Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di ruang keluarga kediaman Adhitama yang selama ini dibangun di atas aset milik mendiang Isabella, suasana malam itu terasa luar biasa tegang. Langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa memecah keheningan malam.

Selene berlari masuk dengan wajah memerah akibat luapan emosi yang tertahan sejak sore, sedangkan Roselin ikut menyusul tepat di belakangnya setelah menunggu sang putri di depan gerbang tadi.

"Papi! Zara bergabung ke club!" seru Selene histeris, ia membanting tas mewahnya ke atas sofa kulit. "Dia masuk ke The Sapphire Club hari ini! Selene sampai tidak percaya waktu lihat dia berdiri anggun di sana!" teriaknya.

Hendra yang tadinya sibuk memeriksa laporan keuangan perusahaan langsung mendongak, dahi pria paruh baya itu berkerut dalam.

"Apa maksudmu?" tanya Hendra dengan suara penuh keheranan. "The Sapphire Club*l? Tempat berkumpulnya para istri dan anak pejabat serta pengusaha papan atas itu? Dari mana anak itu dapat kartu anggotanya?"

"Dari siapa lagi kalau bukan dari nama Benedict, Papi!" tangis Selene sengit, dadanya naik-turun menahan kekesalan. "Tante Kirana sendiri yang mengenalkannya ke semua orang! Dan Papi tahu dia mempermalukan Selene, menyebut bahwa Selene hanya anak tiri Papi yang kebetulan bernasib baik karena dipungut keluarga Adhitama!" jelasnya dengan penuh kepalsuan.

BRAK!

Hendra memukul permukaan meja kerjanya dengan keras hingga cangkir kopi di sampingnya bergetar.

"Anak kurang ajar! Baru saja dia menikah dengan Regantara Benedict, dia sudah berani mengarahkan moncong senjata ke keluarganya sendiri?!" geram Hendra, matanya melotot penuh amarah.

Roselin melangkah mendekat, ia mengusap bahu suaminya dengan raut wajah penuh kelicikan yang tampak lihai.

"Papi, Mami sudah bilang kan? Zara itu menyimpan dendam sejak dulu. Sekarang setelah dia merasa punya sandaran sekuat Benedict, dia akan memakai segala cara untuk meruntuhkan posisi kita dan Selene di mata publik. Kita tidak bisa tinggal diam, Papi. Kalau dia terus dibiarkan mengoceh di club itu, reputasi keluarga kita akan hancur sebelum proyek baru kita jalan!" bisik Roselin dengan nada memprovokasi.

Hendra mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu kasar karena menahan.

"Dia pikir dia sudah menjadi Ratu hanya karena menyandang nama Benedict? Dia lupa siapa yang membesarkannya!"

Hendra meraih ponselnya di atas meja dengan gerakan kasar, lalu mencari nomor kontak Zara.

"Malam ini juga aku sendiri yang akan memanggil anak tidak tahu berbalas budi itu pulang untuk memberi pelajaran!" bisik Hendra dengan tatapan mata yang tajam.

Roselin menarik sudut bibirnya membentuk senyuman licik yang begitu tipis, nyaris tak terlihat. Di balik kepanikan putrinya dan kemarahan suaminya, ada kilat kepuasan yang terpancar di mata wanita itu.

Ia tidak sabar.

Bagi Roselin, kemarahan Hendra adalah bahan bakar yang sempurna. Selama bertahun-tahun, ia selalu berhasil menyetir suaminya untuk menyingkirkan segala hal yang mengancam posisi mereka di keluarga Adhitama, termasuk menguasai seluruh harta peninggalan Isabella secara perlahan.

"Bagus, Papi, panggil dia pulang. Beri tahu dia batasan tempatnya." ujar Roselin dengan suara lembut yang terdengar manis namun beracun.

Ia mengusap pelan lengan Hendra untuk meredakan ketegangan sekaligus mendorong pria itu agar semakin tersulut.

Selene yang masih berdiri dengan napas memburu menoleh cepat ke arah ibunya, sorot matanya meminta kejelasan.

"Maksud Mami?" tanya Selene bingung.

Roselin berbalik, menatap putrinya dengan tatapan penuh perhitungan. Senyuman liciknya makin mengembang.

"Papi akan memanggilnya ke sini dengan dalih makan malam keluarga untuk meredakan gosip, tapi begitu dia menginjakkan kakinya kembali di rumah ini, kita akan tunjukkan padanya bahwa sekencang apa pun angin Benedict yang melindunginya, rumah ini tetap berada di bawah kendali kita. Kita beri dia peringatan agar tidak semena-mena pada keluarga ini." jelasnya.

Hendra terdiam sejenak, ia menimbang rencana istrinya. Amarah di dadanya mendesak untuk segera diledakkan, dan ucapan Roselin terasa sangat menggoda. Tanpa menunggu lama lagi, Hendra menekan tombol panggil di layar ponselnya, lalu menyambungkan panggilan itu ke nomor Zara.

Tuuuut... tuuuut...

Di ujung sana, sambungan akhirnya terhubung.

"Pulanglah ke rumah sekarang, Zara." ucap Hendra dengan suara berat dan penuh perintah mutlak tanpa memberi ruang untuk Zara menolak.

"Papi tunggu dalam waktu satu jam, atau kamu akan melihat sendiri akibatnya."

.

Di dalam mobil mewahnya yang tenang, panggilan telepon dari Hendra Adhitama baru saja terputus. Zara meletakkan ponselnya ke atas pangkuan dengan gerakan tenang, seolah nada ancaman yang baru saja meledak di telinganya hanyalah angin lalu.

Senyuman tipis yang sarat akan ironi terukir di bibirnya.

"Pak Karta, antar Zara ke rumah keluarga Adhitama dulu." pinta Zara dengan suara lembut.

Pak Karta yang duduk di balik kemudi melirik sebentar ke kaca spion tengah.

"Baik, Nyonya. Apakah perlu saya menghubungi Tuan Regantara atau tim pengawal untuk menyusul?"

"Tidak perlu, ini hanya urusan keluarga kecil."sahut Zara tenang, ia menatap ke luar jendela menikmati gemerlap lampu kota.

Zara bisa menebak, jika Selene pasti sudah mengadu pada Hendra. Tingkah histeris Selene di The Sapphire Club tadi siang sudah cukup menjadi pemantik api, ditambah lagi racun Roselin yang lihai memanfaatkan ego Hendra yang setinggi langit.

Namun, Zara tidak peduli.

Jika Hendra dan Roselin berpikir memanggilnya pulang malam ini adalah cara untuk menundukkan-nya kembali, maka mereka sangat salah besar. Ia sama sekali tidak akan tunduk pada perintah ayahnya atau ancaman pria itu.

"Pak Karta, tunggu saja di luar pagar." tambah Zara pelan saat mobil mulai berbelok menuju kawasan perumahan elit.

Pak Karta menunduk hormat dari kaca spion.

"Dimengerti, Nyonya."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!