"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Baru di Kelas 7C
Senin pagi, Bu Retno memperkenalkan murid pindahan itu secara resmi di depan kelas. "Anak-anak, mulai hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Salsabila, pindahan dari Jakarta. Tolong dibantu ya biar cepat betah di sini."
Salsabila berdiri di depan kelas dengan senyum ramah, memperkenalkan dirinya singkat sebelum akhirnya duduk di bangku kosong yang kebetulan berada tidak jauh dari meja Raka, Naya, dan Adit.
"Eh, kita ketemu lagi," sapa Naya begitu Salsabila duduk, tersenyum hangat seperti sudah mengenalnya lama meski baru bertemu sehari sebelumnya di bawah pohon beringin.
"Untung ada yang aku kenal," jawab Salsabila lega. "Kemarin sempet nyasar muter-muter komplek, untung ada yang nolongin nyari alamat."
Adit menyeringai jahil, melirik ke arah Raka yang buru-buru pura-pura sibuk membuka buku pelajaran. "Iya, si Raka ini emang jagoan nolongin anak baru, hobinya."
Raka melempar pandangan protes ke arah Adit, namun tidak bisa menyembunyikan semburat merah tipis di wajahnya. Naya tertawa kecil melihat interaksi itu, sementara Salsabila hanya tersenyum sopan, belum sepenuhnya memahami dinamika candaan di antara tiga sahabat itu.
Sepanjang hari pertama, Salsabila lebih banyak diam dan mengamati, sesekali bertanya pelan kepada Naya yang duduk di sebelahnya tentang aturan kelas atau lokasi ruangan tertentu. Ia tampak berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang jelas berbeda dari sekolahnya di Jakarta.
Saat jam istirahat tiba, Naya tanpa ragu mengajak Salsabila bergabung ke meja biasa mereka di kantin. "Yuk, gabung sama kita aja. Daripada makan sendirian."
Salsabila tampak sedikit ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk, mengikuti Naya menuju pojok kantin dekat jendela yang sudah menjadi tempat khas trio itu selama ini.
"Kenalin lebih formal," kata Adit, berpura-pura serius sambil menyodorkan tangan. "Aku Aditya, tapi panggil Adit aja. Ini Raka, yang tadi udah kenalan sama kamu. Dan ini Naya, si paling ramah di antara kita."
"Salsabila," jawabnya sambil tertawa kecil menanggapi gaya perkenalan Adit yang agak berlebihan. "Kalian... udah temenan lama, ya? Keliatan banget kompaknya."
"Dari kelas tujuh awal," jawab Raka, akhirnya berhasil bergabung dalam obrolan tanpa terlalu canggung. "Ketemu pas hari pertama masuk sekolah, hujan-hujanan."
Salsabila mendengarkan cerita singkat itu dengan antusias, sesekali bertanya detail yang membuat obrolan mengalir lebih santai dari yang mereka duga sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak pindah, Salsabila merasakan sedikit kehangatan di lingkungan barunya—kehangatan yang biasanya sulit ia temukan mengingat betapa seringnya ia harus berpindah sekolah mengikuti pekerjaan orang tuanya.
Sepulang sekolah, Naya berjalan bersama Salsabila menuju gerbang, sementara Raka dan Adit mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
"Kamu tinggal di komplek mana?" tanya Naya.
"Griya Asri, sama kayak kamu kalau nggak salah denger tadi," jawab Salsabila. "Rumah baru kami nomor dua belas."
Naya tersentak kaget. "Itu kan cuma tiga rumah dari rumahku! Wah, berarti kita bakal sering ketemu, dong."
Salsabila tersenyum lebar mendengarnya, tampak lega mengetahui bahwa setidaknya ia akan punya tetangga sekaligus teman sekelas yang bisa diajak dekat di lingkungan barunya. Mereka berempat akhirnya berjalan pulang bersama, mengambil rute yang sama seperti biasa, melewati taman kecil tempat pohon beringin berdiri kokoh.
"Ini pohonnya," celetuk Adit bangga, menunjuk pohon beringin yang mereka lewati. "Yang tadi sore kita duduk-duduk di situ."
Salsabila menatap pohon itu lagi, kali ini lebih lama, seolah mencoba mengingat kembali kehangatan yang ia rasakan sore sebelumnya. "Aku boleh gabung kadang-kadang kalau kalian lagi kumpul di sini?"
Ketiga sahabat itu saling pandang sejenak, sebuah momen singkat yang tanpa disadari menjadi penentu apakah lingkaran kecil mereka akan terbuka untuk orang baru.
"Boleh banget," jawab Naya cepat, tersenyum tulus. "Makin rame, makin seru."
Raka mengangguk setuju, meski ada perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan setiap kali menatap senyum Salsabila—perasaan yang jauh berbeda dari yang ia rasakan terhadap Naya, namun sama-sama asing dan baru baginya.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan