih bayi. Hal itu saya kabulkan karena istri saya dulu yang menginginkan nya"
"Dimas cukuuppp!!!" teriak Alda lantang wanita itu langsung berhambur ingin mendekati bulan. Namun gadis itu menolak untuk didekati dengan cara memajukan satu tangannya. Semua orang yang ada disitu kaget bukan main dengan fakta yang barusan saja mereka dengar. Apa lagi bintang ia nampak shock seakan tak percaya. Namun tidak dengan Alda dan Erik. Kedua pasangan suami-istri itu tidak kaget dengan semua itu. Ya tentu saja karena mereka mengetahui sejak awal.
Bersambung. .
Othor bikin aku penasaran,,