Indonesia
NovelToon NovelToon
Manusia Hantu

Manusia Hantu

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:94.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Theresia YS

Kehidupan rumah tangga Helena Igit dan Darta Ingan yang penuh cinta dan kebahagiaan berubah menjadi suram dan penuh kepahitan setelah kematian neneknya dan kehadiran Anas.

Kejadian-kejadian yang mengerikan dan berbau mistis terus bermunculan dirumahnya, hingga Helena menderita penyakit yang aneh. Apakah kejadian demi kejadian aneh yang menimpa Helena berhubungan dengan kematian neneknya?
Ataukah justru karena kehadiran Anas?
Siapakah Anas yang sebenarnya?

Benarkah isu yang beredar di kampung, bila neneknya sudah berubah menjadi Uwok Senaringk ( Manusia Hantu )?
Dan rahasia apa yang disembunyikan oleh Darta dari Helen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theresia YS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Terungkap Anas Dan Darta

"Heiii. Nas, tunggu aku!"

Darta berlari dengan sekuat tenaga mengejar Anas yang sudah melesat jauh bagaikan Kancil.

Nafas Darta tersengal, ia merebahkan diri disamping Anas yang sedang menenggak air putih, "Dasar cewek gila! Makan apa sih kamu, sampai lari mu kuat kayak gitu?"

"Makan daging mayat." ucap Anas cuek.

"Apa?!" Darta bangun dan melotot tak percaya.

"Dasar ****! gitu aja percaya. Makanya jangan taunya metik sampek--alat musik tradisional--aja, sekali-kali olahraga biar sehat, nggak lemot kayak bawe--cewek--." Anas tertawa hingga badannya ambruk ke belakang.

"Asem kamu, Nas. Awas ya!" Darta menindih tubuh Anas, mengunci dan menggelitikinya.

"Auw ... auw ... ampun ... ampun. Oke ... oke aku nyerah." mohon Anas.

Anas bangun, duduk disamping Darta. "Bentar lagi ijazah kita keluar. Terus ... apa rencana kamu selanjutnya, Ta?"

"Belum tahu. Aku pengen ngelanjutin kuliah tapi ...." Darta terdiam sambil memutar-mutar rumput ilalang.

"Tapi apa, Ta?" tanya Anas.

"Kamu tahu sendiri, Nas. Orang tuaku hanya buruh tores di perkebunan ini, sebenarnya Ayahku menginginkan aku untuk lanjut kuliah. Tapi, entahlah ... aku bingung," ucap Darta.

"Apa yang kamu bingung kan? Kalau mereka menyuruhmu untuk kuliah, sudah pasti mereka sanggup untuk membiayainya--"

"Dengan memaksa keadaan? Aku tahu mereka hanya ingin menyenangkan ku, mereka tak ingin melihat aku sedih karena tak bisa melanjutkan kuliah. Makanya mereka menyanggupinya, tapi aku nggak mau Nas. Aku nggak mau egois, aku nggak mau menyusahkan mereka lagi." potong Darta.

"Lalu apa rencanamu, kalau memang kamu nggak lanjut?" tanya Anas lagi.

"Apalagi. Palingan kerja di perkebunan ini." ucap Darta pasrah.

Anas bangkit dengan tiba-tiba dan berlari kencang sambil berteriak. "Bawe ... kejar aku kalau bisa!"

"Ah. Sialan." Darta bangun dan mengejar Anas.

Darta dan Anas sudah bersahabat sejak kecil. Dari bangku sekolah dasar hingga menengah atas mereka selalu berada di kelas yang sama. Setelah lulus SMA, Anas melanjutkan kuliah di Samarinda sedangkan Darta bekerja sebagai buruh tores di perkebunan Tuan Apung Igit.

Darta sedang sibuk menores di perkebunan, dengan cekatan ia menores dari satu pohon ke pohon karet lainnya. Darta mengaduh saat batu seukuran bola pingpong mengenai bagian belakang kepalanya ia menoleh kesana kemari mencari si pelaku, namun nihil.

Darta kembali melanjutkan pekerjaannya dan melupakan perbuatan iseng yang mengganggunya. Namun, kali ini sebuah batu kembali menyentuh pundaknya. Darta terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan pekerjaannya beberapa saat kemudian Darta refleks memutar badannya dan menangkap batu tepat di depan matanya.

Darta mematung, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin karena pacuan dari jantungnya yang berdegup kencang saat melihat gadis cantik yang berdiri di samping Anas.

"Ah, nggak seru. Tumben kamu hebat, Ta."

Ucapan Anas membuat Darta tersadar dari kekagumannya terhadap sosok yang cantik itu.

"Oh. Biasanya aja kali, Nas." tutur Darta yang dia sendiri tak paham akan jawaban yang ia ucapkan.

"Songong!"

Darta hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan Anas. Entah mengapa, dirinya menjadi gugup karena pacuan dari jantungnya yang berdetak kencang saat melihat gadis cantik itu.

"Malah bengong lagi! Kamu Kenapa sih?" teriak Anas yang membuat Darta semakin gugup.

"Nggak papa, Nas. Aku sedikit kelelahan saja, kamu kapan datangnya, kok nggak ngasih kabar?" Darta berusaha menghilangkan kegugupannya.

"Kemarin. Eh kenalin, ini Elen." ucap Anas yang menyadari Darta selalu memperhatikan Helena.

"Darta."

"Helena."

Helena menyambut uluran tangan Darta, lalu dengan cepat melepaskannya karena ia pun sebenarnya merasakan getaran yang sama dengan Darta.

Semenjak saat itu, keduanya lebih sering bertemu. Terkadang Darta dengan sengaja atau bahkan rela tidak istirahat siang demi menunggu kemunculan Helena dan pemilik perkebunan tempat ia bekerja. Yang selalu berkeliling mengawasi pekerjaan.

Helena tak pernah menolak lagi atau bersembunyi ketika ayahnya mengajak ia untuk mengecek perkebunan. Ayahnya sengaja mengajaknya untuk ikut mengecek perkebunan karena Ayahnya ingin mengajari anak semata wayangnya itu untuk belajar mengelola perkebunan yang akan di wariskan kepadanya, kelak.

"Nas ... aku boleh nanyain sesuatu nggak ke kamu" Darta bertanya dengan wajah yang memerah menahan malu.

"Apa?" jawab Anas singkat karena tak ingin kegiatannya menikmati es krim jadi terganggu.

"Kamu pernah suka sama seseorang nggak?" tanya Darta malu.

"Iya pernah, bahkan sudah lama aku suka sama kamu, Ya."

Dari lubuk hati yang paling dalam Anas ingin menjawab demikian, namun apa daya kata yang mampu terucap oleh lisannya hanyalah, "Nggak pernah tuh."

"Walaupun kita sudah saling kenal selama bertahun-tahun, kamu nggak punya perasaan sedikit pun sama aku?'' ucap Darta kecewa.

"What?! Maksud kamu?" tanya Anas terkejut bercampur senang.

"Hem, kita yang udah lama saling kenal bertahun-tahun aja kamu nggak punya perasaan apa-apa. Gimana sama yang baru kenal?" jawabnya Darta lemas.

"Maksud kamu apaan sih, ribet amat ngomongnya. To the point aja deh." Tukas Anas kesal.

"Aku ... aku suka sama seseorang, Nas." ucap Darta malu.

"What! Sama siapa?" tanya Anas terkejut.

"Kamu tahu, kok." Pipi Darta semakin memerah.

Anas mendengus kesal. "Ah. Capek main teka teki sama kamu to the point aja deh." ucap Anas semakin kesal.

"Tapi, kamu jangan ketawa ya, Nas." ucap Darta lagi.

"Hem." sahut Anas yang sudah mulai lelah dengan sikap Darta.

"Aku ... aku ... aku suka sama Helena, Nas." Tutur Darta dengan tempo yang cepat, sambil memalingkan wajahnya ke samping.

Walau dengan tempo yang cepat, namun ucapan Darta sangat jelas terdengar di telinga Anas. Anas ikut membuang wajahnya ke samping untuk menutupi kekecewaan yang merasuki relung hatinya.

"Pasti, kamu lagi ngetawain aku ya." ucap Darta mengangetkan Anas.

"Nggak." jawab Anas singkat.

"Terus, kenapa kamu diam? Na--"

"Kenapa kamu nggak langsung ngomong ke Helena? Kenapa bukan Helena yang kamu ajak kemari? Kenapa malah aku yang kamu ajak kemari?" Cerca Anas pada Darta hingga membuat ucapan Darta terpotong

"Aku nggak bisa, Nas. Kamu kan tahu sendiri kalau aku nggak mungkin bisa mendekati gadis seperti Helena, aku sadar statusku bagaimana, Nas." ucap Darta putus asa.

Anas hanya diam memalingkan wajahnya dari Darta, es krim yang ada di dalam cup itu sudah meleleh dari tadi namun sejuknya masih melekat di hati Anas, bahkan hati Anas jadi membeku setelah mendengar penuturan Darta.

Setelah pertemuannya dengan Darta di cafe Favorit mereka yang ada di dalam Mall Samarinda, Anas tak pernah lagi tahu berita tentang Darta. Karena kesibukannya menghadapi ujian di kampus ia tak ada waktu untuk menelepon Darta, dan Darta pun tak pernah memberi kabar yang serupa kepadanya.

Anas kembali ke kampung setelah ujiannya selesai, namun ia menyesal telah kembali ke kampung. Ia mendapati kenyataan bahwa Darta dan Helena kini sudah menjadi sepasang kekasih.

Hatinya hancur berkeping-keping, kebersamaannya dengan Darta sedari kecil tak berarti apa-apa di mata Darta. Ia menyesal telah mengenalkan Helena pada Darta.

Helena siswa yang cerdas dan berprestasi, sedari kecil ia sudah disekolahkan pada sekolah yang ternama di kota. Karena kecerdasannya Helena hanya menempuh sekolah dasar selama empat tahun, SMP dan SMA dua tahun, lalu lanjut kuliah selama tiga setengah tahun pada salah satu universitas di Yogyakarta. Dan baru kembali setelah lulus kuliah.

Oleh sebab itu Darta tak pernah bertemu dengannya di kampung, dan karena itu pula ia lulus lebih cepat dari Anas walau usianya lebih muda dibandingkan dengan Anas dan Darta.

1
Karebet
👍👍👍
Karebet
👍👍👍👍
Karebet
👍👍👍
Karebet
👍👍👍👍
Karebet
👍👍👍
Karebet
👍👍👍👍
Karebet
👍👍👍
Karebet
👍👍
Karebet
👍👍👍
Kolop
lanjut
Lutfi Sukarna
Bagus sekali
karissa 🧘🧘😑ditama
tbkan ku mah bkan tereq deby plkuny tpi anas
bimo dg
sungguh bagus sekali kisah ini wo
Herlin Todo
aku heran deh cerita yg sebagus ini pembacanya kurang
Herlin Todo
jujur aku baca yg seprti ini agak takut²
Herlin Todo
aku ko bacanya deg degan
Yosdi Hendra
harusnya ada istilah baru langsung dikasih artian dlm tanda kurung.biar pembaca ga bingung atau bolak balik membaca yg sudah terlewati.kan ga semua pembaca disini org dayak.
Ani
makasih thor... suka bisa baca sampai tamat.. 🌹🌹🌹
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
gk d sangka Anas musuh dalam selimut.
Anas Manusia setan bkn Hantu
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
aduh hidangan organ tubuh bikin ak, dag dig dug derrr,,,merinding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!