mafia yang menciptakan parfum mengandung efek stimulan, atau menjadikan manusia bertingkah lebih berani bahkan menjadi psikopat yang di edar luaskan ke masyarakat untuk tujuan tertentu.
yuk baca lengkap di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Sirine berbunyi nyaring di jalanan, tapi Seo Nu seolah sedang menghirup udara segar di balkon kamarnya.
Televisi yang menyiarkan berita kekacauan di Distrik Seocho ia biarkan berkumandang. Senyumnya kian mengembang melihat kerusakan yang ia ciptakan.
Seo Nu berjalan ke dalam kamarnya, membiarkan pintu balkon terbuka hingga semilir angin memasuki kamarnya.
Ia duduk di sofa dengan nyaman di depan televisi, memindahkan channel ke acara lain namun semua sedang menyiarkan berita serupa.
Seo Nu, tertawa kecil saat menonton siaran berita di restoran cepat saji hancur porak poranda oleh orang-orang yang berkelahi hingga melukai pemilik restoran tersebut.
Seo Nu mendongak sambil tertawa lepas dengan nyaring. Tak lama kesenangannya terganggu oleh dering telepon kamarnya.
Seo Nu beranjak dari duduknya dan berpindah ke kursi di sebelah meja telepon.
"Ada apa?" Seo Nu segera menjawab telepon.
"Maaf mengganggu Pak, apa anda sudah lihat berita? Kita tak dapat menggelar acara kesuksesan produk kita di restoran itu, ... itu sudah hancur," tutur Queena di seberang telepon.
"Ya ..., aku tahu ... keadaan di luar pun tampak kacau, sebagai gantinya segera pulangkan seluruh karyawan termasuk executive staff sekarang juga, dan liburkan perusahaan selama satu minggu."
"Benarkah, Pak?! Ba-baik itu berita bagus ..., terima kasih Pak CEO!! Saya akhiri panggilan," ujar Queena begitu senangnya bisa pulang lebih awal sembari menutup panggilan.
Seo Nu mendengus tersenyum culas, 'Akulah yang membuat situasinya begini.'
Seo Nu kemudian memerintahkan pengawal di rumahnya untuk memperketat pengamanan.
"Aku tak mau menerima tamu siapa pun itu di saat situasi seperti ini." Kata-kata Seo Nu membuat seluruh pengawal bersiaga.
Rumahnya yang megah dengan halaman luas, di kelilingi oleh pagar tembok yang tinggi, tak menyulitkan para pengawal untuk melakukan pekerjaannya, di tambah lagi mereka di dukung peralatan canggih.
Kediaman Seo Nu seakan tempat paling aman di saat kerusakan telah terjadi di mana-mana.
Bala tentara pun berbondong-bondong mengevakuasi warga.
Di saat seluruh warga distrik Seocho berubah menggila menghabisi siapa saja yang mengusik ketenangan hatinya, sang pelaku utama begitu tenang menikmati harinya.
Seo Nu duduk santai di kursi pijatnya sembari memutar lagu klasik Time To Say Goodbye dari Andrea Bocelli & Sarah Brightman.
Ia tertawa ketika lirik "Time to say goodbye" di nyanyikan.
"Ya ..., selamat tinggal era lama, aku membenci kalian semua!"
_*_
Sementara itu Go Hyun berpisah dengan sang detektif. Sang detektif pergi ke laboratorium sedangkan Go Hyun menyusul anaknya ke sekolah.
Dengan mengendarai mobil polisinya, ia berjalan perlahan menyusuri jalanan kota yang telah sepi, banyak warga mengunci rapat-rapat rumahnya, serta penjarahan di mini market banyak terjadi.
Orang-orang berebut mengambil kebutuhan pokok, Go Hyun membiarkannya tak lantas turun mobil meski mereka terlihat saling menyakiti, ia semakin cemas dengan anaknya.
"Go Hera ..., tunggu Ayah, Nak! Ayah akan menjemputmu," gumam Go Hyun.
Di saat sang Ayah dalam perjalanan ke sekolah, Go Hera dan kawan-kawannya kini berkumpul di toilet pria meski ada 5 orang wanita termasuk Go Hera di sana.
"Maaf kalau kalian tidak nyaman di sini, hanya di sini yang aman dan bersih tanpa jejak kekerasan," ujar Su Bin pada Go Hera dan siswi-siswi lainnya.
"Tak apa, ini lebih baik," ucap Go Hera dengan senyum tipisnya.
"Hey Kang Min! Siram yang betul! Bau sekali! Astaga! Kita akan mati lebih dulu menghirup kotoranmu!" Min Jun menghardik Kang Min yang masih dalam bilik toilet sembari menggedor pintu biliknya.
"Jangan ganggu aku! Eugh!" ujar Kang Min sembari mengejan.
"Ahrgh sialan bau sekali!" Min Jun menutup hidungnya.
Go Hera menatap Min Jun, "Jun-ah jangan marah-marah! Jangan sampai terpancing keributan dari hal sepele, aku takut!"
Min Jun menoleh pada Go Hera sembari gelapan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oh, i-iya aku tak bermaksud menakutimu ..., maafkan aku, aku akan berusaha lebih tenang."
Anak-anak lain terdiam merasa kelelahan, duduk di lantai toilet dengan pakaian yang telah lusuh bermandikan keringat.
Kang Min pun telah selesai dari urusan toiletnya, tapi ia masih memegangi perutnya.
"Apa kalian tidak lapar?" tanya Kang Min sembari mendesah karena perutnya keroncongan.
"Astaga Kang Min ...," Su Bin menggelengkan kepala menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya sendiri.
Begitu pun teman-teman yang lainnya, "Tapi ..., Kang Min tak salah ..., ini sudah siang ..., energi kita pun terkuras, jadi kita butuh makanan untuk berlari lagi," ujar Jo Ahra dengan suara yang lemah.
Anak-anak lain mengangguk memegangi perutnya yang memang lapar.
"Huft dunia memang kejam, bahkan kau perlu berjuang untuk mengisi perutmu." Su Bin menghela nafas lagi sembari berdiri dari duduknya.
Ia mengintip keluar toilet, keadaan masih sepi. "Di sini sepertinya sudah tak ada orang, kita tak tahu mungkin di lantai satu akan banyak hal lain yang kita temui.
"Kita perlu lihat keadaan seluruh sekolah terlebih dahulu sebelum ke kantin, kemana orang-orang? Aku yakin ada banyak siswa-siswi lainnya yang bersembunyi seperti kita," ujar Jo Ahra.
"Ya, bagaimana caranya?" Kang Min masih memegangi perutnya yang berbunyi.
"Melihat seluruh rekaman layar cctv di ruang security, itu ada dekat ruang kepala sekolah di lantai satu," jawab Jo Ahra.
Su Bin menatap temannya satu per satu, mereka mengangguk setuju, setidaknya itu berguna agar bisa keluar dari sekolah dengan selamat.
"Oke kita akan ke lantai satu, pertama kita harus punya renacana dan tetap bersama saling menjaga agar bisa keluar sekolah dengan selamat." Su Bin dan teman-teman membentuk lingkaran.
"Ya dan mengisi perut dengan aman," tambah Kang Min.
"Ckck astaga Kang Min! Pikiranmu hanya makanan saja, jangan khawatir tujuan kita juga ke kantin sebelum pergi dari sekolah!" Min Jun menepuk bahu besar Kang Min yang cukup keras.
Kang Min menyerngitkan alisnya sembari mengangguk menatap Min Jun.
"Dengar, lihatlah garis-garis lantai ini, anggap saja ini denah lantai satu, ini tangga. Dari tangga kita masuk ke koridor sebelah kanan, kita harus melalui 8 kelas menuju ruang security di bagian depan dekat pintu keluar gedung sekolah, sementara itu kantin ada jauh di ujung koridor setelah ruangan security." Su Bin menunjuk garis pada lantai sebagai arahan denahnya.
"Ya ..., cukup jauh dan kita tidak tahu ada apa saja di bawah, aku tahu mereka masih manusia, hanya saja emosi dan otaknya menggila ...," ujar Go Hera mengangguk-angguk sambil memikirkan rencana.
Semua anak lain menyimak meski suhu tubuh mereka mendingin karena takut dan gugup.
"Kita perlu berhati-hati, apa yang harus kita lakukan jika menemukan kejadian atau orang-orang psikopat itu?" tanya Jo Ahra menatap Su Bin dan yang lainnya.
"Ingat kata Pak Kim, sifat mereka adalah tak ingin di salahkan, bersikap seolah tak terjadi apa-apa di depan mereka, jangan buat mereka emosi." Su Bin memantapkan jawabannya.
Anak-anak lain ikut membenarkan. "Jika begitu kita akan selamat, aku dan Min Jun akan memimpin di depan kalian, Kang Min di belakang mengawasi situasi, Go Hera dan Jo Ahra di tengah, Go Hera bisa bela diri ..., jadi ... apa kalian siap keluar dari sini?" Su Bin menatap satu per satu temannya, dan mengulurkan tangannya di depan.
"Siap!" Jawab semua teman-temannya kompak dan menyatukan tangan mereka bertumpuk di tengah, sebagai bentuk kesiapan dan ke kompakan mereka.
"Ayo ..., kita bisa!" ujar Go Hera mulai mengembangkan senyum semangatnya.
. . . ⇢ Bersambung ࿐ྂ
Rekomended buat kamu yang males baca cerita dengan alur yang itu itu aja, di sini Author bikin ke unikan tersendiri 🤭